Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian—7
Sinar matahari pagi menembus tirai tipis penthouse Aletha, menyinari sisa-sisa botol wine dan kekacauan pesta privat semalam. Namun, sang empunya kamar sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Setelah mandi air dingin untuk mengusir sisa pening, Aletha memilih pakaian dengan sangat jeli— sebuah blazer formal berwarna cream yang dipadukan dengan celana kulot senada. Rambutnya kuncir rapi, menyisakan beberapa helai di dekat telinga. Anggun, terlihat formal, dan sangat "bersih"—citra sempurna seorang mahasiswi elit sekaligus direktur muda.
Sebuah pesan singkat dari Danny Atonio yang masuk subuh tadi membawanya ke sini, ke gedung pencakar langit Dirgantara Group di pusat.
Begitu melangkah keluar dari lift khusus di lantai paling atas, Aletha langsung disambut oleh sekretaris pribadi Danny dan diantar menuju ruang kerja sang CEO. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca besar yang menampilkan lanskap metropolitan Jakarta.
Danny berdiri di dekat jendela, memegang cangkir kopi hitamnya. Begitu melihat Aletha masuk, ia meletakkan cangkirnya dan berjalan menuju meja kerja marmer hitamnya. Aura dominan dan dinginnya kembali, berbeda dengan kehangatan tipis yang ia tunjukkan di pesta semalam.
"Silakan duduk, Aletha," ujar Danny, suaranya bariton dan terdengar sangat lugas.
Aletha duduk dengan anggun, melipat kakinya sejenak, lalu menatap Danny tanpa ekspresi gentar sedikit pun. "Ada apa, Danny? Pesanmu subuh tadi terdengar sangat mendesak. Kupikir kita baru akan mulai mengobrol ringan lewat taksi atau cafe, bukan langsung di ruang kekuasaanmu."
Danny menopang kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke dalam sepasang mata maroon Aletha. "Saya tidak suka membuang waktu. Jadi, saya akan langsung ke intinya."
Danny menghela napas pendek, sebuah gestur yang jarang ia perlihatkan di depan orang asing. "Aletha... kamu bisa bantu saya?"
Aletha menyandarkan punggungnya santai ke sandaran kursi beludru. Alih-alih terlihat panik atau tersanjung karena diminta bantuan oleh pria paling berkuasa, ia justru menaikkan sebelah alisnya dan menjawab seadanya dengan nada super cuek.
"Bantu apa?"
Danny meraih sebuah map kulit tipis berwarna hitam dari laci mejanya, lalu menggesernya ke hadapan Aletha.
"Semalam, setelah kembali dari pesta, Ibu saya memberikan perintah. Beliau tidak percaya bahwa saya bisa mencari pasangan sendiri dan mengancam akan menjodohkan saya dalam waktu satu bulan dengan anak temannya yang baru pulang dari London," jelas Danny, rahangnya mengeras mengingat obrolan di meja makan semalam. "Saya tidak punya waktu dan minat untuk terjebak dalam pernikahan berlandaskan perjodohan bisnis yang merepotkan."
Aletha menatap map di depannya, lalu beralih menatap Danny dengan senyum misterius. "Lalu? Apa hubungannya denganku? Kamu mau menjadikanku alat?"
"Tepat," jawab Danny tegas. "Saya ingin menawarkan sebuah Pernikahan Kontrak denganmu."
Danny mengetuk map tersebut dengan jemarinya. "Di dalam sana sudah ada draf perjanjian awal yang saya buat sendiri. Isinya sangat sederhana namun menguntungkan untuk kedua belah pihak:
1. Durasi Kontrak: Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, kita akan bercerai secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan.
2. Kehidupan Pribadi: Tidak ada tuntutan nafkah batin atau keharusan untuk tidur di kamar yang sama. Kamu bebas menjalankan aktivitas kuliahmu, dan saya tetap fokus dengan Dirgantara Group. Kita hanya perlu tampil sebagai sepasang suami-istri yang harmonis di depan media, keluarga saya, dan kolega bisnis.
3. Kompensasi: Sebagai imbalan atas bantuanmu, saya akan menyuntikkan dana investasi tak terbatas ke bisnis migas milik keluargamu, atau memberikan aset apa pun yang kamu inginkan di kota ini."
Danny menyandarkan tubuhnya, mengamati ekspresi Aletha. "Bagaimana? Kamu hanya perlu menjadi istri formalitas saya demi menghindari perjodohan sialan itu."
Suasana ruangan mendadak hening. Di dalam hati, Aletha nyaris tertawa lepas seliar-liarnya. Gila! Ini bukan lagi masuk ke dalam perangkap, tapi Danny beneran menyerahkan dirinya bulat-bulat! batin Aletha menjerit puas. Taruhannya dengan anak-anak di kampus bahkan belum berjalan seminggu, tapi sang target utama kini malah menyodorkan status istri—meskipun kontrak—di atas meja.
Secara lahiriah, Aletha tetap mempertahankan wajah "suci" dan tenangnya. Ia membuka map tersebut, membalik halamannya dengan jari lentiknya tanpa minat yang berlebihan, membuat Danny diam-diam menahan napas menunggu reaksi gadis itu.
"Nikah kontrak?" Aletha menutup map itu kembali dengan bunyi prak yang pelan. Ia menatap Danny dengan pandangan meremehkan yang sangat anggun. "Proposal yang menarik, Mr. Danny Atonio. Tapi kamu lupa satu hal... aku tidak kekurangan uang, dan bisnis keluargaku sedang baik-baik saja. Jadi, kompensasi finansialmu sama sekali tidak membuatku tertarik."
Aletha berdiri, memperbaiki posisi tas Chanel-nya di bahu, lalu berjalan mendekat ke arah meja Danny. Ia menundukkan tubuhnya sedikit, membuat jarak wajah mereka mengikis, hingga Danny bisa mencium aroma parfum melati mahal yang menenangkan sekaligus mengintimidasi dari tubuh Aletha.
"Tapi... karena aku benci melihat pria berkuasa memohon," bisik Aletha dengan nada suara yang sangat memikat, senyum liciknya tersembunyi dengan rapi di balik tatapan matanya yang teduh. "Aku akan memikirkannya. Beri aku waktu dua hari, Danny. Jangan hubungi aku sebelum aku yang memberikan jawaban."
Tanpa menunggu balasan dari Danny yang terpaku di kursinya, Aletha berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan ketukan sepatu hak tingginya yang berirama penuh kemenangan. Permainan catur ini berjalan jauh lebih cepat dan lebih kotor dari yang pernah ia bayangkan.