NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - Gerhana

Dipta membuang muka, tak sanggup menatap binar rasa ingin tahu di mata Nala. Nama 'Raditya' tertahan di ujung lidahnya, pahit dan berat. Ia ingat hari itu, hari dimana seharusnya mereka akan bertemu dan dimana Nala memperkenalkan keduanya secara formal. Dipta selama ini hanya tau bahwa adiknya sedang menjalin hubungan dengan seseorang bernama Raditya tanpa tau bagaimana sosok lelaki itu. Dan hari dimana perkenalan itu terjadi, justru tragedi melanda.

Dipta sangat mengingat hari itu. Hari kebahagiaan berubah menjadi tragedi berdarah. Melihat kecelakaan terjadi tepat di depan matanya. Dan itu terjadi karena orang yang seharusnya melindungi mereka. Ibu mereka yang serakah, penyebab adiknya hidup sengsara. Bahkan kini ingatan adiknya tak pernah lengkap.

Dipta juga merasa bersalah dengan lelaki itu. Raditya, namun tak pernah mampu ia sebutkan. Kondisi saat itu tak memungkinkan, membuatnya tak mampu menemui lelaki itu. Ingin menghubunginya, nomor kontaknya pun dirinya tak memilikinya. Ponsel sang adik hancur, tak bisa ia gunakan. Dirinya dilanda kebingungan, menjaga sang adik tapi juga harus mencari lelaki itu.

Bungkam adalah pilihan yang ia ambil. Keputusan itu ia ambil, saat adiknya tak mampu mengingat masa lalu. Dipta takut, lelaki itu bisa menjadi pemicu ingatan lama kembali. Namun, melihat Nala yang kini meratap dalam mimpi, Dipta bertanya-tanya: apakah keputusannya melindungi adiknya dulu justru adalah lubang yang membuat Nala tak pernah benar-benar pulih?

“Mungkin, nenek hanya bercanda saat itu. Jangan terlalu dipikirkan.” Nala hanya mengangguk setuju saja.

“Ayo dek, masuk. Adik harus segera pulih dan kita juga akan segera ke Semarang untuk berkunjung.”

“Heem!”

 

...****************...

 

Semarang, Jawa tengah

Setelah menginap di rumah sakit selama 3 hari penuh, akhirnya Nala keluar dari rumah sakit dan kini berada di Semarang. Mengunjungi Makam adalah tujuannya hari ini. Makam dimana ayah, kakek dan neneknya di semayamkan.

Angin Semarang berhembus cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan kamboja. Nala berlutut, jemarinya mengusap nisan Arutala Mahardika.

“Ayah, Nala datang,’”bisiknya lirih.

Ditemani Dipta dan juga Maya, Nala membersihkan makam dan menaburkan bunga. Memanjatkan doa agar ayah, kakek dan neneknya diberikan tempat terbaik di sisi sang pencipta.

Melihat makam keluarganya yang kini tampak indah. Rumah terakhir ayah, kakek dan neneknya telah begitu bersih.

“Dek, ayo kita pulang. Kasihan Bayu, kalau kita tinggal terlalu di mobil.” ujar Dipta

“Ayo kak!” Dengan berat hati, Nala meninggalkan makam keluarganya. Kemudian berbalik, mengikuti kakaknya yang telah berjalan terlebih dahulu.

Perjalanan berlanjut ke rumah lama mereka. Rumah itu masihlah terawat karena kakaknya membayar seseorang itu merawatnya. Rumah dengan gaya Jawa yang kental menyambut penglihatan mereka. Rumah yang dulu tempat ia tinggal, masih tampak sama seperti ingatannya. Yang berubah hanyalah penghuninya.

“Masih sama. Pohon itu juga masih ada,” lirih Nala saat melihat pohon besar dengan sebuah ayunan yang berada di bawah pohon itu. Ayunan yang sengaja dibuat ayahnya, masih tampak kokoh sampai sekarang.

“Den Dipta, Non Nala, Non Maya, apa kabar?” sambutan hangat dari Bi Sulastri, orang yang menjaga rumah lama

“Baik bi, baik banget malah.” Jawab Nala sambil memeluk Bu Sulastri yang sudah tampak menua, namun tetap semangat seperti biasanya.

“Ini pasti Den Bayu, ya. Wah sudah besar sekarang!” Bu Sulastri melihat ke arah Bayu yang digendong Dipta

“Iya, bi. Ini Bayu, ganteng kan? Kayak aku dulu.”

“Iya, gantheng tenan cah Bayu iki!” pekiknya saat melihat Bayu tertawa, seolah tau baru saja ia telah dipuji seseorang.

“Eh Lastri, harusnya di suruh masuk atuh. Bukan ngobrol diluar kek gitu!” ujar Pak Santo, supir yang tadi menjemput mereka.

“Iya, iya pak e. Sabar atuh!”

“Ayo den, non. Masuk,”

Nala melihat-lihat kondisi rumah yang tampak begitu terawat. Kemudian berjalan ke arah kamarnya. Masih sama. Ruangan itu tak berubah. Bahkan boneka kelinci kesayangannya masih berada di tempatnya.

Mengingat pesan sang nenek, dengan segera ia menuju ke kamar nenek dan kakeknya. Berjalan perlahan, mengingat kenangannya saat berada di kamar ini. Neneknya yang selalu menyisir rambutnya dan menyanggulnya, kakek yang selalu bercerita untuk dirinya sebelum tertidur. Kenangan yang begitu indah.

Menuju meja rias neneknya. Banyak tusuk konde yang berjejer rapi. Bros masih tampak bagus, tak terlihat ketinggalan oleh jaman. Membuka laci satu per satu, Nala menemukan sebuah kotak tua. Mengeluarkannya, mengelap kotak berdebu itu. Dengan perlahan, Nala membukanya. Tampak jelas bahwa kotak itu berisi kotak perhiasan dan sebuah surat.

Nduk, nenek punya hadiah untuk Nala dan Dipta serta calon mantu nenek. Kotak merah itu untuk kakakmu, Dipta dam  calon iparmu, istrinya Dipta. Sedangkan kotak biru itu milikmu. Hadiahmu dan calonmu nanti.

Semoga suka ya. Ini nenek menyiapkannya jauh-jauh hari. Semoga sesuai dengan selera kalian.

Nala menyisihkan kotak yang ditujukan untuk kakaknya. Membuka kotak biru, ada 3 kotak perhiasan. Kotak perhiasan berukuran besar berisikan sebuah kalung dengan liontin kristal zamrud berbentuk prisma memanjang dengan potongan faset yang tajam di setiap sisinya. Bentuknya menyerupai tetesan air yang membeku yang meruncing di bagian bawah. Warnanya tampak seperti hijau hutan yang pekat namun terlihat jernih. Rantai emas putih, tampak serasi. Tak lupa bingkai kristal yang dibalut oleh lilitan emas putih murni sehalus rambut, dengan motif ukiran kelopak bunga melati di bagian atasnya. Sungguh kalung yang sangat elegan, membuat Nala terpesona.

Secarik kertas mengalihkan pandangan Nala. Pesan sang nenek kembali hadir.

Teteskan setetes darah pada kalung itu, maka kejutan akan menantimu.

Pesan yang aneh dan tak masuk akal untuk Nala. Ingin tak memedulikannya, hati berbicara lain. Rasa penasaran lebih menguasai daripada logikanya.

Melihat tusuk konde, Nala menyayat satu jarinya menggunakan ujung konde. Meneteskan darahnya, tepat mengenai liontin kalung. Darahnya menyerap masuk ke dalam liontin, dan Nala merasakan liontin itu tiba-tiba terasa hangat. Seketika liontin itu bercahaya dengan terangnya. Tubuh tertarik, seolah ada magis yang menariknya masuk ke dalam kalung.

Menyesuaikan cahaya, Nala membuka matanya. Apa yang dilihatnya sungguh mencengangkan. Melihat dirinya yang awalnya berada di dalam kamar, dan kini berada di sebuah gua. Gua yang berisikan tumpukan emas. Tak lupa rak-rak yang berisikan harta benda berharga yang tersusun rapi. Sebuah meja dengan terbuat dari kayu jati, tampak berdiri kokoh. Membuka laci-laci meja, Nala kembali terkejut. Banyak sertifikat tanah dan rumah di dalamnya.

“Jadi sertifikat rumah ada disini. Pantas saja, kakak mencarinya tak pernah ketemu.” gumam Nala

“Ini sih gudang harta tersembunyi. Tak kusangka nenek punya ruang dimensi seperti ini. Tak masuk akal!” Nala masih tak menyangka kejutan yang baru saja ia terima. Selama ini, ia tak tau bahwa neneknya menyimpan benda berharga seperti ini. Pantas saja, keluarganya tampak tak pernah kehabisan uang.

“Oke, sekarang gimana caranya keluar dari sini!” gumamnya

Kemudian tubuhnya terasa kembali ditarik sesuatu. Saat kembali membuka mata, dirinya telah kembali di kamar neneknya.

“Oke, sebuah kejutan yang aneh. Namun, sebaiknya ini menjadi rahasia saja. Mungkin nantinya dapat membantu saat diperlukan.” Nala memakai kalung itu. Tampak sangat indah.

Nala membereskan barang-barang itu dan membawanya keluar.

 

...****************...

 

Kicauan burung, membangunkan Nala dari tidurnya. Pagi menyambutnya, dengan matahari yang bersinar dengan terangnya.

“Pagi ini, sepertinya cocok untuk jalan-jalan!” ujar Nala dengan riang.

Bersiap, Nala memilih pakaian cocok sesuai dengan moodnya saat ini. Setelah siap, ia keluar dari kamarnya. Tampak kakaknya sedang bermain dengan Bayu di ruang keluarga.

Dipta yang melihat adiknya berpakaian rapi, timbul tanya dalam benaknya. “Mau kemana?”

Nala tersenyum, berjalan mendekat ke arah kakaknya. “Nala ingin jalan-jalan. Tenang, Nala sama Pak Santo. Jadi pasti aman.” Nala tak memberikan kesempatan kakaknya untuk menyela

“Sarapan?”

“Diluar. Obat Nala sudah dibawa, ada di dalam tas.”

Saat akan kembali menyanggah, Maya segera menyela.”Biarkan mas, Nala butuh udara. Ada Pak Santo yang memantau, ya kan pak?” Pak Santo hanya mengangguk saja.

Dipta hanya mengangguk pasrah, sebagai tanda izinnya.

“Asyik! Ayo, pak!”

Dalam perjalanan, Nala mengamati jalanan Semarang. Begitu ramai, namun tak seramai dengan Jakarta. Mengingat tujuannya, Kafe Lokananta membuat senyum Nala tak memudar.

Sesampainya disana, Nala begitu terpesona. Kafe dengan nuansa Jawa yang kental, sangat unik di matanya. Sungguh tak sabar untuk memasuki kafe itu.

Saat akan masuk, dirinya tak sengaja menabrak seseorang. Dilihatnya barang-barang yang orang itu bawa terjatuh. Dengan segera, Nala membantu memungutnya dan segera memberikannya. Tak lupa, Nala membungkuk sebagai tanda maaf.

“Maaf, saya tak sengaja!” Nala menunduk, dirinya merasa bersalah. Matanya tak sengaja melihat nama yang tersemat di kertas itu, Raditya Arya W..

“Tidak masalah!” ujarnya dingin, kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Nala yang masih menunduk.

Mendengar langkah kaki, Nala tau bahwa lelaki itu telah pergi.

“Raditya Arya W., nama yang tampak familiar. Tapi siapa?” gumam Nala

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!