Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Jurang Ego dan Dendam yang Jatuh
"Lo bener-bener gak punya harga diri ya, Ed? Di depan puluhan kamera lo tega telantarin gue cuma demi cewek penyakitan itu!"
Suara Maura Gilbert mendadak melengking di balik sebuah pohon pinus besar, beberapa meter dari area puncak tempat kru sedang bersiap-siap untuk mengemas peralatan karena hari mulai beranjak sore. Maura meremas tali tas gunungnya dengan sangat kencang, matanya yang dilapisi eyeliner tebal menatap Edrick penuh amarah dan kebencian yang sudah mendidih sejak pagi.
Edrick yang sedang meneguk air mineral dari botolnya hanya melirik Maura sekilas dengan tatapan sedingin es. "Gue rasa lo lupa posisi lo di sini, Maura. Lo ikut ke acara ini karena gue yang bayar, dan agensi lo butuh investasi dari perusahaan gue setelah skandal CCTV kemarin siang. Jadi, stop ngatur-ngatur ke mana mata gue harus ngelihat."
"Tapi gue pacar lo di acara ini! Penonton WGM lagi ngehujat gue habis-habisan karena lo kelihatan lebih milih Sienna!" Maura maju satu langkah, napasnya memburu menahan malu yang teramat sangat. "Gue benci sama cewek itu. Dari dulu zaman modeling sampai masuk ke acara ini, dia selalu aja bisa merebut semua perhatian cowok-cowok terhormat!"
"Dia gak merebut apa-apa," potong Edrick datar, menyeka bibirnya dengan punggung tangan lalu menatap lurus ke arah langit sore yang mulai berubah jingga keunguan. "Lo aja yang gak pernah cukup berharga buat bikin seorang cowok bertahan. Jadi jangan salahin Sienna kalau pesona lo kalah jauh dari mata kucingnya."
Kalimat terakhir Edrick bagaikan minyak tanah yang disiramkan ke atas kobaran api di dada Maura. Rahang aktris papan atas itu mengeras sempurna, wajah cantiknya terdistorsi oleh rasa dendam yang teramat pekat. Kebenciannya pada Sienna Rose kini bukan lagi sekadar urusan persaingan panggung hiburan, melainkan sebuah luka harga diri yang menuntut pembalasan mutlak.
Sementara itu, di sudut tebing yang sedikit menjorok ke luar dari jalur aman, Sienna sedang berdiri sendirian menikmati embusan angin sore. Jaket parkanya berkelebat ditiup angin pegunungan yang semakin dingin menjelang malam.
"Dec... lo ke mana sih? Lama banget ambil termos airnya," gumam Sienna sengau, merapatkan kerah jaketnya ke leher.
Declan sedang turun sedikit ke area tenda logistik kru untuk mengisi ulang air hangat bagi Sienna yang sejak tadi tidak berhenti bersin. Beberapa kru kamera utama juga sedang sibuk merapikan kabel di area tengah perkemahan, membuat posisi Sienna di tepi tebing itu agak luput dari pandangan langsung karena terhalang oleh kabut sore yang mulai turun dengan tebal.
KREK.
Suara patahan ranting kering di belakangnya membuat Sienna refleks menoleh setengah badan. "Dec? Udah selesai ambil airnya—"
Kalimat Sienna terputus di udara. Bukan sosok tinggi Declan yang dia temukan, melainkan Maura yang berjalan mendekat dengan langkah cepat yang aneh. Kacamata hitam Maura sudah dilepas, memperlihatkan sepasang mata yang merah dan dipenuhi oleh kilat kegilaan yang mengerikan.
"Kak Maura? Ngapain lo ke sini? Jalur turun kan lewat sebelah sana," ucap Sienna, insting cegilnya mendadak menangkap sinyal bahaya saat melihat wajah Maura yang tampak sangat tidak stabil.
Maura berhenti tepat dua langkah di depan Sienna. Senyuman sinis dan dingin terukir di bibirnya yang gemetar. "Gue cuma mau mastiin satu hal, Sienna. Kalau lo gak ada di dunia ini... apa Declan dan Edrick bakal tetep ngacangin gue?"
"Lo... lo ngomong apa sih?! Lo bener-bener udah gila ya gara-gara dihujat netizen?!" Sienna mundur satu langkah, namun sialnya, tumit sepatunya langsung membentur pembatas tanah tebing yang langsung longsor kecil jatuh ke dalam jurang curam di bawah mereka. Di bawah sana hanya ada kegelapan semak belukar dan tebing batu yang terjal.
"Iya, gue gila! Dan semua ini gara-gara lo, cewek pembawa sial!" teriak Maura histeris.
Sebelum Sienna sempat berteriak memanggil bantuan atau mengambil posisi bertahan, Maura sudah melompat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Kedua tangan Maura mencengkeram kuat bahu Sienna, lalu dengan seluruh sisa kekuatan tenaga kedengkiannya, Maura mendorong tubuh mungil Sienna ke arah jurang yang menganga lebar di belakang mereka.
"Mati lo, Sienna!"
"Aaaaa!!!"
Tubuh Sienna langsung kehilangan keseimbangan, melayang mundur jatuh melewati batas tebing perbukitan. Angin sore yang dingin langsung menyambar wajah pucatnya saat tubuhnya mulai meluncur deras ke dalam kegelapan jurang, menembus ranting-ranting pohon yang tajam.
BRUK! KRAK!
"Sienna!!!"
Sebuah teriakan bariton yang teramat kencang dan dipenuhi oleh rasa ketakutan yang luar biasa murni mendadak menggema, memecah kesunyian perbukitan sore itu. Declan yang baru saja kembali dengan termos di tangannya langsung melempar benda itu ke tanah hingga hancur berkeping-keping. Pria itu berlari kesetanan bagai singa lapar yang melihat teritorinya dihancurkan, mengabaikan teriakan panik para kru yang baru menyadari adanya jeritan Sienna.
Declan mencapai tepi jurang dalam hitungan detik, matanya melebar sempurna menatap ke bawah kabut tipis tempat tubuh Sienna menghilang. Di sampingnya, Maura berdiri membeku dengan tubuh bergetar hebat, baru menyadari kegilaan yang baru saja dia lakukan di bawah pengaruh emosi sesaat.
"Lo... apa yang udah lo lakuin, Maura?!" Edrick yang baru sampai dari balik pohon pinus langsung mencengkeram leher gaun Maura dengan wajah yang pucat pasi penuh kepanikan.
Declan tidak memedulikan drama kedua orang itu. Pikirannya kosong, jantungnya serasa berhenti berdetak saat membayangkan tubuh ringkih Sienna yang sedang sakit harus berbenturan dengan batu tebing di bawah sana. Tanpa berpikir panjang tentang keselamatannya sendiri, tanpa menunggu tali pengaman dari tim evakuasi kru yang mulai ricuh berteriak, Declan langsung menerjang turun melompati pembatas tebing, merosot tajam menyusuri jalur curam jurang demi menyusul ceweknya.
"Sienna! Denger suara gue, Rose! Di mana lo?!" teriak Declan dengan suara yang parau dan bergetar hebat sepanjang dia meluncur turun menembus semak belukar yang merobek kemeja hitamnya.
Di dasar lereng jurang yang berjarak sekitar lima meter dari atas tebing, tubuh Sienna tergeletak diam di atas tumpukan daun-daun kering. Beruntung, sebuah dahan pohon besar sempat menahan laju jatuhnya sebelum dia menghantam dasar batu yang paling keras. Namun, jaket puffer-nya sudah robek besar dan dahinya tampak mengeluarkan darah segar akibat goresan ranting tajam.
"Uhuk... Dec... Declan..." cicit Sienna lirih, matanya berkedip sayu menatap kabut malam yang mulai menutup pandangannya. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit dan ngilu, traumanya terhadap kegelapan dan kesendirian seketika bangkit membuat air matanya lolos begitu saja.
Splash! BRUK!
Declan mendarat dengan tidak sempurna di dekat tubuh Sienna, lututnya sempat membentur batu keras hingga mengeluarkan suara benturan yang cukup ngilu, namun pria tsundere itu sama sekali tidak memedulikan rasa sakit di kakinya. Dia langsung merangkak cepat, meraup tubuh lemas Sienna ke dalam dekapan lengan kekarnya yang bergetar sangat hebat.
"Sienna... hei, buka mata lo, Rose! Lihat gue!" bisik Declan parau, suaranya terdengar sangat ketakutan—sebuah nada suara yang belum pernah Sienna dengar sebelumnya dari seorang Declan Bryer yang selalu tenang dan angkuh. Tangannya yang besar dengan gemetar mengusap darah segar di dahi Sienna, lalu memeluk kepala cewek itu erat-erat di dadanya.
"Dec... sakit... dingin banget..." rintih Sienna, mencengkeram robekan kemeja Declan dengan sisa kekuatan jarinya yang mulai membeku.
"Gue di sini. Gak usah takut, ada gue," ucap Declan lembut, mengecup puncak kepala Sienna berkali-kali dengan penuh rasa penyesalan dan kepemilikan yang mutlak di tengah kegelapan dasar jurang. "Gue gak bakal biarkan lo sendirian lagi. Maafin gue karena telat datang, Sienna."
Di atas tebing, lampu-lampu senter dari tim penyelamat kru dan Edrick mulai menyorot ke bawah kabut, memecah kegelapan sore yang mencekam. Namun di dasar jurang yang dingin itu, di dalam dekapan hangat dan protektif dari Declan, Sienna perlahan memejamkan matanya dengan rasa aman yang aneh. Batas antara skenario drama WGM dan kenyataan kini telah hancur sepenuhnya oleh darah dan air mata di sore hari itu.