NovelToon NovelToon
Legenda Dari Masa Depan

Legenda Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ahli Bela Diri Kuno / Time Travel / Mata Batin / Fantasi Wanita / Peramal / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: R. Seftia

Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.

(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingin Mengobati Kaisar

Di malam hari, Shu Hua tidak tidur karena menjaga Li Hua. Shu Hua tidak ingin meninggalkan Li Hua lagi. Hari ini menjadi pelajaran yang sangat besar bagi Shu Hua. Dan setelah hari ini, rasanya Shu Hua tidak akan berani dan mau lagi meninggalkan Li Hua.

Dan malam itu, bukan hanya Shu Hua saja yang tidak bisa tidur, tetapi di depan kamarnya dan Li Hua, Xiao Yan juga tidak bisa tidur. Xiao Yan yang melihat bayangan Shu Hua yang masih belum tidur, ikut-ikutan tidak tidur juga. Walaupun malam semakin larut, Xiao Yan selalu bersama dengan Shu Hua.

Sampai pada akhirnya matahari mulai memperlihatkan dirinya, barulah Xiao Yan kembali ke kamarnya sendiri. Dan di dalam kamar Shu Hua, Li Hua akhirnya sadar setelah pingsan begitu lama.

Shu Hua langsung memeluk sang Kakak dengan erat saat tahu dia telah sadar. Shu Hua bahkan menangis, mengungkapkan betapa takutnya dirinya kemarin saat Li Hua pingsan dan tidak bangun dalam waktu yang cepat.

"Aku pikir Kakak akan pergi meninggalkan aku. Aku benar-benar takut. Kakak tidak boleh meninggalkan aku sendiri. Jika sampai terjadi sesuatu kepada Kakak, aku akan mengakhiri hidupku juga!" tegas Shu Hua dengan wajah yang kini dipenuhi dengan air mata.

"Maafkan Kakak, ya." Li Hua tampak tenang, kembali memeluk Shu Hua dengan erat.

"Yang terpenting sekarang, Kakak baik-baik saja. Dan mulai sekarang, Kakak berjanji tidak akan membuat kamu khawatir lagi. Sekarang, Kakak sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas," ungkap Li Hua.

Shu Hua menghapus air mata di wajahnya sambil sesegukan.

"Jadi sebenarnya kemarin itu Kakak kenapa? Kenapa mata Kakak mengeluarkan darah? Sebenarnya Hao Lin apakan Kakak? Apa dia melukai Kakak?" Sudah dari kemarin Shu Hua ingin tahu tentang Hao Lin: Tentang apakah Hao Lin benar-benar melukai Li Hua atau tidak.

"Hao Lin?" Li Hua yang jelas-jelas tahu benar jika Hao Lin tidak pernah menyakiti dirinya pun kebingungan saat mendengar pertanyaan yang Shu Hua ajukan.

"Maksud kamu apa? Hao Lin tidak pernah melukai Kakak. Sebaliknya, dia justru orang yang menolong Kakak," ungkap Li Hua.

Setelah mendengar kebenaran itu dari Li Hua, barulah Shu Hua merasa malu. Mengingat kembali betapa gilanya dirinya kemarin, Shu Hua benar-benar sudah tidak ada muka lagi untuk menemui Hao Lin.

"Kenapa kamu tiba-tiba diam? Jangan bilang kamu melakukan hal yang sama lagi seperti yang biasa kamu lakukan?" Li Hua tampaknya bisa menebak apa yang telah Shu Hua perbuat; mengingat kembali sifat Shu Hua yang seringkali tidak berpikir sebelum melakukan sesuatu. Berbanding terbalik dendan sifat Li Hua.

"Kamu pasti kemarin marah-marah sama Hao Lin 'kan?! Kamu pasti nuduh dia yang bukan-bukan! Ngaku kamu!" seru Li Hua sambil memberikan pukulan kepada Shu Hua dengan bantal.

Shu Hua tidak bisa mengelak. Lagipula dia punya juga sadar bahwa dia tidak bisa berbohong. Karena jika bukan dia yang memberitahu Li Hua, pasti Hao Lin yang akan memberitahu kepada sang Kakak tentang betapa kurang ajarnya Shu Hua kemarin pada sang Pangeran Mahkota.

"Iya-iya. Aku ngaku kalau aku memang salah. Aku memang sempat nuduh dan curiga sama dia. Tapi itu hal yang wajar aja, Kak." Shu Hua tidak ingin benar-benar disalahkan dalam hal ini.

"Apapun itu, Kakak mau kamu minta maaf kepada Hao Lin. Kamu itu harusnya sadar, kalau bukan karena dia, kita tidak punya tempat tinggal yang aman. Dan jika kita masih tetap tinggal di hutan itu, hanya tinggal tunggu waktu sampai kita kembali diburu!"

Shu Hua menghela napas panjang.

"Iya. Aku janji bakalan minta maaf sama dia nanti." Akhirnya Shu Hua pun setuju untuk meminta maaf kepada Hao Lin.

Namun, beberapa hari telah berlalu, Hao Lin tidak pernah datang lagi berkunjung ke kediaman Xiao Yan.

"Hao Lin tidak bisa datang kemari untuk beberapa waktu ke depan. Telah terjadi sesuatu yang kurang baik di istana. Dia harus tetap ada di sana, terlebih lagi Yang Mulia Kaisar sedang tidak dalam kondisi yang sehat. Hao Lin harus banyak membantu di sana," ungkap Xiao Yan.

Penjelasan Xiao Yan menjawab rasa penasaran Shu Hua. Tetapi hal yang sama sepertinya tidak dirasakan oleh Li Hua: Karena sebenarnya, sebelum Xiao Yan memberitahu, Li Hua sudah lebih dulu tahu tentang itu, bahkan Li Hua lebih banyak tahu tentang apa yang terjadi dibanding Xiao Yan sendiri.

"Apakah gatal-gatal Kaisar semakin memburuk?" tanya Li Hua pelan, takut ada orang lain yang mendengar.

Penyakit Kaisar adalah sesuatu yang harus dirahasiakan. Bukan hal yang biasa bagi seseorang yang tidak memiliki wewenang sampai tahu tentang masalah kesehatan pribadi Kaisar.

"Bagaimana kamu tahu tentang penyakit Kaisar? Apakah semua itu dari penglihatanmu?" Xiao Yan langsung siaga, cepat-cepat dia memeriksa apakah disekitar mereka ada orang lain yang mengintai.

"Tenang saja. Aku tidak merasakan ada energi seseorang di dekat kita. Kita bisa bicara dengan tenang, tetapi tetap dengan suara yang pelan," ucap Li Hua.

"Dan tentang penyakit itu... jika tidak keberatan, aku bisa membantu untuk mengurangi sedikit rasa gatalnya," ungkap Li Hua.

"Kakak bisa melakukannya? Tiba-tiba saja? Kakak yakin bisa? Yang sedang kita bicarakan ini Kaisar. Jika sampai obat yang Kakak berikan salah, bisa-bisa Kakak langsung dieksekusi di tempat!" Shu Hua memberikan peringatan kepada Li Hua, tetapi Li Hua yakin jika dia bisa.

"Kakak yakin bisa melakukannya. Kakak merasa kekuatan yang Kakak punya semakin hari semakin melemah. Jika tidak digunakan untuk kebaikan, rasanya hanya akan sia-sia saja. Hitung-hitung kita membalas budi saja kepada Xiao Yan dan Hao Lin yang sudah membantu kita," ujar Li Hua.

"Jika memang benar kamu bisa menyembuhkan Kaisar, aku akan coba berikan kesempatan. Ayo kita ke istana sekarang." Xiao Yan tampak yakin dengan kemampuan Li Hua.

"Aku tidak pergi. Hanya obatnya yang akan pergi. Dan sebelum itu, aku perlu beberapa bahan untuk membuat obat gatalnya. Kalian berdua harus mencarikannya untukku," kata Li Hua.

"Memangnya apa yang Kakak perlukan?"

"Akar Ku Shen, Bai Xian Pi, Di Fu Zi, Sheng Di Huang."

Mendengar nama-nama itu, Shu Hua langsung merasa pusing. Namanya aneh, dan lebih aneh lagi baginya, kenapa bisa Kakaknya sampai tahu tentang hal itu?

Dan karena tidak punya banyak waktu lagi, akhirnya Xiao Yan dan Shu Hua pun langsung berangkat untuk mencari semua bahan yang Li Hua inginkan.

Xiao Yan dan Shu Hua masuk ke hutan, berusaha mencari tanaman yang Li Hua maksud, karena sebelumnya Li Hua mengatakan jika tanaman itu ada di hutan.

Xiao Yan dan Shu Hua mencari dengan sungguh-sungguh, tetapi saat mereka mendapat satu dari empat tanaman itu, tiba-tiba sebuah anak panah melesat cepat—hampir saja mengenai Shu Hua; tetapi untungnya Xiao Yan cepat menarik Shu Hua untuk menghindari anak panah itu.

-Bersambung-

1
Chen Nadari
mampir Thor
SecretS
Up lagi kak, besok aja langsung double 5 eps 😄😄😄 sekarang istirahat yang cukup aja kak, tapi cerita kakak Sungguh seru loh, oh ya Aku penasaran apa Li Hua sama Shu Hua itu anak dari orang penting kok sampek diburu terus 🙏😄😄
SecretS
Lanjut kak 😆😆😆, shu hua bakal tau ngak kalau kakak Li Hua nya pingsan, Tolong up lagi kak 🙏🙏🙏
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!