NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 18 : Akita, Bakpau, dan Janji

_Sabtu pagi. Jam 7:12 pagi.

Stasiun Karawaci._

Hujan kecil. Indry sudah menunggu di peron dengan tote bag krem dan kepang satu. gak sabaran, debaran jantung. Kangen berat.

Zaki turun dari kereta, bawa tote bag kecil. Di tangan ada plastik putih. Bau martabak coklat lagi.

Zaki: “Pagi, sayang.”

Indry: “Pagi, Zaki. Kamu bawa martabak lagi?”

Zaki: “Iya. Buat bekal. Takut kamu laper di jalan.”

Indry ketawa. “Kita mau ziarah, bukan piknik, Zaki.”

Zaki: “Ziarah juga butuh tenaga, Indry.”

Mereka naik Grab ke PIK 2. Tujuan: Taman Doa Akita.

Di mobil, Indry mengeluarkan rosario dari laci kecil tote bagnya. Rosario manik Pink seperti berlian, salibnya mengkilap.

Indry: “Ini rosario kesayangan aku. Lebih dari 2 bulan di tangan kamu ya.”

Zaki menerima rosario itu pelan. Jarinya menyentuh manik manik itu.

"2 bulanan ini rosario ini ikut aku ke dapur, ke pasar, bahkan ke samping kuali minyak kelapa. Aku nggak tahu semua doa, tapi aku sering pegang ini waktu rindu kamu.”

Indry terdiam. Dadanya hangat.

Indry: “Terima kasih sudah jaga dia, Zaki.”

Zaki: “Aku banyak merenung, Indry. Rosario ini bikin aku diam. Aku jadi ngerti kenapa kamu selalu tenang walau capek.”

Indry: “Karena doa itu nggak selalu minta. Kadang doa itu cuma duduk diam bersama Tuhan.”

*Jam 10:03 pagi.

Taman Doa Our Lady of Akita, PIK 2.

Langit cerah. Angin laut pelan. Kapel kecil dengan arsitektur Jepang berdiri tenang. Patung Bunda Maria dari Akita yang terbuat dari kayu berada di dalam kapel, tangan terbuka.

Di luar, jalan salib melingkar mengelilingi danau kecil. Tidak ada patung Hachiko atau kucing di sini. Taman doa ini murni tempat ziarah.

Indry melepas sandal sebelum masuk kapel, sesuai aturan.

Indry: “Di sini hening banget ya, Zaki. Nggak ada patung anjing atau kucing. Ini murni tempat doa.”

Zaki: “Aku suka. Rasanya hati langsung pelan.”

Mereka berdoa Ratu Surga jam 12 siang di dalam kapel. Dingin. Hening.

Indry memimpin doa pelan:

“Ratu Surga, bersukacitalah, alleluia…”

Zaki menutup mata. Tangannya menggenggam rosario Indry.

Selesai doa, Zaki berbisik:

“Indry… rasanya damai.”

Indry: “Iya, Zaki. Itu Tuhan.”

Jam 12:30 siang.

Kompleks Tokyo Hub,

sebelah Taman Doa Akita.

Habis doa, mereka jalan kaki 8-10 menit melewati deretan ruko ala Jepang., patung Hachiko di taman kecil, dan patung kucing Kuching. Nuansanya beda: lebih wisata, lebih ramai.

Indry tertawa kecil lihat patung Hachiko.

Indry: “Nah ini dia Hachiko. Anjing setia nunggu tuannya. Mirip kamu ya, Zaki?”

Zaki: “Mirip kamu juga, Indry. Lima belas tahun nunggu berani hubungi aku lagi. "

Mereka foto bareng Hachiko, Kuching.

Suasana jadi ringan, nggak seharian khusyuk doa doang.

Zaki: “Indry, jelasin dong kenapa patung-patung di kapel tadi penting.”

Indry: “Taman Doa Akita itu terinspirasi dari penampakan Maria di Akita, Jepang tahun 1973. Semua patung di kapel itu tentang kesetiaan, doa, pengorbanan.

Kalau yang di sini…” Indry nunjuk Hachiko, “...ini cuma pengingat kalau setia itu capek, tapi indah.”

Zaki ketawa. “Berarti kita lulus ujian setia ya.”

Jam 1:30 siang.

Kedai bakso depan taman.

Mereka duduk di meja kayu. Pesan bakso jumbo.

Zaki: “Bakso jumbo. Mirip kenangan kita di Kalimantan dulu, ya?”

Indry tertawa. “Iya. Dulu kita beli bakso pinggir kapuas, enak banget,kamu bilang keasinan. katanya bakso Tegal lebih enak. Tapi iya sih...selama di Malang kemarin aku makan bakso rasanya beda sama yang di kalimantan’.”

"waktu itu kamu malu ya aku yang traktir. "

Zaki: “Dan sekarang aku yang belikan. Telat lima belas tahun.”

Indry: “Nggak telat, Zaki. Pas.”

Mereka makan sambil bercerita.

Zaki: “Indry, kalau nanti kita punya anak, aku mau ajak dia ke sini. Aku mau dia tahu, cinta Papa dan Mama dimulai dari doa.”

Indry terdiam. Lalu mengangguk.

Indri: “Aku mau anak kita tahu, Mama Katolik, Papa Islam. Tapi cinta kami nggak pernah jadi alasan untuk benci.”

Zaki: “Iya, sayang. Cinta itu jembatan, bukan tembok.”

Mereka tertawa. Obrolan romantis mengalir sepanjang siang.

Tentang mertua, tentang anak, tentang “kalau aku gemuk nanti”, tentang “kalau aku botak karena ...”.

Zaki: “Indry, kamu tahu nggak? Aku bahagia banget hari ini.”

Indry: “Aku juga, Zaki. Sangat bahagia.”

*Jam 5:00 sore. Kost Karawaci.*

Mereka pulang. Indry masuk dapur. Zaki bantu cuci sayur.

Indry: “Malam ini aku masak sop ayam. Kamu duduk saja.”

Zaki: “Nggak, sayang. Aku mau bantu. Aku mau rasanya seperti suami istri.”

Indry: “Kita belum suami istri, Zaki.”

Zaki: “Tapi rasanya sudah, Indry.”

Mereka masak bersama. Sempit, tapi hangat.

Zaki mengiris bawang. Indry menumis bumbu.

Zaki: “Indry, kalau kita menikah, aku janji aku akan selalu bantu kamu di dapur.”

Indry: “Janji ya. Jangan cuma gombal.”

Zaki: “Aku Zaki, Indry. Aku nggak gombal.”

Makan malam jadi. Sop ayam, tempe goreng, nasi hangat.

Mereka makan di lantai, bersila.

Zaki: “Enak, Indry. Rasanya seperti rumah.”

Indry: “Karena kamu ada di sini, Zaki.”

*Jam 9:30 malam. Kamar kost.*

Lampu tidur biru menyala. Mereka duduk di kasur.

Indry: “Zaki, main tebak-tebakan absurd yuk.”

Zaki: “Boleh. Kamu mulai.”

Indry: “Apa yang selalu datang tapi nggak pernah tiba?”

Zaki: “Besok.”

Indry: “Salah. Jawabannya: hari libur kalau kamu kerja kayak Meta.”

Zaki tertawa. “Kamu curang, Indry!”

Mereka tertawa sampai perut sakit.

Indry: “Zaki, kalau aku jadi kucing, kamu mau pelihara nggak?”

Zaki: “Mau. Tapi aku harus kasih nama kamu Kuching.”

Indry memukul pelan dada Zaki. “Gombal!”

Tawa mereda. Suasana berubah pelan.

Zaki menatap Indry dalam.

Zaki: “Indry… aku rindu.”

Indry: “Aku juga, Zaki.”

Jarak mereka menyempit.

Ciuman datang. Tidak pelan. Tidak terburu-buru. Tapi menuntut. Menuntut jawaban dari lima belas tahun rindu.

Ciuman singkat. Hangat. Penuh hormat.

Zaki: “Maaf, Indry. Aku…”

Indry: “Nggak apa-apa, Zaki. Aku juga mau.”

Mereka berpelukan. Tidak lebih.

Zaki: “Indry, aku janji. Aku jaga kamu.”

Indry: “Aku juga janji, Zaki. Aku jaga kamu.”

Mereka tertidur dalam pelukan. Hangat. Aman.

*Minggu pagi. Jam 6:30 pagi. Katedral Jakarta.*

Hujan kecil. Indry pakai mantila putih. Zaki pakai kemeja putih.

Misa dimulai. Indry dan Zaki duduk di bagian tengah.

Zaki tidak komuni. Dia hanya diam, menatap Indry yang menerima Tubuh Kristus.

Setelah Misa, Indry keluar dengan mata berkaca.

Zaki: “Kenapa menangis, sayang?”

Indry: “Karena kamu menunggu dengan sabar disamping aku, nggak ngeluh kelamaan misa Zaki. Itu cinta.”air mata makin deras.

Mereka jajan di depan katedral. Indry beli bakpau babi. Zaki beli bakpau kacang merah.

Indry: “Kamu nggak mau coba bakpau babi?”

Zaki: “Nggak, sayang. Aku hormat.”

Indry: “Aku juga hormat, Zaki. Aku nggak akan paksa kamu.”

*Jam 1:00 siang. Masjid Istiqlal.*

Zaki masuk untuk sholat Zuhur. Indry menunggu di garasi, duduk di bangku, pakai mantila.

Orang-orang melirik. Tapi Indry tidak peduli.

Zaki keluar. Wajahnya tenang.

Zaki: “Maaf lama, sayang.”

Indry: “Nggak apa-apa, Zaki. Aku senang menunggu kamu.”

Mereka berjalan pulang. Tangan bergandengan.

Indry: “Hari Minggu yang ceria, ya Zaki?”

Zaki: “Iya, sayang. Sukacita.”

*Jam 4:00 sore. Kost Karawaci.*

Mereka pulang. Kost sepi. Ogah belum pulang. Meta belum pulang.

Indry: “Zaki… capek nggak?”

Zaki: “Capek. Tapi bahagia.”

Indry: “Aku juga, Zaki.”

Mereka duduk di kasur. Tidak ada kata lagi.

Zaki memeluk Indry. Pelan. Hangat. sambil pijet tipis tipis...

Indry, "mau es nggak, aku buatin ya, Lemon Tea! "

Zaki, :"Ma kasih Cinta ku, kecup dahi. Cup. "

Indry: “Zaki… aku bahagia.”

Zaki: “Aku juga, Indry. Sangat bahagia.”

Mereka tertidur dalam pelukan.

Di luar, hujan kecil masih turun.

Di dalam, dua hati yang sudah lama menunggu akhirnya pulang.

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!