Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Lah, ngapa lo? Cemburu?"
"Najis. Cuih!"
"Eh, eh, jangan gelut!" Fahri buru-buru menyela di tengah.
"Kara, lepasin!" Putri memukul-mukul lengan Kara.
"Gw gak pegang dia. Cuma hapenya doang," sahut Kara, tetap tidak melepaskan.
Beberapa detik tarik-menarik terjadi, sebelum akhirnya Narisa berhasil merebut kembali ponselnya dan mundur dua langkah. Kali ini senyumnya melebar, jelas menunjukkan kemenangan.
"Takut kan lo?" katanya pelan. "Macem-macem dikit, gw pastiin lo habis."
Untuk pertama kalinya Kara kehabisan kata. Kalau foto itu sampai ke wali kelas, atau lebih parah ke orang tuanya..
Dia langsung membayangkan masa depannya tamat. Diusir, tidak punya uang, makan pun mikir.
Singkatnya: selesai.
Di saat kepala Kara masih penuh dengan berbagai kemungkinan buruk, Narisa justru sudah tertawa ringan. Seolah semua itu cuma lelucon pagi. Tanpa rasa bersalah, cewek itu berbalik dan melangkah pergi.
"Lapangan hari ini punya gw! " katanya lantang tanpa menoleh, "Paham lo, Santen?! Berani ngelunjak, kelar idup lo!"
Kara tidak menjawab. Ia tetap di tempat, menatap punggung Narisa yang makin menjauh dengan rasa kesal yang menggumpal pelan.
"Kecil, tapi pecicilan banget," gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke siapa pun, "kok bisa itu anak ada di mana-mana? Sampe dapet foto gw ciuman segala."
Belum cukup sampai di situ, dia pun harus beralasan dengan anak klub soal lapangan. Lagipula, kenapa Narisa tiba-tiba jadi ngidam main basket? Kara mendengus sambil merapikan rambut. Urusan nanti lebih baik dipikirkan nanti.
Sementara itu di perjalanan menuju kelas, suasana di kubu Narisa jelas tidak kalah ramai. Fahri langsung menyenggol bahu Narisa dengan ekspresi penasaran.
"Lo tunjukin foto apa sih, Nar?"
"Ada deh," jawab Narisa santai, tanpa sedikit pun niat berbagi.
Putri langsung menyahut. "Lo main rahasia sama kita? Setelah kita temenan dua tahun dua bulan tiga belas hari?"
Narisa memutar mata, setengah malas, setengah ingin nyolot.
"Ah, berisik lo berdua. Pokoknya-"
Kalimatnya terpotong begitu saja saat seseorang muncul dari arah berlawanan.
Cakra.
Langkanya santai, seolah lorong sekolah memang miliknya. Saat berpapasan, tangannya terangkat begitu saja, mengusap kepala Narisa singkat.
"Belajar yang bener," ucapnya, lalu tetap berjalan tanpa berhenti.
Narisa tersenyum tanpa sadar. Tubuhnya sempat berbalik sedikit, matanya mengikuti punggung Cakra yang menjauh.
"Istirahat traktir boba ya!" serunya.
Cakra hanya mengangkat tangan sebagai jawaban, tidak menoleh.
Putri mendengus pelan, "Gila. Gayanya gak main- main."
Fahri tidak ikut komentar, tapi tatapannya berubah serius. Dalam hati, satu kalimat tercatat rapi: gw harus kayak dia.
"Pacar gw tuh. Ketua basket, coy," kata Narisa bangga.
Putri langsung meringis. "Dia nya sih bener. Nah, lo? Hobi bolos pas jam pelajaran, nongol pas istirahat, males ngerjain PR, dihukum malah kabur."
Narisa memutar mata lagi, lalu melanjutkan langkah tanpa merasa perlu tersinggung.
" Curhat? Lo kan juga sama."
"Ya gw mah ketauan gak punya pacar. Jadi gak perlu jaga nama baik," balas Putri cepat.
Narisa tidak menanggapi lagi. Ia langsung masuk ke kelas mereka yang ramai sebelum guru datang. Kelas IPS 4, posisi paling ujung dan paling akhir.
Masih mending Kara yang di IPS 3. Beda satu tingkat, tapi rasanya seperti beda nasib.
Beberapa menit kemudian, bel berbunyi. Bu Rina, guru sejarah, masuk dengan ekspresi serius yang tidak cukup kuat untuk membuat satu kelas ikut tegang. Perempuan itu meletakkan buku ke meja guru dan menatap murid-muridnya.
"Pagi, anak-anak," sapanya datar.
"Pagi, Bu,"
.