Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam itu, atmosfer di Ndalem Agung terasa sangat tegang namun sedikit lebih tenang dari biasanya. Celina dengan tangan bergetar mengetik pesan singkat ke Raka: "Rak, malam ini jangan ke kamar gue. Ada urusan keluarga penting. Jangan nekat." Setelah memastikan Raka tidak akan muncul, ia memberanikan diri menemui Zuhair.
"Zuhair... malam ini tolong di sini ya? Ada yang mau gue omongin," ucap Celina dengan nada yang tidak lagi meledak-ledak. Ada sisa sembap di matanya.
Zuhair yang sedang merapikan beberapa kitab di ruang tengah hanya mengangguk pelan. Ia duduk di kursi kayu panjang, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mendengarkan.
"Gus..." Celina memulai, ia menatap ujung kakinya sendiri. "Gue tuh sebenernya nggak masalah dijodohin sama lo. Gue tau lo orang baik, dan sebenernya nggak ada salahnya buat gue mulai hidup lebih baik di sini bareng lo."
Zuhair terdiam, ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Celina.
"Tapi gimana... nasi udah jadi bubur," lanjut Celina, suaranya mulai parau. "Gue terlanjur kebablasan sama Raka. Gue ngelakuin itu karena gue benci banget sama lo waktu itu, gue pikir lo khianatin gue. Itu juga gue minta maaf banget... Gue tau gue udah kotor. Jadi, keputusannya sekarang ada di lo. Kalau lo mau ceraiin gue karena jijik, gue terima. Gue pantes dapet itu."
Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit. Zuhair menatap langit-langit, mencoba mengendalikan badai di dalam hatinya. Ia teringat bayangan semalam di jendela, namun ia juga teringat bagaimana hancurnya ia saat difitnah Sarah.
"Saya nggak akan lepas kamu," ucap Zuhair tiba-tiba dengan suara yang mantap. "Saya tarik omongan saya tadi siang tentang membebaskan kamu."
Celina mendongak, matanya membelalak tak percaya. "Tapi Gus, gue udah—"
"Saya tahu," potong Zuhair dengan lembut namun tegas. "Tapi saya juga sadar, saya punya andil dalam kekacauan ini. Karena ketidaktegasan saya menghadapi Sarah, kamu jadi pelampiasan rasa sakit hati. Semua orang pernah buat salah, Celina. Saya bukan manusia suci yang tanpa dosa."
Zuhair bangkit, berdiri di depan Celina meskipun ia belum berani menyentuhnya. "Saya bakalan urus si Sarah besok pagi di depan Abi. Kebohongan dia harus berakhir. Soal kita... saya mau kita coba lagi. Saya mau jagain kamu."
Zuhair menatap Celina dalam-dalam. "Tapi sekarang, tinggal kamu... gimana perasaan kamu sama Raka? Apa kamu bisa lepasin dia demi pernikahan ini?"
Celina terpaku. Di satu sisi ada Raka yang memberinya kesenangan dan kebebasan, tapi di sisi lain ada Zuhair—pria yang baru saja menawarkan pengampunan luar biasa di saat ia sendiri merasa seperti sampah. Pilihan ini terasa jauh lebih berat daripada saat ia pertama kali menginjakkan kaki di pesantren ini.
Esok hari, Celina berjalan menuju area belakang pesantren dengan langkah yang sengaja ia buat santai agar tidak mengundang kecurigaan santri lain. Tujuannya adalah menemui Raka di tempat biasa mereka mencuri waktu untuk bicara. Celina sudah menyiapkan rentetan kalimat di kepalanya, ia ingin bicara serius soal Zuhair dan keputusannya untuk berubah.
Namun, baru saja ia sampai di bawah pohon beringin tua yang rimbun, Raka yang sudah duduk di sana lebih dulu langsung berdiri. Belum sempat Celina membuka mulut, Raka sudah menatapnya dengan tatapan yang sangat asing—lebih tenang dan tidak ada binar nakal seperti biasanya.
"Cel," potong Raka cepat, suaranya terdengar berat dan serius.
"Hah? Apaan? Gue mau—"
"Gue mau ngomong duluan," sela Raka lagi. Ia menghela napas panjang, menatap ke arah santri-santri yang sedang berlalu lalang di kejauhan dengan kitab di tangan mereka.
"Cel... keknya kita salah lakuin ini semua. Jujur ya, selama tiga bulan di sini, entah kenapa gue malah jadi nyaman di lingkungan pesantren ini. Suasana di sini, suara orang ngaji, ketenangan santri-santrinya... itu bikin gue mikir," ucap Raka dengan nada yang sangat tulus.
Celina tertegun, mulutnya yang tadi ingin bicara soal pengampunan Zuhair malah terkatup rapat.
"Gue ngerasa kotor banget, Cel. Tiap kali gue masuk ke kamar lo, gue ngerasa kita kayak iblis yang lagi ngerusak kesucian tempat ini. Jujur, gue mau tobat," lanjut Raka. Ia menatap Celina tepat di matanya. "Lagian lo juga udah ada suami. Dan Gus Zuhair itu... dia bukan orang sembarangan. Gue ngerasa jahat banget kalau kita lanjutin ini. Mending kita temenan biasa aja, kayak pas kita masih di Jakarta sebelum semuanya jadi kacau begini."
Celina masih mematung, ia tidak menyangka Raka akan mengatakan hal yang justru menjadi beban pikirannya sejak semalam.
"Terus soal yang udah kita lakuin gimana?" tanya Celina dengan suara bergetar.
"Yang udah terjadi di antara kita... jadiin pelajaran aja buat kita berdua. Gue nggak akan lepas tangan gitu aja, Cel. Gue bukan pengecut," Raka mendekat selangkah, namun tetap menjaga jarak. "Kalau misal nanti ternyata lo hamil, gue bakalan tanggung jawab. Gue bakal ngadep suami lo, gue bakal terima resikonya. Tapi kalau lo nggak hamil, ya udah... kita jalanin hidup sebagaimana mestinya, cuma sebagai temen. Lo balik ke Zuhair, dan gue fokus benerin diri gue di sini."
Mendengar itu, Celina merasa seolah seluruh beban yang menghimpit dadanya sejak pengakuan Zuhair semalam luruh seketika. Rencana yang tadinya ingin ia sampaikan justru sudah diselesaikan lebih dulu oleh Raka dengan cara yang paling terhormat.
"Gue... gue baru aja mau ngomong itu ke lo, Rak," bisik Celina, air matanya mulai menggenang. "Zuhair tau semuanya. Dia ngeliat kita semalem dari jendela."
Raka tersenyum pahit, ia tidak tampak terkejut. "Tuh kan. Tuhan emang udah nggak mau kita makin jauh. Balik ke dia, Cel. Dia pria yang baik. Gue bakal urus diri gue sendiri di sini."
Raka menepuk pundak Celina singkat sebelum akhirnya berbalik, berjalan menuju masjid untuk mengikuti salat Dzuhur berjamaah, meninggalkan Celina yang berdiri sendiri dengan perasaan lega yang teramat sangat. Pintu keluar dari dosa ini akhirnya terbuka lebar bagi mereka berdua.
Aula Ndalem Agung yang biasanya tenang kini terasa mencekam. Di tengah ruangan, Abi dan Ummi duduk di kursi kayu berukir dengan wajah penuh tanda tanya. Sarah duduk di sisi kanan, sesekali masih mencoba memasang wajah melas dan mengelus perutnya, sementara Celina duduk di sisi kiri Zuhair.
Celina tampak berbeda hari ini. Tidak ada tank top atau celana pendek ketat; ia mengenakan tunik panjang yang sopan dengan rambut yang terikat rapi. Meskipun belum berhijab, wajahnya yang biasanya tengil dan penuh tantangan kini terlihat sangat serius dan tenang.
Zuhair berdiri di tengah-tengah, menarik napas panjang sebelum akhirnya menaruh ponselnya di atas meja marmer. Tanpa banyak bicara, ia menekan tombol play.
"Ya setidaknya aku udah dapetin Gus Zuhair, walaupun kemarin aku ngejebak dia hihi... Bukan! Ini anak pacar saya si Malik! Saya telat datang bulan 2 minggu eh di cek positif, ya saya jebak saja Gus Zuhair... kita juga udah beberapa kali bergumul, jadi ya saya dengan bebas ngaku kalau ini anak dia."
Suasana seketika hening mematikan. Suara rekaman itu berhenti, namun gema pengkhianatan itu seolah masih berputar-putar di langit-langit aula.
Wajah Sarah yang tadinya pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Ia mencoba membuka mulut, namun tidak ada suara yang keluar. Matanya melotot kaget, menatap ponsel Zuhair seolah itu adalah bom yang baru saja meledakkan seluruh masa depannya.
Abi berdiri dengan perlahan, namun getaran amarah di tubuhnya terasa hingga ke ujung ruangan. "Sarah..." suara Abi rendah, bergetar karena rasa kecewa yang luar biasa. "Kamu... berani membawa benih laki-laki lain ke dalam rumah ini dan memfitnah anak saya?"
"Abi... itu... itu nggak bener Abi! Rekaman itu editan! Mas Zuhair jahat!" teriak Sarah histeris, ia mencoba merangkak mendekati kaki Abi, namun Zuhair segera menghalanginya.
"Cukup, Sarah," ucap Zuhair dingin. Matanya yang biasanya teduh kini menatap Sarah dengan sorot yang sangat tajam. "Saya punya saksi, Malik dan Sukma. Kamu pikir saya akan diam saja setelah kamu menginjak-injak kehormatan saya dan menghancurkan perasaan istri saya?"
Zuhair melirik ke arah Celina. Celina hanya diam, menatap Sarah dengan tatapan datar—bukan tatapan penuh kemenangan, melainkan tatapan kasihan. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini jauh lebih kotor dari dirinya yang ia anggap 'nakal'.
"Abi, Ummi," Zuhair berbalik menghadap orang tuanya, suaranya kini bergetar karena menahan emosi. "Malam itu saya tidak pernah menyentuhnya. Dia memberi saya sesuatu di minuman saya hingga saya tidak sadar. Pernikahan siri ini adalah kesalahan besar yang didasari atas kebohongan. Saya tidak bisa melanjutkan ini."
Ummi mulai terisak, ia merasa sangat tertipu oleh sikap santun Sarah selama ini. "Astaghfirullah, Sarah... Ummi sudah menganggap kamu anak sendiri, kenapa kamu sekeji ini?"
Sarah yang melihat posisinya sudah terdesak mulai kehilangan akal sehatnya. Ia menunjuk Celina dengan jari gemetar. "Terus dia?! Dia juga nakal! Dia bawa cowok ke kamar!"
Zuhair berdiri tegak di depan Celina, melindunginya. "Soal Celina, itu urusan saya sebagai suaminya. Tapi soal kamu, urusannya adalah dengan hukum pesantren dan Tuhan. Hari ini juga, saya kembalikan kamu ke orang tuamu. Kamu keluar dari pesantren ini."
Celina menarik napas panjang. Ia melihat betapa kokohnya Zuhair membelanya di depan semua orang, meskipun Zuhair tahu betul boroknya semalam. Di saat itu juga, di dalam aula yang panas itu, Celina merasa ada sesuatu yang mencair di hatinya—sebuah rasa hormat yang mendalam kepada pria yang selama ini ia remehkan.