NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Pertama

Aveline perlahan memberbalikan badan, menatap lurus ke arah pria di ambang pintu. Sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman sinis yang cukup sengit—senyuman yang hanya bermain di bibir, namun tak pernah sampai menyentuh sorot matanya yang tajam dan kosong.

“Kalau dia mati, aku hanya perlu menguburnya saja. Halaman rumah ini cukup luas, bukan?” ucapnya pelan, nada bicaranya begitu santai dan tenang, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca atau rencana makan malam, bukan soal nyawa seseorang.

Di sisi lain, tubuh Ines yang tergeletak mulai gemetar hebat. Rasa panik dan ketakutan menyergap seluruh kesadarannya hingga tak tersisa. Ia ingin berteriak, ingin memohon ampun, dan ingin mengatakan bahwa ia menyesal. Kalimat berulang-ulan yang pernah keluar dari bibirnya sebelumnya, namun seluruh tenaganya seakan telah tersedot habis. Dadanya naik turun tak beraturan, setiap tarikan napas terasa begitu berat dan menyakitkan, seperti ada benda keras yang menyumbat tenggorokannya.

“Atau .…” Aveline melanjutkan kalimatnya tanpa terburu-buru, matanya masih sesekali melirik tajam ke arah wanita yang tak berdaya itu. “Kau ingin menyeretku ke dalam penjara?”

Nada bicaranya tetap ringan, datar, seolah-olah semua kemungkinan buruk itu memiliki nilai yang sama baginya, tidak ada yang perlu ditakuti atau dihindari.

Di ambang pintu, William berdiri mematung. Ia tidak bergerak sedikitpun. Pandangannya tidak langsung menatap wajah Aveline, namun jelas sekali pria itu tidak melewatkan satupun gerakan, maupun ekspresi yang terjadi di dalam ruangan itu. Matanya mengamati segalanya dengan cermat.

“Tuan … bukankah itu sudah terlambat?”

“Aku sudah memberimu pilihan untuk menceraikanku,” lanjut Aveline tanpa menunggu jawaban apapun dari sang Kolonel. Suaranya tenang namun tegas. “Dan kau menolaknya.”

“Itulah sebabnya aku mengatakan bahwa kau perlu diawasi,” jawab William pada akhirnya. Datar, tanpa naik-turun ataupun emosi berlebih, seakan kalimat itu hanyalah pernyataan fakta yang biasa.

Perlahan, ia mendorong tubuhnya dari ambang pintu—tempat dimana ia bersandar tadi, lalu melangkah mendekat. Langkah kakinya berat dan penuh wibawa, membuat jarak di antara mereka menyempit hingga hanya tersisa beberapa senti saja. Tinggi badannya yang menjulang membuatnya tampak sangat dominan tepat di hadapan Aveline, memaksa wanita itu untuk sedikit mendongak jika ingin menatap lurus ke manik mata pria itu.

Di tangannya masih tergenggam sebatang rokok yang menyala merah di ujungnya. Ia menghisapnya perlahan, lalu mengembuskan asap kelabu ke samping, tidak langsung menghadapkan wajahnya ke arah Aveline, namun cukup dekat hingga aroma tembakaunya tercium jelas di udara.

“Oh …?”

Aveline mengeluarkan suara singkat, terdengar seperti mengejek.

“Ternyata Tuan Kolonel memiliki sisi seperti ini,” balasnya dengan nada suaranya tetap lembut namun setiap kata jelas mengandung sindiran tajam. “Kupikir, kau mengatakannya hanya sebagai formalitas. ”

Senyum di wajahnya tidak pernah luntur. Dengan gerakan yang sangat cepat, luwes, dan tanpa rasa takut sedikitpun, tangannya bergerak maju. Jari-jarinya yang lentik menjepit batang rokok itu di sela jemari William, lalu menariknya keluar dengan gerakan bersih dan mantap.

Alis tebal pria itu terangkat sedikit, itu adalah satu-satunya reaksi yang muncul dari wajah datarnya. Tidak ada penolakan, maupun keinginan untuk merebutnya kembali. Ia hanya diam, memperhatikan tindakan berani istrinya itu dengan tatapan yang sulit diterka.

Aveline menatap lurus ke manik mata William selama satu detik penuh dan menantang. Sebelum perlahan-lahan membawa benda itu ke bibirnya sendiri. Ia menghisapnya tanpa ragu, lalu mengembuskan asap ke samping dengan gaya yang persis sama seperti yang dilakukan William tadi, seolah meniru tanpa izin dengan penuh kesombongan. Gerakannya sangat tenang, tidak terburu-buru, seakan-akan rokok itu memang miliknya sejak awal.

William tetap tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Pandangannya tidak berubah, namun jelas ia mengikuti setiap detail kecil dari tindakan itu tanpa melewatkan apapun. Seperti sedang meneliti sosok di hadapannya yang kini terasa begitu asing namun menarik perhatian.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aveline berbalik badan, membelakangi pria itu begitu saja dengan sikap yang angkuh.

“Kau ....”

Suaranya keluar singkat, matanya menatap tajam sementara jari telunjuknya terangkat lurus menunjuk tepat ke arah gadis berkepang yang berdiri mematung di sudut ruangan, membuat gadis tersebut seketika menunduk dalam dengan bahu yang menegang ketakutan.

“Y–ya, Nona?” jawab Liora terbata.

“Siapkan air hangat untukku.”

Perintah dari ujung lidahnya keluar begitu saja, penuh dengan otoritas, tanpa perlu diulang dua kali. Aveline sudah melangkah pergi meninggalkan dapur, bahkan sebelum kalimatnya selesai diucapkan.

Tap, tap, tap.

Suara sepatu haknya beradu keras dengan lantai marmer dalam ritme yang teratur dan menakutkan. Asap rokok masih mengepul tipis dari bibirnya saat ia berjalan menjauh, meninggalkan William yang masih berdiri mematung, serta kepala pelayan yang tergeletak tak berdaya di sana.

Liora menunduk semakin dalam dengan tubuh bergetar. “Ba–baik, Nona.”

~oo0oo~

Air hangat mengalir tenang memenuhi bak mandi marmer yang terpasang rapi di sudut kamar mandi pribadi. Permukaan baknya halus, tanpa ukiran berlebihan, dengan garis yang bersih dan tegas. Dinding di sekelilingnya dilapisi marmer terang yang dipoles sempurna, memantulkan cahaya lampu gantung kecil di langit-langit dengan lembut. Tidak ada kesan tua atau kasar—semuanya terasa teratur, mahal, dan terkontrol, sama seperti keseluruhan Eisenhall.

Aveline de Grimwald berdiri di tepi bak mandi, tidak langsung masuk. Tatapannya sempat turun ke permukaan air yang perlahan dipenuhi uap tipis. Jemarinya menyentuh air itu lebih dulu, menguji suhu dengan gerakan ringan, sebelum akhirnya ia melangkah masuk tanpa ragu.

Air hangat langsung membungkus tubuhnya saat ia menurunkan diri perlahan hingga tenggelam setengah. Bahunya merendah, lalu punggungnya bersandar pada sisi bak. Tidak ada gerakan tergesa. Semua dilakukan dengan ritme yang tenang, seolah ia sudah terbiasa mengatur setiap detik yang ia miliki.

Beberapa detik pertama Aveline hanya diam.

Napasnya perlahan menurun dari ketegangan yang masih tersisa. Otot-otot yang sebelumnya menegang kini mulai melepas satu per satu. Tidak ada ekspresi di wajahnya, tetapi jelas tubuhnya sedang kembali ke kondisi semula—bersih, stabil, terkendali.

Bagi seseorang seperti Soren, merawat diri bukan sekadar kebiasaan. Itu bagian dari disiplin. Tubuh yang terjaga berarti kendali yang tidak mudah goyah. Bahkan setelah kekerasan, setelah keputusan cepat yang diambil tanpa ragu, ia tetap tahu kapan harus berhenti dan menata ulang dirinya.

Tangannya bergerak menuju sisi bak, meraih botol sabun cair yang tersusun rapi di sana. Aromanya lembut, tidak menyengat. Ia menuangkannya secukupnya ke telapak tangan, lalu mengusapnya perlahan ke kulitnya dengan gerakan yang terukur. Tidak ada bagian yang dilewatkan, tidak ada gerakan yang sia-sia.

Air beriak pelan mengikuti setiap gerakannya.

Rambut panjangnya ia angkat ke atas, disanggul sementara dengan satu jepit sederhana agar tidak seluruhnya basah. Beberapa helai tetap jatuh di sisi lehernya, menempel karena uap, tetapi ia tidak menghiraukannya.

Waktu berjalan tanpa suara.

Hanya gemericik air dan napas yang stabil mengisi ruangan.

Hingga tanpa disadari, sebuah ketukan halus terdengar dari balik pintu.

“Nona.”

Suara Liora terdengar hati-hati, tidak terlalu keras, seolah berusaha memastikan tidak mengganggu.

Aveline tidak langsung membuka mata. Ia tetap diam selama beberapa detik, membiarkan keheningan itu berlalu sebelum akhirnya bertanya dengan suara rendah.

“Ada apa?”

“Makan malam sudah disiapkan, Nona.”

Nada suara Liora tetap sopan, tetapi jelas terselip kegugupan di dalamnya, seakan masih terbayang apa yang terjadi sebelumnya.

Aveline membuka mata perlahan. Tatapannya kembali jernih, tanpa sisa emosi yang tadi sempat muncul.

“Aku mengerti.” Jawabannya singkat.

Di luar, Liora langsung menunduk meski tidak terlihat dari dalam. Langkah kaki itu menjauh perlahan, meninggalkan kembali keheningan di dalam ruangan.

Aveline tidak segera bangkit.

Tangannya menyapu permukaan air, menciptakan riak kecil yang dengan cepat menghilang. Ia kemudian menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, memastikan tidak ada sisa ketegangan yang tertinggal di dalam dirinya.

Beberapa saat kemudian, ia mengangkat tubuhnya dari dalam bak. Air mengalir turun dari kulitnya, jatuh kembali ke permukaan dengan suara lembut. Handuk tebal yang sudah disiapkan di samping bak ia ambil tanpa melihat, lalu digunakan untuk mengeringkan tubuhnya dengan gerakan yang sama teraturnya seperti saat ia masuk tadi.

Aveline melangkah keluar dari kamar mandi tanpa terburu-buru. Uap hangat masih menempel tipis di kulitnya saat ia menuju ruang ganti yang terhubung langsung dengan kamar utama. Pintu didorong pelan, memperlihatkan ruangan yang rapi dan terang, dengan lemari-lemari tinggi tersusun di sepanjang dinding.

Di atas kasur kecil di tengah ruangan, sudah tersedia satu gaun tidur yang dilipat rapi.

Aveline berjalan mendekat, lalu membuka lipatan kain itu tanpa ekspresi. Gaun tidur berwarna lembut dengan potongan longgar dan tambahan renda tipis di beberapa bagian langsung terlihat jelas.

Tatapannya datar, memperlihatkan dengan jelas bahwa dia sama sekali tidak ada ketertarikan.

“Benar-benar selera yang buruk,” cibirnya.

Ia hanya menyentuh kainnya sebentar, lalu menjatuhkannya kembali ke tempat semula. Sama sekali tidak berniat untuk memakainya.

Aveline berbalik, berjalan ke arah lemari. Satu per satu pintu dibuka tanpa ragu. Deretan pakaian di dalamnya tertata rapi—gaun panjang, lapisan kain berlebih, detail kecil yang seharusnya terlihat anggun, namun justru terasa mengganggu di matanya.

Gadis itu membuka lemari berikutnya. Lalu yang lain. Isinya tidak berbeda.

Semuanya terlihat sama. Terlalu banyak, terlalu penuh, dan semua gaun terlihat begitu ramai. Dia tidak menyukai style berlebihan seperti ini.

Aveline tidak berhenti sampai di situ. Ia terus membuka lemari satu per satu, menilai setiap pakaian dengan cepat tanpa menyentuh sebagian besar dari mereka. Tidak ada yang menarik perhatiannya.

Hingga akhirnya, tangannya berhenti pada satu gaun.

Ia menariknya keluar.

Potongannya lebih sederhana dibanding yang lain, meski masih memiliki beberapa bagian yang tidak perlu—lipatan di pinggang, tambahan renda tipis di bagian atas.

Aveline menatapnya sejenak.

Lalu tanpa berkata apa-apa, ia membawa gaun itu ke meja kecil di sudut ruangan. Tangannya langsung bergerak mengambil gunting.

Bagian renda dipotong tanpa ragu. Lipatan dibuka. Kain dirapikan kembali dengan gerakan cepat dan bersih. Tidak ada yang dilakukan tanpa tujuan. Setiap potongan dibuat agar gaun itu menjadi lebih sederhana, lebih lurus, dan lebih mudah dipakai.

Beberapa saat kemudian, ia berhenti.

Gaun itu kini jatuh lurus tanpa tambahan yang mengganggu.

Aveline mengangkatnya sebentar, memastikan hasilnya, lalu mengenakannya tanpa ragu.

Cukup.

.

Aveline menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Kaki telanjangnya menyentuh permukaan marmer yang dingin, namun ritmenya tetap teratur, seolah itu bukan sesuatu yang perlu diperhatikan. Gaun tipis hasil rombakannya jatuh lurus mengikuti tubuhnya, sederhana tanpa hiasan berlebihan. Rambutnya masih sedikit lembap, beberapa helai menempel di lehernya, memberi kesan ia baru saja keluar dari kamar mandi tanpa benar-benar memedulikan penampilannya.

Ruang makan sudah terang ketika ia tiba.

Di ujung meja panjang itu, William telah duduk lebih dulu. Punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu rapi di atas meja, seolah ia tidak pernah berpindah dari posisi itu sejak awal. Lima pelayan berdiri di sisi ruangan dengan kepala tertunduk, diam, menunggu tanpa berani bergerak sedikitpun. Kehadiran mereka menyatu dengan ruangan—tidak mencolok, tetapi selalu terasa ada.

Aveline melangkah masuk tanpa ragu. Ia melewati batas ruangan dengan sikap yang sama tenangnya, tanpa menoleh ke siapapun. Kakinya tetap menyentuh lantai satu per satu dengan ritme yang stabil. Tidak ada tanda canggung, ataupun usaha untuk menyesuaikan diri dengan suasana formal di sekelilingnya.

William tidak langsung mengangkat pandangan.

Namun matanya sempat bergerak singkat, cukup untuk menangkap sosok yang masuk ke dalam ruang makan. Dari ujung kaki yang telanjang, gaun yang terlalu sederhana untuk ukuran rumah ini, hingga rambut yang belum sepenuhnya kering—semuanya tertangkap dalam satu pandangan yang cepat namun lengkap.

Ia tidak memberi komentar. Wajahnya tetap datar, tanpa menunjukkan ketertarikan ataupun penilaian terbuka. Seolah apa yang dilihatnya tidak memiliki arti khusus. Meski begitu, tatapannya sempat bertahan sepersekian detik lebih lama dari biasanya, sebelum kembali lurus ke depan.

Aveline berhenti di sisi kursinya. Tanpa menunggu pelayan, ia menarik kursi itu sendiri dengan satu gerakan singkat lalu duduk di seberang William. Gerakannya tenang dan gemulai sehingga sepenuhnya terkendali. Gaunnya jatuh rapi di sekelilingnya, sederhana, dan tetap berbeda dari apa yang seharusnya dikenakan di meja makan seperti ini.

Di antara keheningan yang tertata itu, William akhirnya mengangkat pandangannya secara penuh. Bukan untuk menilai, melainkan memastikan apa yang tadi ia lihat memang benar. Tatapan mereka bertemu sebentar—tidak lama, namun cukup untuk menyisakan sesuatu yang tidak berniat untuk diucapkan.

Ia tidak mengatakan apapun, tetapi ada jeda kecil yang muncul setelah itu. Halus dan singkat, hampir tidak terlihat, seolah ada sesuatu yang sempat tersentuh sebelum kembali ia tekan dan hilangkan begitu saja.

Pelayan mulai bergerak begitu posisi meja lengkap. Sabine melangkah lebih dulu dari sisi ruangan, membuka tudung hidangan dengan gerakan halus lalu menata piring di depan Aveline tanpa suara. Di belakangnya, Liora berdiri sedikit condong, siap membantu jika diperlukan, sementara Marta sudah bersiap di sisi lain meja untuk mengambil piring yang nantinya selesai digunakan. Ralf tetap di dekat pintu, menjaga akses keluar-masuk tanpa mengganggu alur di dalam ruangan. Semuanya berjalan teratur, karena memang sudah diatur tanpa perlu perintah.

Sabine meletakkan hidangan dengan rapi di hadapan Aveline. Tangannya berhenti sejenak, memastikan posisi piring dan alat makan sudah tepat.

“Kau bisa menjahit?” tanya Aveline tanpa mengangkat pandangan.

Sabine sempat terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk pelan. “Bisa, Nona.”

Aveline akhirnya mengangkat sedikit wajahnya. “Buatkan aku satu gaun.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya. “Keluarkan semua gaun yang ada di lemari.”

“Dan buang.”

Gerakan di ruangan itu tidak langsung terhenti, tetapi ritmenya berubah. Liora yang berdiri di belakang Aveline menegang, jemarinya tertahan di sisi tubuhnya. Marta sempat melangkah, lalu berhenti setengah jalan sebelum kembali diam di tempatnya. Sabine menunduk lebih dalam, suaranya nyaris tak terdengar.

“Baik, Nona.”

Tidak ada yang langsung bergerak setelah itu. Para pelayan tetap berada di posisi masing-masing, menahan langkah seolah menunggu sesuatu yang belum diucapkan. Perintah itu sudah jelas, tetapi udara di dalam ruangan terasa tertahan, tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk segera menindaklanjutinya.

Di ujung meja, William belum menyentuh makanannya. Tangannya tetap berada di tempat, namun kali ini pandangannya tidak lagi lurus ke depan. Ia menatap Aveline dengan diam yang lebih lama dari sebelumnya, tanpa ekspresi ataupun komentar.

Sejenak, seolah hanya itu yang ia lakukan. Sudut bibirnya bergerak sangat tipis, hampir tidak terlihat. Dan di saat yang sama, tidak ada satupun pelayan yang berani melangkah lebih dulu.

.

.

.

Bersambung

1
Norris Yuniarty
seru2 let's go💪💪💪
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!