Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Misi Pertama dan Darah di Hutan Pinus
Wanita paruh baya di balik meja resepsionis itu perlahan mendongak. Sepasang matanya yang tajam menyapu penampilan Ye Chen—atau yang kini dikenal sebagai Ling Feng. Dari pakaian abu-abu yang agak loak hingga kotak besi berat di atas mejanya, ekspresi wanita itu tetap datar. Di tempat seperti ini, kultivator independen yang mencari peruntungan adalah pemandangan harian.
"Ling Feng, Qi Condensation tingkat kedua," gumam wanita itu setelah memeriksa riak energi palsu yang sengaja dibocorkan Ye Chen. Dia mengambil sepinggring plakat besi hitam berlogo serigala dan melemparkannya.
"Ini plakat identitasmu. Statusmu masih Tentara Bayaran Besi tingkat terendah. Kamu hanya bisa mengambil misi di Papan Tembaga. Potongan komisi asosiasi adalah sepuluh persen dari setiap hasil buruan. Paham?"
"Paham," jawab Ye Chen serak. Dia memungut plakat besi tersebut, mengikatkannya ke pinggang, lalu berjalan menuju papan pengumuman besar di sisi kiri ruangan.
Papan kayu jati raksasa itu dipenuhi oleh ratusan lembar kertas perkamen yang dipaku. Sebagian besar berisi misi pengawalan kereta dagang atau perburuan monster tingkat rendah. Mata Ye Chen yang sewarna biru es—yang kini tampak lebih redup akibat efek belerang—menyapu barisan tulisan hingga selembar kertas di sudut bawah menarik perhatiannya.
Misi Perburuan: Ambil lima tanaman 'Bunga Embun Darah' di pinggiran Hutan Pinus Merah. Hadiah: 20 Batu Spiritual Tingkat Rendah. Risiko: Monster tingkat dua, Serigala Api.
"Bunga Embun Darah," suara Yue-Jian berbisik di dalam benaknya, memancarkan getaran ketertarikan. "Tanaman itu tumbuh di tempat yang mempertemukan hawa panas bumi dan embun dingin malam. Meskipun berunsur darah, kelopaknya mengandung nutrisi alami yang sangat bagus untuk mempercepat penutupan retakan mikro di meridian barumu. Ambil misi itu, Bocah."
Ye Chen tidak ragu. Tangan kanannya bergerak merobek kertas perkamen tersebut, lalu membawanya kembali ke meja resepsionis untuk dicatat. Tindakannya sempat memicu beberapa tawa miring dari sekelompok tentara bayaran bertubuh kekar yang sedang minum arak di sudut ruangan.
"Lihat itu, ada bocah bau kencur yang ingin pergi ke Hutan Pinus Merah sendirian," ejek seorang pria berkepala botak dengan tato kalajengking di lehernya. "Kuharap dia tidak pulang hanya tinggal nama setelah menjadi kotoran Serigala Api."
Ye Chen mengabaikan cemoohan tersebut seolah-olah mereka hanya angin lalu. Setelah menyelesaikan administrasi, dia memanggul kembali kotak besi pembungkus Pedang Hitamnya dan melangkah keluar dari gedung asosiasi, langsung bergerak menuju gerbang utara kota.
Hutan Pinus Merah terletak sekitar sepuluh mil di luar perimeter Kota Awan Melayang. Sesuai namanya, pepohonan di hutan ini memiliki daun jarum berwarna merah bata akibat tanahnya yang kaya akan kandungan elemen api tingkat rendah. Kontras dengan tanahnya yang hangat, udara di atas hutan ini justru sangat dingin saat menjelang malam, menciptakan kabut tebal yang membatasi pandangan mata.
Ye Chen melangkah masuk ke dalam hutan dengan sangat waspada. Begitu dia berada di bawah rimbunnya pohon pinus, dia mengaktifkan teknik Langkah Bayangan Hantu secara tipis. Tubuhnya bergerak lincah tanpa memicu suara gesekan daun kering sedikit pun.
Setelah mencari selama hampir satu jam menyusuri celah-celah batu yang lembap, Ye Chen akhirnya menemukan sekelompok tanaman dengan kelopak berwarna merah menyala yang berkilau di bawah tetesan embun malam. Bunga Embun Darah.
"Satu... dua... tiga..." Ye Chen memetik tanaman tersebut dengan hati-hati menggunakan belati, memasukkannya ke dalam kantong kain di pinggangnya. Tepat saat dia hendak mengambil bunga kelima, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara desingan angin yang memotong udara dari arah belakang.
Syuuutt!
Tanpa menoleh, Ye Chen menghentakkan kakinya. Tubuhnya melesat ke samping kiri sejauh tiga meter menggunakan Langkah Bayangan Hantu, meninggalkan bayangan semu yang langsung hancur dihantam oleh sebuah kapak terbang berukuran besar.
BANG!
Kapak besi itu menancap dalam di batang pohon pinus di depan Ye Chen, memicu serpihan kayu yang beterbangan.
"Oh? Refleks yang lumayan untuk seorang sampah tingkat kedua," sebuah suara kasar terdengar dari balik kegelapan kabut.
Tiga sosok pria bertubuh besar melangkah keluar. Pemimpin mereka tidak lain adalah pria berkepala botak bertato kalajengking yang mengejek Ye Chen di gedung asosiasi tadi. Di tangannya, dia memegang sebilah parang besar, dan riak energinya berada di ranah Qi Condensation tingkat keempat pertengahan—setara dengan kekuatan asli Ye Chen saat ini. Dua anak buahnya berada di tingkat ketiga.
"Kalian menguntitku?" Ye Chen berdiri tegak, tangannya perlahan memegang kain pembungkus kotak besi di punggungnya. Wajah kasarnya tetap tenang tanpa ada riak ketakutan sedikit pun.
"Menguntit? Jangan salah paham, Ling Feng," si botak tertawa kejam, matanya menatap serakah ke arah kantong kain di pinggang Ye Chen. "Hutan ini sangat berbahaya. Daripada kamu mati digigit monster, lebih baik kamu serahkan Bunga Embun Darah itu beserta kotak besi di punggungmu kepada kami sebagai biaya perlindungan. Bagaimana?"
"Jika aku menolak?" bisik Ye Chen, suaranya sedingin angin malam hutan.
"Menolak berarti mati! Habisi dia!" teriak si botak memberi perintah.
Dua anak buahnya langsung melompat maju dari dua arah yang berbeda. Mereka mencabut pedang masing-masing, mengalirkan energi Qi murni untuk menebas ke arah leher dan kaki Ye Chen.
Syuuutt!
Mata Ye Chen berkilat tajam. Di hadapan dua kultivator tingkat ketiga ini, dia bahkan tidak perlu memicu Energi Es Yin miliknya. Dia murni mengandalkan refleks fisik perunggunya yang luar biasa brutal.
Sebelum pedang lawan menyentuh pakaiannya, Ye Chen melesat maju, melewati sela-sela tebasan mereka dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tangan kanannya mengepal kuat, melepaskan sebuah pukulan lurus yang sederhana namun membawa bobot ratusan kilogram dari memori ototnya.
BANG!
Pukulan mentah Ye Chen menghantam telak rahang salah satu penyerang. Suara gemertak tulang yang hancur terdengar mengerikan di keheningan hutan. Tubuh pria itu terlempar ke udara, berputar dua kali sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah dengan posisi leher patah. Dia tewas seketika tanpa sempat menjerit.
"Apa?!" Penyerang kedua membelalakkan matanya ketakutan. Dia mencoba menarik kembali pedangnya untuk bertahan, namun Ye Chen sudah berputar, melepaskan sebuah tendangan melingkar yang menghantam rusuknya.
KREK!
Seluruh tulang rusuk pria kedua hancur, melukai organ dalamnya hingga dia memuntahkan seteguk darah segar dan jatuh terkapar tak bergerak di atas tanah. Dua kultivator tingkat ketiga tewas hanya dalam waktu kurang dari tiga detik murni karena kekuatan daging fisik Ye Chen!
Pria berkepala botak yang berdiri di belakang langsung pucat pasi. Seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga parang di tangannya hampir terlepas. Dia menyadari bahwa dia telah memprovokasi seorang monster yang menyamar di balik penampilan seorang pemuda lemah.
"Kamu... kamu bukan tingkat kedua! Siapa kamu sebenarnya?!" teriak si botak histeris, melangkah mundur dengan tergesa-gesa.
Ye Chen tidak menjawab. Dia perlahan berjalan mendekati si botak, setiap langkah kakinya terasa seperti ketukan lonceng kematian. Tangan kanannya perlahan menarik kotak besi pembungkus Pedang Hitam dari punggungnya.
"Tunggu! Jangan bunuh aku!" si botak menjatuhkan parangnya dan langsung berlutut di tanah, wajahnya dipenuhi ketakutan absolut yang mendalam. "Aku punya informasi penting! Di bagian terdalam hutan ini, di balik wilayah perburuan monster tingkat tiga, ada sebuah reruntuhan kuno yang baru saja ditemukan oleh kelompok tentara bayaran besar! Di sana... di sana ada fragmen ingatan dan warisan kuno! Tolong ampuni nyawaku!"
Mendengar kata 'reruntuhan kuno' dan 'warisan', pusaran Energi Es Yin di dalam Dantian Ye Chen mendadak bergetar tipis. Di dalam ruang kesadarannya, sepasang mata Yue-Jian perlahan terbuka, memancarkan kilatan ketertarikan yang mendalam.
Ye Chen menghentikan langkah kakinya tepat di depan kepala si botak yang sedang bersujud, menatapnya dengan tatapan mata yang sewarna biru es yang mematikan.