Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)
Baru satu minggu Arini bekerja sebagai kepala pelayan di penthouse mewah itu, sebuah badai besar datang tanpa peringatan. Malam itu hujan deras mengguyur kota Jakarta. Adrian baru saja pulang dari kantor dengan wajah yang jauh lebih kusut dan aura yang lebih dingin dari biasanya. Belum sempat Arini membuatkan teh hangat untuk majikannya, pintu ganda penthouse mendadak terbuka kasar menggunakan kunci cadangan.
Seorang pria tua berambut putih dengan tongkat berkepala perak melangkah masuk dengan langkah tegas. Di belakangnya, dua pengawal berbadan tegap menjaga pintu. Beliau adalah Wijaya, kakek Adrian sekaligus pemilik tunggal Wijaya Group—pria paling disegani di dunia bisnis nasional.
"Kakek? Kenapa datang malam-malam begini tanpa memberi tahu sekretarisku?" Adrian refleks berdiri dari sofa, suaranya yang biasa dingin kini terdengar sedikit tegang.
"Kalau Kakek tidak datang mendadak, kamu pasti akan terus menunda pernikahanmu dan sibuk di kantor!" suara sang Kakek menggelegar, mengalahkan bunyi guntur di luar. "Batas waktumu habis, Adrian. Besok pagi Kakek akan mengadakan rapat umum pemegang saham untuk mengumumkan sepupumu, Baskoro, sebagai CEO baru. Kakek tidak bisa memercayakan masa depan perusahaan pada pria yang bahkan tidak punya niat untuk membangun keluarga!"
Arini yang sedang memegang nampan di dekat dapur bersih seketika membeku. Ia berniat mundur perlahan ke kamarnya di area belakang agar tidak ikut campur urusan keluarga konglomerat ini. Namun, langkah kakinya membuat lantai kayu sedikit berderit.
Mata tajam Kakek Wijaya langsung tertuju pada Arini. Beliau mengernyit melihat Arini yang hanya memakai kemeja denim dan celana kain biasa. "Siapa wanita ini? Pelayan baru lagi yang akan kamu pecat minggu depan?"
Adrian melirik Arini, lalu beralih menatap Kakeknya. Otak bisnisnya yang penuh kalkulasi berputar cepat dalam hitungan detik untuk mencari jalan keluar darurat. Baskoro adalah pria yang licik; jika posisi CEO jatuh ke tangannya, seluruh kerja keras Adrian selama bertahun-tahun akan hancur. Dalam situasi terdesak itu, Adrian mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya.
"Bukan. Dia bukan pelayan," potong Adrian cepat. Ia melangkah lebar mendekati Arini, lalu tanpa permisi, merangkul pundak gadis itu dengan erat. Bersentuhan sedekat ini membuat tubuh Arini menegang sempurna karena terkejut. "Dia Arini. Calon istriku."
Arini membelalakkan matanya, menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. Namun, cengkeraman tangan Adrian di pundaknya semakin mengencang, memberi kode keras agar Arini diam dan mengikuti permainan.
Kakek Wijaya berjalan mendekat, menatap Arini dari dekat dengan pandangan mengintimidasi sebelum akhirnya tersenyum puas mendengarkan gaya bicara Arini yang tenang saat menjawab pertanyaan jebakannya. Setelah memberikan ancaman final agar mereka segera mengumumkan pernikahan, sang Kakek pergi meninggalkan penthouse.
Begitu pintu tertutup rapat, Arini langsung menyentak tangan Adrian dari pundaknya. "Tuan Adrian! Anda sudah gila, ya?! Calon istri? Anda berbohong pada Kakek Anda sendiri dan menyeret saya ke dalam pusaran masalah keluarga Anda!"
Adrian tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja bar, menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu meminumnya hingga tandas. Sifatnya yang dingin kembali mengambil alih.
"Itu adalah satu-satunya jalan keluar logis untuk situasi tadi, Arini," ucap Adrian datar. "Kakekku serius dengan ancamannya. Kehilangan jabatan berarti aku tidak bisa mengelola asetku lagi. Jadi, mari kita bicarakan keuntungan untukmu. Berapa biaya total operasi dan perawatan ibumu di rumah sakit?"
Pertanyaan itu seketika menusuk ulu hati Arini. Kemarahan gadis itu meredup, digantikan oleh rasa sesak. "Dua ratus juta rupiah. Dan pihak administrasi memberi tenggat waktu sampai besok pagi, atau operasi ibu saya dibatalkan."
Adrian mengangguk pelan, seolah angka itu tidak ada artinya. Ia melangkah ke ruang kerjanya, mengambil sebuah laptop, lalu mulai mengetik dengan cepat di atas meja marmer sebelum mencetaknya ke selembar kertas bermeterai.
"Mari kita buat kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan," ujar Adrian sambil menyodorkan draf kertas itu kepada Arini. "Aku akan melunasi seluruh biaya rumah sakit ibumu malam ini juga melalui transfer langsung. Sebagai gantinya, kamu harus menandatangani kontrak pernikahan bersamaku selama dua belas bulan ke depan."
Arini menunduk, membaca baris demi baris teks kontrak dengan kacamata analisis akuntansinya. Pasal-pasal di sana tertulis sangat jelas: pernikahan ini murni demi reputasi publik, Adrian menanggung biaya medis keluarga Arini, Arini akan mendapatkan sebuah rumah setelah satu tahun bercerai, dan aturan mutlak yang paling bawah: Kedua belah pihak dilarang keras melibatkan perasaan.
Arini terdiam cukup lama. Harga diri sarjananya berteriak untuk menolak menjadi istri pajangan, namun kenyataan bahwa nyawa ibunya sedang dipertaruhkan jauh lebih berharga daripada egonya sendiri.
"Bagaimana dengan tempat tinggal? Kakek Anda pasti akan curiga jika kita tidak tinggal bersama," tanya Arini, suaranya mulai bergetar.
"Kamu akan pindah dari kamar belakang ke kamar utama bersamaku mulai malam ini," jawab Adrian tenang. "Kita harus terlihat seperti pasangan suami istri baru pada umumnya di depan mata-mata Kakek. Tapi tenang saja, kasurku cukup luas. Kita akan beri pembatas guling di tengahnya. Jangan melewati garis itu satu sentimeter pun."
Arini menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia menatap Adrian yang memasang wajah tanpa ekspresi seperti es kutub utara.
"Baik. Demi ibu saya, saya terima kesepakatan ini, Tuan Adrian," ucap Arini mantap. Ia mengambil pulpen, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar.
Adrian mengambil kembali kertas itu, menatap tanda tangan Arini, lalu menyunggingkan senyum tipis yang misterius. "Pilihan yang cerdas, Nona Arini. Selamat datang di dunia kontrak."