NovelToon NovelToon
DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Angin malam berhembus dingin menembus celah-celah dinding kayu gubuk itu, membawa serta aroma tanah basah dan bau hutan yang lembap. Rian duduk bersandar di tiang penyangga, matanya tak lepas dari sosok tua yang duduk di hadapannya. Pak Harun, lelaki yang selama ini dianggap hanya sebagai pengembara tua yang pendiam, kini terlihat berbeda. Ada ketegasan dan beban berat yang tergurat jelas di setiap kerutan wajahnya.

"Kau pikir semuanya hanya sekadar kisah masa lalu, Nak?" suara Pak Harun rendah namun tegas, memecah keheningan. "Semua jejak yang kau temukan, semua pesan yang tersembunyi... itu bukan sekadar peninggalan. Itu peringatan."

Rian mengerutkan kening, tangannya mengepal kuat di samping tubuh. "Tapi kenapa kau diam saja selama ini? Kenapa biarkan aku berjalan sendirian, menabrak kegelapan, seolah kau tidak tahu apa-apa?"

Pak Harun menghela napas panjang, menatap api unggun yang perlahan meredup. "Karena ada hal-hal yang tidak bisa diajarkan, harus dialami. Kau harus mengerti beratnya kebenaran itu sendiri, sebelum kau siap memikulnya. Jika aku bicara dari awal, kau mungkin hanya menganggapnya dongeng, atau lebih buruk lagi—kau akan bertindak terlalu cepat dan jatuh sebelum sampai ke tujuan."

Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkus kain usang dari balik pakaiannya. Dengan hati-hati, ia membukanya, memperlihatkan sebuah lempengan batu kecil berukir simbol-simbol yang sama persis dengan yang Raka lihat di gua bawah tanah tempo hari. Namun ada satu perbedaan: di tengah lempengan itu terdapat tanda yang belum pernah ia temukan sebelumnya.

"Ini adalah kuncinya," kata Pak Harun pelan. "Bukan hanya untuk membuka jalan menuju tempat yang kau cari, tapi juga kunci untuk menghentikan apa yang sedang mereka persiapkan. Mereka mengira mereka menguasai kekuatan itu, padahal mereka hanya sedang membuka pintu bagi malapetaka yang lebih besar."

"Siapa sebenarnya 'mereka' itu?" tanya Rian, suaranya sedikit bergetar karena penasaran sekaligus takut. "Apa tujuan sesungguhnya di balik semua ini? Uang? Kekuasaan? Atau ada sesuatu yang lebih?"

Pak Harun mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata Rian, seolah ingin menembus hingga ke dalam jiwa pemuda itu. "Tujuan mereka sederhana namun mematikan: mengubah takdir dengan cara mereka sendiri.

Mereka percaya bahwa kekuatan yang tersimpan di sana bisa mengubah segala sesuatu—sejarah, nasib, bahkan kenyataan itu sendiri. Tapi mereka lupa satu hal: setiap kekuatan besar selalu memiliki harga yang mahal. Dan kali ini, harga yang harus dibayar bukan hanya milik mereka, tapi milik kita semua, seluruh desa, seluruh negeri ini."

Hening kembali menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara gemerisik ranting di luar dan detak jantung Raka yang semakin kencang. Perlahan, Raka mengulurkan tangannya, menerima lempengan batu itu. Rasanya dingin dan berat, seolah ada energi tersembunyi yang mengalir masuk ke ujung jarinya.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya akhirnya, tekad mulai tumbuh kembali di dalam dadanya, menggantikan rasa bingung yang sempat menguasai dirinya.

Pak Harun tersenyum tipis, namun ada kesedihan yang terselip di balik senyum itu. "Kau sudah sampai di gerbang terakhir, Nak. Besok pagi, saat kabut mulai turun menutupi lembah, kau harus pergi ke tempat di mana dua sungai bertemu. Di sana ada jalan masuk yang hanya terbuka sekali dalam setahun. Aku tidak bisa ikut. Tubuh tuaku sudah tidak sanggup lagi, dan tugasku sudah selesai—mengarahkanmu sampai di titik ini."

"Kalau begitu, bagaimana denganmu?" Rian bertanya, merasa berat meninggalkan lelaki tua itu sendirian.

"Aku akan menunggu di sini. Dan berharap... kau kembali membawa kabar bahwa semuanya sudah berakhir dengan baik." Pak Harun berdiri perlahan, menepuk bahu Raka dengan tangan yang gemetar. "Ingat satu hal: kekuatan terbesar bukan berasal dari batu kuno atau mantra kuno, tapi dari keberanianmu untuk tetap berada di jalan yang benar, meski segala sesuatu tampak gelap dan hilang arah."

Malam semakin larut. Rian tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Ia menatap lempengan batu di tangannya, merasakan beban besar yang kini bertumpu di atas pundaknya. Perjalanan panjangnya, semua bahaya yang ia lewati, semua rahasia yang ia ungkap... semuanya mengarah ke hari esok. Hari di mana nasib banyak orang akan ditentukan.

Di kejauhan, seekor burung hantu bersuara panjang, memecah keheningan malam. Tanda bahwa waktu terus berjalan, dan takdir tidak akan menunggu.

Rian menyimpan lempengan itu dengan aman di dalam saku jubahnya, lalu melangkah keluar gubuk, menatap ke arah timur, di mana kabut tebal mulai perlahan turun menyelimuti lembah, bersiap menyambut kedatangannya esok hari.

1
Indra P.
lanjutkannnn
Indra P.
mantappp.....inspirasi yg hebatt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!