Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Malam di pelabuhan Brooklyn tidak pernah terasa se-mencekam ini bagi Louis Enver Osborn.
Angin laut yang berembus kencang dari arah teluk melemparkan bau garam dan karat, menghantam permukaan kulit wajahnya yang kaku.
Di tangannya, selembar kertas berisi salinan rekam medis dari rumah sakit—yang baru saja diserahkan oleh Zack—terlipat tak beraturan akibat cengkeraman jarinya yang gemetar hebat.
Positif.
Satu kata itu laksana mantra terkutuk yang terus berputar-putar di dalam benak Louis, meruntuhkan seluruh dinding skeptisisme yang dia bangun dengan angkuh semalam di pelataran parkir Manhattan.
Pikirannya lumpuh. Logika maskulin yang sempat mendikte bahwa kehamilan itu mustahil terjadi hanya karena mereka melakukannya dua kali, kini hancur berkeping-keping di hadapan kebenaran ilmiah yang telanjang.
Adiba tidak berbohong. Wanita itu benar-benar mengandung darah dagingnya.
"Louis..." Zack bersuara lirih dari belakangnya, memecah kesunyian dermaga. Detektif swasta itu menatap punggung tegap bosnya dengan pandangan yang sarat akan rasa prihatin.
"Jet pribadinya sudah mendarat di Zurich dua jam yang lalu. Manifesnya bersih. Dia benar-benar meninggalkan Amerika."
Louis tidak menyahut. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh gumpalan rasa bersalah yang teramat pekat.
Pria berandal yang biasanya tidak pernah takut pada apa pun—bahkan pada ancaman kematian sekalipun—kini merasakan lututnya lemas.
"Zack," panggil Louis, suaranya terdengar teramat serak, parau, dan kehilangan seluruh wibawa kasarnya yang biasa.
"Ya, Louis?"
"Cari dia," desis Louis, matanya terbuka kembali, menatap hamparan air laut yang hitam pekat di bawah kegelapan malam.
"Kirim orang-orang terbaikmu ke Swiss. Lacak setiap hotel, setiap properti atas nama klan Abbey, atau rumah sakit bersalin mana pun di Zurich. Aku harus menemukannya."
Zack menghela napas panjang, merogoh saku mantelnya untuk mengambil sebatang rokok, namun mengurungkannya saat melihat kerapuhan yang tidak pernah dia saksikan sebelumnya pada sosok Louis.
"Aku akan berusaha, Louis. Tapi kau tahu sendiri bagaimana kekuatan klan Abbey. Jika mereka memilih untuk menyembunyikan putri tunggal mereka, Eropa bisa menjelma menjadi labirin yang mustahil untuk ditembus."
"Aku tidak peduli!" bentak Louis mendadak, berbalik dengan kilat frustrasi yang membakar sepasang matanya.
"Bahkan jika aku harus membalikkan seluruh daratan Eropa dengan tanganku sendiri, cari dia! Katakan padanya... aku..."
Kalimat Louis menggantung di udara. Katakan apa? Apakah dia akan meminta maaf setelah menginjak-injak harga diri wanita itu? Apakah dia akan meminta Adiba kembali setelah mengutuk janin di rahimnya sebagai makhluk yang menjijikkan?
Louis mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menyadari satu hal: dia telah menghancurkan satu-satunya hati yang berdegup paling tulus—meski dengan cara yang gila—hanya untuknya di dunia ini.
Sementara Louis didera oleh badai penyesalan di Brooklyn, atmosfer di rumah aman klan Abbey di Long Island justru diselimuti oleh ketenangan yang dingin dan mematikan.
Di dalam kamar tidur utamanya yang bernuansa klasik modern, Adiba Abbey duduk tegak di tepi ranjang.
Di hadapannya, sebuah meja rias kayu ek menampilkan beberapa botol vitamin kehamilan yang baru saja disiapkan oleh dokter pribadi keluarga Abbey. Pakaian sutra rajutnya yang longgar bergerak lembut seiring dengan embusan napasnya yang kini jauh lebih teratur.
Fisiknya mungkin masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan, namun jiwanya telah bertransformasi sepenuhnya.
Tidak ada lagi setitik pun sisa air mata di pipinya. Kamar itu begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh gemercik air mancur kecil dari taman belakang yang menembus kaca jendela yang tertutup rapat.
Tok, tok, tok.
Pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan sosok Eleanor Abbey yang masuk membawa nampan berisi sup sarang burung walet hangat. Sang mami melangkah mendekat dengan senyuman lembut yang dipaksakan, mencoba menghapus ketegangan yang masih tersisa dari malam sebelumnya.
"Mami membuatkan ini untukmu, Sayang. Kau harus makan demi bayimu," ucap Eleanor, meletakkan nampan tersebut di atas meja rias, lalu duduk di samping Adiba, mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.
Adiba menoleh, memberikan senyuman tipis yang teramat datar—sebuah senyuman yang membuat Eleanor diam-diam merasa ngilu di dadanya.
Putri tunggalnya yang dahulu selalu meluap-luap oleh emosi gila jika menyangkut nama Louis Osborn, kini tampak seperti patung lilin yang indah namun tak memiliki kehangatan.
"Terima kasih, Mami," ucap Adiba lembut. Dia mengambil mangkuk sup tersebut, lalu memakannya sendok demi sendok dengan tenang.
Tidak ada lagi penolakan fisik atau muntah-muntah seperti hari-hari sebelumnya. Tubuhnya seolah tahu bahwa dia sedang mempersiapkan diri untuk sebuah peperangan panjang.
Eleanor menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca. "George... papimu sudah mengurus semuanya, Adiba. Seluruh jaringan media di New York telah dibungkam agar tidak mengulik lebih dalam tentang perceraianmu dengan Raynazh. Dan tentang keberadaanmu... sandiwara penerbangan ke Swiss itu bekerja dengan sempurna. Mata-mata Arthur Osborn sibuk mencari jet kita di Zurich."
Adiba menelan supnya perlahan, lalu meletakkan kembali mangkuk tersebut ke atas nampan. "Bagaimana dengan Louis, Mami? Apakah dia juga mencari ke Swiss?"
Eleanor tertegun sejenak, ada keraguan yang melintas di wajah anggunnya sebelum dia mengangguk pelan.
"Informan Papi di pelabuhan mengatakan bahwa detektif swasta milik Louis, pria bernama Zack itu, baru saja memesan tiga tiket penerbangan darurat ke Zurich pagi ini. Louis... dia tampaknya sudah mengetahui hasil tes medismu dari Paris, Adiba. Dia sedang mencarimu seperti orang gila."
Mendengar hal itu, tidak ada kilat bahagia atau binar kemenangan di mata Adiba. Dia justru terkekeh rendah—sebuah tawa dingin yang terdengar begitu hambar dan meremehkan.
"Biarkan saja," bisik Adiba, jemarinya bergerak lambat, mengusap permukaan perutnya sendiri di balik gaun tidurnya. "Biarkan pria bajingan itu menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk mengejar bayang-bayang di Eropa. Papi benar, Mami... dia adalah seorang pengecut yang egois. Dia baru bergerak setelah tahu darah dagingnya benar-benar ada, setelah dia melontarkan kata-kata yang paling hina pada anakku."
Sorot mata Adiba mendadak menajam, mengunci pandangan mata maminya dengan intensitas yang mengerikan.
"Dia mengira aku akan kembali mengemis padanya jika dia memohon? Tidak akan pernah. Demi Tuhan, aku bersumpah... anak ini tidak akan pernah mengenal siapa ayahnya. Dia hanya akan tumbuh sebagai penerus tunggal dinasti Abbey."
Eleanor memeluk Adiba erat, menyembunyikan rasa ngerinya sendiri di balik pundak sang putri.
Dia tahu, obsesi gila Adiba pada Louis kini telah mati, namun monster yang lahir dari kematian perasaan itu jauh lebih berbahaya. Adiba telah mengubah seluruh rasa cintanya menjadi bahan bakar dendam yang murni.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, di kediaman utama keluarga Osborn di Manhattan, atmosfer tidak kalah mencekam.
Arthur Osborn duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja, menatap tajam ke arah Raynazh yang berdiri kaku di depan mejanya. Di atas meja kerja yang luas itu, koran-koran bisnis pagi ini menampilkan tajuk utama tentang anjloknya saham Osborn Group sebesar 4,5% akibat rumor perceraian sang putra mahkota.
"Kau tahu apa yang baru saja kudengar dari pihak otoritas bandara, Raynazh?" suara Arthur terdengar rendah, namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Adiba Abbey telah terbang ke Swiss. Dia meninggalkan New York tanpa membawa satu pun aset yang kalian bagi dalam surat cerai sialan itu."
Raynazh menelan ludahnya dengan susah payah. "Itu... bukankah itu bagus, Ayah? Dia pergi artinya dia tidak akan mengusik posisi kita lagi—"
"Bodoh!" Arthur menghantam mejanya dengan keras, membuat cangkir kopi di atasnya berdenting nyaring.
"Dia pergi membawa seluruh rahasia aliansi kita! George Abbey pagi ini secara resmi menarik seluruh saham investasinya dari mega proyek pelabuhan Brooklyn! Mereka memotong jalur pendanaan kita, Raynazh!"
Wajah Raynazh seketika memucat. Proyek pelabuhan Brooklyn adalah jantung dari ekspansi Osborn Group tahun ini.
Jika klan Abbey menarik seluruh pendanaan mereka secara sepihak, maka proyek itu akan mangkrak dan Osborn Group terancam menghadapi kebangkrutan massal atau pengambilalihan paksa oleh kompetitor.
"Bagaimana... bagaimana mungkin mereka menariknya sepihak? Ada kontrak bisnis yang mengikat!" ucap Raynazh bergetar.
"Kontrak bisnis tidak ada artinya bagi George Abbey jika menyangkut putri tunggalnya!" Arthur bangkit berdiri, menatap putranya dengan pandangan muak yang mutlak.
"Kau telah gagal menjaga istrimu, Raynazh. Dan kau telah gagal mempertahankan martabat keluarga ini. Jika dalam waktu satu bulan kau tidak bisa mengembalikan stabilitas saham kita... aku sendiri yang akan mencopotmu dari kursi CEO dan menyerahkan semuanya pada Louis!"
Mendengar nama Louis disebut, kilat kebencian yang teramat pekat melintas di wajah Raynazh.
Dia mengepalkan tangannya di balik saku celananya. Louis... selalu Louis, batinnya menggeram. Dia tidak tahu bahwa di balik semua kehancuran ini, adiknya sendirilah yang sedang mendekam dalam neraka penyesalan di Brooklyn karena alasan yang sama sekali berbeda.
Waktu terus merambat naik, membawa malam baru di atas langit Manhattan dan Brooklyn.
Louis berdiri di dalam ruang kerja penthouse-nya di Brooklyn, dikelilingi oleh lembaran peta digital kota Zurich dan laporan-laporan dari agen Zack di Eropa yang terus memberikan hasil nihil.
Kepalanya berdenyut menyakitkan, dan penampilannya malam ini tampak sangat berantakan; kemeja hitamnya kusut, dan janggut tipis mulai tumbuh di rahang tegasnya.
Christine masuk ke dalam ruangan dengan langkah ragu-ragu, membawa secangkir kopi hitam hangat. Dia meletakkannya di sudut meja, lalu menatap Louis dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa khawatir yang mendalam.
"Louis... kau belum tidur sejak dua hari lalu," ucap Christine lembut, mencoba menyentuh lengan kokoh Louis.
"Ada apa sebenarnya? Apakah proyek di pelabuhan benar-benar seburuk itu setelah klan Abbey menarik saham mereka?"
Louis menoleh lambat, menatap wajah polos Christine yang selama ini selalu menjadi tujuannya untuk pulang. Namun malam ini, melihat Christine justru membuat rasa bersalah di dalam dada Louis kian berlipat ganda.
Dia telah mengkhianati Christine dengan tidur bersama Adiba, dan di saat yang sama, dia telah menghancurkan Adiba dan anaknya sendiri demi menjaga ilusi kedamaian bersama Christine.
"Aku tidak apa-apa, Christine," ucap Louis, suaranya terdengar teramat lelah. Dia menjauhkan lengannya dari sentuhan Christine secara halus—sebuah gestur kecil yang tidak luput dari perhatian gadis itu.
"Kembalilah ke kamar. Aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan dengan Zack."
Christine menatap tangannya yang menggantung di udara dengan pandangan terluka.
"Kau berubah, Louis. Sejak malam rapat dewan direksi itu... kau tidak lagi menatapku seperti dulu. Ada apa? Apakah ini ada hubungannya dengan... Adiba Abbey?"
Mendengar nama Adiba disebut dari bibir Christine, Louis membeku. Keheningan yang mencekik seketika jatuh di antara mereka. Louis tidak mampu menjawab, karena setiap jawaban yang jujur akan menghancurkan dunia Christine seketika.
Di bawah pendar lampu kerja yang remang, Louis menyadari bahwa dia kini berada di tengah-tengah reruntuhan takdir yang dia ciptakan sendiri.
Dia mengira dia memegang kendali atas balas dendamnya, namun ternyata dia hanyalah seorang pria yang kehilangan segalanya dalam satu malam—kehilangan wanita yang mencintainya dengan kegilaan absolut, dan kehilangan hak atas darah dagingnya sendiri yang kini disembunyikan di balik sumpah mati sang ibu di rumah aman Long Island.
Peperangan yang sesungguhnya kini telah resmi dimulai, bukan lagi di atas meja rapat, melainkan di dalam sunyinya dendam yang membatu.