Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Runtuhnya Tembok Es
Malam itu, langit di atas mansion Arlan tampak kelabu, seolah-olah awan pun enggan menyaksikan ketegangan yang terjadi di dalam bangunan megah tersebut.
Kinara duduk di tepi ranjang besar yang dulu pernah ia sebut sebagai "penjara cintanya".
Kamar itu masih sama luas, dingin, dan beraroma maskulin khas Arlan namun perasaan Kinara sudah berubah total.
Ia tidak lagi duduk di sana dengan harapan akan pelukan hangat, melainkan dengan hati yang beku karena paksaan.
Langkah kaki terdengar mendekat. Suara sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer itu biasanya membuat jantung Kinara mencelos ketakutan.
Namun kali ini, Kinara hanya menatap lurus ke depan, matanya kosong. Ia sudah menyerah pada takdir demi menyelamatkan keluarga Devan.
Pintu terbuka perlahan.
Arlan berdiri di sana.
Ia tidak lagi mengenakan jas rapi, kemeja putihnya sudah tidak dikancing di bagian leher, dan lengan bajunya digulung berantakan.
Wajahnya yang biasanya terlihat angkuh dan tak tersentuh, kini tampak kusam dan dipenuhi guratan kelelahan yang nyata.
Arlan tidak mengatakan sepatah kata pun.
Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa berat. Kinara masih mematung, bahkan saat Arlan sudah berdiri tepat di depannya.
"Kau sudah kembali," suara Arlan parau, hampir berbisik.
Kinara tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit.
"Bukankah itu yang kau inginkan, Tuan Arlan yang terhormat? Kau menghancurkan hidup orang-orang baik hanya untuk membawaku kembali ke sini. Sekarang aku di sini. Apa lagi? Kau mau aku melayanimu? Atau kau mau aku berpura-pura mencintaimu lagi?"
Arlan terdiam.
Kata-kata Kinara seperti belati yang menghujam tepat di jantungnya.
Namun, alih-alih marah atau membentak seperti biasanya, Arlan justru melakukan sesuatu yang tidak pernah Kinara bayangkan seumur hidupnya.
Perlahan, Arlan menjatuhkan dirinya di depan Kinara.
Ia berlutut.
Sang penguasa Arlan Group, pria yang sanggup menghentikan operasional pelabuhan nasional dalam satu jam, kini berlutut di bawah kaki seorang wanita yang selama ini ia sia-siakan.
Arlan melingkarkan lengannya di pinggang Kinara, menyembunyikan wajahnya di pangkuan wanita itu.
Tubuhnya mulai bergetar hebat.
"Maafkan aku... demi Tuhan, Kinara, maafkan aku..." isak Arlan pecah.
Kinara membeku.
Ia bisa merasakan bajunya mulai basah oleh air mata Arlan.
Suara tangisan itu bukan sekadar akting, itu adalah suara kehancuran seorang pria yang baru menyadari bahwa hartanya yang paling berharga bukan di bank, melainkan wanita yang ia peluk saat ini.
"Aku gila, Kinara. Aku hampir gila saat melihatmu tertawa bersama pria itu," suara Arlan tersedak oleh tangisnya sendiri.
"Aku tidak tahu cara lain untuk membawamu pulang. Aku bodoh karena mengira dengan kekuatanku, aku bisa memilikimu lagi. Tapi saat aku melihat matamu tadi di kantor... aku sadar aku tidak memiliki apa-apa. Aku hanya memiliki ragamu, sementara jiwamu sudah aku bunuh pelan-pelan."
Arlan mendongak, matanya merah dan sembab.
Tidak ada lagi binar angkuh di sana, yang ada hanya permohonan yang dalam.
"Tolong jangan pergi lagi. Aku akan melakukan apa pun. Aku akan cabut semua tekanan pada keluarga Aditama. Aku akan membiarkanmu bekerja di mana saja. Tapi tolong... jangan tinggalkan aku di rumah yang dingin ini sendirian. Aku takut, Kinara. Aku takut pada kesunyian yang kau tinggalkan."
Kinara menatap wajah Arlan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia melihat Arlan bukan sebagai monster, melainkan sebagai seorang pria yang sangat kesepian dan tersesat.
Ada bagian dari hati Kinara yang ingin mengulurkan tangan dan mengusap air mata itu, namun rasa sakit di masa lalu masih terlalu segar.
"Kau menangis sekarang, Arlan?" tanya Kinara lirih, suaranya bergetar.
"Ke mana perginya pria yang membuang masakanku ke tempat sampah? Ke mana pria yang memaki aku karena aku hanya seorang istri rumah tangga yang tidak berguna? Sekarang kau menangis memohon agar aku tidak pergi?"
Arlan semakin erat memeluk pinggang Kinara, seolah takut jika ia melepaskan sedetik saja, Kinara akan menguap seperti asap.
"Aku tahu aku brengsek. Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Tapi tolong beri aku satu kesempatan untuk menebus semuanya. Biarkan aku menunjukkan bahwa aku bisa mencintaimu dengan benar."
Malam itu, di dalam kamar yang luas itu, perannya terbalik. Arlan yang berkuasa kini menjadi pemohon yang rapuh, sementara Kinara yang lemah kini memegang kendali penuh atas perasaan pria di depannya.
Kinara tidak menjawab.
Ia hanya membiarkan Arlan menangis di pangkuannya sampai pria itu tertidur karena kelelahan emosional, masih dengan tangan yang memeluk erat pinggang Kinara.
Di tengah keheningan malam, Kinara menyadari bahwa mulai besok, hidupnya di mansion ini tidak akan pernah sama lagi.
Arlan telah meruntuhkan tembok esnya, namun apakah Kinara siap untuk membiarkan hatinya mencair kembali?