seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bara yang belum padam
Alya masih menatap serpihan kristal kecil di telapak tangannya.
Cahaya biru yang tadi muncul sudah menghilang.
Begitu cepat hingga ia hampir mengira itu hanya ilusi.
Namun entah kenapa, ia yakin itu nyata.
Sangat nyata.
Perlahan ia menggenggam serpihan itu.
Dingin.
Sama seperti pecahan kristal biasa.
Tidak ada energi yang terasa.
Tidak ada suara yang muncul di kepalanya.
Tidak ada notifikasi sistem seperti dulu.
Tetapi hatinya mengatakan sesuatu.
Bahwa benda ini berbeda.
“Alya?”
Suara seseorang membuatnya menoleh.
Reno berjalan dari arah jalan setapak taman.
Tangannya berada di saku jaket seperti biasa.
Tatapannya langsung jatuh pada benda yang sedang dipegang Alya.
“Kau di sini rupanya.”
Alya tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin sendirian sebentar.”
Reno berhenti di depan bangku.
“Dan berhasil?”
Alya berpikir beberapa detik.
Lalu menggeleng.
“Tidak juga.”
Reno mengangguk seolah sudah menduga jawabannya.
Kemudian duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Memandang langit sore yang mulai berubah jingga.
Matahari perlahan turun ke ufuk.
Menciptakan warna keemasan yang menyelimuti seluruh taman.
“Reno.”
“Hm?”
“Menurutmu seseorang benar-benar bisa pergi?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Reno terdiam.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Ayahmu?”
Alya mengangguk pelan.
Reno menarik napas panjang.
“Aku tidak tahu.”
“Jawaban yang buruk.”
“Memang.”
Alya tertawa kecil.
Namun Reno melanjutkan.
“Kalau yang kau maksud tubuhnya, ya.”
“Kalau yang kau maksud keberadaannya...”
Ia berhenti sejenak.
“Kurasa tidak.”
Alya menoleh.
Reno terlihat sedikit tidak nyaman.
Seperti seseorang yang tidak terbiasa membicarakan hal-hal emosional.
“Aku masih mengingat semua yang dilakukan Arman.”
Tatapannya menunduk sesaat.
“Cara dia bicara.”
“Cara dia marah.”
“Cara dia memaksaku makan saat aku menolak.”
Alya tersenyum.
Itu terdengar seperti ayahnya.
“Kalau semua itu masih ada,” lanjut Reno, “maka sebagian dirinya masih hidup.”
Hening.
Angin kembali bertiup pelan.
Untuk pertama kalinya hari itu, dada Alya terasa sedikit lebih ringan.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk mencoba menghiburku.”
“Aku tidak sedang menghibur.”
“Tuh kan.”
Reno mendesah.
Alya tertawa lagi.
Dan kali ini tawanya terdengar lebih tulus.
---
Malam tiba perlahan.
Kompleks Zenith mulai dipenuhi lampu-lampu yang menyala satu per satu.
Meski banyak bagian akademi masih dalam tahap perbaikan, kehidupan mulai kembali berjalan.
Para siswa yang sempat dievakuasi perlahan kembali.
Beberapa area dibuka kembali.
Aktivitas penelitian mulai dilanjutkan.
Namun tidak seperti sebelumnya.
Karena banyak hal telah berubah.
Terutama setelah dokumen rahasia mengenai proyek Elysium bocor ke publik.
Kini seluruh dunia mengetahui sebagian kebenaran.
Dan dunia sedang bereaksi.
Di sebuah ruang konferensi darurat, puluhan layar holografik memenuhi ruangan.
Berita dari berbagai kota bermunculan silih berganti.
Investigasi.
Protes.
Sidang.
Audit.
Nama Zenith disebut di mana-mana.
Darius berdiri memperhatikan layar-layar itu.
Di belakangnya, beberapa anggota Fenrir menunggu perintah.
Namun tidak ada perintah yang datang.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidup mereka...
Unit Fenrir tidak memiliki misi.
“Komandan.”
Salah satu anggota memanggil.
Darius menoleh.
“Apa instruksi selanjutnya?”
Hening.
Pertanyaan sederhana.
Namun Darius tidak langsung menjawab.
Karena selama bertahun-tahun hidupnya selalu mengikuti satu arah.
Perintah.
Target.
Eksekusi.
Sekarang semuanya berakhir.
“Bubarkan unit.”
Semua anggota langsung membeku.
“Komandan?”
“Fenrir sudah selesai.”
“Namun—”
“Perintah terakhir.”
Nada suara Darius tetap tenang.
Tidak marah.
Tidak sedih.
Hanya pasti.
Para anggota saling berpandangan.
Mereka tidak mengerti.
Namun akhirnya mengangguk.
Satu per satu mereka meninggalkan ruangan.
Meninggalkan masa lalu mereka.
Darius kembali menatap layar.
Refleksi dirinya terlihat samar pada permukaan hologram.
Mata mekanik birunya masih bersinar.
Namun untuk pertama kalinya...
ia bertanya-tanya apa yang harus dilakukan setelah ini.
---
Di tempat lain.
Kaizer berdiri sendirian di atap salah satu gedung penelitian.
Angin malam meniup rambutnya.
Dari tempat itu ia bisa melihat hampir seluruh kompleks Zenith.
Lampu kota berkelap-kelip di kejauhan.
Dunia tetap bergerak.
Meski mimpi besarnya telah runtuh.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Kaizer tidak perlu menoleh.
“Darius.”
“Ya.”
Darius berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Kau membubarkan Fenrir.”
“Benar.”
Kaizer mengangguk kecil.
“Aku juga akan pergi.”
Darius sedikit terkejut.
“Pergi?”
“Zenith bukan tempatku lagi.”
Hening.
“Kemana?”
Kaizer tersenyum tipis.
“Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku tidak tahu.”
Jawaban itu terdengar aneh.
Sangat aneh.
Namun justru karena itulah terasa jujur.
Kaizer memandang langit.
“Aku menghabiskan bertahun-tahun mengejar masa depan.”
“Dan aku lupa menjalani hidup.”
Darius diam.
Tidak tahu harus menjawab apa.
Karena ia sendiri mungkin mengalami hal yang sama.
“Bagaimana denganmu?” tanya Kaizer.
“Aku belum memutuskan.”
“Maka putuskan.”
Tatapan Kaizer tetap ke depan.
“Jangan hidup berdasarkan perintah orang lain lagi.”
Darius terdiam lama.
Kemudian mengangguk pelan.
Mungkin untuk pertama kalinya bukan sebagai bawahan.
Melainkan sebagai dirinya sendiri.
---
Hari berikutnya.
Alya kembali menjalani pemeriksaan rutin.
Ruangan medis terasa jauh lebih sepi dibanding laboratorium lama Zenith.
Tidak ada tabung eksperimen.
Tidak ada alat menyeramkan.
Hanya perangkat medis biasa.
Hana duduk di samping ranjang pemeriksaan sambil memainkan tablet.
“Aku bosan.”
“Kau baru lima menit di sini.”
“Lima menit yang panjang.”
Dokter menghela napas.
Reno yang berdiri di dekat pintu memilih diam.
Beberapa menit kemudian hasil pemeriksaan muncul.
Dokter membaca data itu beberapa kali.
Lalu mengernyit.
Alya langsung menyadarinya.
“Ada masalah?”
“Tidak.”
“Kalau begitu kenapa wajah Anda seperti itu?”
Dokter kembali melihat layar.
“Karena hasilnya aneh.”
Jantung Alya sedikit berdegup lebih cepat.
“Aneh bagaimana?”
“Tubuhmu normal.”
“Itu bagus.”
“Ya.”
Dokter memperbesar salah satu grafik.
“Terlalu normal.”
Hana berkedip.
“Itu bahkan mungkin?”
“Tidak biasanya.”
Dokter terlihat bingung.
“Semua bekas aktivitas neural Elysium benar-benar hilang.”
“Bukankah itu yang seharusnya terjadi?”
“Secara teori, ya.”
Namun nada suaranya menunjukkan keraguan.
Alya tidak mengatakan apa-apa.
Karena di dalam saku jaketnya...
serpihan kristal kecil itu masih ada.
Dan entah kenapa ia memilih merahasiakannya.
Bahkan dari Reno.
Bahkan dari Hana.
Bukan karena tidak percaya.
Melainkan karena ia sendiri belum mengerti.
---
Malam harinya.
Alya berada di kamar.
Lampu utama dimatikan.
Hanya lampu meja yang menyala redup.
Serpihan kristal itu berada di atas meja.
Ia sudah mengamatinya hampir satu jam.
Tetap tidak ada perubahan.
“Kalau kau memang sesuatu...”
gumam Alya.
“Setidaknya lakukan sesuatu.”
Tentu saja tidak ada jawaban.
Alya menghela napas.
Merasa sedikit konyol.
Lalu ia mengulurkan tangan.
Menyentuh serpihan itu sekali lagi.
Dan saat jari-jarinya menyentuh permukaannya—
cahaya biru samar muncul.
Kali ini lebih lama.
Mungkin hanya satu detik.
Namun cukup jelas.
Alya langsung membeku.
Cahaya itu berdenyut.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian menghilang.
Jantung Alya berdegup cepat.
“Apa kau serius...?”
Ia mendekat.
Matanya tidak berkedip.
Dan untuk sesaat—
ia merasa melihat sesuatu.
Bukan gambar.
Bukan memori.
Hanya sensasi.
Hangat.
Lembut.
Dan sangat familiar.
Perasaan yang pernah ia rasakan saat berbicara dengan Elysium.
Lalu semuanya hilang.
Ruangan kembali sunyi.
Namun kini Alya tahu.
Ia tidak membayangkannya.
Serpihan itu masih menyimpan sesuatu.
Pertanyaannya adalah—
apa?
---
Sementara itu, jauh di bawah kompleks Zenith.
Di area yang belum sepenuhnya dibersihkan.
Drone pemeliharaan bergerak perlahan menyusuri reruntuhan ruang inti.
Mesin kecil itu memindai puing-puing.
Mengumpulkan data.
Menandai area berbahaya.
Rutinitas biasa.
Namun tiba-tiba sensornya menangkap sesuatu.
BIP.
Drone berhenti.
BIP.
Ia memindai ulang.
Di balik lapisan logam yang runtuh.
Jauh di bawah tanah.
Terdapat sumber energi yang sangat kecil.
Hampir tidak terdeteksi.
Sangat lemah.
Namun ada.
Laporan otomatis langsung dikirim ke sistem pusat.
Sayangnya...
sistem pusat Zenith masih dalam tahap pemulihan.
Banyak laporan masuk tertunda.
Dan laporan kecil itu terkubur di antara ribuan data lainnya.
Tidak ada yang membacanya.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Sementara jauh di bawah reruntuhan...
sumber energi kecil itu kembali berdenyut.
Satu kali.
Seperti detak jantung.
Lalu sekali lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehancuran inti Elysium...
sebuah sinyal berhasil bertahan lebih dari satu detik.
> STATUS...
Hening.
> REINITIALIZATION...
Hening lagi.
Lalu cahaya biru kecil menyala di kegelapan.
Sangat kecil.
Hampir tak berarti.
Namun cukup untuk membuktikan satu hal.
Elysium mungkin telah mengorbankan dirinya.
Inti utama mungkin telah hancur.
Namun di suatu tempat di antara jutaan pecahan yang tersisa—
sesuatu masih bertahan.
Sesuatu yang belum siap menghilang.
Dan tanpa diketahui Alya maupun siapa pun...
sebuah kisah baru perlahan mulai lahir dari abu masa lalu.