Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadi Terhangat
Langkahnya pelan namun pasti hingga tepat didepan teras yang sejak tadi dibiarkan gelap. Untung saja lingkungan tempat tinggal mereka aman karena memiliki petugas keamanan yang memeriksa sesuai jadwalnya.
Tanpa memikirkan pakaian yang pantas saat keluar rumah, nyatanya kini dia berada di luar gerbang dengan pakaian rumah serta rambut yang tergerai acak sejak dibiarkan mengering dengan sendirinya. Tak terlalu terlihat berantakan karena memakai jacket dengan topi yang telah melindungi kepalanya.
Mobilnya masih berada di parkiran kantor Ethan, karena tadi dipaksa pulang dengan menggunakan mobil Ethan.
Langkahnya masih pelan menuju arah keluar dari lingkungan itu, Petugas keamanan yang kebetulan berkeliling menyapa dan menanyakan tujuan Clarissa. Hingga sedikit terkejut dikala Clarissa menoleh dengan wajah yang lebam.
"Ibu Clarissa mau pergi kemana?" Tanyanya kemudian yang yakin pemilik rumah di lingkungan itu tengah membutuhkan bantuan.
Meski merasa ada yang janggal namun enggan menanyakan kondisi si pemilik rumah. Namun tetap akan menolong sebisanya.
"Saya mau keluar pak mencari taksi"
"Ini kondisi sudah malam, jadi agak jarang taksi masuk kemari"
"Iya" Balas Clarissa singkat namun masih berjalan.
Petugas keamaan itu ikut berjalan karena searah dengan poskonya, meski melontarkan pertanyaan namun hanya dijawab singkat oleh Clarissa. Pembicaraan mereka terkesan tidak searah.
Hingga Clarissa tepat keluar dari gapura yang menjulang tinggi dan masih menoleh kiri dan kanan mencari taksi. Petugas keamanan itu masih setia menemai.
"Sebentar ya bu, saya coba cari dari aplikasi" Ucapnya yang baru mengingat aplikasi untuk memesan taksi online, bahkan Clarissa juga baru sadar karena sejak dulu dia memang jarang menggunakan taksi online.
Beberapa menit berlalu hingga taksi yang ditunggu telah tiba, Clarissa segera menaiki dan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada penjaga tersebut.
"Pak tolong antarkan saya ke Kota X" Sahut Clarissa yang membuat sopir tersebut terkejut karena jaraknya cukup jauh dan memakan waktu satu jam perjalanan.
"Tidak masalah pak, nanti saya bayar" Balas Clarissa lagi setelah bernego dan mobil melaju tanpa kendala.
Waktu terus berjalan hingga waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, perjalanan mereka sedikit macat karena terjadi kecelakan yang di jalan yang mereka lalui.
Dan disini kini Clarissa, Didepan bangun megah yang penuh kenangan. Bangunan yang berdiri kokoh memberikan ketenangan dan bukan sekedar rumah melainkan keluarga.
Namun langkahnya menjadi kikuk dan ragu. Haruskah masuk dan membiarkan keluarga terkejut melihat kondisinya. Bukan sopir taksi yang mengantarnya tadi sesekali melirik melalu kaca spion, Clarissa mampu membaca situasi yang dialaminya. Namun memilih abai dan menikmati lamunannya disepanjang perjalanan yang dihiasi lampu penerang yang menambah keindahan malam.
Namun kini, dia mulai goyah. Tak memedulikan angin malam mulai menusuk lukanya dan telapak tangannya ikut menggigil. Masih berdiri tanpa berani membuka gerbang.
Perlahan dia mundur berniat menjauh dari tempat itu, baginya dengan melihat rumah orangtuanya saja sudah cukup mengobati kerinduannya.
Dia berjalan perlahan meski terselip rasa kecewa karena sikap pengecutnya. Hingga sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
"Caca, itu kamu kan?" Suara berat namun terdengar hangat.
Clarissa spontan menoleh namun dengan cepat dia berbalik dan melanjutkan langkahnya. Dia terkejut setelah melihat wajah yang memanggil namanya.
Namun langkahnya dicegat dan dipaksa untuk menoleh kearah orang tersebut. Hingga rasa sakit tak tertahan membuatnya hanya membungkuk dan memohon untuk dilepas lengannya.
Topi yang menutupi kepalanya dibuka paksa hingga wajahnya terlihat, rasa terkejut menyelimuti keduanya. Bingung dengan situasi yang tidak pernah terbayangkan.
"Ca, kamu kenapa" Suara itu bergetar merinding melihat wajah yang penuh lebam.
"Kak...." sahutnya lirih tak tahu harus memulai darimana.
Sosok yang memanggilnya adalah kakak keduanya yang bernama Elgar. Clarissa merutuki kebodohannya yang menoleh dikala namanya dipanggil dan menyesal sudah berani datang dengan kondisinya yang menyedihkan.
"Aku harus pulang" Sahut Clarissa lalu berbalik namun kembali ditahan Elgar.
"Dimana Ethan?" Suara sedikit meninggi dan penasaran melihat adiknya hanya berdiri sendiri diluar.
Sejak tadi Elgar menikmati malamnya di dalam kamar, bermain game setelah sibuk bekerja seharian. Biasanya dia akan tidur lebih awal namun kali ini dia ingin lebih santai dengan bermain game sejenak.
Hingga rasa pegal timbul setelah hampir dua jam duduk, dia bangkit berdiri untuk melakukan peregangan. Di liriknya jam yang melekat di pergelangannya, waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Lalu berniat untuk segera tidur, sepintas ingin melihat ke arah luar. Sekedar melihat apakah masih ada orang yang berlalu lalang di komplek yang mereka tempati. Hingga matanya menangkap bayangan yang berdiri mematung didepan gerbang.
Tak terlihat jelas karena wajahnya ditutupi topi dan jacket yang berwarna gelap. Cukup lama dia memantau pergerakannya hingga sosok itu mundur dan berjalan menjauh.
Elgar yang penasaran sejak tadi akhirnya bergegas keluar dari kamarnya menuju keluar rumah. Langkahnya sangat cepat, hingga tiba di depan gerbang dia masih melihat sosok itu yang masih beberpa meter dari gerbang rumah.
Elgar bergerak cepat, hingga semakin dekat membuat perasaannya menerka bahwa itu adalah adik perempuannya yang sudah telah lama tidak dilihatnya. Meski ragu namun tetap melangkah dan memberanikan diri untuk memanggil.
Kali ini Clarissa tak bisa lepas, semakin dicecar dengan pertanyaan dari Elgar semakin membuatnya terhimpit di pikiran yang penuh kebingungan.
Elgar tidak ingin berburuk sangka kepada adik iparnya, meski masih bertanya-tanya darimana adiknya mendapat luka semengerikan itu.
"Kak, tolong. Aku tidak mau Mama tahu keadaanku. Aku mau pulang. Nanti kita cerita." Suara Clarissa yang memelas sembari mencoba melepaskan genggaman Elgar.
"Pertanyaanku sederhana, dimana suami kamu?"
"Kak...."
"Atau perlu aku telepon sekarang?"
"Jangan kak, tolong"
"Ayo kita ke rumah, ini sudah tengah malam" bujuk Elgar namun masih ditolak Clarissa.
"Kak, Jangan....." Tangis Clarissa akhirnya tumpah bercampur dengan ketakutan, kepanikan dan kesakitan.
Hingga tanpa memedulikan rasa malu, Clarissa sudut ditanah dan memegang kaki Elgar. Mengemis pengertian dan tak menuntut penjelasan.
Elgar semakin kacau melihat kondisi adiknya yang seumur hidupnya tidak melihat sekacau itu. Elgar berusaha untuk menopang Clarissa agar bangkit berdiri namun masih gagal.
Hingga satpam komplek yang kebetulan sedang berkeliling melihat mereka berdua dan mendekat. Menanyakan kejadian yang sedang terjadi.
Satpam itu sangat mengenal keluarga Elgar yang terkenal ramah. Namun belum mampu mengenali wajah Clarissa yang sudah jangan berbeda jauh dari dua tahun yang lalu.
Clarissa terus menangis dan menjerit memohon pengertian kakaknya, dengan memohon bantuan petugas yang masih berdiri didekat mereka untuk ikut memaksa Clarissa agar berdiri namun juga tak berhasil.
Tanpa mereka tau, tindakan mereka justru memberi rasa nyeri di tubuh Clarissa. Rasa nyeri yang belum terlihat karena dibaluti jacket yang sedikit memberi rasa hangat.
"Kamu berdiri dulu, jangan duduk di tanah. Ini kotor. Kita akan bicara disini" bujuk Elgar lagi hingga akhirnya Clarissa mengangguk.
Lalu dengan perlahan dia bangkit berdiri dibantu Elgar, namun sayangnya tubuhnya sudah lelah untuk dipaksa tegar lagi. Baru setengah berdiri, tubuh Clarissa kini benar-benar ambruk dan dengan cepat ditahan Elgar agar tidak berbaring di tanah.
Untung saja satpam itu sigap membantu Elgar. Kini tubuh Clarissa sudah dalam pangkuan Elgar yang dengan langkah cepat berjalan menuju rumahnya. Satpam berlari dan sigap membuka gerbang lalu ikut membukakan pintu sehingga Elgar berhasil membaringkan tubuh itu diatas sofa.
Mereka masih menunggu reaksi Clarissa dengan memanggil namanya beberapa kali. Elgar berlari menuju dapur untuk membawakan segelas air yang akan diberikan jika Clarissa sudah sadar.
"Den, coba kasih minyak kayu putih mungkin bisa membantu" Saran Satpam itu
Elgar bergegas cepat menuju nakas mencari obat dan menemukannya. Dengan cepat dia membuka kancing jacket ean rasa terkejutnya kian membuat nafasnya tercekat. Luka lebam kebiruan itu semakin membuatnya bergidik ngeri.
Satpam bahkan tidak percaya dengan luka yang melekat ditubuh wanita itu.
"Den, ini harus dibawa ke rumah sakit. Sepertinya dia baru mendapat kekerasan. Ayo Den, biar saya yang menyetir mobil" Sahut Satpam itu lagi.
Elgar masih berusaha mencerna semua yang dilihatnya semakin memeriksa tubuh adiknya semakin membuat perasaanya hancur.
Satpam itu bahkan menelepon temannya untuk izin sebentar karena akan mengantar salah satu penghuni rumah di komplek itu menuju rumah sakit.
Elgar bermaksud bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan ponselnya.
Karena mendengar suara berisik di ruang tamu membuat penghuni lainnya yang tak lain adalah orang tua mereka ikut terbangun.