Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Beberapa hari setelah keputusan Daddy yang tak terbantahkan, pernikahan antara Brielle dan Nevran berlangsung.
Bukan pesta besar. Bukan resepsi mewah dengan ribuan tamu. Hanya orang-orang terdekat—keluarga inti, sahabat, dan beberapa orang kepercayaan. Tidak ada publikasi, tidak ada liputan media. Hanya ada kemewahan yang terasa dingin di balik senyum yang dipaksakan.
Brielle mengenakan gaun putih sederhana. Bukan gaun putri yang dulu ia impikan saat kecil. Bukan gaun dengan renda panjang dan kerudung lembut. Gaun ini putih polos, elegan, tapi terasa seperti belenggu.
Ia berdiri di samping Nevran di depan penghulu. Wajahnya datar. Matanya kosong. Tidak ada senyum. Tidak ada kebahagiaan.
Nevran juga sama. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Tapi matanya—sesekali mencuri pandang ke arah Brielle. Hanya sekilas. Hanya untuk memastikan gadis itu masih di sampingnya.
“Apakah saudara Nevran Zayle Garendra menerima saudari Brielle Ardelia Noor sebagai istri yang sah?”
Nevran menoleh ke samping, menatap Brielle sekilas. “Saya terima.”
Brielle tidak bergerak. Dadanya sesak. Ia ingin berteriak, ingin lari, ingin membatalkan semua ini. Tapi kakinya terpaku di tempat.
Ini demi keluarga. Ini demi Daddy. Ini demi—
Ia tidak tahu lagi untuk apa.
Acara berlangsung singkat. Setelah ijab kabul, ada sesi ramah tamah. Freya menangis di sudut ruangan, dipeluk oleh Arven dan Zayden. Kedua kakak Brielle berusaha tegar, tapi mata mereka berkaca-kaca melihat adik bungsu mereka resmi menjadi istri orang.
Bunda Kalista mendekati Brielle, menggenggam tangannya. “Aya... Bunda tahu ini berat. Tapi Bunda janji, Bunda akan jaga kamu seperti anak sendiri.”
Brielle tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Makasih, Bunda.”
Nevran berdiri di samping, diam. Tapi tangannya—tanpa sadar—meraih ujung jari Brielle. Hanya menyentuh. Tidak menggenggam.
Brielle tidak menarik. Juga tidak membalas.
---
Setelah acara, di rumah baru
Mobil hitam berhenti di depan sebuah rumah modern yang megah. Bukan mansion Garendra yang dulu Brielle tinggali. Ini rumah baru—rumah yang dibeli Nevran untuk mereka berdua. Arsitektur minimalis dengan dominasi hitam, putih, dan abu-abu. Dingin. Kaku. Seperti pemiliknya.
Brielle berdiri di ambang pintu, menatap bangunan besar itu dengan perasaan campur aduk. Selama ini ia berasal dari keluarga kaya, tapi rumah ini terasa lebih megah dan... asing. Ada hawa dingin yang entah datang dari tempat ini atau dari lelaki yang kini resmi menjadi suaminya.
“Masuk,” suara dingin Nevran membuyarkan lamunannya.
Brielle menatap suaminya sekilas sebelum melangkah masuk. Begitu pintu tertutup, suasana menjadi sunyi. Senyap. Hanya detak jam dinding yang terdengar.
Nevran melangkah tanpa banyak bicara. Brielle mengedarkan pandangan ke sekeliling. Interior rumah ini didominasi warna gelap, sangat elegan tetapi terasa dingin. Tidak ada sentuhan kehangatan seperti rumah pada umumnya.
“Kamar lo di sebelah kamar gue,” kata Nevran singkat sambil berjalan menaiki tangga.
Brielle mengerutkan kening. “Kita tidur terpisah?”
Nevran berhenti sejenak, lalu menoleh dengan tatapan datar. “Lo nggak berpikir kita bakal tidur seranjang, kan?”
Brielle mendengus. “Tentu aja nggak! Gue cuma nanya.”
Tanpa menjawab, Nevran kembali melangkah menuju kamarnya. Brielle hanya menghela napas dan mengikuti arahan menuju kamarnya sendiri.
Kamar itu lumayan luas, lebih besar dari kamar tidurnya di rumah orang tuanya. Dekorasinya minimalis dengan nuansa putih dan abu-abu. Ada lemari besar di sudut ruangan dan balkon kecil yang menghadap ke halaman belakang.
Begitu masuk ke kamar, Brielle mengunci pintu dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
Hari ini begitu melelahkan.
Ia menikah dengan seseorang yang bahkan tidak ia cintai. Dan sekarang ia harus tinggal bersama pria dingin dan menyebalkan itu.
Ia bangkit, berjalan menuju cermin, lalu menatap bayangannya sendiri.
“Brielle Ardelia Noor, selamat. Sekarang lo udah resmi jadi istri orang,” gumamnya pelan, setengah sarkastik.
Dia melepas gaun dan menggantinya dengan piyama, lalu membenamkan diri di kasur empuk. Meski pikirannya masih penuh dengan segala kemungkinan buruk tentang pernikahan ini, tubuhnya terlalu lelah untuk melawan kantuk.
Di kamar sebelah, Nevran duduk di tepi ranjang. Matanya menatap dinding yang memisahkan kamarnya dengan kamar Brielle.
Dia ada di sana.
Dekat.
Tapi terasa jauh.
Ia berbaring, memejamkan mata. Tapi tidur tidak datang.
---
Pagi yang Heboh
Pagi itu, Brielle bangun dengan rasa malas. Matanya sembab—habis menangis semalaman. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah, ia turun ke lantai bawah.
Nevran sudah duduk di meja makan, mengenakan seragam sekolahnya rapi. Ekspresinya datar seperti biasa. Di depannya ada secangkir kopi hitam dan sepiring roti bakar yang belum tersentuh.
Brielle berjalan ke dapur, membuka kulkas, dan mengambil sebotol susu. Dia menuang susu ke dalam gelas sambil sesekali melirik Nevran yang duduk di sana tanpa suara.
“Lo nggak sarapan?” tanya Brielle akhirnya, karena tidak tahan dengan suasana canggung ini.
Nevran mengangkat bahu. “Nggak biasa sarapan.”
Brielle mendesis pelan. “Alasan lo nggak sarapan tuh kayak alasan anak-anak yang sok rebel.”
Nevran mendongak, melirik Brielle dengan tatapan tajam. “Terus kenapa? Lo mau nyuapin gue?”
Brielle nyaris menyemburkan susunya. “Mimpi!”
Nevran hanya mendengus kecil sebelum berdiri. “Gue tunggu di mobil. Lima menit.”
“Gue mau nanya.”
Nevran menoleh. “Apa?”
“Lo enggak sewa ART gitu? Sepi amat ni rumah.”
“Belum sempat. Gue sibuk.”
“Ohhh.”
Setelah menyelesaikan sarapannya, Brielle buru-buru keluar rumah. Dan yang membuatnya kaget, Nevran tidak naik motor seperti yang ia bayangkan. Cowok itu sudah duduk di balik kemudi mobil sport hitamnya, mesinnya sudah menyala.
“Lo biasanya naik mobil ke sekolah?”
“Kadang-kadang.”
Brielle masuk ke mobil dan memasang seatbelt. Begitu mobil melaju keluar gerbang, ia mulai merasa ada yang aneh.
“Kenapa gue ngerasa kalau kita berangkat bareng ini bakal bikin heboh satu sekolah?” gumamnya.
Nevran melirik sekilas. “Bukan masalah gue.”
Dan benar saja.
Begitu mobil mereka memasuki area parkiran sekolah, semua mata langsung tertuju ke mereka. Seolah ada selebriti yang baru saja datang.
Brielle langsung memijat pelipis. “Ya Tuhan, gue udah bisa bayangin drama yang bakal terjadi hari ini...”
Di sudut lain, sekumpulan siswa cewek mulai berbisik-bisik, menatap ke arah mobil Nevran dengan tatapan kaget, iri, dan penasaran.
“Itu Nevran, kan?”
“Eh, iya! Tapi... itu cewek di sebelahnya siapa?”
“Brielle! Kok bisa dia bareng Nevran?!”
“Bukannya mereka udah tunangan?”
“Tunangan emang, tapi kok bareng? Berangkat dari rumah yang sama?”
“GILA!”
Brielle bisa merasakan puluhan pasang mata menatapnya. Beberapa tatapan berisi kebingungan, ada juga yang penuh kecemburuan.
Ketika mereka keluar dari mobil, suara bisikan makin menjadi-jadi.
“Bri!”
Keisha tiba-tiba muncul dari kerumunan, diikuti Celine. Ekspresi mereka campur aduk—terkejut, tapi berusaha tenang.
Brielle berjalan mendekati mereka. “Gue butuh penjelasan gimana cara ngehadapi hari ini tanpa jadi pusat perhatian,” keluhnya pelan.
Keisha tertawa kecil. “Sorry, Babe. Tapi lo udah terlanjur jadi pusat perhatian sejak lo turun dari mobil most wanted sekolah ini.”
Celine menambahkan, “Udah, santai aja. Gimana pun juga, lo kan tunangan nya sekarang.”
Brielle mendelik. “Ssttt!! Jangan ngomong sembarangan!”
Celine terkekeh. “Ya ampun, tenang. Kita doang yang tahu, kok.”
Sementara itu, Nevran sudah berjalan ke arah kelasnya tanpa peduli pada tatapan orang-orang. Axel dan geng motornya menyusul, menggoda kecil.
“Bos, selamat ya. Kemana mana bareng degem, jadi iri bos,” ujar Axel sambil nyengir.
Nevran melirik. “Diem.”
“Suka-suka lo, Bos.”
Brielle menghela napas panjang. Hari ini bakal panjang dan penuh gosip.
Ia melangkah menuju kelas dengan Keisha dan Celine di sampingnya. Tapi sebelum masuk, ia menoleh sekilas ke arah Nevran.
Cowok itu sedang berdiri di depan kelas, tangannya di saku celana, menatap kosong ke depan.
Ini suami gue, pikir Brielle getir.
Bersambung
bantu support juga yaa😇