NovelToon NovelToon
KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.

Dan ketika ia membuka matanya kembali…

Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni dan Air Mata

"Siapkan helikopter komando khusus, dan turunkan seluruh unit elit Pengawal ke fasilitas itu," titah Wu Jiang, suaranya kini memancarkan dominasi mutlak yang membuat seluruh gedung menara itu bergetar. "Kita berangkat sekarang."

Kurang dari dua puluh menit setelah perintah itu dijatuhkan, langit biru di atas Fasilitas Penelitian Sentral Aliansi Beijing tiba-tiba digelapkan oleh bayangan raksasa.

Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi punggung Profesor Zhu Liang. Ia berdiri kaku di lobi utama fasilitas yang berdinding kaca tebal, menatap ke arah langit dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Suara gemuruh baling-baling memekakkan telinga, mengalahkan hiruk-pikuk kota metropolis. Belasan helikopter tempur kelas berat berwarna hitam pekat, dihiasi lambang naga lautan melingkari pedang—panji dari Wu Imperial Guild—turun dari langit bagaikan kawanan predator purba.

Belum sempat roda helikopter menyentuh landasan aspal, puluhan sosok berpakaian tempur hitam legam melompat turun dari ketinggian puluhan meter. Mereka mendarat tanpa suara, menghancurkan aspal di bawah kaki mereka. Dalam hitungan detik, ratusan Hunter elit dari divisi Pengawal Naga telah mengepung seluruh perimeter fasilitas. Tidak ada senapan api, hanya aura menekan yang begitu kental hingga udara di sekitar fasilitas terasa sulit untuk dihirup.

Pintu masuk utama fasilitas berdesis terbuka.

Prof. Zhu Liang, diikuti oleh jajaran ilmuwan senior yang wajahnya pucat pasi bak mayat, menelan ludah dengan susah payah. Mereka telah menyiapkan pidato penyambutan yang panjang, mencoba menyusun kata-kata paling diplomatis untuk menghindari kemarahan sang penguasa Shanghai.

Namun, semua kata-kata itu mati di tenggorokan saat melihat dua sosok melangkah masuk ke dalam lobi.

Wu Jiang dan Wu Yuena.

Kehadiran sepasang Country Tier itu tidak memicu ledakan energi, namun gravitasi spiritual mereka membuat struktur baja penyangga gedung berderit tertahan. Wu Jiang melangkah dengan wajah sedingin es abadi, matanya menatap lurus menembus jiwa siapa pun yang menghalanginya. Di sampingnya, Wu Yuena berjalan cepat, wajah cantiknya dipenuhi oleh kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

"S-Selamat datang, Guild Master Wu... Nyonya..." Prof. Zhu Liang memaksakan suaranya keluar, menundukkan kepalanya hingga nyaris menyentuh lutut. "Kami telah mengamankan Tuan Muda di ruang—"

"Tidak perlu formalitas," potong Wu Jiang. Suaranya tidak keras, namun menggema di setiap sudut lobi, memotong pita suara siapa pun yang berniat menjilatnya. "Tunjukkan jalannya. Sekarang juga."

Tidak ada ruang untuk negosiasi. Zhu Liang mengangguk patah-patah, berbalik dengan cepat, dan memimpin jalan dengan langkah setengah berlari.

Mereka menyusuri lorong-lorong panjang yang steril, melewati puluhan pintu keamanan tingkat tinggi yang telah dibuka paksa oleh ketakutan para staf. Keheningan di antara rombongan itu terasa sangat menyiksa. Hanya ada suara ketukan sepatu Wu Jiang dan Yuena yang menggema, menghitung mundur detik-detik menuju pertemuan yang telah tertunda selama lima belas tahun.

Akhirnya, mereka tiba di depan pintu brankas baja tebal milik Ruang Bedah Tingkat S.

Pintu bergeser terbuka. Udara dingin yang membawa sisa-sisa ozon terbakar langsung menyapu wajah mereka. Dan di tengah ruangan yang dipenuhi oleh bangkai mesin pemotong laser itu... berdiri sebuah meja observasi.

Di atas meja itu, terbungkus oleh kristal es spiritual yang memancarkan pendar kebiruan yang mistis, terbaring seorang pemuda berambut hitam.

Langkah kaki Wu Jiang terhenti.

Penguasa yang tidak pernah gemetar saat menghadapi raja monster seukuran gedung itu, kini membeku di tempat. Tinjunya yang terkepal erat perlahan mengendur. Bibirnya yang selalu menyiratkan ketegasan seorang tiran, kini bergetar tipis.

"Xuan'er..."

Suara itu pecah. Sebuah jeritan tertahan yang merobek seluruh lapisan ketegaran, meluncur dari bibir Wu Yuena. Wanita yang dihormati sebagai dewi penyembuh umat manusia itu berlari menerjang ke depan, mengabaikan segala sisa keagungannya. Ia jatuh berlutut di samping meja bedah, kedua tangannya yang gemetar menyentuh permukaan kristal es yang sangat dingin itu.

Tangisan seorang ibu meledak di dalam ruangan yang sunyi tersebut. Air mata keemasan yang di rumorkan mengandung energi kehidupan mengalir deras dari mata Yuena, menetes dan membeku saat menyentuh permukaan es yang membungkus putranya.

"Xuan'er... Anakku... putraku..." isak Yuena, memeluk bongkahan es itu seolah mencoba menyalurkan seluruh kehangatan jiwanya untuk membangunkan pemuda di dalamnya. "Ibu di sini... Ibu akhirnya menemukanmu..."

Di ambang pintu, Prof. Zhu Liang dan para ilmuwannya menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap momen paling rapuh dari penguasa dunia ini.

Wu Jiang melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya terasa sangat berat. Ia berdiri di seberang istrinya, menatap wajah putranya dari balik kaca es. Mata hitam kecoklatan yang selalu memancarkan kecerdasan tajam itu kini tertutup rapat. Kulitnya pucat, namun tidak ada luka. Ia tampak sangat damai, seolah hanya sedang tertidur di sofa ruang bacanya setelah menyelesaikan tumpukan dokumen perusahaan.

Seorang ayah tidak banyak bicara saat terluka. Tapi air mata yang mengalir di sudut mata Wu Jiang, jatuh menetes tanpa suara, adalah bukti bahwa badai kehancuran di dalam hatinya telah tergantikan oleh samudra kelegaan yang tak terukur.

"Kau pergi terlalu lama, Jagoan," bisik Wu Jiang parau. "Kau membuat orang tuamu khawatir."

Ia mengangkat tangan kanannya. Sebagai Awakening alami dengan bakat Penguasa Samudera Beku, tidak ada es di dunia ini yang tidak tunduk pada kehendaknya. Wu Jiang menempelkan telapak tangannya ke permukaan kristal tersebut. Ia berniat menyerap es itu ke dalam tubuhnya, melelehkan penjara yang mengurung putranya dengan kendali mana.

Namun, sesuatu yang ganjil terjadi.

Saat mana tingkat Country Tier milik Wu Jiang menyentuh permukaan es, ia tidak merasakan penaklukan. Sebaliknya, kristal spiritual itu bereaksi layaknya predator yang sedang kelaparan. Es itu menyerap mana miliknya dengan rakus, menarik energi Wu Jiang bagaikan pusaran air raksasa di tengah lautan.

Wu Jiang sedikit melebarkan matanya karena terkejut. Pertahanan pasif yang menghisap energi? Bagaimana Xuan'er bisa terkurung di dalam es mengerikan ini? batinnya heran. Namun, bukannya menarik tangannya, sang ayah justru mengalirkan mananya lebih dalam, membiarkan energi dinginnya menembus kristal dan menyentuh tubuh putranya secara langsung.

Di saat itulah, di kedalaman tidur panjangnya yang gelap gulita, kesadaran Wu Xuan menangkap sebuah sinyal.

Bukan serangan. Bukan niat membunuh. Sinyal energi ini sangat familiar. Ia membawa jejak genetis, sebuah afinitas yang telah terikat dalam darah tubuhnya sejak ia dilahirkan di bumi.

Detik berikutnya...

WUSSS!

Tidak ada ledakan, tidak ada es yang pecah. Kristal es yang tadinya mampu mematikan bor plasma itu cair seketika. Dalam hitungan seperseribu detik, airnya menguap menjadi kabut tipis bersuhu normal yang menyebar ke seluruh ruangan, meninggalkan tubuh Wu Xuan terbaring bebas di atas meja baja.

Wu Jiang menarik napas panjang. Yuena segera menyentuh dahi putranya.

"Tubuhnya... sangat dingin. Detak jantungnya terlalu lambat," Yuena berkata dengan panik, insting Healer terbaik di dunia segera mengambil alih.

Kedua tangannya bersinar dengan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan. Bakat Suci miliknya meledak, memancarkan gelombang penyembuhan yang bahkan mampu menghidupkan kembali jaringan sel yang telah mati berhari-hari. Ia mengalirkan energi kehidupan itu langsung ke dada Wu Xuan, mencoba memompa kesadarannya untuk bangun.

Satu menit berlalu. Tiga menit berlalu. Cahaya keemasan terus berpendar.

Namun, Wu Xuan tidak merespons. Matanya tetap tertutup. Napasnya teratur namun sangat pelan. Ia tidak terbangun. Tubuhnya menelan habis energi penyembuhan ibunya hanya untuk memperbaiki sel-sel yang rusak akibat kelaparan, namun tidak cukup untuk menarik kesadarannya kembali dari pemutusan dimensi.

Ia masih tertidur lelap.

Wu Jiang memegang bahu istrinya dengan lembut, menghentikan aliran mananya sebelum Yuena kelelahan. "Cukup, Sayang. Jangan paksakan diri. Organ vitalnya stabil. Dia hanya... berada dalam koma yang sangat dalam."

Yuena mengangguk pelan, menghapus sisa air matanya. Namun saat ia menatap wajah putranya lebih dekat, pandangannya membeku.

"Jiang..." bisik Yuena, suaranya dipenuhi oleh keterkejutan baru yang nyaris tidak masuk akal. Ia menyentuh pipi putranya dengan ujung jari. "Lihat wajahnya."

Wu Jiang menunduk. Matanya yang tajam menyapu setiap inci figur putranya, dan seketika, jantung sang guild master itu berdetak satu ketukan lebih cepat.

Di sudut ruangan, Prof. Zhu Liang yang sedari tadi mengamati, meremas ujung jas labnya. Ia sudah menyadari ini sejak awal, tapi melihat langsung reaksi sepasang pilar dunia ini menegaskan betapa gilanya fenomena tersebut.

Bumi telah berputar selama lima belas tahun sejak hilangnya Wu Xuan. Menurut perhitungan usia normal, pemuda ini seharusnya hampir menyentuh umur empat puluh tahun bulan ini. Harus ada kerutan di sudut matanya, ada perubahan pada struktur rahang atau tekstur kulitnya akibat paparan waktu.

Namun, Tidak ada satu pun perubahan. Kulitnya tetap mulus tanpa cacat, rambutnya hitam legam tanpa sehelai pun uban. Wajahnya, struktur tubuhnya, dan vitalitasnya... ia masih berada di usia yang sama seperti di hari ia menghilang.

Wu Jiang tidak mempertanyakan keajaiban itu. Ini adalah era di mana Tower bisa menjatuhkan monster dari langit; seorang putra yang tidak menua adalah berkah yang tidak akan ia pertanyakan hukum fisikanya.

Dengan sangat hati-hati, sang guild master membungkuk. Kedua lengannya yang bisa mengangkat gedung pencakar langit itu, kini digunakan untuk mengangkat tubuh putranya dengan kelembutan yang luar biasa. Wu Jiang menggendong Wu Xuan di kedua lengannya, mendekapkannya ke dadanya yang bidang.

Sang penguasa Wu Imperial Guild itu kemudian berbalik, menatap Prof. Zhu Liang yang sedang gemetar di sudut ruangan.

Mata dingin Wu Jiang tidak lagi memancarkan niat membunuh, melainkan sebuah otoritas yang membawa keberuntungan.

"Profesor," suara Wu Jiang menggema tenang. "Kalian telah menemukan duniaku yang hilang, dan menjaga tubuhnya tetap utuh tanpa menggores sehelai pun rambutnya."

Zhu Liang menelan ludah, bahkan tak berani bernapas terlalu keras. Bisa tetap hidup setelah semua ini saja sudah merupakan sebuah berkah... apalagi berharap mendapatkan hadiah.

"Keluarga Wu selalu membayar hutang," lanjut Wu Jiang, matanya menatap tajam, memberikan janji yang akan mengubah sejarah sains di bumi. "Kami akan membalas kebaikan ini. Semua proposal riset kalian sebelumnya... proyek gila apa pun yang pernah ditolak oleh Asosiasi Pusat... akan kami biayai sepenuhnya. Tanpa batas."

Bruk.

Lutut Prof. Zhu Liang kehilangan tenaganya. Ia jatuh terduduk di lantai, tidak mampu menahan gelombang euforia dan kelegaan yang meledak di dalam dadanya. Ia... ia pingsan dalam keadaan mata terbuka saking senangnya.

Di belakangnya, para ilmuwan berseragam hazmat saling menatap dalam ketidakpercayaan yang membisu. Beberapa detik kemudian, mereka saling memeluk satu sama lain, menahan isakan tawa bahagia. Dari ambang kematian, mereka baru saja mendapatkan dana penuh dari kapitalis nomor satu di Tiongkok!

Wu Yuena tidak mempedulikan kegembiraan para ilmuwan tersebut. Pikiran dan hatinya hanya tertuju pada putra tunggal yang kini berada di gendongan suaminya.

"Semuanya, bergerak!" titah Wu Yuena dengan nada panik seorang ibu yang tidak mentolerir penundaan sedetik pun. "Buka jalur penerbangan darurat! Kita berangkat! Aku ingin dia sudah berada di ruang perawatan fasilitas pribadiku dalam sepuluh menit!"

Rombongan itu bergerak keluar dengan cepat, meninggalkan ruang laboratorium yang menjadi saksi bisu kembalinya sang pewaris.

Saat mereka melangkah keluar menuju helikopter yang menunggu di landasan, angin dari baling-baling menerpa wajah Wu Xuan yang masih terlelap.

Bersambung...

1
Novi Prihartono
lanjuuuuuuuuut
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡🫡🫡
total 1 replies
Novi Prihartono
up lagiiiiiiiiiiiiiii
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡👍👍👍👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Bantu like dan komentar untuk mendukung cerita ini agar terus berlanjut 🫡🫡
Fajar Fathur rizky
thor ini wuxuan jika nunjukin ranah kultivasi apakah dunia bakal hancur thor
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor novel satunya bab 393 dan bab 394 thor
Zzzz
jejak dulu 👣👣
Zzzz
semoga dapat retensi ya/Determined//Determined/semangattt 🔥🔥🔥
Zzzz
/Slight/
Zzzz
/Hunger/
Zzzz
/Proud/
Zzzz
semangat 🔛🔥
Zzzz
/CoolGuy/
Zzzz
🤧bisa dong
Fajar Fathur rizky
cepat naikin level wuxuan
ABSOLUTE [2]
aaaaaaaaahhhhhhhh, lagi seru-seru nya baca malah abis
EGGY ARIYA WINANDA: Teknik marketing 🤭🤭
total 1 replies
Zzzz
👣
Zzzz
/Grimace/
Zzzz
/Slight//Proud/
Zzzz
/Frown/
Zzzz
/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!