NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 : Pengakuan pertama

“ALIIIIN…” Suara Mei menggelegar memanggil namanya. Wanita itu berlari memasuki kamar rawat Alin dengan napas tersengal.

“Kau baik-baik saja? Aku mendengar pria bertato waktu itu mengejar mu.”

“Aku baik-baik saja. Sore ini aku akan pulang. Harusnya…” Ujar Alin.

“Siapa itu? Kakak mu?” Bisik Han menunjuk dengan gerakan kepalanya ke arah ruang sebelah Alin yang tertutup tirai.

“Ya… kakak ku kemarin datang. Aku mengajaknya keliling kota, sampai akhirnya pria brengsek itu mengacaukannya.”

“Siapa maksudmu?” Mei mengupas buah untuk Alin.

“Siapa lagi.”

“Psikopat itu?” Tanya Mei, separuh berbisik.

“Siapa maksudmu?” Tanya Han tidak tahu konteks pembicaraan mereka.

“Tuan muda Rei.” Jawab serempak Mei dan Alin.

“Ah dia. Tadi diparkiran aku bertemu dengan Tuan Yuchen. Apa dia datang kesini?” Tanya Han.

“Mana aku tahu. Aku juga tidak peduli. Ah ya, untuk undangan itu, apa harus datang?” Tanya Alin.

“Ya. Kau mau dianggap mata-mata? Sudahlah datang saja. Hanya beberapa jam. Tidak lama. Setelah itu kita bisa pergi jalan malam.” Ujar Han.

“Kalau kau tidak mau, aku akan menemani mu. Setidaknya kalau kau dihukum, aku akan bersamamu.” Pilu Mei.

“Ck- sudahlah. Aku hanya bingung, kaki ku masih sakit. Kemarin aku pergi bersama kakak ku untuk mencari dress dan sepatu tinggi. Bodohnya aku sepanjang hari itu aku malah memakai sepatu tingginya sampai…”

“Pakai saja sneakers mu, bukankah kau akan selalu tampil beda.” Canda Han.

“Jangan dipaksa, kenakan sepatu datar. Akan mempermudah mu nanti.” Pinta Mei.

BIP BIP BIP

“Aku kalau begitu kembali kerja dulu ya. Dokter Gu sudah memanggil ku. Ayo Han.” Ajak Mei dan bergegas keluar.

Alin saat itu mengambil ponselnya yang tergeletak di meja TV dan menyalakannya. Sosok dari kamar sebelah mulai beranjak bangun dan duduk di pinggir ranjangnya. Tanpa suara apa pun.

Namun Alin merasa sosok itu berbeda dengan Yuhan. Meski memiliki tinggi yang sama, Alin sangat hapal akan bentuk tubuh kakaknya.

Perlahan pria itu beranjak berdiri dan membuka tirai pembatasnya.

BIP BIP BIP

Zhang Yuhan : Alin aku harus kembali saat ini. Maafkan aku, tapi kudengar kondisi mu pagi ini jauh lebih membaik. Aku meminta bantuan pada tuan Rei untuk menjaga mu. Berbaiklah padanya. Meski dia salah, dia menyelamatkan mu. Jagalah sikapmu.”

Alin membaca pesan singkat itu tepat dengan sosok pria yang ia duga kakaknya berdiri dihadapannya.

“Bagaimana keadaanmu?” Suara hangat itu menyapanya.

Alin perlahan membalikkan tubuhnya. Sudah berulang kali Alin merasa canggung dengan situasi itu.

“Rei… Kenapa kau disini?” Tanya Alin samar suaranya tak terdengar.

“Kakak mu meminta bantuan ku.” Jawab lembut Rei.

Alin kembali terdiam. Ia tertunduk, kakaknya memberi perintah untuk menjaga sikap didepan Rei. Alin hampir tidak pernah mengecewakan kakaknya.

“Alin aku…”

“Rei…” Sela Alin, “Aku tidak ingin membahas kejadian semalam. Karena aku juga tidak akan meminta maaf pada mu atau sekedar berterima kasih.”

“Aku tidak…”

“Aku juga tidak akan memaafkan perbuatan mu.” Selanya lagi, “Jadi lebih baik tidak perlu diungkit kembali. Aku akan anggap semuanya tidak terjadi.”

“Baiklah. Aku akan mengikuti permintaan mu.”

“Aaahssh…” Alin meringis kesakitan saat hendak beranjak kembali keranjangnya. Pergelangan kakinya terasa sakit.

“Apa masih terasa sakit?” Tanya Rei cemas membantu menahan tubuh Alin yang hampir jatuh.

“Menurutmu?” Kesal Alin mencengkram lengan Rei, “Bantu aku.” Perintahnya.

Teringat ucapan Yuhan, “Yang mulia, adik hamba sedikit manja. Dia hampir tidak pernah sakit ataupun terluka, kejadian hari ini mungkin akan sedikit merepotkan mu. Jika terjadi sesuatu, kau dapat menghubungi ku. Ini kontak nomor ku.” Yuhan menyerahkan kartu namanya.

Dengan sigap Rei menggendong Alin dan membawa tubuh wanita itu kembali ke atas ranjangnya. Perbuatan Rei yang tiba-tiba itu membuat degup jantung Alin tak terkendali.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Rei dalam senyumannya saat alarm detak jantung Alin berbunyi cepat.

Alin dengan cepat melepas watch health yang dikenakan sejak masuk rumah sakit.

“Apa semalam kau tidur disitu?” Alin menatap ranjang disampingnya yang hanya terpisah oleh tirai.

“Ya. Aku terjaga untuk memastikan semua baik-baik saja.”

“Ini bukan hari libur, kenapa kau tidak berangkat kerja?”

“Aku dapat melakukannya dari sini.”

“Rei…”

“Jangan mengusirku, aku bertanggung jawab pada kakak mu untuk mengantarmu pulang hari ini.”

“Wisma ku dibelakang rumah sakit, aku bisa kembali sendiri nanti.”

“Bukankah masih terasa sakit?” Senyum Rei menatap Alin, dengan lirikan mata ia menunjukkan sofa depan TV dimana ia berdiri dan kesakitan tadi.

“Ck- aku sungguh baik-baik saja. Bahkan lusa aku diharuskan datang ke istana.” Gumam kesal Alin yang terdengar Rei.

“Kau tidak ingin datang?” Tanya Rei kini berpindah duduk di pinggir ranjang Alin, tepat di sisi wanita itu.

“Diwajibkan. Aku bisa apa.”

“Kau tidak perlu datang, terlebih jika kau sakit.”

“Apa perintah Raja itu sama seperti senior ditempat kerja? Hanya dengan selembar kertas diagnosa dari rumah sakit jadi aku bisa beristirahat?! Kau bercanda.”

“Sudahlah, kembali kerumah mu. Han melihat Yuchen tadi. Aku mau tidur, hal langka aku bisa tidur lebih dari tiga jam.” Ucap Alin masih terdengar kesal mulai berbaring.

“Kau masih marah pada ku?” Rei menarik lengan Alin untuk kembali tidur.

“Tidak.” Ketus nya.

“Aku harus apa agar kau tidak seperti ini pada ku?”

“Memangnya aku seperti apa dimata mu? Sudahlah jangan ganggu aku.”

“Alin…” Rei kembali menahan lengan wanita itu.

Alin menghela nafas panjang. Sejak awal pria itu selalu memaksa kehendaknya, “Kenapa aku harus marah? Aku hanya ingin istirahat.”

“Soal semalam…”

“Aku bilang tidak usah dibahas. Kau ini apa tidak mengerti bahasa ku. Susah mati aku belajar bahasa negara Xinlan, bagian mana kau tidak mengerti ucapan ku?” Gertak Alin.

“Akan terus ku bahas sampai kau tidak marah.”

“Ck- pria ini…” Geram Alin, “Kenapa kau menyuruh mereka mengejar ku?” Alin menarik lengannya hingga menghempas tangan Rei.

“Aku menyuruh bawahan Tuan Xa untuk mengejar mu. Karena aku tidak suka kau terlalu mesra dengan kakak mu… maksud ku, aku sebelumnya tidak tahu dia itu kakak mu.” Rei meralat ucapannya saat mata Alin menatapnya tajam.

“Namun bawahan Tuan Xa belum menerima perintah, kau sudah dikejar kelompok bawahan dari Tuan Jiang. Pria itu mengkhianati kelompoknya sendiri, saat tahu kau dalam bahaya aku memerintah Tuan Xa untuk melindungi mu bersama kakak mu.”

“Kau mengikutiku sepanjang waktu kemarin?” Kesal Alin.

Rei tidak menjawab. Ia khawatir wanita itu akan marah kembali.

“Kau gila, baiklah urusan kita sudah selesai. Hal semalam tidak perlu dibahas.” Alin melunak, “Pulanglah Rei, kembali lagi sore nanti. Kau urus anak buah mu itu. Bukankah kau perlu memberi mereka makanan pagi ini.” Alin kembali menarik selimutnya.

“Kau tidak tanyakan kenapa aku melakukan itu?” Tanya Rei kembali menarik Alin untuk kesekian kalinya.

“Apa? Kau cemburu? Menyukaiku?” Ujar Alin tanpa basa-basi seakan dia sudah terbiasa dengan kalimat ungkapan perasaan itu.

Rei terdiam menatap Alin. Bagaimana bisa wanita itu bersikap biasa saja, sedangkan Rei tengah mengungkapkan kembali isi hatinya.

“Aku memang cemburu karena aku menyukaimu.” Ujar Rei gugup.

“Mau dengar jawaban ku?” Kesal Alin lagi mencoba tenang.

Rei terdiam lama menatap Alin, “Aku yakin kau selalu mendengar perkataan tadi. Sampai kau sekarang bahkan sudah terbiasa mendengarnya. Tapi bagi ku, kalimat tadi tidak bisa ku katakan pada sembarang wanita lain.”

“Suasana hati mu sedang tidak baik, istirahatlah. Aku akan mengurus surat keluar rumah sakit dulu.” Ujar Rei beranjak berdiri dan keluar dari kamar Alin.

Ia tak percaya wanita itu bahkan sangat dingin pada perasaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!