NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 : Rosline Terkejut

Malam itu udara terasa dingin menusuk kulit. Lampu-lampu jalan di sekitar kawasan residen mewah masih menyala terang, berbanding terbalik dengan tubuh Rosline yang sudah lelah sejak sore tadi.

Jam di minimarket menunjukkan pukul sebelas malam tepat ketika gadis berusia dua puluh tahun itu selesai menutup rolling door toko bersama beberapa rekan kerjanya.

“Ros, kita pulang duluan ya!”

“Iya hati-hati!” balas Rosline sambil tersenyum tipis.

Satu per satu temannya pergi meninggalkan area parkiran minimarket. Kini hanya tersisa Rosline bersama motor tuanya yang catnya mulai pudar dan beberapa bagian bodinya bahkan sudah retak.

Seperti biasa, gadis itu memasukkan kunci motor sambil menghela napas pelan. Belum sempat motornya menyala, ponsel di saku jaketnya tiba-tiba bergetar.

Nama “Ibu” muncul di layar.

Rosline langsung mengangkatnya. “Iya, Bu…”

Suara wanita di seberang sana terdengar cepat dan penuh tuntutan. “Ros, lusa bapakmu harus kontrol lagi ke dokter untuk cuci darah. Biayanya belum ada.”

Rosline langsung menunduk lemas. Belum sempat ia menjawab, suara ibunya kembali terdengar.

“Terus Alda juga harus bayar uang kuliah minggu ini. Jangan sampai telat lagi. Kasihan adikmu.”

Rosline memejamkan mata sebentar. “Iya, Bu… nanti Ros usahain.”

“Usahain terus! Kamu itu cari kerja tambahan, jangan hanya cukup untuk makan sendiri. Bapakmu sedang sakit jadi butuh biaya besar!”

Kalimat itu menusuk seperti biasa. Padahal sebelum ayahnya terkena penyakit ginjal, gaji di minimarket sudah sangat cukup untuk dirinya dan juga untuk membantu kuliah adiknya.

Tapi semenjak ayahnya terkena penyakit ginjal, Rosline sudah bekerja mati-matian demi keluarga mereka. Pagi sampai malam ia menjaga minimarket. Kadang bahkan mengambil shift tambahan hanya demi mendapat uang lembur.

Namun semua itu tetap tidak pernah cukup. Ibunya bernama Sandrin, yang merupakan ibu sambung Rosline, tak pernah benar-benar peduli pada kelelahan gadis itu. Wanita itu hanya terus menuntut Rosline membalas semua kebaikannya, karena sudah membesarkannya sejak kecil.

Padahal Rosline tahu, sejak dulu dirinya tidak pernah benar-benar dianggap anak sendiri.

Telepon akhirnya terputus.

Rosline menatap layar ponselnya lama sebelum perlahan memasukkannya kembali ke saku.

“Hufftt...”

Gadis itu mengembuskan napas panjang.

Matanya terasa panas, tetapi ia terlalu lelah untuk menangis. Ia bingung harus mencari uang dari mana lagi. Gaji minimarket itu bahkan nyaris habis hanya untuk biaya obat ayahnya, bayar kosan, dan untuk kuliah Alda. Belum lagi cicilan kecil-kecilan yang diam-diam terus menumpuk.

“Sepertinya… aku harus cari pekerjaan tambahan.” Suara Rosline terdengar lirih di tengah parkiran yang mulai sepi.

Motor bututnya akhirnya berhasil menyala setelah beberapa kali distarter.

BRUUMM

Rosline segera melajukan motornya membelah jalanan malam kota. Lampu gedung-gedung tinggi dan rumah-rumah mewah di sekitar residen terlihat begitu indah.

Namun semua kemewahan itu terasa sangat jauh dari hidupnya. Dua puluh menit kemudian, Rosline sampai di sebuah gang kecil yang cukup sempit.

Ia menghentikan motor di depan bangunan kos sederhana bercat kusam. Kosan kecil itu hanya berukuran beberapa meter saja. Kasur tipis, kipas angin tua, lemari plastik, dan meja kecil menjadi isi seluruh kamarnya. Harga sewanya hanya tiga ratus ribu per bulan.

Untung saja pemilik kos masih baik hati membiarkannya tinggal meski kadang Rosline terlambat membayar.

Rosline masuk perlahan sambil melepaskan helmnya. Tubuhnya langsung jatuh terduduk di tepi kasur. Matanya menatap langit-langit kamar yang mulai lembap.

Sementara kedua orang tuanya tinggal di pelosok kota yang jauh dari tempat Rosline bekerja. Kalau ia tinggal disana, ia harus bolak-balik setiap hari menggunakan motor tuanya, kendaraan itu pasti tidak akan sanggup.

Karena itulah Rosline memilih tinggal sendiri di kos murah ini. Gadis itu kembali menatap ponselnya. Saldo rekeningnya bahkan tidak sampai cukup untuk biaya cuci darah ayahnya nanti.

Rosline menggigit bibir pelan. Kali ini ia benar-benar merasa sangat lelah.

***

Keesokan harinya, seperti biasa Rosline sudah berada di minimarket sejak pagi.

Seragam kerjanya sudah melekat rapi di tubuhnya. Rambut panjangnya diikat sederhana, sementara wajah cantiknya tampak pucat karena kurang tidur.

Minimarket pagi itu cukup ramai. Rosline sibuk membuka beberapa kardus barang yang baru datang dari supplier. Tangannya bergerak cepat mencatat jumlah stok barang ke dalam buku inventaris.

“Air mineral dua dus… mie instan empat puluh pack…”

Sesekali gadis itu juga harus berlari ke kasir ketika ada pelanggan yang ingin membayar belanjaan.

“Totalnya seratus tiga puluh lima ribu, Kak.”

“Terima kasih, hati-hati di jalan.”

Meski lelah, Rosline tetap berusaha ramah kepada semua pelanggan. Saat ia kembali jongkok membuka kardus susu, kepala toko tiba-tiba menghampirinya.

“Ros.”

Rosline langsung berdiri cepat.

“Iya, Pak?”

“Hari ini Hendrik tidak masuk. Kamu bisa antar paket ini ke komplek residen yang biasa?”

Rosline menoleh ke arah kardus besar di samping meja gudang. Ukurannya lumayan besar dan terlihat cukup berat.

“Konsumennya memang tidak bisa datang ambil sendiri, Pak?”

Kepala toko menggeleng pelan. “Tidak bisa. Dia memang sudah langganan diantar barangnya.”

Pria itu kembali menunjuk alamat yang tertempel di kardus. “Nanti kamu taruh di depan pintu saja setelah pencet bel. Barangnya sudah dibayar, jadi habis itu kamu boleh kembali lagi ke sini.”

Rosline akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Pak.”

Beberapa menit kemudian, kardus besar itu sudah terikat di belakang motor tuanya menggunakan tali seadanya. Rosline bahkan harus memastikan berkali-kali agar paket itu tidak jatuh di jalan.

BRUUMM

Motor tuanya kembali melaju meninggalkan minimarket. Tak lama kemudian, Rosline memasuki kawasan residen mewah yang biasa menjadi langganan pengantaran minimarket mereka.

Jalanan di dalam komplek itu sangat bersih dan luas. Deretan rumah megah berdiri elegan dengan taman yang tertata indah.

Rosline sempat menunduk melihat motornya sendiri yang tampak sangat kontras berada di tempat semewah itu. Beberapa satpam komplek bahkan memperhatikannya sekilas.

Rosline segera melihat alamat di kertas kecil yang diberikan bosnya. Blok A-17.

“Sebelah mana ya…”

Setelah berputar beberapa menit, akhirnya Rosline menemukan rumah tujuan. Namun saat motornya berhenti, mata Rosline langsung membulat kagum.

Rumah itu jauh lebih besar dibanding rumah lain di sekitar sana. Gerbang hitam tinggi berdiri kokoh, sementara mobil-mobil mewah terparkir rapi di halaman luasnya.

Rosline turun perlahan dari motor sambil membawa kardus berat itu dengan susah payah.

“Katanya di letakkan didepan pintu saja…” gumamnya mengingat ucapan bos tadi.

Ia berjalan melewati halaman depan rumah yang sangat luas. Namun baru beberapa langkah...

PRAANKK!

Tiba-tiba suara benda pecah terdengar dari dalam rumah. Rosline sontak terkejut, belum sempat ia bereaksi, pintu rumah besar itu tiba-tiba terbuka kasar dari dalam.

Seorang pria tinggi keluar dengan langkah cepat. Kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian atas, sementara wajah tampannya terlihat dingin dan penuh emosi.

Rosline langsung membeku di tempat, tatapan pria itu tajam sekali. Dan entah kenapa… untuk sesaat Rosline merasa takut menatapnya.

1
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!