NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit Eropa—27

Pagi hari di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dimulai dengan kesibukan yang luar biasa di area Private Jet Terminal. Sebuah jet pribadi milik Dirgantara Group, Gulfstream G6567ER, sudah terparkir gagah di landasan pacu, siap membawa sang CEO dan tunangan barunya membelah awan menuju benua biru.

Aletha melangkah keluar dari mobil dengan penampilan yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hari ini, ia memilih tampil kasual mengenakan oversized blazer berwarna krem, celana jin kulot, dan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya. Di tangan kanannya, sebuah smartphone terbaru yang sudah terpasang pada sebuah gimbal penyeimbang sudah menyala.

Pip.

Aletha menekan tombol rekam pada layar ponselnya, memulai mode kamera depan. Jiwa mahasiswi Ilmu Komunikasi dan Ratu Kampus yang ekspresif seketika mengambil alih seluruh energinya.

"Halo gess! Welcome back to my daily life!" seru Aletha ke arah kamera sambil berjalan tegap menyusuri landasan pacu, memberikan senyuman paling menawan yang biasa membuat mahasiswa di kampusnya mengantre.

"Hari ini Aletha kalian lagi gak ada jadwal kelas, jadi gue memutuskan buat jalan-jalan santai. Tapi tebak, hari ini gue jalan-jalannya agak jauh, bukan ke mall foya-foya kayak biasa, melainkan... jeng jeng! Kita mau ke Eropa!" Aletha memutar camera-nya 180 derajat, memamerkan kemegahan jet pribadi di latar belakangnya sebelum kembali mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri.

"Dan tentu aja, gue gak sendirian. Gue pergi bareng calon tunangan tersayang gue yang super kaku, super dingin, dan hobi pakai jas ratusan juta yang kalau ngomong iritnya kayak kuota sekarat. Mari kita culik dia masuk ke dunia per-vlogan!"

Aletha mempercepat langkah kakinya menaiki tangga jet pribadi. Begitu melangkah masuk ke dalam kabin mewah berdesain interior kayu mahogani dan kulit premium itu, ia langsung menangkap sosok Danny Atonio. Pria jangkung itu sudah duduk nyaman di salah satu executive seat, mengenakan kaus polo rajut berwarna navy dan celana chino—penampilan santai yang tetap memancarkan ketampanan luar biasa. Di pangkuannya, sebuah iPad Pro menampilkan grafik bisnis yang rumit.

Aletha langsung menyodorkan kameranya tepat ke depan wajah Danny, membuat sang CEO tersentak kecil dan menaikkan sebelah alisnya tajam.

"Sapa kamera dulu dong, Say hello ke penonton vlog gue!" perintah Aletha dengan nada menuntut yang jenaka.

Danny menatap lensa kamera dengan pandangan datar selama tiga detik, lalu beralih menatap Aletha dengan seringai tipisnya yang seksi. "Gue gak masuk dalam kontrak buat jadi komedian di vlog lo, Aletha."

"Ih, gak ada komedian-komedian ya! Ini namanya dokumentasi perjalanan menuju masa depan. Ayo dong, senyum sedikit! Masa tunangan Ratu Kampus mukanya kayak debt collector nagih utang begini?" goda Aletha tak mau kalah.

Danny terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang terdengar sangat renyah di dalam kabin jet yang sunyi. Di luar dugaan Aletha, Danny tidak menyuruhnya mematikan kamera atau memalingkan wajah. Pria itu justru meraih ujung gimbal milik Aletha, mengarahkannya sedikit lebih tinggi, lalu menatap kamera dengan binar mata elangnya yang tampak rileks.

"Halo penonton vlog-nya Aletha," ucap Danny, suaranya terdengar sangat kasual dan ramah—sebuah sisi yang belum pernah ia tunjukkan kepada media formal mana pun di Jakarta. "Tolong doakan saya, karena selama belasan jam ke depan, saya harus dikurung di dalam pesawat bersama perempuan paling berisik satu kampus ini."

"Heh! Enak aja! Gue gak berisik ya, ini namanya komunikatif! Maklum, anak Ilmu Komunikasi!" sahut Aletha spontan sambil memukul pelan bahu kekar Danny. Mereka berdua tertawa lepas bersama, menciptakan sebuah interaksi alami yang sangat manis di depan kamera, mengaburkan seluruh status formal dan kaku yang biasa mereka sandang di daratan.

Pesawat akhirnya lepas landas, terbang stabil di ketinggian 40.000 kaki di atas permukaan laut. Setelah menikmati sarapan mewah yang disiapkan oleh pramugari privat, rasa bosan mulai melanda Aletha. Perjalanan menuju Eropa membutuhkan waktu belasan jam, dan ia tidak bisa diam begitu saja.

Aletha kembali menyalakan kameranya, mendudukkan diri di kursi yang berhadapan langsung dengan Danny, dipisahkan oleh sebuah meja lipat kayu yang mewah.

"Oke gess, karena perjalanannya masih panjang dan si CEO kaku ini ternyata asik juga diajak bercanda dari tadi di bawah, sekarang gue mau menantang dia buat main sebuah game," ujar Aletha ke arah kamera dengan senyum licik. Ia kemudian menatap Danny yang sedang meminum kopi hitamnya.

"Dan, gue punya challenge buat lo. Nama game-nya 'Truth or Eat'. Gue bakal kasih lo beberapa pertanyaan random atau pertanyaan sensitif. Kalau lo gak mau jawab jujur, lo harus makan ini." Aletha mengeluarkan sebuah stoples kecil dari dalam tasnya—berisi potongan lemon mentah yang sangat asam dan beberapa buah cabai rawit merah yang sengaja ia bawa dari dapur hotel semalam.

Danny melirik stoples itu, lalu menatap Aletha dengan pandangan meremehkan yang sangat menawan. "Lo mau menantang gue, bocah? Oke, challenge accepted. Tapi kalau gue bisa jawab semuanya dengan jujur, lo yang harus habisin semua cabai itu. Deal?"

"Deal! Siapa takut!" tantang Aletha, matanya berbinar penuh semangat. Ia memosisikan kameranya di tengah meja agar bisa menangkap ekspresi mereka berdua secara split-screen.

"Pertanyaan pertama dari gue," Aletha memulai dengan senyum penuh kemenangan. "Jujur, waktu pertama kali lo liat gue di pesta dengan dress maroon itu... apa hal pertama yang terlintas di otak lo tentang gue? Jangan bohong, kamera mendeteksi kebohongan!"

Danny menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap lekat mata maroon Aletha yang sedang berbinar jahat.

"Hal pertama yang ada di otak gue?" Danny menjeda kalimatnya, membuat Aletha menahan napas penasaran. "Gue mikir... ini cewek sombong banget, berisik, dan sok berkuasa di tengah ruangan. Tapi... di saat yang sama, gue juga mikir kalau lo adalah satu-satunya wanita yang punya keberanian luar biasa buat memanfaatkan situasi perjodohan gue demi keuntungan lo sendiri. And honestly... you looked stunning that night."

Wajah Aletha seketika merona merah mendengar pujian jujur yang meluncur begitu saja dari bibir Danny di depan kamera vlog-nya. Ia berdeham salah tingkah, memalingkan wajahnya sejenak dari tatapan mata elang Danny yang terlalu mengintimidasi.

"Oke... oke, satu poin buat lo karena jujur," gerutu Aletha cepat, mengundang tawa kemenangan dari Danny.

"Sekarang giliran gue," sahut Danny, memajukan tubuhnya ke depan meja, menatap Aletha dengan pandangan yang berganti menantang. "Jujur, seberapa sering lo mikirin gue setelah kejadian kita di kapal tiga hari lalu?"

Aletha melebarkan matanya, tidak menyangka Danny akan melempar pertanyaan se-skakmat itu di depan kamera. "Heh! Kok pertanyaannya menjebak begini sih?!"

"Jawab, Aletha. Atau lo mau makan cabai rawit itu sekarang?" goda Danny dengan senyuman seringainya yang sangat menyebalkan namun tampan.

Aletha melirik cabai rawit di dalam stoples, lalu kembali menatap Danny dengan sisa-sisa harga diri Ratu Kampusnya. "Gue... gue mikirin lo terus, puas?! Tapi jangan kegeeran ya! Gue mikirin lo karena lo itu CEO kaku yang aneh, tiba-tiba bisa berubah jadi lembut dan meluk gue pas di kapal. Gue cuma heran aja sama perubahan kepribadian lo!"

Danny tertawa lebih keras mendengar pengakuan gengsi dari Aletha. "Oke, adil. Satu sama."

Permainan terus berlanjut di sepanjang penerbangan di atas langit Asia menuju perbatasan Eropa. Di luar dugaan Aletha, Danny sama sekali tidak sekaku yang ia bayangkan. Pria itu ternyata memiliki selera humor yang sarkas namun sangat cerdas, sering kali melontarkan candaan-candaan kering yang membuat Aletha tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. Mereka membuat berbagai challenge konyol lainnya, mulai dari tebak kata hingga tantangan menahan tawa, membuat durasi belasan jam di dalam pesawat terasa berjalan begitu cepat tanpa ada rasa bosan sedikit pun.

Melalui lensa kamera vlog itu, hubungan yang awalnya murni didasari oleh transaksional bisnis di atas kertas kontrak, perlahan tapi pasti mulai terkikis oleh kenyamanan yang nyata. Aletha bisa melihat sisi manusiawi dari seorang Danny Atonio yang selalu digambarkan kejam oleh media ekonomi, sementara Danny bisa merasakan energi hidup dan keceriaan yang utuh dari seorang Aletha Adinata yang selama dua tahun ini terkunci dalam duka serba hitam.

Ketika malam mulai larut dan lampu kabin jet diredupkan menjadi warna biru tua yang menenangkan, Aletha akhirnya mematikan kameranya. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian tertawa dan bercanda bersama Danny. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap keluar jendela pesawat yang menampilkan hamparan awan gelap di bawah sinar bulan.

Danny bangkit dari kursinya, mengambil sebuah selimut wol tebal dari kompartemen atas, lalu berjalan mendekati kursi Aletha. Dengan gerakan yang sangat lembut, pria jangkung itu menyelimuti tubuh Aletha hingga sebatas dada.

"Capek?" tanya Danny, suaranya kembali mengalun rendah dan bariton, sangat menenangkan di antara deru halus mesin jet.

"Banget," bisik Aletha, mendongak menatap wajah tegas Danny yang berada sangat dekat di atasnya. "Tapi... makasih ya, Dan. Hari ini seru banget. Gue gak nyangka lo bisa se-asik itu diajak bercanda."

Danny mengusap puncak kepala Aletha dengan lembut, sebuah gestur protektif yang kini mulai terasa alami baginya. "Tidur, Aletha. Beberapa jam lagi kita mendarat di Eropa. Begitu kita menapakkan kaki di sana... pencarian kita yang sesungguhnya baru akan dimulai."

Aletha mengangguk perlahan, memejamkan matanya dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah cantiknya. Di bawah perlindungan hangat selimut dan kehadiran Danny yang berjaga di sisinya, untuk pertama kalinya dalam penerbangan jauh, Aletha tidak lagi dihantui oleh mimpi buruk tentang lautan yang gelap. Ia tertidur dengan sangat nyenyak, siap menyambut lembaran baru dan kebenaran yang menanti mereka di tanah Eropa.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!