Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.
Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.
Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"
Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!
!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Batas Tipis Yang Berbahaya
Valeria Francesca dengan perasaan waswas segera menyusupkan sekantong obat dari rumah sakit itu ke balik bantal tidurnya. Sembari menetralkan detak jantungnya, ia memaksakan seulas senyuman natural di wajah cantiknya. "A-ah... itu, tadi pas bangun tidur perutku sebenarnya masih terasa agak melilit, Ales. Makanya aku memutuskan buat pergi sebentar ke klinik terdekat buat minta resep obat lambung."
Alessandro Dirgantara melayangkan sebuah tatapan mata tajam penuh selidik yang menyapu wajah Valeria. "Bukannya di sepanjang sejarah hidupmu, kamu adalah orang yang paling benci dan anti terhadap proses mengonsumsi obat-obatan medis?"
Valeria menggosok ujung hidung cantiknya dengan jemari secara kikuk, sebuah gestur refleks yang biasa ia lakukan saat sedang dilanda rasa bersalah karena berbohong. "Ya... mau gimana lagi, Ales? Situasinya kan mendesak. Menelan beberapa butir obat pahit rasanya masih jauh lebih baik dan manusiawi daripada aku harus pasrah menahan penderitaan kram perut melilit sepanjang hari di atas kasur."
Sembari meluncurkan untaian kalimat pembelaan tersebut, sepasang mata bulat Valeria diam-diam bergerak taktis mengamati bagaimana fluktuasi respon emosi di wajah tampan Alessandro. Beruntung bagi keselamatannya, pria berkuasa itu tampaknya memilih untuk tidak memperpanjang interogasi atau menyelidiki masalah tersebut lebih dalam. "Lalu... apa penuturan dari tim dokter setelah memeriksa kondisi fisik lambungmu?"
Valeria langsung menyusun sebuah skenario kebohongan baru di dalam benaknya secara instan. "Tim medis billing ini murni karena respon kram usus akibat mengonsumsi hidangan mentah yang kurang higienis kemarin malam. Pokoknya lambung aku cuma kaget aja karena salmon asap yang dingin itu."
Bagaimanapun juga, karena saat ini kendali penjelasan sepenuhnya berada di dalam genggaman bibirnya, Valeria tahu betul Alessandro tidak akan mungkin bersikap sekurang kerjaan itu dengan pergi membawa sampel hidangan sisa pesta semalam ke laboratorium murni untuk menguji tingkat higienisnya.
Tepat pada detik itulah, pandangan mata Valeria secara tidak sengaja menangkap arah jarum jam dinding besar yang terpajang di kamar utama. Ia mengerjapkan matanya polos, lalu melayangkan pertanyaan penuh kebingungan, "Eh? Tunggu dulu, Ales. Bukankah sekarang waktu baru menunjukkan pukul tiga sore lewat sedikit? Biasanya kan kamu baru resmi menyelesaikan seluruh urusan operasional kantor pusat dan bertolak pulang sekitar pukul lima atau enam petang. Kenapa hari ini kamu bisa mendadak menginjakkan kaki di rumah seawal ini?"
Alessandro menatap lurus ke dalam netra mata Valeria sebelum menyahut dengan nada bariton yang teramat tenang namun sarat akan wibawa, "Saya merasa tidak tenang memikirkan kondisi kesehatan fisik kamu yang drop sejak semalam. Makanya saya memutuskan untuk membatalkan agenda pertemuan bisnis sore ini dan pulang lebih cepat murni untuk memastikan keadaanmu."
Mendengar pengakuan jujur yang meluncur lempeng dari bibir pria sedingin es tersebut, sebuah getaran aneh yang teramat halus mendadak menyelinap di dalam lubuk hati Valeria. Ia terpaksa mengakui di dalam batinnya bahwa jika saja pemilik raga terdahulu tidak nekat melancarkan aksi penipuan kotor dan sabotase rem mobil di masa lalu, Alessandro Dirgantara sebenarnya memiliki seluruh kualifikasi dasar yang teramat sempurna untuk bertransformasi menjadi sosok pria pelindung yang sangat peka dan bertanggung jawab bagi pasangannya. Namun sayang... realitas takdir batin mereka sudah terlanjur cacat sejak awal alur novel dimulai.
Sembari menatap Valeria yang tampak menundukkan kepalanya dalam lamunan yang panjang, Alessandro secara kasual melangkah maju satu tapak kaki. Ia mengulurkan telapak tangannya yang besar, berniat untuk meletakkannya di atas permukaan perut bagian bawah Valeria demi mendeteksi intensitas suhu tubuh sang kekasih. "Apakah denyutan nyerinya sudah benar-benar mereda?"
Valeria yang saat itu sedang melamun seketika tersentak kaku dilanda keterkejutan yang luar biasa hebat begitu merasakan adanya permukaan telapak tangan yang teramat hangat mendadak menyentuh area rahimnya. Sensasi sentuhan tersebut laksana sengatan listrik darurat yang seketika membuat seluruh bulu kuduknya meremang. Didorong oleh insting ketakutan bahwa keberadaan janin usia dua bulannya akan langsung terdeteksi oleh kejeniusan Alessandro, Valeria secara refleks langsung menyentakkan seluruh tubuhnya mundur ke belakang demi menghindari kontak fisik tersebut.
Gerakan telapak tangan Alessandro seketika membeku kaku di udara terbuka, tertahan tepat pada posisi semula sebelum Valeria melancarkan aksi menghindar.
Valeria yang menyadari gestur refleksnya terlampau agresif dan bisa memancing kecurigaan baru, buru-buru menarik ujung selimut tebalnya tinggi-tinggi untuk menutupi seluruh permukaan perutnya. Ia memaksakan seulas senyuman canggung yang terlihat teramat kikuk di wajah cantiknya. "A-ah... maksud aku, kondisi perutku udah jauh, jauh lebih membaik kok, Ales! Tadi setelah pulang dari klinik, aku langsung menelan obat pereda nyeri dan sempat terlelap tidur siang cukup lama di kasur ini. Sekarang rasanya udah aman dan sama sekali nggak sakit lagi."
Alessandro menarik kembali telapak tangan dengan gerakan yang teramat tenang, ekspresi wajah tegasnya tetap terlihat datar, kaku, dan bersih dari adanya riak emosi pribadi seolah ia tidak terpengaruh oleh aksi penolakan fisik barusan. "Mm, baguslah kalau seperti itu. Namun, di dalam rentang waktu beberapa hari ke depan, kamu tetap wajib membatasi diri dan menjaga pola makan lambungmu dengan ketat."
Valeria hanya bisa meluncurkan seulas tawa kering yang terdengar garing dari tenggorokannya. "Iya, Ales... aku pasti bakal jaga diri dengan baik kok."
Atmosfer di dalam kamar tidur utama seketika terjebak di dalam gelombang kecanggungan yang teramat kaku dan tidak kasat mata. Demi memecah kesunyian yang menyiksa batin tersebut, Alessandro akhirnya memutar tubuh tegapnya melangkah menuju ke arah ruang ganti baju. "Saya akan membersihkan diri dan mengganti pakaian kerja saya terlebih dahulu."
Melihat siluet tegap pria itu menghilang di balik kelokan pintu lorong, Valeria langsung mengembuskan napas lega yang teramat panjang dari paru-panyanya. Namun, di dalam kesendiriannya di atas kasur, struktur otaknya secara tidak sengaja justru kembali memutar ulang memori sensasi sentuhan tangan Alessandro beberapa detik lalu.
Meskipun sentuhan fisik tersebut dibatasi oleh lapisan kain pakaian tidur yang longgar, namun Valeria masih bisa merasakan dengan sangat jernih betapa telapak tangan milik Alessandro didesain dalam ukuran yang teramat besar, kokoh, dan memancarkan suhu hangat yang pekat laksana tungku pemanas ruangan. Sialan... kalau telapak tangan sebesar dan sehangat itu sampai berani diletakkan di area tubuh sensitif yang lain, wanita mana yang tulangnya tidak akan langsung berubah wujud menjadi selembut jeli?
Namun, sebelum rentetan pemikiran dewasa dan tidak senonoh itu bergerak kian liar mengotori fungsi logikanya, Valeria segera tersentak sadar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gerakan yang teramat bertenaga demi mengusir seluruh khayalan kotor dari otaknya. Astaga, Valeria! Apa-apaan sih isi kepala kamu ini?! Visualisasi macam apa yang baru saja kamu bayangkan di siang bolong begini?
Ia mengingatkan dirinya sendiri dengan keras akan sebuah hukum realitas: bahwa bahkan jika dirinya memiliki pasokan nyawa ekstra untuk nekat tidur bersama dengan Alessandro malam ini, ia dipastikan tidak akan pernah memiliki sisa usia yang cukup panjang untuk bisa menikmati hasil kemewahannya di masa depan! Sosok Alessandro Dirgantara adalah barang rampasan berharga tinggi yang hak kepemilikan mutlaknya sudah dikunci oleh takdir murni untuk sang tokoh utama wanita asli, Bianca Gabriella. Sementara eksistensi dirinya di dalam dunia ini hanyalah seorang tokoh figuran antagonis kelas rendah yang ditakdirkan mati mengenaskan sebagai umpan peluru. Setiap porsi keuntungan fisik atau materi yang ia renggut secara ceroboh dari tangan Alessandro saat ini... dipastikan harus ia bayar lunas menggunakan aliran darah dan penderitaan nyawa di akhir alur cerita nanti.
Memanfaatkan jeda waktu di mana Alessandro sedang sibuk mengganti pakaian di dalam walk-in closet, Valeria segera bergerak tangkas mengeluarkan kembali kantong plastik medis dari bawah bantal tidurnya. Demi menjamin keamanan privasinya dari jangkauan mata-mata pelayan rumah, ia dengan gerakan lincah merobek dan membuang kantong plastik luar rumah sakit beserta seluruh lembar kotak kardus kemasan aslinya, hingga kini yang tersisa murni hanya lembaran blister pack perak berisi butiran tablet obat tanpa ada satu pun tulisan atau indikasi nama rumah sakit ginekologi yang tertinggal.
Sementara itu, di dalam kesunyian ruang ganti pakaian mewah berlapis emas, Alessandro sedang berdiri mematung sembari menurunkan pandangan matanya menatap lekat-lekat ke arah telapak tangan kanannya sendiri—tangan yang beberapa menit lalu sempat merasakan sentuhan fisik singkat di kulit Valeria. Sorot mata hitamnya tampak teramat dalam, gelap, dan memancarkan sebuah analisis psikologis yang teramat rumit.
Asalkan ia mau bersikap jujur, ia tentu saja tidak buta untuk bisa menyadari adanya sebuah lompatan perubahan tabiat yang luar biasa kontras dari dalam diri kekasihnya. Sosok wanita yang di sepanjang ingatan memorinya selalu bergerak agresif, posesif, dan mengerahkan seluruh taktik murahan demi bisa menempel ketat memeluk tubuhnya di setiap detik... kini justru tampak meluncurkan berbagai alasan cerdas murni hanya untuk menciptakan batasan jarak personal dan bersikap kian dingin menjauh dari radius perlindungannya.
Beberapa puluh menit setelah fase pembersihan diri selesai, sepasang kekasih buatan ini tampak melangkah turun bersama-sama menuju ke arah ruang makan lantai bawah demi menunaikan ibadah makan malam. Menu hidangan makan malam yang tersaji di hadapan Valeria masih tetap konsisten berada di kategori yang teramat hambar, membosankan, dan menyedihkan: murni hanya semangkuk besar bubur ayam putih tanpa bumbu ditemani oleh beberapa piring kecil sayuran rebus hangat.
Sementara di sisi seberang meja, Alessandro yang tidak memiliki batasan medis apa pun tampak disajikan sepiring besar hidangan steak daging sapi wagyu premium berlumur saus gurih yang memancarkan kepulan aroma panggangan yang teramat menggugah selera, ditemani oleh secangkir kopi hitam arabika yang pekat.
Embusan aroma kelezatan lemak daging sapi yang terbakar berpadu mesra dengan wangi kopi tersebut seketika merangsek maju menguasai seluruh ruang udara di meja makan, menyulut nafsu makan biologis di dalam perut Valeria hingga bergejolak hebat. Valeria menatap lekat-lekat ke arah potongan daging steak di piring Alessandro dengan binar mata bulat yang tampak begitu menderita; cairan ludahnya bahkan hampir saja menetes keluar akibat menahan selera yang teramat sangat. Bayangkan saja, ia sudah dipaksa pasrah mengonsumsi cairan bubur putih hambar yang menyerupai lem kertas tersebut selama satu hari penuh! Saat ini, bahkan hanya dengan mencium aroma kuah buburnya saja sudah cukup sukses memicu reaksi mual yang menyiksa di pangkal tenggorokannya.
Tidak kuasa menahan siksaan visual tersebut lebih lama lagi, Valeria akhirnya memajukan sedikit posisi duduknya ke arah depan, melayangkan seutas pandangan mata memelas, lalu bersuara dengan nada mendayu manja, "Ales... kira-kira... rasa potongan daging steak wagyu punya kamu itu rasanya enak banget nggak sih malam ini?"
Alessandro menurunkan garpu bisnisnya, mengikuti arah garis pandangan mata kekasihnya, lalu dalam satu kedipan mata langsung sanggup menguliti seluruh isi pikiran kekanak-kanakan di otak Valeria. Intonasi suara baritonnya terdengar teramat datar, lempeng, namun memancarkan sebuah ketegasan hukum yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, "Kondisi organ usus dan lambung kamu belum sepenuhnya pulih dari fase kontraksi semalam, Valeria. Kamu mutlak tidak diizinkan untuk menyentuh kuliner berat berlemak seperti ini."
Valeria tidak ingin menyerah begitu saja pada kekakuan hukum tersebut. Ia dengan gerakan taktis segera mengangkat satu jari telunjuk lentiknya di udara, mengerucutkan bibir ranumnya sembari meluncurkan negosiasi taktik manja, "Aduh Ales... tolonglah, kasih aku pengecualian dikit aja. Cuma minta jatah satu potongan kecil yang ukurannya seujung kuku ini aja kok, janji! Nggak bakal bikin lambung aku meledak, hehe."
Alessandro mendongakkan kepalanya perlahan, mengunci pandangan matanya lurus ke arah wajah Valeria yang sedang memelas. "Apakah kamu sama sekali tidak memiliki rasa takut jika penderitaan kram perut melilit seperti kemarin malam kembali menghantam tubuhmu?"
Valeria memasang raut wajah yang tampak begitu bimbang, menggoyang-goyangkan jemarinya pelan sembari meluncurkan gumaman rendah yang terdengar seperti gerutu manja, "Kan cuma sepotong daging kecil doang, Ales... masa sistem pencernaan aku selemah itu sih? Harusnya aman-aman aja dan nggak bakal memicu masalah besar..."
Mengingat kembali bagaimana rapuh, nelangsa, dan menderitanya kondisi fisik Valeria yang semalam harus meringkuk membulat di sudut ranjang menahan pucat, gurat kekakuan di wajah tegas Alessandro perlahan-lahan melunak tipis tanpa disadari oleh dirinya sendiri. Ia menyahut dengan nada suara yang merendah, "Habiskan dulu seluruh isi mangkuk bubur hangatmu malam ini. Begitu tim dokter menyatakan kondisi lambungmu telah sembuh total besok, saya sendiri yang akan memerintahkan kepala pengasuh rumah untuk memasak dan menyajikan menu steak wagyu ini dalam porsi terbesar yang kamu inginkan setiap hari."
Rangkaian janji komitmen tersebut seketika laksana guyuran air es yang mematikan seluruh kobaran api harapan di dada Valeria. Raut wajah cantiknya langsung merosot layu, bibirnya mengerucut sebal, dan dengan gurat keputusasaan yang kentara ia kembali menundukkan kepalanya murni untuk menusuk-nusuk permukaan bubur putih di dalam mangkuknya menggunakan ujung sendok dengan gerakan malas. Sialan... ini semua murni salah dari potongan hidangan salmon asap mentah kemarin malam! Gara-gara keteledoran serakah itu, sekarang aku harus menerima hukuman batin nggak boleh menyentuh makanan enak dan dipaksa menelan cairan lem kertas hambar ini seharian, rutuk Valeria meratapi nasib malangnya di dalam batin.
Menatap siluet kekasihnya yang kini tampak begitu kuyu, sedih, dan nelangsa layaknya seekor anak kucing yang kehilangan arah, seberkas riak emosi yang teramat asing dan lembut mendadak bergetar hebat di lubuk batin Alessandro. Pria berkuasa itu melirik ke arah piring steak di hadapannya yang baru disentuh sebagian kecil, lalu kembali melayangkan pandangan matanya memeriksa profil wajah samping Valeria yang tampak teramat terluka menahan selera. Setelah melewati fase keheningan batin selama beberapa detik demi mengalahkan kekakuan logikanya sendiri, Alessandro akhirnya mengulurkan jemarinya untuk menyambar pisau dan garpu perak. Ia memotong bagian daging yang terletak di area paling tengah—bagian daging wagyu yang memiliki tingkat keempukan, kelembutan, dan jalinan minyak paling sempurna—lalu mengulurkan tangannya ke depan untuk mengarahkan potongan steak tersebut tepat di hadapan permukaan bibir Valeria.
"Hanya diizinkan menelan satu potongan kecil ini saja," ucap Alessandro rendah.
Sepasang mata bulat Valeria seketika mendadak memancarkan binar takjub dan sukacita yang teramat terang benderang laksana kilauan bintang malam, melengkung sempurna membentuk siluet bulan sabit yang teramat manis. "Ales! Kamu bener-bener pria terbaik dan paling ganteng di dunia malam ini!"
Bersamaan dengan penyampaian kalimat pujian manisnya yang meledak-ledak, Valeria dengan gerakan yang sangat tangkas langsung memajukan kepalanya ke arah depan, membuka bibir ranumnya dalam satu gerakan cepat demi melahap dan menyambar potongan daging steak wagyu tersebut dari ujung garpu Alessandro. Sembari mengunyah daging dengan ekspresi kepuasan yang teramat hakiki, jemari Valeria secara refleks juga ikut terulur maju murni untuk mencengkeram erat pergelangan tangan tegap Alessandro—tindakan protektif yang ia lancarkan karena ketakutan jika dalam hitungan detik pria kaku itu akan mendadak dilanda penyesalan moral dan menarik kembali garpunya dari mulutnya.
Pandangan mata Alessandro seketika jatuh terkunci, menatap lurus ke arah sela-sela jemari lentik milik Valeria yang kini sedang melingkar erat mencengkeram kulit pergelangan tangannya. Permukaan kulit jemari Valeria terasa begitu bersih, putih sehalus porselen, memancarkan tekstur kelembutan feminin yang teramat nyata merangsek masuk menguasai indra peraba Alessandro. Sepasang manik mata hitam milik sang CEO penguasa bisnis tersebut mendadak menggelap secara samar penuh intensitas batin yang pekat.
Valeria mengunyah material daging sapi premium tersebut dengan ritme yang teratur, menutup kedua matanya rapat-rapat demi meresapi ledakan rasa gurih yang memanjakan lidahnya, tidak lupa untuk meluncurkan desahan napas panjang yang hiperbola penuh kepuasan, "Enyakk banget, ya ampun! Ini baru namanya makanan manusia!"
Alessandro berusaha sekuat tenaga menetralkan kembali fokus konsentrasi logikanya, menarik tangannya perlahan dari cengkeraman Valeria sembari menyahut datar, "Apakah esensi rasanya memang sehebat itu?"
Valeria menjawab dengan intonasi acuh tak acuh sembari menyendok sisa buburnya, "Aduh Ales... coba aja kamu dipaksa posisi minum air bubur putih hambar sepanjang hari, jangankan potongan daging steak wagyu mewah kayak gini, bahkan kalau malam ini kamu kasih aku sepotong dada ayam rebus yang kering dan sepah pun... rasanya pasti bakal terasa laksana mahakarya kuliner kasta tertinggi di lidah aku!"
Menatap sepasang mata bulat Valeria yang menyipit jenaka dipenuhi oleh binar kepuasan biologis yang jujur, Alessandro mendadak merasa bahwa pembawaan wanita di hadapannya malam ini terlihat teramat identik dengan visualisasi seekor anak kucing rumahan yang baru saja berhasil mendapatkan jatah makanan kaleng favoritnya dari sang manajemen. Alessandro menurunkan telapak tangan ke bawah permukaan meja makan. Di sana, di balik kegelapan kain, ia menyadari bahwa sensasi sisa kehangatan yang lembut dari bekas cengkeraman jemari Valeria di kulit pergelangan tangannya ternyata masih terus tertinggal rapat, memancarkan getaran halus yang enggan menguap. Tanpa sadar, sang CEO menggosok-gosokkan ujung jemarinya sendiri secara perlahan demi menetralkan debaran aneh di dadanya.
Setelah seluruh rangkaian makan malam darurat itu selesai dituntaskan, Valeria segera melangkah kembali menaiki anak tangga menuju ke kamar tidurnya murni untuk menelan butiran dosis obat medis dari klinik siang tadi. Tepat pada detik saat ia baru saja berhasil meneguk air putih dan menelan butiran tablet kimianya dengan kerutan dahi menahan pahit, sebuah telapak tangan yang besar mendadak terulur maju dari arah samping wajahnya, menyodorkan sebutir permen manis berlapis bungkus plastik berkilau tepat di hadapan matanya.
Gerakan tubuh Valeria sempat menjeda kaku selama satu detik penuh. Ia mengerjapkan matanya polos, lalu mendongakkan kepalanya ke arah atas murni untuk menatap wajah Alessandro yang entah sejak kapan sudah berdiri kokoh mendampingi posisinya di samping tempat tidur. Menangkap riak keterkejutan yang teramat nyata memancar dari sepasang mata bulat milik Valeria, Alessandro membuka suara dengan intonasi bariton yang teramat lempeng dan datar, seolah hal itu adalah rutinitas harian yang sepele, "Bukannya tadi siang kamu sendiri yang mengeluh ketakutan setengah mati terhadap rasa pahit dari obat tablet?"
Sebentuk aliran gelombang kehangatan asing yang teramat halus dan nyaman mendadak merayap naik, memenuhi seluruh rongga dada Valeria setelah mendengar kalimat perhatian tersebut. Ia mengulurkan jemarinya secara kikuk untuk menerima butiran permen dari atas telapak tangan Alessandro, lalu menyahut dengan nada suara yang dibuat sedikit kaku demi menutupi kecanggungan batinnya, "A-ah... makasih ya, Ales. Nggak nyangka ternyata di balik muka kaku kamu, kamu bisa punya sisi perhatian yang lumayan detail juga malam ini."
Alessandro menyahut acuh tak acuh dengan ketenangan yang dingin, "Saya hanya sedang berusaha melatih diri untuk bersikap lebih proaktif. Jika tidak, keesokan harinya kamu pasti akan langsung meluncurkan keluhan baru menuduh saya tidak memiliki kepedulian sebagai seorang pria."
Valeria tertawa kecil di dalam hatinya yang merana. Tebakan logisnya ternyata seratus persen akurat; pria kaku ini bersedia melancarkan seluruh aksi perhatian manis dan proaktif malam ini murni karena batinnya masih terikat kuat oleh dampak aksi amarah dan ledakan pertengkaran drama kabur dari rumah yang ia lancarkan di hotel dua hari lalu. Namun, dari sudut pandang analisis karakter, tindakan Alessandro ini sudah bisa dikategorikan sebagai sebuah lompatan progresif yang teramat luar biasa bagi seorang pria yang memiliki kecacatan emosional bawaan sejak lahir. Setidaknya, Alessandro Dirgantara terbukti bukan tipe pria egois yang bebal; pria berkuasa ini bersedia mendengarkan keluhan pasangannya, menyerap poin kekurangannya, dan langsung merealisasikan tindakan perbaikan nyata di kehidupan riil tanpa perlu banyak membuang retorika kata-kata kosong.
Valeria segera merobek bungkus plastik permen tersebut, lalu memasukkan butiran gula-gula manis rasa stroberi itu ke dalam mulutnya. Dalam sekejap mata, ledakan rasa manis yang segar langsung mengalir menguasai permukaan lidahnya, menyapu bersih seluruh sisa-sisa rasa pahit zat kimia obat yang sempat tertinggal di pangkal kerongkongannya. Sembari mengunyah permen manis tersebut dengan perlahan, Valeria secara naluriah dan tanpa sadar sempat mengulurkan ujung lidahnya yang kecil, ranum, dan berwarna merah muda segar murni untuk menjilat sisa-sisa remahan manis yang tertinggal di sudut pinggiran bibir bawahnya.
Pemandangan visual yang memancarkan kesan sensualitas feminin yang teramat alami, polos, namun menggoda tersebut seketika membuat pandangan mata hitam milik Alessandro mendadak menggelap sempurna dilanda intensitas gairah yang pekat. Pria berkuasa itu mendadak merasakan adanya sekeranjang gelombang hawa panas yang teramat pekat melesat naik secara tidak terkendali dari dalam dadanya, meluncur lurus menghantam area rongga perut bagian bawahnya. Menyadari sistem pertahanan logisnya hampir saja lumpuh total akibat stimulus visual tersebut, Alessandro dengan gerakan tangkas langsung memalingkan seluruh wajah tampannya ke arah lain demi memutus kontak mata mereka.
Setelah menyelesaikan seluruh ritual minum obat dan meredakan rasa pahit di lidahnya, Valeria segera berpamitan untuk melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama demi menunaikan ibadah mandi malam. Ia berdiri diam di bawah kucuran air hangat yang mengalir deras dari lubang pancuran (shower), membiarkan bulir-bulir air membasuh seluruh permukaan tubuh fisiknya dari ujung rambut hingga ujung kaki di tengah kepulan uap air panas yang memenuhi seluruh ruangan kaca. Sembari menyeka sisa air di wajah cantiknya, Valeria menundukkan kepalanya perlahan, memfokuskan pandangan matanya menatap ke arah permukaan perut bagian bawahnya sendiri dari balik pantulan kabut cermin kaca.
Beruntung bagi garis takdir keselamatannya, karena usia kandungannya saat ini baru resmi menginjakkan kaki di fase dua bulan awal kehamilan muda, struktur permukaan perutnya tercatat masih berada di dalam status yang teramat rata, mulus, kencang, dan sama sekali belum memperlihatkan adanya tanda-tanda penonjolan fisik atau kelainan bentuk biologis apa pun yang mencolok mata dari luar. Di sepanjang perjalanan riset daringnya di dunia nyata dulu, Valeria memang sempat membaca beberapa artikel medis dan berita sosial yang memaparkan fakta unik mengenai beberapa kasus wanita tertentu yang memiliki anomali bentuk rahim tipe tersembunyi (cryptic pregnancy), di mana kondisi fisik perut sang ibu hamil sama sekali tidak akan pernah memperlihatkan penonjolan ukuran yang besar bahkan hingga usia kandungan menginjakkan kaki di fase trimester akhir menjelang proses persalinan melahirkan.
Mengingat postur fisik yang dimiliki oleh tubuh Valeria asli ini dari sananya sudah tergolong sangat kurus, ramping, dan memiliki struktur tulang yang kecil, semoga saja raga baru aku ini juga termasuk ke dalam jajaran kategori wanita beruntung yang tidak mudah memperlihatkan penonjolan ukuran perut dari luar ke depan, harap Valeria meluncurkan doa keselamatan di dalam batinnya yang cemas.
Ia mencoba menenangkan gejolak kecemasan batinnya sendiri dengan untaian kalimat penghibur tersebut, lalu mengulurkan jemarinya untuk menekan tombol elektronik guna mematikan kucuran air pancuran. Valeria melangkah keluar dari bilik kaca, mengulurkan telapak tangannya meraba-raba ke arah rak besi gantungan di dinding kamar mandi murni untuk menyambar selembar handuk mandi pelindung tubuh. Namun, seberapa keras pun jemarinya bergerak meraba ke segala penjuru sudut rak, permukaan kulit tangannya sama sekali tidak membentur keberadaan material kain handuk apa pun di sana. Kesadaran bahwa dirinya baru saja melakukan sebuah kecerobohan fatal tingkat tinggi seketika meledak di dalam otak Valeria, membuat dirinya hanya bisa berdiri terpaku membisu menatap ke arah deretan rak besi yang kosong melompong selama beberapa detik dalam kesunyian yang mencekam.
Aduh mampus... sialan! Jangan bercanda kayak gini dong sama nasib aku! jerit Valeria frustrasi meratapi kecerobohan otaknya di dalam batin.
Ia baru teringat dengan sangat jernih bahwa tadi sore saat melangkah masuk ke dalam kamar mandi dalam kondisi pikiran yang terlampau lelah dan fokus yang terpecah, dirinya sama sekali lupa untuk menyambar atau membawa selembar pun kain handuk mandi ataupun pakaian ganti baru dari dalam lemari! Saat ini, kondisi seluruh pakaian tidur lamanya sudah terlanjur basah kuyup akibat terkena cipratan air di lantai kamar mandi, membuat dirinya tidak memiliki satu pun lembar benang pelindung yang tersisa untuk menutupi raga fisiknya yang polos.
Valeria melangkah maju dengan gerakan jinjit kaki yang teramat perlahan dan senyap mendekati area pintu kayu kamar mandi utama. Ia mengulurkan jemarinya untuk menarik gagang pintu secara perlahan, menciptakan sebuah celah retakan sempit yang teramat tipis, lalu memosisikan sepasang matanya bergerak taktis mengamati seluruh penjuru ruang kamar tidur utama di luar sana. Dari sudut pandang celah sempit tersebut, suasana di dalam area kamar tidur raksasa terpantau berada di dalam kondisi yang teramat sunyi, sepi, dan bersih dari adanya tanda-tanda pergerakan manusia.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba meluncurkan panggilan suara tentatif dengan volume rendah ke arah luar, "Ales... Alessandro... kamu ada di luar nggak?"
Suasana di seberang ruangan tetap diselimuti oleh keheningan malam yang sunyi; sama sekali tidak ada sepeser pun gema suara manusia yang meluncur membalas panggilannya. Valeria kembali memperkeras volume suaranya untuk lunge meluncurkan panggilan kedua dan ketiga secara berturut-turut, namun hasil akhir yang ia dapatkan tetaplah sama: murni hanya kesunyian kamar yang kedap udara.
Mm, melihat jam digital yang sudah menunjukkan waktu aktif bisnis malam, pria gila kerja selevel Alessandro Dirgantara saat ini dipastikan sudah lama memindahkan tubuh tegapnya untuk mendekam di dalam ruang kerja pribadi sebelah demi menuntaskan analisis dokumen korporasi sampai subuh, pikir Valeria berspekulasi menyusun kesimpulan rasional.
Merasakan analisis logisnya sudah berada di zona yang teramat aman dan valid, Valeria akhirnya bisa mengembuskan napas lega yang panjang dari dadanya. Ia mengumpulkan seluruh keberanian mentalnya, menarik gagang pintu kamar mandi hingga terbuka lebar, lalu setelah memastikan sekali lagi bahwa tidak ada eksistensi mata-mata manusia di sekelilingnya, ia segera meluncurkan tubuh fisiknya keluar melintasi lantai kamar dengan gerakan kaki yang super cepat, tangkas, dan senyap.
Beruntung bagi pandangan matanya, selembar handuk mandi tebal berwarna putih bersih miliknya ternyata tergeletak dengan manis di atas permukaan kasur bagian ujung kaki ranjang—barang persis yang tadi sore teledor ia letakkan di sana sebelum mandi. Valeria meluncurkan tubuhnya dalam satu langkah lebar yang agresif, menjangkau sekuat tenaga, lalu berhasil menyambar selembar handuk putih tersebut dari atas permukaan kasur untuk kemudian langsung didekapnya erat-erat di depan rongga dadanya yang polos. Namun, tepat pada detik krusial di mana ia baru saja bersiap untuk memutar kembali poros tubuh fisiknya murni untuk berlari kencang kembali masuk ke dalam perlindungan zona aman kamar mandi utama, seluruh sistem saraf penggerak di sepasang kaki Valeria seketika mendadak membeku kaku laksana batu, mengunci seluruh pergerakan tubuhnya secara total di tempatnya berdiri.
Tepat di area ambang pintu masuk utama kamar tidur raksasa tersebut, siluet tubuh tegap, tinggi, dan kokoh milik Alessandro Dirgantara entah sejak kapan telah berdiri tegak mematung di sana, menyaksikan seluruh jalannya aksi pelarian senyapnya dari detik pertama.
Sepasang manik mata hitam milik sang CEO penguasa bisnis yang biasanya selalu terlihat sedingin es, kaku, dan bersih dari emosi pribadi... malam ini mendadak tampak berkilat dengan pekat dalam intensitas gairah purba yang teramat liar dan dalam. Pandangan matanya bergerak turun secara perlahan, menyapu dengan sangat detail mulai dari rona merah merona di sepasang kulit pipi Valeria yang masih mengepulkan uap air hangat, turun menyusuri lekuk leher jenjangnya yang halus, melintasi area permukaan kulit dada bagian atas yang hanya tertutup sebagian kecil oleh dekapan handuk, menyusuri kurva lingkar pinggangnya yang teramat ramping dan padat, hingga akhirnya fokus tatapan mata tajam milik Alessandro terkunci lurus tanpa bisa beralih sedikit pun pada sebuah area sensitif di bagian bawah tubuh polos milik Valeria yang sepenuhnya terekspos bebas di udara terbuka malam itu.
Suasana di dalam kamar tidur utama seketika berubah menjadi teramat sunyi, mencekam, dan dipenuhi oleh ketegangan seksual yang luar biasa pekat membakar udara, di mana gema suara gerakan jakun di tenggorokan Alessandro tampak bergerak naik dan turun secara perlahan akibat pria itu sedang bersusah payah meneguk paksa cairan ludahnya sendiri demi mempertahankan sisa pertahanan akal sehatnya yang hampir hancur lebur menatap keindahan visual di hadapannya.
Valeria yang tersadar dari keterkejutannya seketika dirundung oleh gelombang rasa panik dan malu yang luar biasa besar laksana ombak tsunami yang menghantam seluruh kesadarannya. Wajah cantiknya langsung memancarkan rona merah padam yang teramat tebal dan membakar kulit. Sembari mempererat dekapan handuk putihnya demi menutupi sisa area privasi tubuh atasnya, sepasang matanya menatap Alessandro penuh kilatan defensif yang tajam. "Ales! Kamu... sejak kapan kamu berdiri mematung di situ?! Kenapa kamu bisa mendadak masuk ke kamar tanpa bikin suara ketukan sama sekali?!"
Alessandro sempat terdiam kaku mengunci pandangannya selama beberapa detik, mencoba meredakan gejolak hawa panas yang kian pekat mengalir membakar seluruh sistem saraf di tubuh tegapnya. Ia melangkah maju dua tapak kaki, menutup pintu kamar kayu jati di belakang punggungnya dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, lalu menyahut menggunakan intonasi suara bariton yang terdengar rendah, dalam, dan serak, "Saya baru saja melangkah kembali dari ruang kerja sebelah murni untuk memeriksa apakah kondisi perut kram kamu sudah membaik malam ini. Saya tidak menyangka... kalau saya justru akan disuguhkan oleh pemandangan pelarian senyap yang sangat menarik seperti ini."
Valeria yang merasa terintimidasi oleh intensitas tatapan mata hitam tersebut langsung meluncurkan langkah mundur secara perlahan demi menciptakan jarak aman dari jangkauan postur tinggi Alessandro. "U-udah... mendingan sekarang kamu balik badan dulu, Ales! Tolong jangan lihat ke arah sini! Aku mau lari masuk ke dalam kamar mandi lagi buat pakai baju tidur!"
Namun, seberapa keras pun Valeria mencoba menggerakkan argumen verbalnya malam itu, Alessandro tampaknya sudah tidak memiliki niat yang cukup besar untuk membiarkan wanita itu meloloskan diri dari radius perlindungannya begitu saja kali ini. Pria berkuasa itu terus melangkah maju dengan ritme kaki yang teramat tenang, konstan, dan mendominasi seluruh ruang udara kamar, mendesak posisi berdirinya Valeria secara perlahan hingga punggung polos wanita itu akhirnya membentur permukaan kayu keras dinding pembatas kamar di sudut ruangan, memutus seluruh akses pelarian fisiknya malam itu.
Alessandro menghentikan langkah kakinya tepat dalam jarak satu senti di hadapan tubuh Valeria. Jarak berdiri mereka yang teramat intim dan minim sekat membuat embusan napas hangat dan detak jantung masing-masing dapat terdengar dengan sangat riil saling bersahutan di tengah keheningan malam yang sunyi. Ia mengulurkan telapak tangan kanannya yang besar ke depan, meletakkannya dengan ketukan pelan di atas permukaan dinding kayu tepat di samping kelokan leher jenjang Valeria murni untuk mengunci pergerakan kepalanya.
Alessandro menundukkan sedikit postur tubuh tingginya, mendekatkan permukaan wajah tampannya tepat di samping daun telinga Valeria yang kemerahan, lalu berbisik menggunakan gema suara bariton rendah yang terdengar rendah, dalam, dan serak, namun memancarkan sebuah wibawa dominasi yang mutlak menggetarkan seluruh pertahanan batin Valeria, "Bukannya di dalam rangkaian kalimat protes yang kamu luncurkan di hotel kemarin malam... kamu adalah pihak yang paling vokal mengeluh menuduh saya selalu abai, kaku, pasif, dan tidak pernah mau bersikap proaktif dalam mengisi status hubungan asmara di antara kita, Valeria? Lalu sekarang... di saat saya secara sadar sudah keputusan memutuskan untuk menurunkan seluruh ego saya murni untuk mulai belajar bersikap aktif mendampingi kamu... kenapa kamu justru menjadi pihak yang selalu sibuk mencari seribu alasan cerdas murni hanya untuk melarikan diri menjauh dari saya?"
Valeria mencengkeram erat material kain handuk di depan dadanya hingga jemarinya memutih pucat, menahan napasnya yang mendadak terasa teramat sesak laksana dihimpit batu besar akibat kepungan aroma parfum maskulin Alessandro yang teramat pekat menguasai seluruh indra penciumannya di sudut dinding kamar tersebut. Jantung di dalam rongga dadanya berpacu dengan ritme yang luar biasa dahsyat, melepaskan dentuman kencang yang ia khawatirkan bisa langsung terdengar oleh ketajaman pendengaran Alessandro. Ia tersudut total di bawah kuasa dominasi sang penguasa korporat.
"Valeria... jawab pertanyaan saya," bisik Alessandro sekali lagi, kali ini dengan intonasi suara yang kian merendah penuh penekanan konstan, sembari separuh jemari kirinya secara perlahan mulai terulur maju murni untuk menyentuh dan mengangkat dagu kecil milik Valeria agar sepasang mata bulat milik wanita itu terpaksa bergerak naik menatap lurus mengunci ketajaman manik mata hitamnya yang sarat akan kilatan hasrat purba yang teramat pekat, dalam, dan mengintimidasi malam itu.
___
Bersambung~~