NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30 monumen arogansi dan deru mesin industri kiamat

Musim panas menyambangi Benua Timur dengan sengatan matahari yang terik, namun tidak ada satupun cahaya di langit yang mampu menandingi kilau menyilaukan dari monumen baru yang berdiri angkuh di luar batas ibukota Jinling.

Sebuah patung emas murni setinggi tiga ratus meter menjulang membelah awan. Patung itu berbentuk sesosok dewa perang bermata tiga yang sedang menukik turun dengan tombak trisula terhunus. Detail patung itu begitu sempurna, mulai dari helaian rambut yang membeku di udara hingga ekspresi kemarahan dan keputusasaan yang terukir abadi di wajah sang dewa.

Rakyat Jinling, mulai dari petani hingga bangsawan fana, sering kali berkumpul di kaki patung raksasa tersebut. Mereka tidak datang untuk menyembah. Mereka datang untuk memuja kekuatan uang. Bagi mereka, patung emas yang tak ternilai harganya itu adalah pengingat visual yang absolut: bahwa dewa yang turun dari langit dengan niat membunuh pun akan berakhir menjadi pajangan taman jika berhadapan dengan Tuan Muda Cang Qixuan.

Di kejauhan, ibukota Jinling tidak lagi terlihat seperti kota feodal kuno. Dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak kepulangan armada dari Benua Atas, Jaring Bayangan telah merombak total struktur peradaban. Tembok-tembok bata digantikan oleh benteng baja spiritual hitam yang memancarkan pendaran formasi perlindungan tingkat Surga. Ratusan kapal terbang berlalu-lalang di udara, mengangkut bahan tambang, pil spiritual, dan batu berharga dari seluruh penjuru Benua Timur dan Benua Atas menuju satu titik pusat: Menara Teratai Emas.

Di bawah permukaan bumi Jinling, tepatnya seribu meter di dasar tanah, neraka industri sedang beroperasi tanpa henti siang dan malam.

Ruang Tempa Bawah Tanah telah diperluas hingga seukuran sebuah kota kecil. Suhu di tempat ini sanggup melelehkan tulang manusia biasa menjadi uap dalam hitungan detik. Sungai-sungai lava buatan mengalir melalui parit-parit khusus, memberikan tenaga termal bagi puluhan ribu tungku peleburan.

"Angkat laras nomor empat ribu dua ratus! Jangan biarkan pendinginan intinya melambat! Jika kristal Yin di dalamnya retak, aku akan melemparkan kalian semua ke dalam lahar!"

Suara Hong Lian menggelegar menembus kebisingan dentingan palu raksasa dan deru mesin spiritual. Sang Teratai Pandai Besi tidak lagi mengenakan pakaian kulit seksinya; ia kini mengenakan celemek tebal dari kulit naga bumi, wajahnya tertutup jelaga, dan rambut merahnya diikat asal-asalan. Matanya merah menyala karena kurang tidur, namun energi vitalitasnya meroket berkat pil-pil kelas dewa yang disuplai tanpa batas oleh Qixuan.

Di hadapan Hong Lian, membentang barisan laras *Meriam Kiamat Timbangan Surga* generasi ketiga. Tidak lagi lima ribu unit, melainkan telah mencapai angka dua puluh ribu unit yang setengah jadi.

Qixuan melangkah masuk ke dalam fasilitas tersebut. Ia tidak mengenakan jubah sutra mewahnya yang biasa, melainkan jubah linen hitam yang disulam dengan benang penahan panas. Kehadirannya tidak diumumkan, namun gravitasi spiritual dari kultivasinya yang telah menembus pertengahan ranah *Jiwa Baru (Nascent Soul)* membuat para pekerja penempa secara naluriah menundukkan kepala mereka meski tangan mereka terus mengayunkan palu.

"Hong Lian," Qixuan memanggil dengan nada datar yang anehnya mampu membungkam kebisingan jutaan decibel di ruangan itu.

Hong Lian menoleh, segera melompat turun dari atas sebuah laras meriam raksasa. Ia membungkuk dalam. "Tuanku! Hamba tidak menyadari kedatangan Anda. Mohon maaf atas pemandangan yang berantakan ini."

Qixuan menyapu pandangannya ke seluruh penjuru bengkel raksasa itu. "Aku tidak mempedulikan kebersihan. Aku mempedulikan tenggat waktu. Enam bulan adalah waktu yang kuberikan untuk memproduksi lima puluh ribu unit meriam. Kita berada di bulan ketiga, dan aku hanya melihat dua puluh ribu laras. Apakah rantai pasokan kita bermasalah?"

Hong Lian mengusap keringat di dahinya, wajahnya menunjukkan sedikit frustrasi yang tertahan. "Tuanku, pasokan logam spiritual dari Benua Atas mengalir tanpa henti. Kamar Dagang Katak Emas telah merampas setiap ons besi bintang dari sekte-sekte yang berhutang pada kita. Masalahnya bukan pada bahan bakunya, melainkan pada *Inti Lava Abadi*."

Hong Lian berjalan memimpin Qixuan menuju sebuah panel formasi kaca di tengah ruangan. Di dalam panel itu, terlihat kepingan-kepingan inti magma yang memancarkan panas ekstrem.

"Satu Inti Lava Abadi yang kita jarah dari Istana Pedang Guntur Suci hanya bisa dibelah menjadi lima ribu pecahan untuk menenagai lima ribu meriam. Kami telah memaksimalkan pembelahannya hingga sepuluh ribu," jelas Hong Lian sambil mengetuk kaca panel tersebut. "Namun untuk mencapai lima puluh ribu unit, panas inti ini akan terlalu encer. Meriam generasi ketiga membutuhkan sumber panas yang jauh lebih buas agar hukum *Pertukaran Setara* dari koin Anda bisa menembakkan sinar kiamat yang sanggup melubangi perisai Benua Tengah."

Qixuan memutar cincin di ibu jarinya, matanya menyipit penuh perhitungan. Ia mengerti hukum fisika spiritual. Koin Timbangan Surga memang sakti, tetapi koin itu membutuhkan modal materi untuk ditukarkan. Jika energi panas yang menjadi bahan bakarnya kurang, maka sinar pemusnah yang dihasilkan tidak akan cukup fatal untuk membunuh ahli ranah *Domain Bumi* dari Benua Tengah.

"Jadi, kau membutuhkan inti panas tingkat dewa yang baru," gumam Qixuan.

"Benar, Tuanku. Hamba telah mencari di seluruh catatan geografi Benua Atas, namun tidak ada gunung berapi yang inti lavanya sekuat milik Guntur Suci," keluh Hong Lian.

Qixuan tersenyum miring. Senyum yang selalu menandakan bahwa sebuah eksploitasi alam besar-besaran akan segera terjadi.

"Kau berpikir terlalu kecil, Hong Lian," Qixuan melangkah mendekati tungku peleburan raksasa. "Mengapa kita harus mencari gunung berapi di tanah, jika kita memiliki matahari buatan yang ditinggalkan oleh tamu kita yang tidak sopan?"

Hong Lian terbelalak. Otaknya sebagai seorang jenius pandai besi langsung berputar memproses ucapan Qixuan. "Maksud Anda... ilusi Domain Bumi dari Jenderal Huangpu Ye?!"

"Bukan ilusi," koreksi Qixuan dingin. "Ketika aku menggunakan Koin Timbangan Surga untuk mengubah serangan Avatar Dewa Mataharinya menjadi patung emas, energi panas murni dari Domain Bumi miliknya ikut terkunci di dalam emas tersebut. Patung raksasa di luar kota itu bukanlah sekadar emas fana; bagian inti dari patung itu menyimpan hukum Dao Matahari tingkat Benua Tengah."

Napas Hong Lian tersengal. "I-Inti Matahari Buatan?! Jika hamba bisa melebur emas di bagian dada patung itu dan mengekstrak inti hukumnya... energi panasnya seratus kali lipat lebih stabil dan lebih merusak daripada Inti Lava Abadi! Kita tidak hanya bisa membuat lima puluh ribu meriam, kita bisa menciptakan ledakan supernova terkendali!"

"Lakukanlah," Qixuan berbalik, jubah hitamnya berkelebat. "Aku akan menyuruh Leng Yue mengirimkan satu divisi untuk membongkar dada patung monumen itu. Jadikan itu sebagai jantung dari meriam utama kita. Waktu kita terus berjalan, Hong Lian. Saat armada ini berlayar ke Benua Tengah, aku tidak ingin ada satu pun langit yang tersisa tanpa tertutupi oleh moncong meriammu."

"Hamba tidak akan mengecewakan Anda, Dewa Kekayaan!" raung Hong Lian penuh semangat, kembali memanjat perancah baja dan meneriakkan perintah pada para pekerjanya dengan semangat yang berlipat ganda.

Sementara mesin perang Qixuan sedang ditempa di perut bumi, cekikan ekonomi sedang diperketat di lantai lima puluh Menara Teratai Emas.

Ini adalah pusat komando *Bank Sentral Kekaisaran Bayangan*. Ruangan ini tidak dihiasi oleh pedang atau pusaka, melainkan dipenuhi oleh ribuan lemari arsip giok, papan-papan kristal yang menampilkan fluktuasi harga pasar, dan ratusan akuntan spiritual yang sibuk menggeser sempoa emas mereka.

Shen Feiyan duduk di ujung meja direksi raksasa berbentuk huruf U. Wanita yang dulunya adalah pedagang licik ini kini telah bermetamorfosis menjadi tiran ekonomi yang kejam. Pakaiannya sangat ketat dan formal, matanya yang tajam menatap tajam ke arah proyeksi gaib dari sepuluh patriark sekte independen Benua Atas yang sedang berlutut memohon di layar.

"Nona Shen, kami mohon ampunan Anda!" ratap seorang patriark tua dari Sekte Angin Musim Gugur, wajahnya pucat pasi. "Tambang kristal angin kami telah mengering bulan ini. Kami tidak sanggup membayar cicilan bunga 'Pinjaman Pembangunan Kembali' yang jatuh tempo esok hari. Mohon berikan perpanjangan waktu satu bulan! Kami rela mengirimkan sepuluh murid perempuan terbaik kami sebagai pelayan di Jinling!"

Shen Feiyan mendengus pelan, melepaskan kacamata emasnya dan meletakkannya di atas meja. Bunyi ketukan kacamata itu membuat sepuluh patriark di layar tersentak.

"Patriark Angin Musim Gugur," suara Shen Feiyan terdengar sangat halus, namun memancarkan racun berbisa. "Apakah menurutmu Kamar Dagang Katak Emas adalah rumah bordil yang menerima wanita sebagai alat tukar pembayaran utang? Kami adalah institusi keuangan yang beradab. Sumpah darah kalian telah ditandatangani di atas kertas yang dicetak dengan Tinta Naga."

Feiyan menjentikkan jarinya. Seorang asisten segera menyerahkan sebuah gulungan kontrak.

"Pasal Empat, ayat dua. Jika debitur gagal membayar cicilan bunga pada tenggat waktu yang ditentukan, seluruh agunan yang diserahkan akan otomatis disita oleh Bank Sentral Kekaisaran Bayangan tanpa perlu melalui mediasi," Shen Feiyan membacakan kontrak tersebut dengan senyum tanpa belas kasihan. "Karena kalian tidak mampu membayar bunga sebesar dua ratus ribu batu spiritual... Gunung Angin Musim Gugur kalian, beserta seluruh formasi pusaka dan ladang obat di atasnya, resmi menjadi properti kami."

"TIDAAAAAK!" patriark tua itu menjerit histeris. "Kalian tidak bisa melakukan ini! Sekte kami telah berdiri selama delapan ratus tahun! Ini perampokan!"

"Ini bukan perampokan, ini likuidasi aset legal," Shen Feiyan mengibaskan tangannya, mengakhiri transmisi gaib dengan sekte tersebut secara sepihak.

Ia kemudian menatap sembilan patriark lainnya yang kini gemetar ketakutan di layar proyeksi.

"Apakah ada di antara kalian yang ingin mengajukan penundaan pembayaran juga?" tanyanya dengan nada menantang.

Sembilan patriark itu serentak menggelengkan kepala mereka kuat-kuat. "T-Tidak, Direktur Shen! Kami akan membayar! Walaupun kami harus menjual darah dan qi kami sendiri, cicilannya akan lunas esok pagi!"

"Bagus. Ingatlah, Tuanku, Dewa Kekayaan Jinling, sangat menghargai ketepatan waktu. Kalian boleh pergi."

Transmisi ditutup. Ruangan kembali dipenuhi oleh suara dentingan sempoa.

Putri Yan Ling, sang Wali Penguasa yang sedari tadi bersandar di pilar ruangan mengamati proses tersebut, tersenyum sinis. "Kau semakin mahir memainkan peran ini, Feiyan. Dalam tiga bulan, kita telah menyita lima puluh gunung spiritual utama di Benua Atas. Sekte-sekte ortodoks itu kini tidak memiliki tempat untuk melatih murid mereka. Mereka terpaksa menyewa tanah mereka sendiri dari kita dengan harga selangit."

Shen Feiyan memijat pelipisnya yang berdenyut. "Ini semua berkat visi Tuanku Cang Qixuan. Ia menyadari bahwa kultivator ortodoks sangat arogan namun secara fundamental bodoh dalam hal keuangan. Mereka rela menandatangani kontrak berbunga majemuk tiga puluh persen per bulan demi menjaga 'gengsi' sekte mereka agar terlihat makmur setelah jatuhnya tiga pilar utama. Kini, delapan puluh persen urat bumi Benua Atas mengalirkan energinya langsung ke brankas kita."

Yan Ling melangkah mendekati jendela raksasa yang menghadap ke langit timur. Matanya menatap tajam ke arah batas tak kasat mata yang memisahkan mereka dengan Benua Tengah.

"Ekonomi Benua Timur dan Atas sudah sepenuhnya terpusat. Armada meriam sedang dibangun. Namun musuh kita yang sebenarnya tidak duduk diam. Sekte Titah Langit di Benua Tengah pasti sudah menyadari bahwa pasukan Bintang Jatuh mereka telah musnah."

"Itulah sebabnya Tuanku mengutus Mo Chen kemarin malam," gumam Shen Feiyan dengan suara direndahkan. "Perang fisik akan datang, tapi sebelum meriam kita memuntahkan apinya, racun ekonomi harus ditanamkan terlebih dahulu di jantung mereka."

Jauh melampaui Lautan Awan Spiritual, Benua Tengah memancarkan aura keabadian yang memuakkan.

Di sini, hukum alam jauh lebih tebal dan mengikat. Gravitasi sepuluh kali lipat lebih berat daripada di Benua Timur. Udara dipenuhi oleh *Immortal Qi* (Qi Abadi) yang membuat kultivator ranah *Inti Emas* sekalipun merasa seperti rakyat jelata yang kesulitan bernapas. Pegunungan terbuat dari batu giok murni, dan istana-istana melayang didukung oleh deretan binatang suci bersayap.

Puncak dari segala hierarki ini adalah Sekte Titah Langit, penguasa tunggal wilayah sentral.

Di dalam Balairung Kesempurnaan Surgawi yang atapnya terbuka langsung menghadap galaksi, Kaisar Surgawi Huangpu Taiyi duduk di singgasananya yang terbuat dari kristal bintang. Usianya tidak dapat ditebak; wajahnya terlihat seperti pemuda berusia tiga puluhan, namun matanya memancarkan kebosanan makhluk yang telah hidup selama ribuan tahun. Di bawahnya, puluhan tetua agung yang masing-masing berada di ranah *Domain Bumi* tahap menengah hingga puncak duduk bersila di atas awan emas.

Suasana di balairung itu sedang dicekam oleh aura kemarahan yang tertahan.

Sebuah plakat jiwa (soul slip) berwarna emas retak parah tergeletak di tengah ruangan. Itu adalah plakat jiwa milik Jenderal Huangpu Ye. Plakat itu tidak hancur sepenuhnya, menandakan bahwa sang jenderal masih hidup, namun cahaya redupnya menunjukkan bahwa kultivasi, ingatan, dan kewarasannya telah musnah secara permanen. Kematian pikiran yang jauh lebih memalukan dari pada kematian fisik.

"Seribu Pasukan Bintang Jatuh... hilang tak berbekas. Dan Jenderal Ye, salah satu talenta terbaik dari cabang keluarga utamaku, diubah menjadi orang cacat." Suara Huangpu Taiyi terdengar datar, namun setiap suku katanya membuat udara di balairung itu bergetar hebat. "Oleh seorang pemuda fana dari Benua Timur."

Salah satu tetua agung yang mengenakan jubah bermotif naga perak melangkah maju dan berlutut.

"Yang Mulia Kaisar Surgawi," ucap tetua itu dengan nada bergetar. "Yun Canghai dari Langit Berkabut telah memperingatkan kita. Pemuda bernama Cang Qixuan ini menguasai pusaka kuno yang melanggar hukum alam, dan ia membangun kekuatannya melalui kekayaan ekstrem. Armada meriamnya telah meratakan Benua Atas. Kegagalan Jenderal Ye membuktikan bahwa kita tidak bisa lagi memandang benua bawah sebagai sekadar tumpukan kotoran."

"Kekayaan ekstrem?" Huangpu Taiyi mendengus pelan, senyum sinis yang sangat arogan menghiasi wajahnya. "Apa arti kekayaan fana di hadapan hukum surga? Emas tidak bisa membeli umur panjang. Batu spiritual tidak bisa membeli pencerahan Dao. Jenderal Ye kalah karena ia bodoh dan meremehkan musuh yang menggunakan trik sulap licik."

Kaisar Surgawi itu menyandarkan dagunya di punggung tangannya. Matanya memancarkan kebosanan predator yang akhirnya menemukan sedikit hiburan.

"Jika lintah darat ini berpikir bahwa menumbangkan satu jenderal bodoh bisa membuatnya sejajar dengan Benua Tengah, maka biarkan surga menunjukkan padanya hierarki yang sebenarnya. Tetua Hukum Ilahi!"

Seorang tetua berwajah keras dengan pedang eksekusi di punggungnya melangkah maju. "Hamba siap, Yang Mulia!"

"Keluarkan Dekrit Kaisar. Blokade total Lautan Awan Spiritual secara magis. Pasang Formasi *Jaring Pembakar Langit* di seluruh perbatasan selatan Benua Tengah. Jika armada mainannya berani mendekat, biarkan formasi itu memanggang kapal-kapal kayunya menjadi abu. Selain itu, kirimkan tiga Utusan Pajak Surgawi (Heavenly Tax Envoys) ke Benua Timur. Jangan serang kotanya secara militer. Curi seluruh fondasi urat bumi di bawah menara emasnya, serap habis seluruh batu spiritualnya ke dalam Cawan Kekosongan, lalu biarkan kota itu mati kelaparan dan saling membunuh dalam kemiskinan."

Kaisar Surgawi Taiyi tertawa pelan. "Membunuhnya secara fisik terlalu mudah. Dia membanggakan kekayaannya? Kalau begitu, lucuti setiap sen uangnya, lalu saksikan dia merangkak ke mari sebagai pengemis."

"Titah Anda akan segera dilaksanakan!" para tetua agung berseru serempak, menggemakan kesombongan absolut Benua Tengah.

Mereka berencana mengalahkan Qixuan menggunakan sihir perampasan ekonomi. Sebuah ironi yang sangat konyol, karena mereka tidak tahu bahwa mereka sedang mencoba mencuri dompet dari sang Dewa Kekayaan itu sendiri.

Apa yang Kaisar Surgawi Taiyi tidak ketahui adalah, perang ekonomi tidak dimulai saat ia mengeluarkan dekrit. Perang itu telah menyusup ke jantung kotanya.

Di Distrik Zamrud, kawasan komersial paling elit di Ibukota Titah Langit, berdiri berbagai macam paviliun perdagangan yang menjual artefak kelas dewa dan pil keabadian. Mata uang yang digunakan di sini adalah Kristal Inti Bintang, benda yang nilainya ribuan kali lipat di atas batu spiritual tingkat atas.

Hari itu, sebuah paviliun lelang baru resmi dibuka di sudut jalan utama yang paling mahal. Bangunan itu tidak terlalu mencolok dari luar, tidak dihiasi oleh naga emas atau awan putih. Bangunan itu terbuat dari kayu spiritual hitam legam, dengan papan nama sederhana bertuliskan: **Konsorsium Bayangan Ketiadaan**.

Di dalam ruangan VIP yang kedap suara dan sensor spiritual, seorang pria berjubah kelabu polos duduk dengan tenang di balik meja teh. Wajahnya biasa saja, mudah dilupakan, dan kultivasinya disamarkan secara sempurna hingga hanya terlihat seperti kultivator ranah Inti Emas biasa. Tidak ada seorang pun ahli Benua Tengah yang bisa merasakan bahwa pria ini adalah ahli ranah *Jiwa Baru* yang memegang kendali atas hukum kekosongan absolut.

Mo Chen meletakkan cangkir tehnya dengan anggun. Di hadapannya, duduk seorang tetua gemuk berbaju mewah dari Sekte Titah Langit yang menjabat sebagai salah satu pengawas distribusi logam spiritual tingkat dewa.

"Jadi, Tuan Mo," tetua gemuk itu berdehem, matanya berkilat serakah menatap kotak giok di atas meja yang memancarkan energi Koin Timbangan Surga—hanya tiruan kecil yang diisi oleh aura aslinya, namun cukup untuk membuat gila ahli manapun. "Kau mengklaim bahwa Konsorsiummu bisa menyediakan pil *Pemecah Domain* yang kualitasnya tanpa cacat? Jika ini lelucon, aku akan memenggal kepalamu saat ini juga."

Mo Chen tersenyum tipis, senyuman yang ia pelajari dari sang Tuan Muda. "Di Konsorsium Bayangan, kami tidak menjual lelucon, Tetua Liu. Kami menjual masa depan."

Mo Chen membuka kotak giok tersebut. Seketika, aroma surgawi meledak di ruangan itu. Sebongkah pil berwarna emas yang memancarkan aura hukum alam yang luar biasa padat tergeletak di sana. Pil itu adalah hasil dari modifikasi Qixuan menggunakan Koin Timbangan Surga, menukarkan nyawa ribuan monster laut demi satu pil yang mampu menerobos kemacetan kultivasi ranah *Domain Bumi*.

Napas Tetua Liu tersengal. Tangan gemuknya gemetar mencoba menyentuh pil tersebut. Ia terjebak di tahap awal Domain Bumi selama tiga ratus tahun. Pil ini adalah nyawa keduanya!

"A-Aku akan membelinya!" raung Tetua Liu panik. "Sebutkan hargamu! Sepuluh ribu Kristal Inti Bintang? Aku bisa mencairkan aset sekte yang ada di bawah pengawasanku!"

Mo Chen menutup kotak itu dengan pelan. Suara ketukannya membuyarkan ekstasi sang tetua.

"Kami tidak menerima Kristal Inti Bintang, Tetua Liu," ucap Mo Chen dengan nada datar dan menghanyutkan. "Seperti yang saya katakan, kami adalah konsorsium baru. Kami membutuhkan... koneksi. Harga pil ini bukanlah uang."

"Lalu apa?! Aku akan memberikan apa pun!" Tetua Liu sudah kehilangan akal sehatnya. Di Benua Tengah, di mana kekuatan adalah hukum mutlak, godaan untuk naik tingkat melampaui loyalitas pada Kaisar Surgawi sekalipun.

"Sangat sederhana," Mo Chen mengeluarkan sebuah gulungan kontrak yang terbuat dari kulit naga hitam, ditulis menggunakan tinta kutukan sumpah jiwa. "Kami hanya meminta Anda untuk menandatangani kontrak eksklusif pasokan bijih *Baja Bintang* yang menjadi tanggung jawab Anda, dialihkan seluruhnya ke rute pelabuhan laut selatan selama enam bulan ke depan. Selain itu, kami membutuhkan Anda untuk menyisipkan satu set 'mutiara pengintai' kecil ini ke dalam ruang rapat dewan agung."

Tetua Liu membelalak. "Mengalihkan pasokan logam militer sekte?! Jika ketahuan, aku akan dihukum mati!"

"Jika Anda mengambil pil ini, Anda akan menerobos ke tahap menengah," bisik Mo Chen layaknya iblis yang menawarkan apel berdosa. "Status Anda di sekte akan meroket. Siapa yang berani menghukum seorang tetua tahap menengah hanya karena masalah administrasi logam yang salah rute? Risiko kecil, imbalan absolut."

Keserakahan mengalahkan logika dan loyalitas. Tangan gemuk Tetua Liu menyambar kuas darah, langsung menandatangani kontrak jiwa tersebut tanpa membaca klausul tersembunyi yang diselipkan di bagian bawah gulungan. Klausul yang menyatakan bahwa jika ia melanggar, jiwanya akan otomatis menjadi budak dari pemegang *Inti Emas Kegelapan*.

"Kesepakatan yang bagus," Mo Chen menyerahkan kotak giok itu, lalu berdiri dan membungkuk sopan.

Begitu Tetua Liu pergi dari paviliun dengan tergesa-gesa sambil memeluk pil itu, Mo Chen berjalan menuju jendela kayu. Ia membuka celahnya sedikit, menatap kemegahan Ibukota Titah Langit yang dipenuhi oleh dewa-dewa arogan yang merasa diri mereka tak tersentuh.

"Tuan Muda benar," gumam Mo Chen dingin. "Benteng terkuat tidak dihancurkan menggunakan meriam dari luar. Ia dihancurkan dengan cara menyuap penjaga gerbangnya dari dalam."

Misi infiltrasi ekonomi kelas dewa telah dimulai. Sementara Kaisar Surgawi Taiyi sibuk menyiapkan pertahanan gaib dan mengirim utusan pajak yang arogan, fondasi militer sektenya sendiri sedang digerogoti oleh pengkhianatan para bawahannya yang rela menjual logam senjata mereka demi keserakahan pribadi.

Di Jinling, Tuan Muda Cang Qixuan duduk di pinggir Danau Bintang. Pancingannya kembali tidak menangkap apa-apa, namun senyumnya sangat cerah.

Sirkulasi Qi di dalam Dantiannya berdengung. Melalui koneksi spiritual dengan gulungan sumpah jiwa yang dibawa Mo Chen, Qixuan bisa merasakan puluhan kontrak pengkhianatan dari berbagai pejabat Benua Tengah mulai terhubung dengan sumber kekuatannya.

"Jaring sutra telah dilemparkan," Qixuan berbisik pada angin sore. Matanya memancarkan kedalaman ketiadaan. "Menarilah, dewa-dewa Benua Tengah. Nikmati kesombongan kalian sebelum inflasi kematianku merobek langit kalian menjadi serpihan uang kertas yang tak berharga."

Ketenangan sebelum badai telah usai. Roda gigi industri kiamat dari Benua Timur mulai berputar serempak, menargetkan langit Benua Tengah untuk dihancurkan dan dikuasai hingga ke akar-akarnya. Perang besar tidak akan ditentukan oleh benturan pedang, melainkan oleh deringan sempoa emas sang tiran.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!