Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Kumpul keluarga besar.
Deg..
Bang Reigar tersenyum mendengarnya, ia menutup pintu kamar dengan rapat, tapi kemudian senyum itu mendadak menghilang seiring dengan perasaannya yang mendadak tidak nyaman. Di saat orang tuanya sudah meninggalkan tempat, hanya adiknya yang masih berada disana.
"By the way, bagaimana kamu bisa bersama istriku tadi?" Tanya Bang Reigar sambil menyulut rokoknya.
"Dia masuk ke koperasi, wajahnya sembab. Mungkin yang di carinya tidak tidak ada, jadi Jill jalan ke apotek. Tapi di tengah jalan dia pingsan. Ya sudah, aku jawab ponselnya yang bunyi. Mana ku tau itu kau, Bang." Jawab Bang Rakit
Bang Reigar mengangguk, ia mendengar tapi tak memasukan dalam pikiran. Dari semua hal yang ia anggap penting, ia tidak paham alasan Rakit adiknya tidak mengenali Jilly.
Nafas Bang Reigar masih terasa berat, Ingin rasanya panjang lebar membahasnya dengan sang adik bungsunya karena feelingnya sedang bermain keras tapi respon tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
"Tolong ambilkan es batu di lemari es, bungkus dengan kain, bawa kesini..!!" Pinta Bang Reigar.
Tak buang waktu, Bang Rakit mengambilnya lalu meletakan es batu pada sebuah kain serbet bersih dan memberikannya pada Abangnya.
Bang Reigar menerima dan langsung meletakan di bawah perutnya. Ia pun mengatur nafasnya perlahan.
"Ngobat, Bang??" Tanya Bang Rakit.
"Iya, tapi bukan itu masalah utama yang buat Abang ngobat." Jawab Bang Reigar setengah memercing menahan rasa sakitnya.
"Nggak percaya diri amat, Jill bukan Reina. Kenapa Abang mati-matian menyiksa diri. Jill juga masih kecil. Apakah Jill sepembangkang Reina??"
"Kecilkan suaramu..!!!" Ucap lirih Bang Reigar menegur adiknya. "Jill di vonis tidak bisa menjadi ibu karena benturan. Abang hanya berusaha keras mengusahakan dia bisa menjadi seorang ibu."
"Serius, Bang??"
"Kalau Abang bohong, untuk apa Abang berjuang sampai hampir mati seperti ini. Sekarang dada Abang luar biasa sesak, kepala Abang pening bukan main merasakan denyut nadi tak karuan." Jawab Bang Reigar mencoba menstabilkan diri.
Bang Rakit sampai menggeleng. "Ada-ada saja. Tak sayang nyawa, kau Bang. Jadi.. Maksudmu obat-obatan ini, rasa sakit ini... semua itu demi harapan itu?" tanya Rakit pelan, suaranya kini lebih lembut berganti nada prihatin.
Bang Reigar mengangguk pelan, tangannya masih menekan bungkusan es batu di perutnya, berusaha meredakan rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh. "Dokter bilang peluangnya sangat kecil, hampir nol. Tapi selama ada satu persen saja kemungkinan, Abang akan berusaha dan berjuang sekuatnya, bahkan kalau harus menukar separuh nyawa Abang, asal istri Abang bisa tersenyum dan merasakan bahagianya menjadi seorang ibu, Abang tidak keberatan mengusahakan apapun."
Arah pandangnya menatap adik laki-lakinyq dengan begitu dalam. "Perkara Jill... dia memang masih muda, polos, dan kadang tak paham apa yang sedang terjadi. Tapi dia punya hati yang tulus, jauh lebih tulus daripada siapa pun yang pernah masuk ke hidup Abang. Reina itu keras, memberontak, dan selalu menuntut. Tapi Jill... dia hanya butuh dipahami, dijaga, dan ditunjukkan arah yang benar. Abang tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya, apalagi ada orang yang dengan sengaja mengganggunya."
"Apakah ini berarti, Abang seketika luluh pada seorang gadis??" Selidik Bang Rakit.
Senyum Bang Reigar tersungging tipis di sela rasa sakitnya. "Bisa jadi."
"Kenapa kau tidak bicara dengan Jill, bukankah dia lebih baik tau keadaannya."
"Nanti pasti akan Abang beritau, tapi tidak sekarang. Beban ini lumayan berat untuk di tanggungnya. Abang takut mentalnya juga kurang siap dan malah akan mengacaukan segalanya." Jawab Bang Reigar.
Terdengar hela nafas dari Bang Rakit. "Kalau saja dulu Reina tidak berbuat hal gila dan berani mengkhianatimu, mungkin sekarang anakmu sudah tiga tahun, Bang."
Kata-kata Bang Rakit seolah membuka kembali luka lama yang sudah lama seorang Reigar tutup rapat. Senyum di bibirnya mendadak hilang tergantikan oleh tatapan kosong. Ia terpaku cukup lama hingga nyeri di dada kembali terasa.
"Jangan pernah bahas tentang Reina lagi, usahakan Jill tidak pernah mendengarnya..!!Ucapnya pelan Bang Reigar, suaranya serak dan rendah tapi penuh dengan penekanan. "Apa yang Reina lakukan sudah lewat, tidak ingin Abang ingat lagi dan yang paling penting, Jill tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Mereka adakan dua wanita yang berbeda, jauh bagai langit dan bumi. Jangan pernah samakan keduanya, bahkan hanya dalam kata sekali pun."
"Okey, Bang. Sorry sudah menyinggung mu."
...
Malam harinya Bang Reigar makan malam bersama keluarga besar. Disana Jilly masih terlihat begitu canggung.
"Selamat malam, semua." Megan menyapa seluruh anggota keluarga tanpa canggung sedikitpun.
"Malam, sayang." Senyum Mama Niken selalu merekah menyambut menantunya tanpa beda.
Bang Huda berdiri dan menarik kursi untuk Megan usai istrinya itu bersalaman dengan seluruh anggota keluarga. Di saat yang sama, Megan menatap wajah yang berbeda bersama mereka.
"Ini siapa, Pa?" Tanya Megan pada Pak Rinto sebagai yang tertua disana.
"Istrinya Reigar." Jawab Pak Rinto.
Ekspresi wajah Megan seketika berubah drastis. Ia mengalihkan pandangan pada Jilly. "Sepertinya, muda sekali."
"Usia matang kalau hanya bisa menyakiti perasaan suami juga buat apa?" Balas Bang Reigar.
"Apa anak-anak lebih bisa memahami perasaanmu, Bang?" Kata Megan.
"Tergantung siapa yang mendidiknya. Saya sudah pernah gagal satu kali, tidak akan pernah mengulang untuk kedua kalinya." Ekor mata Bang Reigar kemudian melirik Megan dengan tajam.
Bang Huda menyentuh bahu istrinya agar menyudahi semua, hanya Bang Rakit yang diam sembari mengamati situasi tapi kemudian kakinya menyenggol kaki Abangnya.
"Kita disini untuk berkumpul bersama keluarga, bukan mau ribut..!!" Tegur Pak Rinto.
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭