NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

masa lalu Noah

Cristian Noah Alexander menghabiskan sisa red wine di gelasnya dalam satu tegukan.

Namun seperti biasa— tidak ada perubahan berarti pada dirinya. Kesadarannya tetap utuh. Matanya tetap tajam. Minuman itu tidak pernah benar-benar berpengaruh.

Sudah lama ia hidup berdampingan dengan insomnia—malam-malam panjang tanpa tidur yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya.

Ia meletakkan gelasnya, lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Langkahnya tenang. Terarah. Hingga ia berhenti di depan sebuah pintu lain.

Berbeda dari ruangan sebelumnya— pintu ini terasa lebih berat. Lebih… tertutup. Tempat yang tidak boleh dimasuki sembarang orang. Kecuali atas izinnya. Noah membuka pintu itu. Dan masuk.

Ruangan di dalamnya luas, namun sunyi. Dinding-dindingnya dipenuhi berbagai jenis senjata. Kapak, Pisau dengan berbagai ukuran, Pedang dan samurai yang tersusun rapi. Beberapa jenis pistol yang tertata di rak khusus. Panah, tombak, tongkat besbol, bahkan kawat tipis yang tampak sederhana… namun mematikan.

Semua tersusun dengan rapi. Terawat. Seperti koleksi berharga. Sebagian di antaranya pernah ia gunakan. Sebagian lainnya… masih menyimpan bekas yang belum sepenuhnya hilang.

Noah melangkah perlahan, matanya menyapu setiap sudut ruangan itu. Tangannya terangkat, menyentuh salah satu senjata—seolah mengingat sesuatu.

Bukan sekadar alat. Melainkan bagian dari perjalanan hidupnya. Ia berhenti di tengah ruangan.

Diam. Tatapannya kosong, namun pikirannya jauh.

Besok— ia tidak akan membawa semua ini. Ia hanya butuh satu hal— identitas. Dan rencana.

Namun ruangan ini… adalah pengingat. Tentang siapa dirinya sebenarnya. Dan apa yang sanggup ia lakukan.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Dingin. Noah menyentuh satu per satu senjata di hadapannya.

Ujung jarinya bergerak perlahan, seolah setiap benda di ruangan itu menyimpan potongan ingatan.

Dan memang— itu benar.

Matanya meredup. Pikirannya kembali jauh ke masa lalu. Masa kecil yang… tidak pernah mudah. Ia tidak tumbuh dalam kehangatan keluarga.

Tidak ada pelukan. Tidak ada tempat pulang yang benar-benar terasa aman. Yang ada hanyalah seorang paman— keras. Tanpa ampun.

Hari-harinya diisi dengan latihan, perintah, dan hukuman. Bahkan untuk makan, ia harus “membayar” dengan usaha—melakukan pekerjaan, memenuhi tuntutan, atau menahan lapar jika gagal.

Hidupnya bukan untuk dinikmati. Tapi untuk ditempa.bNamun sekeras apa pun seseorang bertahan—ada batasnya.

Dan Noah mencapainya. Ia kabur.bPergi tanpa menoleh. Meninggalkan rumah itu… tanpa tujuan pasti.

Jalanan menjadi tempatnya bertahan hidup. Ia belajar cepat. Mencuri, menghindar dan melawan. Segala cara ia lakukan untuk tetap hidup.

Hingga suatu hari— ia mencuri sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.

Barang milik seorang mafia besar.

Kesalahan. Atau mungkin—takdir.

Ia tertangkap. Dibawa ke hadapan pria itu. Seharusnya itu akhir. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Pria itu… tertarik. Bukan pada hasil curiannya. Tapi pada keberanian seorang anak kecil yang berani mengambil dari orang yang salah.

Alih-alih menghukumnya— ia memilih…mempertahankannya, mengangkatnya dan menjadikannya bagian dari dunianya.

Sejak saat itu— hidup Noah berubah.

Dari jalanan…ke dunia yang jauh lebih gelap. Lebih berbahaya. Namun juga—bmemberinya kekuatan.

Noah menarik tangannya dari senjata itu. Tatapannya kembali dingin.

“Dunia ini…” gumamnya pelan.

“Tidak pernah memberiku pilihan.”

Dan karena itu— ia belajar untuk tidak pernah ragu…mengambil apa yang ia inginkan sendiri.

Di balik masa lalu yang keras itu, ada satu sosok yang mengubah arah hidup Cristian Noah Alexander sepenuhnya—

Steven Alexander.

Seorang mafia berusia 50 tahun. Tidak menikah. Tidak memiliki penerus. Dan mungkin… melihat sesuatu dalam diri Noah yang orang lain abaikan.

Steven bukan pria yang lembut. Cara mendidiknya keras—bahkan lebih keras dari kehidupan Noah sebelumnya.

Namun berbeda dengan pamannya dulu… kali ini ada tujuan. Ia tidak hanya menempa. Ia membentuk.

Noah disekolahkan. Diberi akses ke pendidikan terbaik. Namun itu hanya permukaan.

Di baliknya— latihan tanpa henti. Beladiri, manajemen, strategi, teknologi dan bahkan hingga meracik racun.

Segala bidang… diajarkan. Tanpa pengecualian.

Hari-hari Noah dipenuhi dengan disiplin, tekanan, dan tuntutan tinggi. Kesalahan kecil pun tidak ditoleransi.

Namun— Noah bukan anak biasa. Ia cerdas. Cepat memahami. Dan lebih dari itu— ia memiliki satu hal yang sulit diajarkan. Insting.

Itulah yang membuat Steven semakin yakin. Bahwa ia tidak salah memilih.

Seiring waktu, Noah tumbuh—bukan hanya sebagai anak jalanan yang bertahan hidup. Tapi sebagai seseorang yang mampu mengendalikan keadaan.

Dingin.

Terlatih.

Dan berbahaya.

Semua yang ia miliki sekarang—bukan kebetulan. Melainkan hasil dari didikan keras seorang pria yang menjadikannya…lebih dari sekadar manusia biasa di dunia itu.

Ingatan itu muncul begitu jelas di benak Cristian Noah Alexander.

Hari pertama ia bertemu dengan Steven Alexander. Bukan pertemuan yang layak disebut “baik”.

Ia ditangkap. Diseret. Dibawa ke hadapan seorang pria yang seharusnya membuat siapa pun gemetar. Namun tidak untuk Noah.

Saat itu, ia masih berusia 12 tahun. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh dan sobek di sana-sini. Wajahnya kusam, penuh debu jalanan, namun matanya…tajam. Liar. Penuh perlawanan.

Ia berdiri di depan Steven tanpa rasa takut. Tanpa tunduk. Tanpa memohon.

Sebaliknya—ia menatap lurus ke mata pria itu. Dengan kebencian. Dengan keberanian yang nyaris gila.

Dan sebelum siapa pun bisa menghentikannya—Noah meludah. Tepat ke wajah Steven.

Ruangan seketika hening. Orang-orang di sekitarnya langsung tegang. Beberapa bahkan bersiap, mengira itu akan menjadi akhir hidup anak itu.

Namun— yang terjadi justru sebaliknya. Steven tidak marah. Ia tidak memerintahkan hukuman. Ia hanya diam sejenak… lalu tertawa kecil.

Tatapannya berubah. Bukan marah. Melainkan tertarik.

“Aku menyukai anak ini…” gumamnya saat itu.

“Dia tidak takut mati.”

Dan justru itu—yang membuatnya berbeda.

Di dunia tempat Steven berada, banyak orang kuat. Banyak yang cerdas. Namun tidak semua…memiliki keberanian untuk menatap kematian tanpa berkedip.

Sejak saat itu— Noah tidak dibuang. Tidak dibunuh. Melainkan…dipilih.

Dan dari pilihan itulah—lahir seseorang yang sekarang dikenal sebagai Cristian Noah Alexander.

Setiap langkah dalam hidup Cristian Noah Alexander tidak pernah lepas dari harga yang harus dibayar.

Saat latihan gagal— tidak ada toleransi. Tidak ada belas kasihan.

Cambukan menjadi hukuman. Berulang. Tanpa kompromi.

Dan dari situlah, punggungnya dipenuhi bekas luka—garis-garis yang tak pernah benar-benar hilang hingga sekarang.

Ia bisa saja menghapusnya. Dengan uang dan teknologi yang ia miliki, itu bukan hal sulit.

Namun ia tidak pernah melakukannya.

Karena bagi Noah— bekas itu bukan aib. Melainkan pengingat. Pengingat bahwa kegagalan memiliki konsekuensi. Dan bahwa ia harus selalu… berhasil.

Noah masih berdiri di ruangan itu, dikelilingi senjata dan bayangan masa lalu.

Waktu berlalu tanpa terasa. Jam terus bergerak. Hingga akhirnya—pukul 3 pagi. Baru saat itu, matanya mulai terasa berat.

Bukan karena lelah fisik. Melainkan karena pikirannya yang akhirnya mereda.

Ia keluar dari ruangan itu, menutup pintu di belakangnya.

Langkahnya menuju kamar. Sunyi. Seperti biasanya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar. Matanya terpejam.

Akhirnya.

Namun seperti malam-malam sebelumnya—tidurnya tidak pernah lama. Satu jam. Dua jam. Itu sudah cukup baginya.

Atau mungkin— itulah satu-satunya yang bisa ia dapatkan. Dan sebelum kesadaran benar-benar tenggelam— satu pikiran terakhir melintas di benaknya.

Sebentar lagi. Ia akan bertemu kembali dengan orang yang sudah lama ingin ia hancurkan.

1
sasip
penggambaran adegannya begitu detail, jadi berasa lagi nonton neh thor.. mantab.. 👍🏻😍
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!