SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 MAKAN SIANG
Kringgg!!!
Bel yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh penghuni SMA Binara 2 akhirnya menggema ke setiap sudut ruangan. Bu Karin yang sedang menuliskan kesimpulan materi di papan tulis segera menyudahi penjelasannya. Beliau merapikan buku absensi, mengucapkan salam penutup, dan melangkah keluar kelas yang langsung disambut sorak gembira para murid.
Dalam sekejap, suasana kelas 2-C berubah riuh. Sebagian siswa langsung berhamburan keluar pintu menuju kantin, sementara sebagian lagi mulai merapatkan meja untuk makan bersama.
Gretta baru saja hendak merapikan buku Biologinya ketika dua orang siswi berjalan menghampiri mejanya. Salah satu dari mereka yang berambut dikuncir kuda langsung mengulurkan tangan dengan senyuman lebar yang ramah.
"Hee Gree, kenalin aku Nona," ujarnya memperkenalkan diri.
Gretta membalas uluran tangan itu dengan senyuman tipis."Gretta. Salam kenal ya," sahut Gretta hangat.
Siswi yang satu lagi, yang penampilannya sedikit lebih feminin, ikut menimpali, "Kalau aku Ruby. Salam kenal juga ya, Gree."
"Eh, apa kamu membawa bekal dari rumah?" tanya Ruby.
"Iya, aku bawa bekal," jawab Gretta sambil merogoh bagian dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna pastel.
Melihat hal itu, Nona langsung menarik kursi dari meja depan dan memutarnya ke arah meja Gretta. "Asyik! Yuk, makan bareng di sini!" serunya sambil meletakkan kotak bekal miliknya sendiri.
Ruby pun melakukan hal yang sama, menggeser bangku disebelah agar mereka bisa duduk sejajar.
Namun, sebelum mereka sempat membuka tutup kotak makanan masing-masing. Dengan cengengesan tanpa dosa, Reo mendorong meja dan kursinya sendiri hingga merapat dengan bangku Gretta Nona dan Ruby.
Kebetulan, susunan bangku di kelas 2-C memang diatur untuk duduk sendiri-sendiri, sehingga Reo merasa bebas bergerak.
"Boleh aku ikut gabung?" ujar Reo dengan nada sok akrab.
Ruby langsung mencibirkan bibir atasnya, menatap Reo dengan pandangan sebal. "Ah, kamu di situ aja! Jangan gabung, ih, menyebalkan banget!" pekik Ruby sambil mengibaskan tangannya, mengusir Reo menjauh.
Gretta yang melihat interaksi itu tertawa kecil. Sifat humoris Reo membuatnya merasa cepat beradaptasi. "Sudahlah, tidak apa-apa, Ruby. Biar Reo ikut gabung saja, makin ramai makin seru kan?" lerai Gretta lembut.
Reo langsung menjulurkan lidahnya ke arah Ruby dengan wajah mengejek. "Tuh, dengar! Gretta saja tidak masalah, kenapa kamu yang sewot?" ejek Reo puas.
"Ihhh, kamu yaaa!" Tangan Ruby mengepal geram di udara.
"Hahahah!" Tawa Reo pecah melihat reaksi Ruby.
Gretta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus tersenyum melihat tingkah kedua teman barunya itu. Namun, Gian, cowok kaku yang duduk tepat di belakang bangku Gretta, tampak acuh tak acuh. Ia sudah mengeluarkan kotak bekalnya sendiri dan mulai makan dalam diam, benar-benar menghiraukan keriuhan yang hanya berjarak beberapa senti di depannya.
Reo yang menyadari hal itu langsung menengok ke belakang. Jiwa sosialnya yang tinggi tidak tega melihat temannya makan sendirian seperti kuper.
"Heee, Gian! Ikut sini, jangan makan sendiri di situ!" seru Reo.
Tanpa memedulikan tatapan protes Gian, Reo dengan seenaknya menarik kotak makan Gian ke samping mejanya. Tidak tanggung-tanggung, ia juga menarik tangan Gian secara paksa dan menyeret satu kursi kosong agar berada tepat di sebelahnya.
"Gian, apa-apaan sih? Balikin kotak bekal gue!" pekik Gian kesal, wajahnya yang datar mendadak berkerut menahan amarah karena ritual makan siangnya diganggu.
"Sudahlah, di sini aja duduknya, jangan kayak orang musuhan," balas Reo santai sambil menekan bahu Gian agar cowok itu mau duduk di sebelah kursinya.
Nona ikut menimpali sambil membuka tutup bekalnya. "Tau tuh, Gian. Sekali-kali makan dengan kami, jangan selalu menyendiri dan bersikap dingin kayak es balok begitu," ejek Nona.
Gian tidak membalas ucapan Nona dengan kata-kata. Ia hanya menatap Nona dengan pandangan mata yang tajam dan menusuk, sebelum akhirnya kembali menyantap makanannya.
Melihat respons menyeramkan dari Gian, Reo malah makin bersemangat menggodanya. "Sudahlah Nona, jangan bercanda lagi. Nanti hantu kutubnya marah besar, bisa beku kita semua di sini," balas Reo sambil tertawa kecil.
Candaan Reo kali ini benar-benar terdengar lucu bagi Gretta, membuat gadis itu spontan ikut tertawa lepas. Mendengar tawa renyah Gretta, Gian mendadak menghentikan kunyahannya. Ia menatap tajam ke arah Gretta, seolah terganggu karena murid baru itu berani menertawakannya. Ditatap seintens itu oleh sepasang mata elang Gian, nyali Gretta mendadak ciut. Tawa gadis itu langsung mereda, dan ia buru-buru menundukkan kepalanya, pura-pura sibuk dengan makanannya seakan-akan ia tidak pernah melirik Gian sebelumnya.
Suasana kembali mencair saat mereka mulai makan bersama. Reo, yang dasarnya tidak bisa diam, sibuk melirik ke arah kotak bekal teman-temannya satu per satu. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada sekat kecil di kotak bekal Gretta yang berisi beberapa potong kue berwarna cokklat pekat yang terlihat sangat lembut.
"Wahh, kau membawa bolu cokklat, Gree?" tanya Reo dengan mata berbinar-binar penuh minat.
Gretta yang melihat ekspresi kocak Reo langsung tersenyum geli. "Kamu mau? Ambil saja," pekik Gretta ramah, sambil menyodorkan kotak bekalnya pada Reo, Nona, dan Ruby.
"Silakan dicicipi ya."
Tanpa malu-malu, Reo langsung menyambar sepotong bolu cokklat itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Begitu mengunyahnya, mata cowok itu langsung membulat sempurna.
"Wahh! Bolu nya enak banget, Gree! Lembut banget di lidah!" seru Reo benar-benar menikmati setiap gigitan bolu cokelat tersebut.
"Eh, masa sih? Aku mau coba dong," ujar Nona yang langsung mengambil sepotong, diikuti oleh Ruby.
Setelah mencobanya, kedua siswi itu ikut berseru kompak, "Bener banget, enak parah! Manisnya pas, gak bikin enek!"
"Kamu beli di mana kue seenak ini, Gree?" tanya Nona penasaran, berniat ingin membelinya sendiri sepulang sekolah nanti.
"Ibuku yang membuatnya sendiri. Kebetulan ibuku punya toko kue di dekat rumah," ucap Gretta dengan nada bangga bercampur senang karena masakan ibunya disukai banyak orang.
"Eumm, kapan-kapan aku mau main ke rumahmu ya, Gree! Mau sekalian beli kue buatan mamamu!" pekik Nona bersemangat.
"Aku juga ikut ya, Gree! Jangan lupa ajak aku!" sahut Ruby tidak mau kalah.
Gretta mengangguk gembira. "Boleh, main saja nanti."
Di tengah kegembiraan itu, Reo melirik ke arah Gian yang sejak tadi hanya diam mengunyah nasi. Reo menyenggol lengan Gian dengan sikunya. "Gian, kau tidak mau coba? Enak banget lho," ujar Reo menawarkan bolu cokelat yang tersisa.
Gian hanya melirik sekilas ke arah potongan kue cokelat tersebut, lalu menggeleng pelan. Namun, Gretta yang melihat hal itu merasa tidak enak jika mengabaikan satu orang di meja mereka.
"Silakan kalau mau coba juga," ujar Gretta dengan tulus, mendorong kotak bekalnya sedikit lebih dekat ke arah Gian.
Gian terdiam menatap kue itu. Entah mengapa, ada rasa penasaran yang mendadak muncul di benaknya. Bentuk, tekstur pori-pori kue, dan aroma cokelat yang menguar dari bolu tersebut terasa sangat familiar di indra penciumannya. Seperti ada memori lama yang memanggilnya. Karena rasa penasaran yang teramat sangat itu, Gian akhirnya mengulurkan tangan kaku dan mengambil sepotong, lalu menggigitnya perlahan.
Reo yang memperhatikan gerak-gerik temannya langsung bertanya dengan wajah menuntut, "Gimana? Enak tidak?"
Gian mengunyah bolu cokelat itu dengan perlahan, meresapi rasanya yang menari di atas lidahnya. Setelah menelannya, wajahnya kembali berubah datar dan dingin. "Biasa aja," pekik Gian singkat, lalu kembali fokus pada bekal nasinya sendiri.
Mendengar penilaian ketus itu, senyum di wajah Gretta langsung lenyap, digantikan oleh kerutan kesal yang dalam di dahinya. "Ha? Apa kamu bilang? Biasa aja?!" sahut Gretta dengan nada ketus yang tak bisa disembunyikan.
"Padahal bolu cokelat buatan mamaku sangat disukai para pelanggan dan selalu habis terjual tahu!" tambahnya kesal, merasa kerja keras ibunya tidak dihargai oleh cowok kaku ini.
Melihat percikan api permusuhan di antara keduanya, Reo buru-buru menepuk-nepuk bahu Gretta, mencoba meredakan ketegangan. "Sabar, Gree, sabar... Dia memang agak-agak aneh orangnya. Kalau ngejawab emang suka ngasal dan gak pakai perasaan," pekik Reo menenangkan dengan tawa canggung.
Sementara itu, Gian tidak memedulikan kekesalan Gretta. Fokusnya teralih pada rasa kue yang baru saja melintasi tenggorokannya.
Rasa ini... seperti pernah merasakannya sebelum ini. Tapi di mana? batin Gian dalam hati, merasa ada sesuatu yang janggal namun ia tidak bisa mengingatnya.
Setelah selesai makan, mereka tidak lupa meminum air masing-masing dan merapikan kembali meja yang sempat digeser. Tak berselang lama setelah semua kotak bekal rapi, bel masuk sekolah kembali berbunyi lantang.