seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sistem yang menghianati
Suara alarm masih menggema di seluruh markas bawah tanah.
Lampu merah berkedip tanpa henti, memantulkan bayangan aneh di dinding logam tua. Udara terasa semakin sesak, seolah ruangan itu sendiri tahu bahwa waktu mereka hampir habis.
Alya berdiri membeku di depan layar hologram.
Kata-kata Kaizer terus terngiang di kepalanya.
“Apakah kau akan lari… atau bangun?”
Dadanya terasa panas.
Bukan panas biasa.
Sesuatu bergerak di dalam dirinya.
Denyut aneh.
Pelan.
Namun semakin kuat.
“Alya?”
Suara Hana terdengar jauh.
“Alya, kau dengar aku?”
Pandangan Alya mulai kabur sesaat.
Layar hologram di depannya tiba-tiba dipenuhi garis-garis cahaya biru yang bergerak liar. Data-data yang sebelumnya kacau kini terlihat jelas di matanya.
Terlalu jelas.
Ia bisa membaca kode sistem yang bergerak cepat.
Bahkan sebelum layar memprosesnya.
“Ada yang salah…” bisiknya pelan.
Reno langsung menyadarinya.
Matanya menyipit.
“Jangan fokus pada suara Kaizer.”
Namun Alya hampir tidak mendengar.
Kepalanya mulai dipenuhi suara-suara elektronik kecil.
Bisikan data.
Fragmen sistem.
Seolah seluruh jaringan Zenith sedang berbicara langsung ke otaknya.
> Sinkronisasi neural meningkat.
Host Elysium terdeteksi.
Persentase aktivasi: 18%.
Alya memegangi kepalanya.
“Hah…?”
Hana langsung mendekat panik.
“Kenapa lagi?!”
“Dia mulai sinkron.”
Reno bergerak cepat menuju terminal utama lalu mengetik sesuatu di panel hologram.
Wajahnya berubah serius.
“Sial…”
“Apa?!” Hana makin panik.
“Detak neural Alya mulai terhubung dengan jaringan Zenith.”
Tubuh Alya sedikit gemetar.
“Aku… bisa dengar semuanya…”
Suara langkah pasukan keamanan.
Sistem kamera.
Pintu otomatis.
Bahkan percakapan siswa di aula utama.
Semuanya bercampur dalam kepalanya.
Terlalu banyak.
“Matikan…” Alya berbisik lemah.
Lampu ruangan mendadak berkedip lebih keras.
BZTTT—
Panel di dinding meledak kecil.
Hana menjerit kaget.
“Oke! Itu jelas bukan normal!”
Reno segera memegang bahu Alya.
“Dengar aku.”
Nada suaranya tenang namun tegas.
“Kau harus mengendalikan emosimu.”
“Aku tidak tahu caranya!”
“Kalau kau panik, inti itu akan mengambil alih sinkronisasi.”
Napas Alya mulai tidak teratur.
Ia bisa merasakan jantungnya berdetak terlalu cepat.
Dan setiap detaknya…
membuat sistem di sekitar ikut bereaksi.
Layar hologram berubah sendiri.
Pintu membuka lalu menutup tanpa perintah.
Bahkan drone maintenance di sudut ruangan tiba-tiba aktif.
Hana langsung mundur.
“Aku rasa tembok di tempat ini mulai hidup.”
Reno menatap Alya tajam.
“Fokus padaku.”
Alya mencoba.
Benar-benar mencoba.
Namun suara-suara itu terus masuk ke kepalanya.
Lalu—
Ia mendengar sesuatu yang lain.
Suara anak kecil.
Lemah.
Menangis.
Mata Alya membesar.
“Itu…”
Reno langsung sadar ada yang berubah.
“Apa yang kau dengar?”
“Ada seseorang…”
“Di mana?”
Alya memejamkan mata tanpa sadar.
Dan anehnya—
Ia bisa “melihat”.
Lorong panjang Zenith.
Ruang server bawah tanah.
Beberapa teknisi keamanan.
Dan…
ruangan kaca putih.
Di dalamnya ada seorang anak kecil laki-laki duduk sendirian.
Kabel neural menempel di tubuhnya.
Anak itu menangis.
“Ayah…”
Suara kecil itu menggema di kepala Alya.
Tubuh Reno langsung menegang.
“Alya.”
“Anak itu…”
Pandangan Alya bergetar.
“Itu kamu.”
Hening.
Hana perlahan menoleh ke Reno.
“Sebentar… dia melihat masa lalu?”
Reno tidak langsung menjawab.
Karena ekspresinya sendiri berubah.
Sulit dipercaya.
Namun ia tahu satu hal.
Elysium tidak bekerja seperti AI biasa.
Inti itu menyimpan jejak memori neural.
Dan Alya…
sedang mengaksesnya.
Tiba-tiba Alya tersentak keras.
Gambar dalam kepalanya berubah cepat.
Ruangan laboratorium.
Alarm.
Asap.
Orang-orang berteriak.
Dan—
Arman.
Ayahnya.
Pria itu berlutut di depan Reno kecil.
Wajahnya penuh luka kecil dan darah.
Namun matanya hangat.
“Dengarkan aku,” kata Arman cepat.
Reno kecil menangis.
“Aku takut…”
“Aku tahu.”
Arman memegang bahu anak itu.
“Tapi kau harus lari.”
“Ayah ikut?”
Arman diam sesaat.
Ekspresinya berubah sedih.
“Maafkan Ayah…”
Tubuh Alya gemetar melihatnya.
“Tidak…”
Ledakan besar terdengar.
Lampu laboratorium meledak.
Dan gambar itu langsung terputus.
Alya terjatuh ke lutut sambil terengah.
“Napas… hah…”
Hana langsung menopangnya.
“Alya!”
Reno berdiri diam.
Wajahnya membeku.
Untuk pertama kalinya sejak Alya mengenalnya…
ia terlihat benar-benar terguncang.
“Kau melihat Arman?” suaranya pelan.
Alya menatapnya perlahan.
Matanya mulai basah.
“Dia menyuruhmu kabur…”
Reno tidak menjawab.
Namun rahangnya menegang keras.
Ia mengingat malam itu.
Ledakan.
Api.
Tangan Arman yang mendorongnya ke lorong darurat.
Dan setelah itu—
gelap.
“Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi setelahnya,” bisik Reno.
Suasana menjadi sunyi.
Namun hanya beberapa detik.
Karena alarm mendadak berubah nada.
BEEP. BEEP. BEEP.
Reno langsung menoleh ke terminal.
Ekspresinya berubah tajam lagi.
“Mereka menemukan akses masuk.”
Hana langsung panik lagi.
“Kenapa kita tidak pernah punya waktu sedih yang normal?!”
Di layar hologram muncul beberapa titik merah bergerak cepat menuju markas.
Unit keamanan elit Zenith.
Dan di depan mereka—
satu simbol khusus.
Seekor serigala hitam.
Reno langsung mendecih.
“Unit Fenrir…”
Hana menelan ludah.
“Dan itu artinya apa?”
“Pasukan pemburu khusus.”
Jantung Alya berdegup keras lagi.
“Mereka dikirim untukku?”
“Ya.”
Suasana langsung mencekam.
Reno bergerak cepat membuka panel senjata tersembunyi di dinding.
Beberapa pistol plasma dan perangkat neural muncul.
Hana langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Aku harap ada tutorial penggunaan.”
Reno melempar satu alat kecil padanya.
“Stun pulse. Tinggal tekan kalau panik.”
“Aku SUDAH panik!”
Namun Alya masih diam.
Pikirannya kacau.
Bayangan ayahnya terus muncul di kepala.
Kalimat terakhir itu.
Maafkan Ayah.
Dadanya terasa sesak.
Reno memperhatikan Alya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan:
“Kau tidak apa?”
Alya menatapnya.
Lalu menggeleng kecil.
“Aku tidak tahu.”
Untuk pertama kalinya…
ia benar-benar takut pada dirinya sendiri.
Bagaimana kalau inti Elysium itu memang berbahaya?
Bagaimana kalau semua orang benar?
Bagaimana kalau suatu hari ia kehilangan kendali?
Tiba-tiba—
Lampu ruangan kembali berkedip.
Namun kali ini berbeda.
Cahaya biru samar muncul dari kalung Alya.
Hana langsung melongo.
“Oke… itu DEFINITELY bukan normal.”
Reno menatap cahaya itu serius.
Sinkronisasi meningkat lagi.
> Aktivasi Elysium: 24%.
“Sial…” gumam Reno.
“Apa lagi sekarang?” Hana hampir putus asa.
“Intinya merespons stres emosional.”
Alya langsung memegang kalungnya.
Cahaya itu terasa hangat.
Namun juga hidup.
Seperti jantung kedua.
Dan suara tadi kembali muncul di kepalanya.
Bukan suara sistem.
Bukan suara mesin.
Melainkan suara perempuan lembut.
> “Temukan kami…”
Mata Alya membesar.
“Hah?”
Reno langsung menoleh.
“Kau dengar sesuatu lagi?”
Namun sebelum Alya sempat menjawab—
BRAKKK!
Ledakan keras mengguncang lorong luar markas.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Pintu baja utama penyok ke dalam.
Hana langsung menjerit.
“MEREKA DATANG?!”
Suara langkah berat terdengar dari balik pintu.
Pelan.
Teratur.
Menakutkan.
Lalu suara pria terdengar dari speaker luar.
“Ini Unit Fenrir.”
Suasana langsung membeku.
“Serahkan subjek Elysium.”
Reno mengambil pistol plasmanya.
Tatapannya berubah dingin.
“Atau?”
Hening sesaat.
Lalu suara itu menjawab:
“Kami akan mengambilnya dengan paksa.”
BRAKK!
Pintu utama mulai dibobol lagi.
Retakan besar muncul di tengah baja.
Hana langsung mundur sambil memegang stun pulse terbalik.
“Aku belum siap mati muda…”
Namun Reno tetap tenang.
Terlalu tenang.
Ia menoleh pada Alya.
Dan untuk pertama kalinya…
ia terlihat seperti sedang membuat keputusan besar.
“Kalau kita tetap di sini,” katanya pelan, “mereka akan menangkapmu.”
“Apa yang harus kita lakukan?”
Reno diam beberapa detik.
Lalu berkata:
“Kita masuk ke pusat inti Zenith.”
Hana langsung membelalak.
“Tempat paling berbahaya di akademi?!”
“Ya.”
“Itu rencana TERBURUK yang pernah kudengar!”
“Justru itu tempat yang paling tidak akan mereka duga.”
BRAKK!
Retakan pintu makin besar.
Suara logam berderit menyeramkan.
Waktu mereka hampir habis.
Reno mengulurkan tangan pada Alya.
Tatapannya tajam namun tenang.
“Percaya padaku.”
Alya menatap tangan itu.
Lalu menatap cahaya biru di kalungnya.
Dan entah kenapa…
suara dalam dirinya berbisik pelan.
Ikut dia.
Alya menarik napas panjang.
Lalu menggenggam tangan Reno.
Dan tepat saat itu—
PINTU BAJA HANCUR TOTAL.
Pasukan berpakaian hitam masuk dengan senjata plasma menyala.
Di helm mereka terdapat simbol serigala hitam Fenrir.
Dan di depan mereka…
seorang pria tinggi dengan mata mekanik biru melangkah masuk perlahan.
Tatapannya langsung tertuju pada Alya.
“Akhirnya bertemu,” katanya dingin.
Lalu seluruh ruangan mendadak dipenuhi suara senjata yang diarahkan.
Dan Reno…
tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu.
Senyum kecil yang membuat situasi justru terasa lebih berbahaya.
“Mulai sekarang,” katanya pelan.
“Kita berhenti lari.”