Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HYEANA, CHIARA, HARAS, OLLA, ANNE, LIDIA AND...SEANA? WHO IS SHE?
Hari-hari setelah kedatangan Haras dan Olla berjalan dengan ritme yang aneh. Bukan kacau tapi juga bukan normal. Haras mulai sering “menyenggol” percakapan tanpa basa-basi, kadang menyebalkan, kadang terlalu jujur sampai bikin Ara kesal setengah mati. Olla sebaliknya, dia tidak banyak bicara, tapi setiap kalimatnya terasa seperti sudah dipikirkan jauh sebelum diucapkan. Dan entah kenapa Keduanya selalu memperhatikan Hyeana.
Lebih tepatnya....memperhatikan tanda di pergelangan tangannya. Sampai suatu siang setelah pelajaran terakhir, saat kelas sudah agak sepi, Haras langsung menarik kursinya mendekat.
“Gue capek pura-pura nggak tahu.” katanya santai.
Ara langsung menatapnya curiga. “Maksud kamu apa sih dari tadi?”
Olla berdiri di dekat jendela, menatap luar sebentar sebelum akhirnya ikut duduk di sisi lain.
“Lebih baik dijelaskan sekarang.” ucapnya pelan. “Daripada nanti terlambat.”
Hyeana menegang, ia bertanya..
“Apa yang harus dijelasin sekarang?”
Haras menunjuk pergelangan tangan Hyeana tanpa ragu.
“Itu.”
Jantung Hyeana langsung jatuh.
Ara refleks menoleh. “Eh? Tangan kamu kenapa na?”
Hyeana buru-buru menutup lengannya. “Enggak apa-apa ra”
Adeline menghela napas kecil lalu berkata...
“Itu bukan luka.”
Suasana langsung hening, Haras menyandarkan diri ke kursi, lalu berkata dengan nada lebih serius dari biasanya.
“Gue gak tahu gimana lo dapet itu… tapi itu bukan tanda biasa.”
Hyeana menggigit bibir. “Terus itu apa?”
Adeline menatapnya lama, lalu menjawab pelan.
“Mark of Netherveil.”
Ara langsung membeku. “Nether… apa?”
Haras mendecak kecil.
“Dunia lain. Tempat yang harusnya gak nyentuh dunia manusia.”
Hyeana langsung terdiam, kepalanya langsung terasa berat lagi… seperti ada sesuatu yang mencoba muncul, tapi ditekan keras dari dalam.
“Setiap orang yang punya mark itu…” Adeline melanjutkan, “akan jadi target.”
“Target siapa?” suara Hyeana pelan.
Haras menjawab cepat.
“Makhluk yang hidup di antara batas dunia. Yang lo lihat waktu itu… bukan semuanya.”
Ara langsung merinding. “Kalian ngomong apa sih… ini udah kayak film horor aja”
Tapi Hyeana tidak tertawa, karena di dalam kepalanya…sepotong ingatan kecil seperti hampir muncul.
“Harvey…” gumamnya tanpa sadar.
Haras langsung berhenti bicara, Olla menatap Hyeana lebih dalam.
“Jadi dia benar-benar ada.” ucap Olla
Hyeana langsung menatap mereka. “Kalian kenal dia?”
Haras mengangkat bahu.
“Kenal? Nggak juga.”
“Dengar nama doang.” ucap Haras
“Tapi kalau dia muncul di sekitarmu…” Olla menambahkan.
Haras menatap lurus ke arah Hyeana.
“Berarti lo bukan orang biasa.”
Ara langsung menoleh ke Hyeana panik kecil. “Na, kamu apaan sih sebenarnya…”
Hyeana tidak bisa menjawab, untuk pertama kalinya…ia sendiri tidak yakin.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Beberapa hari setelah itu, suasana kelas mulai berubah pelan. Haras, Adeline, Ara, dan Hyeana mulai sering bersama. Awalnya canggung, tapi lama-lama jadi kebiasaan, Haras tetap blak-blakan seperti awal masuk sekolah.
“Lo tuh gampang banget panik deh ra.” ucap Haras
“Heh?!” jawab Ara kesal
Adeline biasanya hanya menengahi.
“Haras, jangan terlalu kasar.”
“Gue realistis.”
Dan Hyeana…untuk pertama kalinya merasa ada “normal” yang baru.
Sampai suatu pagi…Wali kelas masuk dengan ekspresi senang.
“Anak-anak, hari ini dua murid lama kita akhirnya kembali.”
Bisik-bisik langsung terdengar, pintu kelas terbuka, dua siswi berjalan masuk. Yang pertama terlihat energik, rambutnya rapi tapi sedikit berantakan seperti orang yang baru selesai sibuk lama.
“Anne Hermosa.” katanya santai sambil melambaikan tangan.
“Baru balik lomba. Jangan kangen ya.” lanjutnya
Beberapa siswa tertawa kecil.
Yang kedua lebih tenang, Langkahnya pelan, tatapannya lembut tapi tajam, seperti orang yang jarang ada di kelas tapi selalu tahu apa yang terjadi.
“Lidia Riley.” ucapnya sopan.
“Maaf lama tidak masuk.”
Wali kelas tersenyum lega.
“Baik, kalian bisa duduk di…”
Matanya melihat ke arah bangku kosong di tengah.
“di dekat kelompok belakang itu.”
Anne langsung melirik kelompok Haras, Olla, Ara, dan Hyeana.
“Wah, rame juga ya.”
Lidia hanya tersenyum kecil, Mereka langsung duduk. Sekarang satu kelompok itu jadi lengkap.
Ara, Hyeana, Haras, Adeline… lalu Anne dan Lidia.
Enam orang dan tanpa mereka sadari…itu bukan sekadar “kelompok teman”, tapi sesuatu yang perlahan mulai “terikat”.
Karena sejak hari itu…setiap kali Hyeana menatap tangannya yang mulai hangat sesekali…Haras dan Adeline juga selalu berhenti berbicara di waktu yang sama. Seolah mereka semua sedang menunggu sesuatu yang akan datang.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa tidak nyaman. Karena sejak Anne dan Lidia kembali ke kelas, sesuatu mulai berubah pelan. Bukan di sekolah, tapi di sekitar Hyeana. Kadang udara di kelas terasa lebih dingin tanpa alasan, kadang lampu koridor berkedip sekali lalu kembali normal.
Dan kadang…Hyeana merasakan telapak tangannya panas, bukan seperti luka, tapi seperti sesuatu dari jauh sedang “menyentuh” dirinya.
“Hngh…”
Suatu siang, saat pelajaran berlangsung, Hyeana langsung menahan napas, panas itu muncul lagi. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Ara yang duduk di sebelahnya langsung menoleh.
“Na? Kamu kenapa na?”
“Enggak… cuma pusing dikit…”
Tapi di belakangnya...Haras langsung berhenti menulis. Adeline juga menatap lurus ke depan, ekspresinya berubah sedikit lebih serius. Lidia yang biasanya diam, tiba-tiba menutup buku pelan dan Anne mencondongkan badan sedikit.
“itu mulai lagi ya.” ucap Hyeana
Suara itu sangat pelan, Hanya Haras yang mendengar jelas.
“Jangan bilang itu…”
Adeline menghela napas pelan.
“Bukan roh biasa.”
Panas di tangan Hyeana semakin naik dan kali ini....BUKAN cuma panas, ada sensasi seperti sesuatu sedang “mencari arah”. Seperti…sedang mengunci lokasi.
“Hyeana!” Ara panik.
“Tangan kamu merah banget!” lanjut ara
Hyeana menggigit bibirnya, menahan sakit.
“Kenapa… tiba-tiba…”
Dan di detik itu....Gedung sekolah langsung bergetar sangat halus. Bukan gempa, tapi seperti dunia di luar sana.....sedang “bernapas”. Semua siswa berhenti sejenak.
“kalian ngerasa getar nggak sih?” salah satu murid berbisik.
Lampu di langit-langit berkedip sekali, dua kali, lalu normal lagi. Tapi di mata Haras...itu bukan hal normal.
“Dia lagi nyoba buka jalur.” gumam Haras.
Anne langsung berdiri sedikit dari kursinya.
“Kalau ini dibiarkan, bakal kebuka lagi.”
Lidia menatap Hyeana dengan tenang, tapi matanya tajam.
“Dan kali ini bukan sekadar gangguan.”
Ara mulai panik.
“Gangguan apa sih?! Kalian ngomong dari tadi kayak ngerti sesuatu tapi aku nggak ngerti apa-apa!”
Adeline menoleh pelan.
“karena kamu belum pernah lihat yang sebenarnya ra.”
Panas di tangan Hyeana tiba-tiba berhenti, suasana kembali sunyi terlalu cepat seolah sesuatu di dalamnya baru saja “berhenti mendeteksi”. Hyeana menghela napas pelan.
“udah hilang?”
Haras langsung berdiri.
“Bukan hilang.”
Matanya menajam.
“Tapi ditarik mundur.” lanjut Haras
Dan di saat itu...di luar jendela kelas…bayangan hitam tipis lewat sangat cepat. Hampir tidak terlihat tapi cukup untuk membuat seluruh kelompok itu sadar satu hal. Ini bukan lagi soal “tanda”, tapi soal sesuatu yang sedang mengumpulkan mereka.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Sore harinya, kelas sudah mulai sepi. Ara pulang lebih dulu, disusul Anne dan Lidia yang ada kegiatan tambahan. Haras dan Adeline juga keluar kelas tidak lama setelah itu, meninggalkan Hyeana sendirian sebentar karena harus menunggu jemputan. Hyeana duduk di bangkunya, menatap jendela, tangannya sudah tidak panas lagi tapi perasaan itu masih ada, seperti sesuatu yang “baru saja lewat”.
“aneh banget hari ini.”
Ia menghela napas pelan, lalu mulai merapikan tasnya. Di luar jendela kelas....angin bergerak pelan, daun-daun bergeser, dan di antara bayangan pohon dekat pagar sekolah…sesuatu berdiri diam. Sosok tinggi, pakaian hitam panjang, rambut gelap yang sedikit tertiup angin, mata merah yang tidak menyala terang, tapi cukup untuk mengenali arah pandangnya. Ia tidak masuk, tidak mendekat, hanya berdiri di tempat yang tidak bisa dilihat jelas oleh orang biasa, tatapannya tertuju langsung ke jendela kelas tempat Hyeana berada.
“…”
Harvey tidak bergerak. Ekspresinya tidak seperti sebelumnya di Netherveil, Kabut hitam tipis mengalir di sekitar kakinya, tapi tidak menyebar, seolah ia sedang menahannya, menahan dirinya sendiri. Di dalam kelas, Hyeana berdiri dan menoleh sekilas ke arah jendela.
“....…?”
Ia berhenti, hanya sebentar, seperti merasa ada sesuatu. Namun yang terlihat di luar hanya pohon dan cahaya sore yang mulai redup. Hyeana mengerutkan alis.
“Mungkin hanya perasaan aku saja…” Ia menggeleng kecil.
“Aku kayaknya cuma capek deh.”
Ia kembali meraih tasnya dan berjalan keluar kelas. Saat pintu tertutup...Harvey di luar tetap tidak bergerak, matanya mengikuti langkah Hyeana yang menjauh, sampai gadis itu benar-benar hilang dari pandangan. Barulah perlahan…Harvey mengangkat tangannya sedikit, kabut hitam tipis menyebar ke udara, bukan serangan, bukan kehancuran, tapi sesuatu seperti “lapisan” untuk menutupi jejak yang tadi sempat terasa oleh Hyeana.
“Belum saatnya kamu sadar, Hyeana.” Suara Harvey pelan.
Hampir seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Kabut itu meresap ke udara sekolah, lalu menghilang tanpa jejak. Dari kejauhan, langkah kaki terdengar.
Tap.
Tap.
Haras muncul dari sisi koridor luar, tangannya masuk ke saku, matanya menyipit kecil saat melihat area sekitar sekolah.
“Bau Netherveil masih nempel.”
Olla berdiri di beberapa langkah di belakangnya.
“Kamu juga merasakannya?”
Haras mengangguk kecil.
“Cuma sekilas. Tapi jelas.”
Olla menatap jendela kelas yang tadi dilihat Hyeana.
“dia ada di sini.”
Haras mendecak pelan.
“Dia gak pernah jauh.”
Hening sebentar, lalu Olla menambahkan dengan suara lebih pelan:
“Dia sedang menjaga.”
Haras meliriknya.
“Lo percaya dia ‘penjaga’?”
Olla tidak langsung menjawab.
“Tapi dia bukan tipe yang datang untuk menyerang.”
Haras menghela napas.
“Ya. Tapi bukan berarti dia aman buat Hyeana.”
Mereka berdua diam. Tanpa sadar, mereka tidak melihat Harvey sama sekali. Padahal Harvey berdiri tidak jauh dari mereka. Hanya saja....tidak terlihat oleh mata manusia biasa. Harvey melirik sekilas ke arah dua murid itu, tatapannya datar, sedikit tajam.
“Anak-anak itu mulai menyadari terlalu cepat.”
Kabut di sekitarnya bergerak pelan, lalu ia menoleh lagi ke arah jalan pulang Hyeana.
“Kalau begini terus…”
Ada jeda kecil. Kabut di sekitar Harvey bergerak pelan, seolah menanggapi pikirannya sendiri.
“akan ada banyak makhluk yang mengincar Hyeana.”
Tatapannya sedikit menyipit, Harvey diam sesaat. Lalu suaranya terdengar pelan, rendah, tapi berat.
“Dan aku tidak bisa selalu berada di sisinya.”
Ia melirik ke arah dua murid di kejauhan, Haras dan Adeline.
“Anak-anak itu mulai menyadari terlalu cepat.”
“tapi akan aku biarkan mereka tetap di dekatnya.”
“Selama mereka tidak mengganggu.”
Harvey menurunkan tangannya sedikit, tatapannya kembali ke arah jalan tempat Hyeana pulang.
“Dengan begitu… cukup.”
Kabut di sekelilingnya menghilang perlahan, menyatu dengan udara sore yang biasa. Seolah Harvey tidak pernah ada di sana, namun di tempat yang sama, sesuatu yang tidak terlihat manusia biasa masih tertinggal.....tekanan tipis dari dunia lain yang baru saja lewat. langkah Hyeana makin menjauh tanpa tahu bahwa dari sejak ia keluar kelas tadi, ia tidak pernah benar-benar sendirian.