NovelToon NovelToon
Sovereign Asura

Sovereign Asura

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilfar Aksara

‎"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."

‎Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
‎Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
‎Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.

‎Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
‎Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
‎Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
‎Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.

‎Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
‎Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.

‎Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
‎Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.

‎Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.

‎"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 - Bulan Merah Darah

‎Di kedalaman hutan yang terlelap dalam racun, iblis berbisik merdu mengoyak akal dan lamunan.

‎Telinga runcing membiru, terpukau sihir kelam, mengangkat senjata mereka di keheningan malam.

‎Saudara saling menebas, meneteskan darah suci, di Pulau Emberwind yang kini mati suri.

‎Busur-busur terarah pada mata yang mereka cinta, tawa iblis darah bergema di balik tirai angkara.

‎Tiada lagi peri cahaya, yang tersisa hanyalah duka, saat sang kegelapan menari di atas bangunan terbengkalai.

‎Di langit Pulau Emberwind, bulan purnama pun menangis, berubah warna merah darah, menyaksikan bangsa abadi yang terkikis.

‎Malam di Pulau Emberwind tidak lagi menyisakan kedamaian. Di bawah langit yang dicekam oleh purnama merah darah, tanah subur kerajaan elf kini basah oleh darah bangsanya sendiri.

‎Di tengah-tengah kehancuran berdarah ini, berdirilah Noctis, Sang Iblis Bulan Darah berhadapan langsung dengan Thalindra dan Magus Magnus yang menghadang.

‎"Bocah bernama Ashura dan anak kecil itu. Aku akan membawanya!" ujar Noctis menatap tajam Ashura yang tidak sadarkan diri dan sosok gadis kecil yang tidak lain adalah Indi.

‎"Roh Angin Slyph adalah pelindung kerajaan ini! Keberadaan anak ini lebih berharga daripada nyawaku sendiri! Kau harus melewati mayatku dulu, Aleazea!" ucap Thalindra yang tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya terhadap Noctis.

‎"Aleazea? Kau bisa menyebutku dengan sebutan apapun, sekarang menyingkirlah dari hadapanku!"

‎Noctis bergerak maju kedepan dan Thalindra langsung melepaskan satu tebasan pedang kearahnya.

‎Bau anyir darah dan daging terbakar menyengat di udara. Tebasan pedang Thalindra memotong leher Noctis hanya dalam satu kali tebasan.

‎"Kita tidak bisa lengah sedikitpun!" Kemudian Magus Magnus membakar tubuh Noctis dengan sihirnya untuk memastikan kematiannya.

‎Thalindra mengerti karena lawan yang mereka hadapi ini abadi dan memiliki kekuatan diluar nalar.

‎"Sepertinya Edwin dan Zagred telah dikalahkan..." bisik Noctis, suaranya terdengar disela-sela mereka berdua.

‎Thalindra dan Magus Magnus menoleh kebelakang lalu melihat keatas udara, saat melihat gumpalan darah diantara tumpukan mayat para elf mulai melayang diudara dan membentuk tubuh Noctis.

‎"Monster ini... Bagaimana cara kita membunuhnya?" Thalindra tersenyum kecut dan berniat bergerak, tetapi Magus Magnus menghentikannya.

‎"Tindakan yang bagus, Magus Magnus! Jika tidak Thalindra akan mati ditanganku!" Noctis tersenyum dingin, suaranya bergema, dingin dan menusuk tulang.

‎Dalam sekejap mata, punggung Noctis meledak. Delapan cambuk tulang berdaging mirip tentakel, namun setajam bilah pedang yang terbentuk dari darah melesat maju dengan kecepatan yang melampaui suara.

‎Cambuk-cambuk itu mencabik udara, mengincar titik fatal kedua lawannya.

‎"Mundur, Thalindra!" teriak Magus Magnus.

‎Mantan Raja Sihir Flameheart itu menghentakkan kakinya ke tanah. Magus Magnus memanipulasi mana miliknya menjadi angin puyuh raksasa yang berputar kencang, lalu mengeluarkan sihir api ke dalamnya.

‎Badai angin berapi itu berputar membungkus mereka, menciptakan perisai yang membara dan berputar melelehkan apa saja.

‎Magus Magnus berhasil menghanguskan empat potong tentakel Noctis, kemudian Thalindra menggunakan kesempatan itu untuk memotong empat tentakel darah yang lainnya.

‎Thalindra yang berhasil memotong empat tentakel Noctis dan mendarat tepat di depan sang iblis, memusatkan energi sihir pada bilah pedangnya. Dengan satu putaran tubuhnya, Thalindra mengayunkan pedangnya tegak lurus, mengincar leher Noctis.

‎Namun, Noctis hanya tersenyum sinis, "Kau pikir bisa membunuhku dengan kekuatan seperti ini?"

‎Tubuhnya tiba-tiba mencair menjadi tumpukan darah hitam dan memadat kembali di udara, tepat di atas Thalindra.

‎"Terlalu lambat," desis Noctis.

‎Tangan kanannya berubah menjadi cakar raksasa yang siap meremukkan kepala sang Putri Elf.

‎"Pergerakanmu yang lambat, Noctis!" Suara Magus Magnus menggelegar dari bawah.

‎Di langit-langit malam, awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa akibat manipulasi sihir anginnya.

‎Magus Magnus mengarahkan tangannya ke atas. Angin topan raksasa turun dari langit, mengunci pergerakan Noctis di udara.

‎Di saat yang sama, pusaran angin itu terbakar oleh api merah menyala yang membentuk rupa kepala naga raksasa.

‎"Sudah kuduga tidak akan mudah menghadapi kalian berdua!" Noctis mengamati kondisi disekitarnya, dimana ia melihat Thranduil dan yang lain berhasil menghentikan orang-orang yang ia kendalikan.

‎"Aku akan memastikan kematianmu!" ujar Magus Magnus yang mengendalikan sihirnya.

‎Sihir yang dilepaskan Magus Magnus dipenuhi energi sihir yang besar. Naga api dan angin itu menelan tubuh Noctis seutuhnya, memburunya jatuh berdentum ke tanah hingga menciptakan kawah sedalam lima meter.

‎Thalindra melompat mundur ke samping Magus Magnus, nafasnya terengah-engah.

‎Mereka berdua menatap tajam ke pusat asap dan kobaran api yang membubung tinggi.

‎Dari dalam kawah yang membara, terdengar suara tawa yang berdeguk. Asap perlahan menipis, memperlihatkan Noctis yang berdiri tegak.

‎Setengah tubuhnya memang sempat hangus terbakar, namun sel-sel iblisnya bergejolak liar, memaksa daging baru, kulit, dan pakaiannya beregenerasi utuh dalam sekejap tanpa menyisakan cacat sedikit pun.

‎Mata merah darah Noctis menyala menatap Magus Magnus dan Thalindra diatas sana.

‎"Sihir yang luar biasa... Mari kita lihat seberapa lama stamina kalian bertahan melawan keabadianku."

‎Disaat yang sama Thranduil berhasil mengatasi orang-orang yang dikendalikan Crimson Cursed Seal milik Noctis. Berkat bantuan Eustass Knight dan Leafa Noldor, situasi di alun-alun Pulau Emberwind berhasil diredam.

‎Melihat tindakan yang diambil Thranduil membuat Noctis tersenyum dingin, ia menyadari Thranduil mengotori tangannya untuk membunuh sesama bangsanya sendiri.

‎"Hal paling mengerikan dari membunuh bukanlah hilangnya nyawa orang lain, melainkan saat kau menyadari bahwa hatimu tidak lagi merasakan apa-apa saat melakukannya..." Noctis melayang diudara, suaranya menggema dilangit dan tatapan matanya jatuh kearah Thranduil.

‎"Bukankah begitu, Thranduil?"

‎Lalu momen itu hening untuk sesaat.

‎Noctis menatap pekatnya malam yang buta.

‎Magus Magnus dan Thalindra tidak menurunkan kewaspadaan mereka.

‎Angin malam pun berhembus begitu lembut, menyisir rerumputan yang kini basah oleh genangan darah berwarna merah pekat. Di tengah ketenangan itu, bau karat dan amis darah mendadak menyengat di udara, mengoyak paksa kedamaian yang tersisa.

‎Di balik kabut bau anyir yang mencekik itu, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Fletcher muncul dari balik kegelapan, napasnya memburu parah. Di tangan kanannya, ia menyeret tubuh Raja Eldrin yang nyaris tak berbentuk dan terlihat jubah kebesarannya robek, menyapu tanah yang berlumpur darah.

‎Sementara di lengan kirinya, Zilda terkulai lemas dengan tubuh penuh luka, mengalirkan cairan merah yang terus menetes deras ke tanah. Angin malam yang berembus lembut kini terasa dingin dan menusuk, membawa rintihan tertahan dari dua sosok yang berada di ambang kematian tersebut.

1
Protocetus
kirain llywelyn
Green Nord 1927
💪💪💪💪💪💪
Maung Bandung
👍👍
Green Nord 1927
👍
Green Nord 1927
lanjut
The Cigs
Baru baca chapter pertama udah merinding. Ashura pasti punya kekuatan tersembunyi yang lebih kuat dari Saga atau Ark!
Maung Bandung
Mantap Kang👍
Green Nord 1927
up cak
Republik Orange
Lanjut
Protocetus
Seperti air yang mengalir
Republik Orange
Lanjut Wal
Green Nord 1927
lanjut
Green Nord 1927
👍
Green Nord 1927
Kreen cak👍
Jakarta Stay High
Stay
Haikal Blues
Lanjut💪
Haikal Blues
Lanjut
Samarindans
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Haikal Blues
Paus Terbang/Joyful/
Maung Bandung
okeee💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!