Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Tungku Tempaan
Setelah beberapa waktu berjalan, mereka sampai di paviliun Tetua Xu. Di tengah kolam terdapat sebuah paviliun kecil yang terhubung oleh jembatan kayu.
Tetua Xu sedang duduk di sana sambil menikmati tehnya. Luo Mei memimpin jalan hingga akhirnya mereka bertiga tiba di hadapan gurunya.
Ketiganya menangkupkan kedua tangan. "Murid memberi salam kepada Guru."
Tetua Xu mengangguk pelan. "Bangkitlah."
Mereka bertiga segera berdiri tegak.
Tetua Xu lalu memandang Luo Mei dan Lei Shan sebelum berkata. "Luo Mei, Lei Shan, tinggalkan adik seperguruan kalian di sini. Kalian pergilah mengerjakan urusan yang lainnya."
Keduanya kembali menangkupkan kedua tangan. "Baik, Guru."
Mereka sempat menoleh kepada Huang, lalu berbalik dan pergi meninggalkan paviliun kecil itu.
Setelah keduanya menghilang dari pandangan, Tetua Xu mengangkat tangannya dan menunjuk tempat kosong di depannya.
"Duduklah. Temani aku minum teh."
Huang mengangguk hormat. "Baik, Guru."
Dia segera duduk di depan gurunya. Melihat cangkir Tetua Xu hampir kosong, Huang mengambil teko di atas meja rendah lalu menuangkan teh dengan tenang.
Tetua Xu menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali. Tidak ada percakapan selama beberapa waktu. Setiap kali cangkir Tetua Xu kosong, Huang kembali menuangkannya tanpa diperintah.
Angin sore berhembus pelan di sekitar paviliun, menciptakan riak kecil di permukaan kolam.
Sepuluh menit berlalu, hingga akhirnya Tetua Xu membuka suara. "Apakah kakak seperguruanmu sudah memberitahu bahwa latihanmu akan berbeda?"
Huang mengangguk. "Benar, Guru."
Tetua Xu memandangi permukaan teh di dalam cangkirnya. "Latihanmu akan banyak berhubungan dengan tempaan tubuh yang ekstrem. Tujuannya sederhana. Membuat tubuhmu mampu menahan tekanan dari luar maupun dari dalam. Tekanan spiritual, tekanan fisik, bahkan rasa sakit yang dapat menghancurkan kemauan seseorang."
Huang menjawab tanpa ragu. "Apapun bentuk latihan itu, murid siap menjalaninya."
Tetua Xu mengangguk puas. "Kau tidak bertanya mengapa latihanmu berbeda?"
Huang menggeleng. "Murid tidak berani lancang."
Senyum tipis muncul di wajah Tetua Xu.
Kemudian kesadaran spiritualnya menyapu tubuh Huang. Dan dia melihat dua gelang besi di tangan dan dua gelang besi di kaki muridnya itu.
"Dua gelang di tangan. Masing-masing berbobot dua ratus kilogram. Dua gelang di kaki. Masing-masing berbobot tiga ratus kilogram. Total seribu kilogram. Kau cukup tangguh bisa beradaptasi dengan beban sebesar itu."
Huang tersenyum kecil. "Itu semua berkat Tetua Mo. Murid hanya mengikuti petunjuk beliau."
Tetua Xu terdiam beberapa saat. Dia tahu latihan seperti itu tidak mungkin berhasil jika orang yang menjalaninya tidak memiliki tekad yang kuat. Bahkan ketika masih muda, dirinya hanya mampu memakai gelang berbobot empat ratus kilogram di kedua kaki setiap hari.
Beberapa saat kemudian, Tetua Xu berdiri. "Untuk latihan pertamamu, aku ingin kau bertahan selama satu hari satu malam dalam latihan ketahanan."
Huang ikut berdiri. "Murid mengerti."
Tetua Xu menatapnya. "Jika gagal, anggap saja kita tidak pernah bertemu."
Huang tertegun. "Maksud Guru?"
"Jika gagal, hubungan guru dan murid di antara kita berakhir." Tatapan Tetua Xu tetap tenang. Tidak ada nada bercanda sedikit pun.
Huang segera menangkupkan kedua tangan. "Huang tidak akan mengecewakan Guru."
Tetua Xu mengangguk. "Kalau begitu, ikuti aku."
Huang segera mengikuti di belakang.
Mereka meninggalkan paviliun dan bergerak menuju bagian utara sekte. Perjalanan berlangsung cukup lama. Jalan yang mereka lalui semakin sepi. Bangunan sekte mulai menghilang dari pandangan.
Setelah menempuh jarak sekitar lima kilometer, mereka melewati jalur menurun yang jarang dilalui murid biasa. Hingga akhirnya Huang melihat sebuah goa besar yang tersembunyi di balik tebing batu.
Tetua Xu mengangkat kedua tangannya dan membentuk beberapa segel.
Wush!
Lapisan cahaya transparan yang sebelumnya tidak terlihat langsung muncul sesaat sebelum menghilang. Formasi pelindung.
"Masuk." Tetua Xu melangkah ke dalam.
Huang mengikuti tanpa ragu.
Lorong goa itu panjang dan dingin. Dindingnya dipenuhi garis-garis formasi kuno yang memancarkan cahaya redup. Semakin jauh mereka berjalan, Huang semakin merasakan aura yang menekan. Perasaan itu membuat napasnya sedikit berat. Beberapa saat kemudian mereka tiba di ruang bawah tanah yang luas.
Tatapan Huang langsung tertuju pada sebuah tungku hitam besar berbentuk persegi panjang. Di dalamnya terdapat cairan hijau pekat yang terus mengeluarkan uap tipis. Aura spiritual yang keluar dari cairan itu sangat kuat, berputar-putar seperti kabut beracun di atas permukaannya.
Tetua Xu menunjuk tungku itu. "Itulah tempat latihanmu."
Huang memandangnya dengan serius.
Tetua Xu melanjutkan, "Cairan ini berasal dari berbagai ramuan langkah, yang panasnya jauh melebihi air mendidih. Namun tidak akan membuat kulitmu melepuh. Sebaliknya, ia akan terus merangsang saraf, otot, tulang, dan meridianmu."
Huang mulai memahami.
Tetua Xu berkata dengan datar, "Rasa sakitnya jauh lebih buruk daripada direbus dalam air mendidih."
Sudut mata Huang sedikit berkedut. "Guru... murid akan masuk ke sana?"
"Tentu." Tetua Xu menjawab tanpa perubahan ekspresi. "Kau akan bertahan di sana selama satu hari satu malam. Aku akan kembali menjemputmu besok."
Huang menarik napas panjang. "Baik, Guru."
Tanpa membuang waktu, ia melompat ke dalam tungku.
Begitu tubuhnya menyentuh cairan hijau itu, wajah Huang langsung berubah.
"Ugh...!"
Tubuhnya bergetar keras. Rasa sakit yang luar biasa langsung menyerang seluruh tubuhnya. Bukan panas yang membakar kulit, melainkan rasa nyeri yang muncul dari dalam otot dan tulang. Seolah setiap serat di tubuhnya diremas oleh tangan-tangan tak terlihat.
Huang menggertakkan giginya. Kedua tangannya mengepal kuat di bawah cairan.
Tetua Xu memperhatikannya selama beberapa saat. "Jangan keluar sebelum aku kembali."
Setelah mengatakan itu, sosoknya menghilang dari ruang bawah tanah.
Kini hanya Huang seorang diri.
Beberapa saat pertama masih bisa ia tahan. Namun setelah satu jam berlalu, rasa sakit itu semakin kuat.
"Ini... terlalu berlebihan..."
Keringat membasahi wajahnya, meskipun seluruh tubuhnya terendam cairan panas. Tubuhnya gemetar tanpa henti. Rasa sakit itu seolah merayap ke seluruh meridian. Setiap aliran energi spiritual yang bergerak di tubuhnya justru memperparah penderitaan yang ia rasakan.
Huang mencoba berkultivasi. Namun begitu energi spiritual bergerak, rasa sakitnya meningkat beberapa kali lipat. "Dasar latihan gila..." Ia tertawa pahit. "Guru dan Tetua Mo benar-benar tidak memberi jalan mudah."
Waktu terus berlalu. Enam jam. Sepuluh jam. Dua belas jam.
Wajah Huang mulai pucat. Bibirnya kehilangan warna. Tubuhnya masih berada di dalam cairan hijau tanpa bergerak sedikit pun. Beberapa kali muncul keinginan untuk keluar. Namun setiap kali pikiran itu muncul, Huang teringat wajah ayah dan ibunya.
"Aku belum cukup kuat..." Suara Huang serak, nyaris hanya bisikan. "Aku tidak boleh menyerah sekarang."
Rasa sakit terus menghantam. Tulang-tulangnya terasa nyeri hingga ke sumsum. Otot-ototnya seperti diremas tanpa henti oleh kepalan raksasa. Namun Huang tetap bertahan.
Saat malam berlalu dan fajar tiba, kesadarannya bahkan mulai sedikit kabur akibat kelelahan. Ia menggigit ujung lidahnya agar tetap sadar.
Setelah satu hari satu malam penuh berlalu, langkah kaki akhirnya terdengar dari lorong. Tetua Xu kembali.
Ketika memasuki ruangan, matanya langsung menyipit. Huang masih berada di dalam tungku. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, namun dia belum keluar.
Tetua Xu mengangguk pelan. "Bagus."
Mendengar suara gurunya, Huang membuka mata perlahan. "Guru..."
Tetua Xu mengangkat tangannya. "Keluar."
Huang segera memaksakan dirinya berdiri. Kakinya sedikit goyah ketika melangkah keluar dari tungku. Begitu sampai di lantai batu, tubuhnya hampir jatuh.
Tetua Xu melemparkan sebuah pil. "Telan."
Huang menangkap pil itu dengan tangan gemetar dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Energi hangat segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia segera duduk bersila dan mulai bermeditasi. Khasiat pil itu sangat kuat. Rasa sakit yang sebelumnya memenuhi tubuhnya perlahan berkurang. Energi spiritual yang terkuras juga mulai pulih sedikit demi sedikit.
Tetua Xu berdiri di samping sambil menunggu dengan tenang.
Beberapa jam berlalu.
Saat matahari telah mencapai pertengahan langit, Huang akhirnya membuka mata. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi kondisinya sudah jauh lebih baik. Ia segera bangkit lalu menangkupkan kedua tangan.
"Terima kasih, Guru."
Tetua Xu menatap muridnya beberapa saat. Kepuasan terlihat jelas di matanya. "Kau lulus latihan pertama."
Huang menghela napas lega. Rasa sakit yang baru saja ia alami masih membekas di ingatannya. Namun ia tahu ini baru permulaan.
Tetua Xu berbalik menuju lorong keluar. "Ikuti aku. Kita kembali ke sekte."
"Baik, Guru." Huang segera mengikuti di belakang Tetua Xu. Mereka meninggalkan ruang bawah tanah itu bersama-sama dan berjalan menyusuri lorong panjang menuju permukaan.