Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalimat mematikan
Tak lama kemudian, Zo dan Adira tiba di depan gedung kantor Group Angkasa Abadi. Adira hanya diam di dalam mobil, seolah enggan untuk turun. Zo yang melihat wanita itu tidak bergerak, kembali melontarkan ancaman dingin.
"Turunlah dengan baik sebelum aku yang memaksamu untuk turun."
"Apa yang ingin kita lakukan di sini?" Tanya Adira sepertinya memang tidak mau turun dari mobil.
"Kau bilang benci disentuh, tapi kau seolah sengaja memancingku untuk melakukannya? Atau kau memang suka disentuh?" ucap Zo dengan nada yang terdengar seperti ejekan namun wajahnya tetap datar dan dingin.
Adira memegang erat tasnya, kemudian menatap Zo dengan penuh kebencian, lalu segera membuka pintu dan turun dari mobil.
Ia berjalan mengikuti punggung lebar Zo yang melangkah tegak. Sepanjang lorong, semua mata tertuju pada mereka berdua. Bisik-bisik mulai terdengar riuh.
"Siapa wanita itu? Siapa dia?" tanya beberapa karyawan berbisik. Namun, tak sedikit juga yang bergumam bahwa wajah Adira terasa tidak asing. Adira terus berjalan di tengah kepungan tatapan itu hingga mereka tiba di depan sebuah ruangan besar.
Ceklek!
Pintu terbuka dan Adira tersentak kaget melihat para petinggi perusahaan sudah berkumpul di dalam sana. Apa pria ini sudah gila? Ini bukannya ruang rapat? Kenapa dia membawaku ke mari? batin Adira panik.
Adira berniat untuk berbalik dan pergi, namun langkahnya segera dicegat oleh tangan kokoh Zo. "Masuk, atau aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu malu seumur hidup," ancam Zo berbisik penuh ancaman.
Ancaman itu membuat Adira kehilangan keberanian untuk melarikan diri. Ia terpaksa melangkah masuk ke dalam ruang rapat, memicu ekspresi penuh tanda tanya dari semua orang penting yang ada di dalam ruangan tersebut.
Adira benar-benar terpaku, tidak tahu harus berkata apa. Apa lagi saat ini ia sudah berdiri di tengah ruangan mewah di hadapan para petinggi, pemegang saham, dan dewan direksi perusahaan. Suasana mendadak tegang ketika Zo mulai berbicara di depan semua orang penting itu.
"Hari ini, saya akan memperkenalkan kepada Anda semua bahwa wanita inilah yang akan mengambil keputusan perusahaan ke depannya," ucap Zo dengan lantang.
Semua para petinggi saling melempar pandang.
"Siapa wanita ini?" tanya salah satu petinggi mewakili rasa penasaran yang lain.
"Dia adalah istri dari sepupu saya, Arlan Erlangga," jawab Zo tenang.
Sontak, seluruh ruangan menjadi riuh. "Apa?!" Beberapa orang bahkan terperanjat kaget dari kursi mereka.
"Tunggu dulu, kami sepertinya mengenal wanita ini," gumam salah satu direktur sambil menyipitkan mata menatap Adira.
Zo hanya diam dan membiarkan bisik-bisik itu memenuhi ruangan. "Bukankah dia putri dari keluarga Sutra Santosa?" sahut yang lain dengan nada tak percaya.
"Iya, benar!"
"Bagaimana bisa?"
"Tapi, bukankah dia pembunuh satu-satunya Nona di keluarga Erlangga? bagaimana bisa Tuan Arlan menikah dengannya? apa Anda sedang bercanda Tuan Zo?"
Mendengar ucapan petinggi itu, Adira kembali meremas tasnya seolah mencari kekuatan di sana saat semua mata memandangnya sebagai pembunuh sahabat baiknya sendiri.
"Kalian benar," jawab Zo tak ada sedikitpun gentar di wajahnya, sekaligus membenarkan ucapan petinggi itu.
Sontak, Adira menatap Zo dengan mata mulai memanas. Zo juga menatap mata Adira, namun seolah-olah pria itu tak peduli dengan perasaan Adira.
Para petinggi dan dewan pemegang saham langsung heboh saat mengetahui identitas Adira yang sebenarnya, apalagi setelah mengetahui ia telah menikah dengan Arlan. Suasana rapat yang tadinya formal seketika berubah menjadi sangat gaduh.
Adira hanya bisa diam saat para mata memandang rendah padanya.
"Saya tidak setuju! Bagaimana bisa seorang mantan narapidana, pembunuh keluarga Erlangga, tiba-tiba menikah dan mengambil alih keputusan perusahaan? Mau jadi apa perusahaan ini nanti?" teriak salah satu pemegang saham dengan wajah merah padam.
Suasana ruangan semakin memanas. "Semua orang juga tahu siapa Nona Adira. Membiarkannya masuk ke dunia bisnis adalah sebuah kesalahan besar. Saya benar-benar tidak setuju!" lanjutnya dengan nada menghina, sambil menunjuk ke arah Adira yang hanya bisa mematung.
"Bukan itu saja, Nona Adira juga tidak punya pengalaman dalam dunia bisnis. Apalagi pendidikannya saja tidak selesai karena kita semua tahu—seluruh dunia juga tahu—bahwa Nona Adira dijebloskan ke penjara saat ia masih duduk di bangku sekolah!" seru salah satu petinggi dengan nada semakin merendahkan.
"Bagaimana bisa dia memegang tanggung jawab sebesar ini? Anda sungguh tidak masuk akal, Tuan Zo!" lanjutnya, memicu gumaman setuju dari peserta rapat lainnya.
"Iya, saya juga tidak setuju! Tidak bisa semudah itu. Kalau begini, perusahaan bisa bangkrut!" seru pemegang saham lainnya, memicu riuh rendah penolakan di seluruh ruangan.
"Benar itu, Tuan Zo! Anda tidak bisa mengambil keputusan sesuka hati. Kami tahu Anda yang berkuasa di sini, tapi apakah ini semua sudah Anda bicarakan dengan Tuan Arlan Erlangga? Jangan sampai keputusan yang Anda buat merugikan perusahaan dan kami para pemegang saham!"
Berbagai pertanyaan tajam dilemparkan bertubi-tubi ke arah Zo. Namun, pria itu tetap terlihat sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di hadapannya. Adira bisa melihat dengan jelas betapa tenangnya Zo menghadapi serangan itu.
Setelah rentetan pertanyaan dan keraguan yang memekakkan telinga mereda, Zo hanya menjawab dengan satu kalimat singkat.
"Jika kalian tidak setuju, silakan kalian mundur."
Seketika ruangan itu menjadi hening. Adira langsung menoleh ke arah Zo dengan pandangan tidak percaya. Ia tidak menyangka Zo akan mengambil risiko sebesar itu demi menempatkannya posisi tersebut
"Apa yang sedang Anda lakukan, Tuan Zo? Saya tidak menginginkan posisi ini! Apa yang Anda lakukan bisa membuat Tuan Arlan marah besar. Anda sedang mengancam posisi perusahaan!" bisik Adira lirih dengan nada panik di samping telinga pria itu.
Namun, Zo lagi-lagi terlihat sama sekali tidak peduli. Ia tetap berwajah tenang sambil menatap dingin ke arah para petinggi lainnya. Suasana menjadi hening seketika selama beberapa menit, sampai akhirnya salah satu dari mereka kembali menyahut dengan lantang.
"Kalau begitu, saya akan mundur dari Group Angkasa Abadi!" serunya tegas.
"Saya juga! Saya akan mundur!" timpal petinggi lainnya.
"Saya juga!"
Sudah tiga orang petinggi yang menyatakan ingin mundur. Yang lainnya terlihat dilema dan saling melirik satu sama lain, tampak ragu dengan keputusan ekstrem tersebut.
"Siapa lagi yang mau mundur? Mundur saja," ucap Zo datar, membuat mereka semua terbelalak kaget.
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Zo tidak akan menahan mereka. "Apa Tuan Arlan tahu apa yang Anda lakukan ini, Tuan Zo? Anda sedang memporak-porandakan kan perusahaannya!" Ujar salah satu dari mereka dengan suara mengingatkan.
Bukannya menjawab, Zo malah kembali bertanya dengan nada menantang, "Katakan, siapa lagi yang mau mundur dari Group Angkasa Abadi?"
"Tuan Kenzo, apakah Anda sudah memikirkan ini dengan matang? Bagaimana Anda bisa seberani ini?" tanya mereka, tak percaya dengan kenekatan pria di depan mereka itu. Bahkan, mereka sampai menyebut kepanjangan nama Zo 'Kenzo'
"Saya berani karena Anda semua tidak punya pilihan! Mau mundur? Silakan," tantang Zo dengan nada ngeri.
"Tapi ingat kesepakatan awal, kalian harus membayar denda triliun rupiah karena memutus kerja sama secara sepihak sebelum waktunya tiba. Dan perlu Anda ingat juga, Group Angkasa Abadi memegang hampir 60% saham, jauh lebih besar dibanding gabungan saham kalian semua. Apa kalian yakin mau menguras seluruh harta hanya untuk membayar denda kemunduran kalian?"
Seketika, suasana di ruangan itu membeku. Para petinggi yang tadinya berteriak lantang kini terdiam dengan wajah pucat. Ternyata, Zo sudah menyiapkan strategi matang untuk menjerat mereka agar tidak bisa mundur.
Jika mereka nekat pergi, mereka harus membayar denda triliunan yang pasti akan membuat mereka jatuh bangkrut seketika. Mereka terjebak, tetap di perusahaan berarti harus menerima Adira, namun pergi berarti kehilangan segalanya.
Akhirnya, rapat yang dimenangkan secara mutlak oleh Zo, hanya dengan beberapa kalimat saja. Para petinggi perusahaan kini hanya bisa pasrah tak berdaya di hadapan pria itu. Mereka tak ubahnya seperti kelinci kecil yang diperdayakan oleh kelihaian strategi Zo.
Tanpa mereka sadari selama ini, kontrak yang mereka tandatangani dengan persetujuan 50-50 ternyata sangat merugikan pihak mereka sendiri. Zo diam-diam mengambil keuntungan dari kerja sama tersebut, sengaja mengikat mereka semua dengan aturan yang ketat supaya tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bergerak menentangnya.
Adira sendiri sampai tidak menyangka kalau sepupu suaminya itu bisa selicik ini. Ia benar-benar kagum sekaligus ngeri melihat bagaimana Zo mampu mengalahkan para petinggi penanam saham di perusahaan keluarga Erlangga dengan begitu mudah.
Akhirnya rapat pun di bubarkan dengan perasaan para petinggi yang siap-siap dirugikan kalau Adira tersalah mengambil keputusan.
Benar-benar pebisnis dengan sepak terjang yang tak tanggung-tanggung, batin Adira dalam hati menatap punggung Zo yang sedang berjalan keruangan direktur.
Adira menyadari bahwa di balik ketenangan pria itu, terdapat kedinginan yang mematikan. Zo bukan hanya sekadar eksekutif; ia adalah pemangsa di dunia bisnis yang siap menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya.
Seandainya dia bukan sepupu Tuan Arlan, aku pasti sudah berpikir kalau dia adalah Tuan Arlan. Melihat dari bentuk tubuh, dan gerak-geriknya, serta kedinginannya, dia sama persis dengan Tuan Arlan. Perbedaan di antara mereka, hanya kecacatan saja. Batin Adira yang terus memperhatikan punggung lebar Zo.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang