Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Atlas Pingsan
"Bukan berarti aku menolak, Tuan Benjamin, aku hanya tidak ingin terlalu kelelahan. Perjalanannya akan memakan waktu lebih dari belasan jam, belum lagi aku harus langsung bertemu dengan para petinggi perusahaan di sana. Memberikan kekuatan kepadamu beberapa kali lebih banyak dari biasanya mungkin akan membuatku pingsan berhari-hari. Maksudku, menyembuhkanmu secara normal saja sudah membuatku kelelahan hampir dua hari. Aku harap kau mengerti, Tuan Benjamin."
Benjamin menyeringai lalu berkata, "Aku akan memberimu minuman energi yang biasa kukonsumsi. Aku jamin besok energimu akan kembali. Jangan khawatir, Atlas. Cepat lakukan, pilotnya sudah menunggumu."
Di bawah tekanan Benjamin, Atlas tidak punya pilihan selain menuruti. Ia segera meletakkan tangannya di dahi Benjamin, memfokuskan pikirannya untuk memberikan kekuatan maksimal ke tubuh Benjamin.
Cahaya merah dan biru keluar dari sela-sela jari Atlas dan masuk ke tubuh Benjamin. Kulit pucatnya berubah merah seolah-olah ia menerima banyak transfusi darah dalam waktu singkat.
Mata Atlas terbuka lebar, kakinya terasa lemas, dan ia jatuh ke lantai. Napasnya tersengal-sengal, penglihatannya mulai kabur.
"Tuan Benjamin, aku sudah selesai," katanya dengan susah payah.
"Bagus sekali, Atlas. Aku benar-benar merasa segar kembali. Sudah lama aku tidak merasa seberenergi ini. Rencananya berjalan dengan sempurna! Aku sangat senang!" seru Benjamin.
Atlas berusaha berdiri dan menggelengkan kepala untuk menghilangkan pandangannya yang kabur.
"Ambil uangmu lalu pergi." Benjamin menunjuk tumpukan uang di atas meja. Atlas merasa kepalanya berputar, tetapi ia tetap fokus mengumpulkan satu juta dolar itu.
Dengan tas yang sudah penuh, ia membungkukkan tubuhnya secara acak, tidak mampu menemukan posisi Benjamin dalam kondisinya sekarang.
"Sial, aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ini tidak bagus. Aku tidak menyangka konsekuensi dari transfer kekuatan ini akan separah ini," gumam Atlas kepada dirinya sendiri sambil terus berjalan.
Namun, pria itu tiba-tiba jatuh tepat di depan pintu kamar Benjamin. Ia pingsan.
Benjamin tertawa terbahak-bahak saat melihat Atlas jatuh tidak sadarkan diri. Ia lalu membuka pintu kamarnya dan memanggil Lukas.
"Lihat, Lukas, kau benar. Dia memang belum bisa menggunakan kekuatan itu dengan baik. Dia kewalahan hanya karena melakukan transfer kekuatan seperti ini. Aku tidak sabar melihat efeknya ketika dia berhasil menyembuhkanku nanti. Kurasa aku bahkan tidak perlu bersusah payah membunuhnya di masa depan!"
Benjamin lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Lukas, asisten pribadinya, terlihat bingung karena Benjamin tidak memberikan instruksi mengenai tubuh Atlas yang tergeletak di lantai.
"Tuan, bagaimana dengan Tuan Atlas?" tanya Lukas.
"Bawa dia langsung ke mobil, Lukas. Apa aku benar-benar harus memberitahumu apa yang harus dilakukan? Kau tahu dia seharusnya pergi, bukan?" Benjamin menatap asisten pribadinya sambil mengangkat alis.
Lukas segera mengangguk dan buru-buru mengangkat tubuh Atlas ke dalam pelukannya.
~ ~ ~
Kesadaran Atlas kembali saat dirinya dan pengawalnya sudah berada di dalam hotel. Cahaya dari lampu kamar membuat mata Atlas silau. Ia memaksakan dirinya untuk duduk dan langsung membelalak melihat kamar hotel mewah bintang lima itu.
“Selamat pagi, Tuan Atlas.”
“Pagi? Jam berapa sekarang?”
“Jam empat pagi, Tuan Atlas. Kita tiba di sini enam jam yang lalu, dan Tuan Benjamin memerintahkanku memberikan minuman ini saat kau bangun.” Pengawal itu menyerahkan satu kaleng minuman kepada Atlas. “Minuman ini akan membantu memulihkan energimu, Tuan Atlas.”
“Bagus, terima kasih. Ngomong-ngomong, jam berapa kita pergi untuk kunjungan hari ini? Dan setelah kau menjawab pertanyaanku, bisakah kau pergi? Maksudku, apakah kita berbagi kamar yang sama?”
Pria berjas hitam itu membungkuk dan berkata, “Pertemuan dijadwalkan pukul 1 siang, Tuan Atlas, dan aku memiliki kamar sendiri. Aku berada di sini untuk memantau kesadaranmu, Tuan Atlas. Selamat pagi, kau bisa menekan nomor dua di telepon untuk memanggilku.”
Atlas mengangkat alisnya dan memperhatikan pria berambut cokelat itu keluar dari kamarnya.
“Ah, minuman ini, apa benar bisa memulihkan energiku? Kenapa aku malah curiga pada Benjamin?” Atlas kemudian tersentak dan melihat ke arah tasnya yang tergeletak di atas meja. “Uangku! Apa masih ada?”
Tangannya meraih tas hitam itu dan segera memeriksanya. Atlas merasa lega saat melihat uang dan buku panduan itu masih aman di dalam tas.
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Atlas langsung menoleh dan berteriak, “Siapa?”
“Aku pelayan kamar, Tuan.”
Atlas menghela napas kesal dan dengan malas bangkit dari tempat tidurnya. Saat membuka pintu, ia melihat pria kurus bermata biru itu sedang diperiksa oleh pengawal yang menemaninya.
“Hei, tidak apa-apa, biarkan saja dia.” Atlas meminta pengawal itu berhenti memeriksa pria tersebut, lalu bertanya, “Apa yang kau inginkan, pelayan kamar?”
“Aku hanya ingin mengantarkan pesanan ini, Tuan.” Ia menyerahkan sebuah kotak hitam kepada Atlas.
Namun, pengawal itu dengan cepat mengambil kotak tersebut dan berkata, “Biarkan aku memeriksanya terlebih dahulu, Tuan Atlas.”
“Hadiah? Aku tidak memesan apa pun. Siapa yang memberimu hadiah ini?”
“Aku hanya diperintahkan, Tuan. Aku sendiri tidak tahu dari mana hadiah ini berasal. Resepsionis kami menerimanya dari seorang pria. Aku rasa resepsionis kami juga tidak mengetahui apapun, Tuan. Kami sudah memeriksanya dari luar dan tidak ada tanda benda berbahaya di dalam kotak ini, Tuan.”
Atlas bertanya-tanya dalam pikirannya, “Siapa pria yang ingin memberiku hadiah? Apa mungkin Stevan?”
“Dia benar, Tuan. Hadiah ini hanya berisi pakaian, tidak ada yang berbahaya. Apa yang ingin kau lakukan? Apakah kau ingin menerimanya? Atau harus dibuang?”
“Berikan padaku.” Atlas mengambil kotak hitam itu dan meninggalkan kedua pria di depannya.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah kemeja hitam. Kemeja tersebut berasal dari merek terkenal, dan harganya sangat fantastis karena struk pembeliannya masih berada di dalam kotak. Jelas, ini bukan hadiah biasa, dan orang di baliknya pasti orang kaya.
Kecurigaan Atlas terhadap Stevan semakin kuat.
“Bajingan itu, aku yakin dia yang—”
Kalimat Atlas terputus ketika sebuah amplop merah jatuh dari kemeja yang ia angkat.
Dengan cepat, Atlas mengambil amplop itu dan tampak terkejut saat aromanya membangkitkan kenangan tentang Bianca.
Aroma lavender ini milik Bianca. Ya, Atlas sangat mengingat bahwa mantan pacarnya adalah penggemar aroma parfum ini.
Sebuah surat yang ditulis dengan tinta emas terlihat di dalam amplop. Atlas menyipitkan matanya dan mulai menanamkan setiap kalimat yang ditulis Bianca ke dalam pikirannya.
“Hai, Atlas, bagaimana kabarmu? Aku... aku tidak tahu harus mengatakan apa... tapi aku ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang telah kulakukan padamu. Aku benar-benar bodoh, kau bisa menghina atau mengatakan apa pun untuk melampiaskan amarahmu. Tapi tolong, setelah itu, terimalah permintaan maafku. Jika kau bersedia, tolong hubungi aku. Nomorku masih sama, aku mencoba menghubungimu, tetapi nomormu sudah tidak aktif lagi.”
Atlas meremas surat itu dan menggenggamnya beberapa saat. Ia menggunakan kemampuannya untuk menyelidiki, dan dalam pikirannya, ia melihat bahwa orang yang mengirim ini hanyalah pegawai toko tempat kemeja itu dipesan. Tidak ada tanda-tanda Bianca berada di toko tersebut. Hal terakhir yang Atlas lihat sebelum kekuatannya menghilang adalah pegawai toko itu menerima panggilan masuk.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗