Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.
Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.
Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Memori
"Di semesta ini, tidak ada pertemuan yang terjadi secara kebetulan. Kadang, takdir bermain dengan cara yang begitu rumit dan indah; memisahkan untuk mempertemukan kembali, menyembunyikan untuk kemudian menampakkan dengan cara yang paling mengharukan. Dan ketika kebenaran terkuak, dunia pun seakan berhenti berputar, menyadarkan kita bahwa cinta sejati tidak akan pernah mengenal kata 'hilang', ia hanya tertidur sejenak dalam dekapan waktu."
...****************...
Acara itu berlalu dengan suasana yang berbeda. Ada sebuah perasaan aneh yang menyelinap di antara kebahagiaan keluarga Abraham. Pertemuan dengan Tuan Rian dan Nyonya Shella meninggalkan kesan yang mendalam, bukan hanya karena status mereka sebagai investor penting, melainkan karena tatapan mata mereka yang begitu dalam, penuh tanya, dan seolah menyimpan sebuah cerita panjang yang belum selesai.
Kemiripan Arhan dengan mendiang Kevin, anak bungsu mereka, menjadi topik yang sering kali melayang-layang di pikiran Hariz dan Rosella. Namun, jauh di sudut hati Rosella, ada perasaan lain yang lebih misterius. Setiap kali ia berada di dekat Nyonya Shella, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah kerinduan yang tak beralasan, seolah-olah ia sedang menatap wajah seseorang yang sangat dikenalnya dalam mimpi yang jauh.
Kunjungan mereka menjadi semakin sering, bukan lagi sekadar urusan bisnis, melainkan didorong oleh sebuah kerinduan dan rasa ingin tahu yang tak terjelaskan.
Mereka merasa begitu dekat dengan Arhan, namun entah mengapa, perasaan itu juga hadir setiap kali melihat senyum wanita itu, ada sesuatu di hati mereka yang bergetar, sebuah rasa akrab yang muncul entah dari mana.
Sore itu, langit tampak begitu luas dan bersih, dihiasi oleh semburat warna jingga dan ungu yang membaur indah saat matahari mulai condong ke barat. Angin sore berhembus pelan namun cukup sejuk, menerbangkan kelopak bunga di taman dan membawa aroma tanah yang basah baru saja diguyur hujan ringan sebelumnya.
Nyonya Shella datang berkunjung sendirian. Ia membawa banyak oleh-oleh dan pakaian indah untuk Arhan. Rosella menyambutnya dengan ramah, lalu mempersilakan duduk di taman belakang yang biasa Ia dan suaminya gunakan untuk refreshing.
"Rumah kalian ini selalu terasa damai, Rosella," ucap Shella sambil menatap hamparan bunga yang tertata rapi.
"Beruntung sekali Ibu menyukainya. Kami memang mendesain seperti ini untuk menciptakan suasana yang tenang di sini. Apalagi saat sore-sore seperti ini, langit sangat sejuk untuk di pandang." jawab Rosella lembut sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir keramik yang cantik.
Shella menatap Rosella lekat-lekat saat wanita itu sedang sibuk menuang minuman. Gerakannya yang lembut, cara ia menundukkan kepala sedikit saat berbicara, dan bentuk lehernya yang jenjang... semua itu terasa begitu familier.
"Rosella..." panggil Shella pelan.
"Ya, Bu?" Rosella menoleh dengan senyum manis.
"Kau tahu... setiap kali aku melihatmu bergerak atau tertawa, aku sering kali teringat pada masa lalu. Ada sesuatu yang sangat familiar dalam dirimu," kata Shella hati-hati, matanya mencari reaksi di wajah Rosella.
Rosella terkekeh pelan. "Benarkah, Bu? Mungkin semua wanita baik hati memiliki kesamaan ya."
"Mungkin..." Shella tersenyum tipis, namun pikirannya bekerja keras. Ia ingin bertanya banyak hal, namun takut menyakiti atau terlihat terlalu memaksa. "Bagaimana dengan keluargamu, Rosella? Aku tidak pernah melihat mereka. Maaf jika terlalu banyak bertanya." Nyonya Shella bertanya dengan sungkan.
Pertanyaan itu membuat Rosella terdiam sejenak. Ia menatap uap teh yang mengepul di hadapannya.
"Aku tumbuh di panti asuhan, Bu. Sejak kecil aku tidak tahu siapa orang tuaku, aku pun tidak ingat banyak hal. Aku hanya memiliki sedikit gambaran yang samar-samar... seperti potongan-potongan mimpi yang tidak utuh," jawab Rosella jujur.
"Gambaran seperti apa?" tanya Shella cepat, suaranya sedikit lebih tinggi karena antusiasme yang tertahan.
"Seperti keramaian... banyak orang berjalan cepat... dan suara panggilan... itu saja. Selebihnya gelap," ucap Rosella pelan.
Wajah Shella berubah pucat. Keramaian... banyak orang... Itu adalah deskripsi yang begitu pas dengan kejadian di bandara puluhan tahun lalu. Namun ia masih menahan diri, belum mau menyimpulkan apa-apa.
Malam harinya, setelah kembali ke kediaman mereka yang megah dan sunyi, suasana terasa hening. Di luar, angin malam bertiup kencang, menerpa jendela kaca tebal dengan suara desiran yang menenangkan namun juga memicu kerinduan.
Rian dan Shella duduk bersandar di sofa mewah ruang keluarga. Cahaya lampu yang diredupkan menciptakan bayang-bayang lembut di dinding. Di meja, tersusun foto-foto masa lalu mereka, termasuk foto Kevin dan foto putri kecil mereka yang hilang, Aurellia.
"Shella..." panggil Rian pelan, suaranya berat dan penuh tanya. Matanya menatap istrinya dengan serius. "Apa kau juga merasakannya? Ada sesuatu yang aneh.. atau lebih tepatnya, ada sesuatu yang sangat akrab pada diri Rosella."
Shella menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah lampu yang tidak menyala. "Aku tidak bisa tidur memikirkannya, Rian. Setiap kali aku memejamkan mata, yang terbayang adalah wajah Rosella. Wajahnya sedikit familiar."
"Dan Arhan..." sambung Rian, suaranya bergetar. "Wajah anak itu... dia bukan sekadar mirip Kevin. Dia persis seperti fotokopi sempurna dari Kevin saat bayi. Bahkan tahi lalat kecil di pipi pun ada di tempat yang sama. Itu tidak mungkin hanya kebetulan, Shella. Genetik tidak pernah berbohong."
Shella menunduk, memainkan ujung baju yang dikenakannya. "Tadi sore... aku melihat sesuatu, Rian. Di belakang telinga kirinya... ada titik cokelat kecil. Sangat samar, tapi aku melihatnya jelas saat angin menerbangkan rambutnya."
Rian tersentak, tubuhnya menegak. "Kau yakin? Di belakang telinga kiri? Seperti..."
"Seperti Aurellia..." potong Shella cepat, air matanya mulai menetes. "Persis seperti tanda yang ada pada putri kita, Rian. Tanda yang sangat unik yang hanya dimiliki oleh garis keturunan kita."
Suasana menjadi hening seketika, hanya terdengar suara jam dinding antik yang berdetak perlahan, seakan menghitung mundur waktu menuju sebuah kebenaran.
"Kau ingat tidak, tahun berapa kita kehilangan dia?" tanya Rian lagi, mencoba menyusun angka-angka di kepalanya.
"Dua puluh delapan tahun yang lalu... di bandara, saat kita buru-buru hendak terbang ke Eropa..." jawab Shella lirih, suaranya pecah mengingat masa kelam itu.
"Dan usia Rosella sekarang... jika kita hitung... dia tepat berusia dua puluh delapan tahun, sayang. Dan dia bilang dia tidak ingat orang tuanya, ditemukan dalam keadaan sendirian di keramaian..." tambahnya, dengan berbicara pelan namun tegas, menyambungkan setiap potongan informasi yang ia dapat.
"Jadi.." Shella menatap suaminya dengan mata terbelalak, napasnya tertahan.
"Kemungkinannya sangat besar, Sayangku..." Rian menggenggam tangan istrinya yang dingin. "Arhan mirip Kevin karena mereka satu darah. Rosella mirip Aurelia karena dia memang darah daging kita. Tuhan mempertemukan mereka dengan kita, lewat bisnis... Tuhan mengembalikan putri kita yang hilang itu ke dalam pelukan kita, tapi dalam wujud yang sudah dewasa, sudah bahagia, dan bahkan sudah memberi kita cucu."
"Ya Allah..." isak Shella tertahan di tenggorokan, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Jadi selama ini... anak yang kita cari ke penjuru dunia... ternyata sudah ada di depan mata kita? Sudah menjadi bagian dari hidup kita? Rosella... dia Aurellia kita."
"Nanti... kita harus memastikannya, Shella," ucap Rian tegas namun lembut. "Kita harus bertanya tentang kalung itu. Kalung bunga mawar yang kita pakaikan untuknya. Jika dia memilikinya... maka tidak ada keraguan lagi. Itu adalah dia. Putri kita yang hilang telah pulang."
Malam itu, mereka berdua duduk berpelukan lama, membiarkan angin malam bercerita tentang takdir yang ajaib, tentang benang merah yang tak pernah putus meski terputus oleh waktu.