Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelabuhan Berdarah
Bab 7 – Pelabuhan Berdarah
“Pelabuhan.”
Satu kata itu keluar dari mulut Kael, namun dampaknya bagaikan halilintar bagi Alya. Wajah gadis itu langsung pucat pasi, kehilangan seluruh warna darahnya.
“Kenapa harus ke sana? Untuk apa mereka membawa ibuku ke tempat sepi seperti itu?!” tanyanya panik, suaranya bergetar hebat.
Kael memutus sambungan telepon dan memasukkan ponselnya kembali ke saku celana dengan gerakan tenang namun penuh tekanan.
“Untuk ditukar.”
“Ditukar? Ditukar dengan apa?” Alya semakin bingung dan cemas.
Kael menatap lurus ke depan kaca depan mobil, sorot matanya tajam membelah kabut.
“Denganmu.”
Tubuh Alya membeku total seolah disambar petir.
“Apa?”
“Mereka tahu kau ada bersamaku. Mereka tahu kau adalah satu-satunya kelemahan… atau lebih tepatnya, mereka pikir kau adalah orang penting bagiku.”
“Aku tidak penting untukmu!” bantah Alya cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada meyakinkan Kael.
Kael menoleh perlahan. Wajahnya diterangi cahaya lampu jalan yang kadang terang kadang redup, membuat ekspresinya terlihat misterius.
“Itu adalah kesalahan terbesar mereka.”
Jantung Alya berdegup kacau tak karuan.
“Kael, tolong jangan main-main sekarang. Situasinya serius!”
“Aku tidak pernah main-main… apalagi soal sesuatu yang sudah kucap sebagai milikku.”
Wajah Alya memerah padam. Bukan hanya karena marah, tapi karena kalimat itu terdengar begitu dalam dan membuat jantungnya berdebar aneh.
“Aku bukan milik siapa pun! Aku milik diriku sendiri!”
Kael tidak menjawab lagi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sopir.
“Percepat. Kita sampai dalam lima menit.”
“Siap, Tuan!”
Mobil hitam itu melaju semakin kencang, membelah angin malam menuju lokasi yang dituju.
Pelabuhan tua itu terlihat menyeramkan dan sunyi senyap. Kabut tipis menyelimuti area tersebut, membuat jarak pandang menjadi terbatas. Kontainer-kontainer baja besar berdiri tegak berjajar rapat seperti dinding-dinding raksasa yang siap menelan siapa saja. Lampu-lampu kuning redup berkedip-kedip di beberapa tiang listrik, menambah suasana mencekam.
Angin laut bertiup kencang, suaranya menderu membawa hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum.
Mobil berhenti tepat di tengah area terbuka.
Kael turun lebih dulu dengan langkah tegap dan wibawa. Ia langsung berjalan ke sisi lain dan membuka pintu untuk Alya.
“Kau tetap di dalam mobil. Kunci pintu. Jangan keluar sampai aku bilang aman.”
“Aku mau ikut! Aku mau lihat keadaan ibuku!” Alya langsung menolak, berusaha melangkah turun.
“Tidak. Bahaya.”
“Aku tidak peduli! Itu ibuku!”
Kael mendekat cepat, mencondongkan tubuhnya ke dalam mobil hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Aura dominannya terasa sangat kuat.
“Kalau kau berani turun tanpa izinku, aku sumpah akan ikat tangan kakimu di kursi dan bawa kamu pulang seperti barang. Jangan mencoba aku, Alya.”
Alya menatapnya kesal, matanya memancarkan kebencian campur rasa takut.
“Kamu benar-benar sinting.”
“Dan kau masih bisa bernapas sampai sekarang karena aku sinting.”
Tanpa memberi kesempatan Alya untuk membalas, Kael menutup pintu mobil dengan keras.
Dari balik kaca mobil yang sedikit pecah tadi, Alya menyaksikan dengan jantung berdebar. Ia melihat Kael berjalan tenang diikuti oleh belasan bodyguard berjas hitam yang siap siaga menuju tengah area pelabuhan.
Dari balik bayang-bayang kontainer besar, seorang pria bertubuh sangat kekar dan tinggi muncul. Wajahnya penuh dengan bekas luka perkelahian yang mengerikan, terlihat seperti penjahat kelas kakap.
Dan tepat di samping pria itu…
Ibu Alya duduk diikat kuat pada sebuah kursi besi. Mulutnya disumpal, matanya terlihat ketakutan namun tetap berusaha tegar.
“IBUUUU!!!”
Alya menjerit histeris. Ia memukul-mukul kaca mobil dengan tangan kecilnya, berusaha menarik perhatian.
Ibunya yang mendengar suara itu langsung menoleh. Saat melihat Alya di dalam mobil, wajahnya berubah panik luar biasa. Ia menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat seolah berkata ‘Jangan keluar! Jangan kesini!’
Air mata Alya jatuh membasahi pipi, bercampur dengan rasa marah dan putus asa.
Pria berwajah buruk rupa itu tertawa keras, suaranya parau dan menakutkan.
“Kael Lorenzo! Sang Raja bawah tanah datang sendiri secara langsung… cuma demi seorang gadis kecil? Kau memang benar-benar tersihir, ya?”
Kael berdiri diam mematung di tempatnya. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku celana, posturnya santai namun siap membunuh kapan saja.
“Lepaskan wanita itu. Sekarang.” suaranya dingin, datar, tanpa emosi.
“Wah, galak sekali. Serahkan gadisnya dulu, tukar dengan nenek ini. Deal?” ejek pria itu sambil menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang kotor.
“Tidak.” jawab Kael singkat padat.
Pria itu langsung berubah wajah. Dengan kasar, ia menarik pistol dari pinggangnya dan langsung menodongkan laras senjata itu tepat ke pelipis ibu Alya.
Di dalam mobil, Alya menjerit kencang. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya lemas.
“KAEL! TOLONG AKU! JANGAN BIARKAN MEREKA MENYAKITI IBUKU!”
Kael sama sekali tidak bergerak sedikit pun. Ia tidak terlihat panik, justru tatapannya menjadi semakin gelap, semakin dingin, dan semakin mematikan.
“Kau menodongkan senjata ke orang tua yang tidak bersalah… hanya untuk negosiasi?” tanya Kael pelan, namun suaranya cukup keras terdengar di tengah hembusan angin.
“Ini bisnis, Kael. Kau tahu aturannya,” jawab pria itu sombong.
“Tidak,” ucap Kael perlahan. “Ini bukan bisnis. Ini namanya… bunuh diri.”
BRAAATTT!!!
Seketika itu juga, suara tembakan menderu keras datang dari arah atas kontainer!
DOR!
Satu tembakan tepat mengenai bahu pria bertubuh besar itu. Ia menjerit kesakitan dan pistolnya terlempar jauh.
“SERBU! KURUNG MEREKA SEMUA!” teriak Kael.
Dari segala arah, anak buah Kael menyerbu keluar. Pelabuhan tua itu seketika berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya. Suara tembakan bersahutan, teriakan, dan langkah kaki memenuhi udara.
Alya menangis ketakutan di dalam mobil. Matanya terus mencari sosok ibunya. Ia melihat ibunya masih terikat di kursi, tertinggal di tengah kekacauan itu, sangat berbahaya.
Rasa panik dan cinta seorang anak mengalahkan rasa takutnya.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa mempedulikan teriakan para pengawal, Alya membuka kunci pintu dan berlari keluar secepat kilat.
“NONA! JANGAN KELUAR! BERBAHAYA!” teriak salah satu bodyguard.
Tapi Alya sudah tak peduli. Ia menundukkan kepala, berlari zig-zag menghindari arah tembakan dan orang-orang yang berlarian.
“IBUUUU!!!”
Tiba-tiba, saat ia hampir sampai, sebuah tangan kasar mencengkeram lengannya kuat-kuat dari balik kontainer.
“HEI! DAPAT GADISNYA!”
“Aaaa!!! LEPASKAN!!!” Alya menjerit sekuat tenaga, meronta sekuat tenaga namun tak berkutik.
Pria bertopeng itu menyeretnya mundur, dan sebuah pisau belati dingin langsung ditempelkan tepat di leher gadis itu, sedikit saja bergerak bisa melukai pembuluh darah.
“DIAM ATAU KAU MATI!” ancam pria itu.
Kael yang sedang memimpin pengepungan tiba-tiba menoleh. Saat melihat pisau di leher Alya, perubahan pada wajahnya terjadi seketika.
Wajah tampan itu berubah menjadi sangat gelap dan mengerikan. Aura pembunuh yang keluar dari tubuhnya begitu pekat hingga membuat udara di sekitar terasa membeku.
“Lepaskan… dia…” suara Kael rendah, namun penuh dengan ancaman maut.
Pria itu tertawa panik, jelas ia sudah ketakutan setengah mati.
“MUNDUR KALIAN SEMUA! MUNDUR! KALAU TIDAK GADIS INI SAYA IRIS LEHERNYA!”
Pisau itu semakin menekan kulit leher Alya hingga terasa perih dan sedikit mengeluarkan darah.
Alya menangis, matanya mencari Kael.
“Kael… tolong aku…”
Kael tidak menjawab. Ia justru mulai berjalan mendekat perlahan. Satu langkah… dua langkah…
Setiap langkah yang diambilnya terasa berat dan mengintimidasi.
“BERHENTI! JANGAN DEKAT! AKU BILANG BERHENTI!” teriak penculik itu histeris, tangannya gemetar hebat memegang pisau.
Kael tetap berjalan. Ia tidak peduli dengan pisau itu. Matanya hanya terpaku tajam pada wajah ketakutan Alya.
“Pejamkan matamu.”
Suara Kael terdengar tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Hah?” Alya bingung dan menangis.
“Pejamkan matamu… sekarang.”
Karena rasa percaya yang entah dari mana datangnya, Alya menurut. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, air mata masih mengalir di pipinya.
DOR!!!
Satu tembakan keras meledak.
Tubuh pria di belakang Alya langsung lemas dan jatuh tersungkur ke lantai beton, tewas seketika.
Alya menjerit kaget dan membuka mata. Kakinya lemas dan ia hampir roboh, tapi tubuhnya langsung ditangkap oleh sepasang tangan kokoh yang hangat.
“Kau gila! Kau gila!” tangis Alya sambil memukul-mukul dada Kael berulang kali, meluapkan semua emosinya. “Kau bisa saja menembakku! Kenapa kau berani menembak begitu dekat?!”
“Tapi pelurunya tidak kena kau, kan?” jawab Kael santai sambil memeluk bahu gadis itu erat-erat.
“Kalau meleset sedikit saja?!”
“Aku tidak pernah meleset.”
Nada bicaranya yang sombong dan percaya diri itu membuat Alya makin kesal, tapi di saat yang sama ia merasa sangat lega dan aman. Rasanya baru sadar betapa berharganya nyawanya saat ini.
Kael memeluk kepala Alya dan menekannya ke dadanya, menenangkannya.
“Sudah selesai, Alya. Tenang. Kau aman sekarang.”
Tiba-tiba terdengar suara tangisan lain.
“Alya! Sayangku!”
Ibu Alya berlari menghampiri mereka setelah tali pengikatnya berhasil dilepaskan oleh Riko.
“Ibuuu!”
Alya langsung melepaskan pelukan Kael dan berlari memeluk ibunya seerat mungkin. Mereka berdua menangis tersedu-sedu, bersyukur bisa bertemu lagi dalam keadaan selamat.
Kael berdiri tidak jauh dari sana, menyandarkan punggungnya di kontainer sambil memegang pistolnya. Ia menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Untuk pertama kalinya malam itu, sorot mata tajamnya tampak sedikit melembut melihat pemandangan haru itu.
Ibu Alya melepaskan pelukan, lalu menatap Kael dengan wajah bercampur takut dan bingung.
“Dia… dia siapa sebenarnya, Nak? Kenapa dia bisa… sekuat itu?” tanya Bu Rina gemetar.
Alya membuka mulut hendak menjawab, tapi Kael sudah berjalan mendekat dan menjawab lebih dulu dengan nada tenang namun tegas.
“Saya orang yang akan menjaga putri Anda mulai sekarang, Bu. Saya yang akan memastikan tidak ada yang menyakiti mereka berdua lagi.”
Alya langsung menoleh tajam ke arah Kael.
“Hei! Aku tidak setuju dengan pernyataan itu! Jangan ngomong seenaknya!”
Kael menatapnya datar.
“Itu bukan pertanyaan untuk kau setuju atau tidak. Itu keputusan.”
Wajah Alya memerah menahan kesal. Pria ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi!
Namun sebelum Alya sempat memprotes lebih jauh, suara mesin mobil yang menderu kencang terdengar dari arah gerbang masuk pelabuhan.
Sebuah sedan merah mewah berhenti mendadak tepat di dekat mereka.
Pintu terbuka. Seorang wanita dengan gaun malam berwarna merah darah turun dengan anggun namun wajahnya terlihat sangat marah. Wanita itu sangat cantik, memancarkan aura glamour dan kekayaan.
Ia berjalan cepat menghampiri Kael.
Tanpa aba-aba…
PLAK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi kiri Kael Lorenzo. Suaranya begitu nyaring hingga membuat suasana yang tadinya ricuh menjadi hening seketika.
Semua orang terbelalak kaget, termasuk Alya yang mematung di tempat.
Wanita itu menatap Kael dengan mata yang memancarkan amarah dan kekecewaan yang luar biasa.
“Kau menghilang begitu saja selama berbulan-bulan… kau menghindariku… dan ternyata selama ini kau di sini… demi perempuan rendahan ini?!” tunjuknya tepat ke arah Alya dengan pandangan merendahkan.