NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16.Pesan Salsa.

Suasana di ruang IGD rumah sakit terasa hening dan mencekam. Lampu neon berkedip-kedip pelan, menambah kesan dingin dan steril. Rian berdiri di dekat jendela kaca ruang perawatan, matanya tak lepas dari sosok nenek Susi yang masih terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Wajah tua itu tampak damai namun menyimpan banyak kesedihan.

Di sampingnya, Bobby—rekan kerjanya dan juga sahabat dekatnya—sedang membacakan berkas laporan yang baru saja ia dapatkan dari warga sekitar.

"Jadi begini, Rian," ucap Bobby sambil membalik halaman kertas. "Identitas korban sudah jelas. Namanya Nenek Susi, umur 70 tahun. Janda, pemilik sekaligus penghuni tetap Tailor Jaya itu. Suaminya sudah lama meninggal, dan dia tinggal sendirian di lantai atas toko."

Rian mengangguk pelan, tangannya terlipat di depan dada. "Lanjutkan."

"Menurut keterangan tetangga sebelah, sore tadi sekitar jam lima, mereka mendengar suara keributan. Ternyata itu cucu kandung Nenek Susi yang bernama Andi. Dia datang dan bertengkar hebat dengan neneknya. Suaranya keras sekali, terdengar teriakan minta uang dan banting-banting barang."

Rian mengerutkan kening. "Andi? Anak siapa?"

"Anak dari anak laki-laki nenek yang sudah meninggal. Katanya si Andi ini punya masalah, suka judi dan hutang di mana-mana. Dia sering datang ke sana cuma buat minta uang. Warga bilang, pertengkaran kayak gini sudah sering terjadi, jadi warga pikir cuma biasa aja. Tapi yang anehnya, meski sering berantem, warga tidak pernah melihat Andi memukul fisik neneknya secara langsung. Cuma kasar saja bicaranya."

"Terus apa kesimpulanmu?" tanya Rian datar.

"Kalau dilihat dari kondisi tempat kejadian perkara, kemungkinan besar Nenek Susi memang berniat mengakhiri hidup karena stres dan kesepian, atau mungkin putus asa diperlakukan begitu oleh cucunya sendiri. Tapi..." Bobby terdiam sejenak. "Tapi ada yang aneh. Arang yang dipakai itu jenis arang khusus yang biasanya dipakai untuk bakar sate atau panggangan, bukan arang biasa. Dan posisi panggulnya ditaruh tepat di depan kursi goyang tempat yang biasanya nenek duduk. Seolah memang disengaja supaya asapnya langsung terhirup."

Rian diam mematung. Ingatannya kembali pada foto yang diambil Salsa. Foto nenek bersama seorang pria muda. Wajah pria di foto itu... sangat mirip dengan deskripsi Andi yang diceritakan Bobby.

"Jadi pria di foto itu Andi..." gumam Rian pelan. "Berarti dugaannya Salsa benar. Ini bukan sekadar kesepian, tapi ada masalah keluarga yang rumit di sini."

"Tadi kau bilang apa, Ian? Salsa?" tanya Bobby penasaran.

Belum sempat Rian menjawab, tiba-tiba ponsel di saku celana Rian bergetar. Layar menyala menampilkan notifikasi pesan masuk.

Ding!

Dari: Salsa

"Kak Rian, besok jam berapa kita ke Catatan Sipil ya? Salsa sudah siapin baju bersih kok. Jangan lupa istirahat ya Kak..."

Mata Bobby yang melihat isi pesan itu seketika membelalak lebar. Ia langsung menyenggol lengan Rian dengan siku, wajahnya berubah jadi penuh godaan.

"Woy! Woyy! Salsa? Salsa siapa?!!" seru Bobby tidak percaya. "Jam segini masih nge-chat! 'Kak Rian, jam berapa kita ke Catatan Sipil'? Hah?! Maksudnya apa ini?! Kalian mau ngurus apa? Bikin KTP baru?!"

Rian segera mematikan layar HP-nya dan memasukkannya kembali ke saku dengan wajah datar namun sedikit memerah. "Bukan urusanmu, By. Fokus kerja."

"Ah elah! Masih mau ngeles!" Bobby tertawa renyah. "Gila ya! Rian Wijaya, sang idola seluruh polwan di kantor, jagoan kepolisian, tiba-tiba mau ke Catatan Sipil sama cewek bernama Salsa?! Jangan bilang kalian mau..."

Rian menghela napas panjang, merasa risih dan tidak betah berada di dekat sahabatnya yang mulutnya tak bisa berhenti itu. Ia berjalan meninggalkan ruang observasi menuju koridor luar rumah sakit agar tidak mengganggu pasien lain.

"Hei! Jangan lari dong! Jelasin dulu!" Bobby terus mengekor dari belakang.

Akhirnya di depan pintu keluar, Rian berhenti dan menatap sahabatnya lekat-lekat.

"Ya sudah, ya sudah! Iya! Besok aku mau menikah," cetus Rian blak-blakan.

Bobby ternganga. Mulutnya terbuka lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menepuk bahu Rian berkali-kali.

"Apaaan?! Serius lo?! Nikah?! Sama siapa?! Kok gak ada undangan?! Gak ada pesta?! Kapan lo punya pacar?!" rentet pertanyaan Bobby meluncur cepat.

"Sama gadis pilihan orang tua dan almarhum kakekku. Namanya Salsa. Itu saja," jawab Rian singkat, mencoba terlihat santai meski jantungnya berdegup aneh memikirkan gadis itu. "Jodoh, dari wasiat kakekku sebelum meninggal setahun yang lalu. Aku cuma menuruti permintaan mereka."

"Gila... lo si 'Jomblo Fisabilillah', lo yang paling anti sama yang namanya komitmen, tiba-tiba mau nikah sama gadis pilihan orang tua? Desa banget gaya lo, Ian!" Bobby masih syok. "Terus gimana polwan-polwan yang naksir lo? Mereka bisa pada nangis semua tau-tau lo jadi milik orang!"

"Urusi saja urusanmu sendiri. Aku pulang dulu. Nanti aku lapor atasan soal kasus ini," pamit Rian lalu berjalan cepat menuju mobilnya, meninggalkan Bobby yang masih geleng-geleng kepala tak percaya.

Sementara itu, di kediaman Rian.

Rumah yang besar dan modern itu terlihat sunyi. Hanya ada cahaya lampu tidur yang menyala redup di salah satu kamar di lantai dua. Itu kamar tamu yang kini dihuni oleh Salsa.

Gadis itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk guling erat-erat. Matanya sesekali melirik ke arah ponsel yang ditaruh di meja sebelah ranjang, menunggu balasan pesan yang belum kunjung datang.

"Kak Rian belum bales juga ya..." gumam Salsa pelan, suaranya terdengar sedikit kecewa namun lebih banyak rasa khawatir. "Pasti Kakak masih sibuk banget di sana. Kasihan..."

Salsa mengusap layar ponselnya, melihat kembali foto yang ia ambil tadi malam. Foto nenek Susi dan pria muda yang diduga Andi.

"Aku harap kasus itu dapat diselesaikan. "

Perlahan rasa kantuk mulai menyerang. Kelelahan setelah seharian penuh perjalanan, emosi, dan kejadian aneh malam itu membuat matanya terasa berat.

Salsa memeluk bantal, menaruh HP di samping bantal.

Tidurnya pulas, sangat pulas. Ia bahkan tidak sadar kapan tepatnya Rian pulang.

Pukul dua pagi.

Suara pintu garasi terbuka pelan. Sebuah mobil hitam masuk perlahan. Rian turun dengan wajah lelah namun tetap terlihat gagah. Seragamnya sedikit berantakan, ada noda debu dan sedikit kotoran di sepatunya.

Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah perlahan agar tidak berisik. Rumah itu terasa berbeda malam ini. Tidak dingin dan sepi seperti biasanya. Ada aroma wangi yang lembut, aroma khas seorang wanita yang membuat suasana rumah terasa lebih hangat.

Rian berjalan menuju dapur, minum segelas air, lalu matanya otomatis melirik ke arah tangga. Ia berjalan pelan menuju lantai atas, berhenti tepat di depan pintu kamar yang terbuka sedikit.

Dari celah pintu, ia melihat sosok kecil tidur meringkuk di bawah selimut. Rambut panjang Salsa tersebar di atas bantal, wajahnya terlihat sangat polos dan damai saat tidur.

Rian tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang ia tunjukkan pada orang lain.

"Dasar gadis aneh..." gumamnya pelan. "Bawa-bawa hantu kucing, tapi tidurnya pulas sekali."

Ia melangkah masuk perlahan, mendekati sisi ranjang. Matanya menangkap ponsel yang masih menyala redup di atas meja, menampilkan pesan yang belum sempat dibalasnya tadi.

Hati Rian terasa terenyuh. Gadis ini benar-benar menunggunya.

Dengan hati-hati, Rian mengambil selimut yang sedikit turun, lalu menaikinya kembali menutupi bahu Salsa agar tidak kedinginan.

"Istirahatlah... Besok kita mulai hidup baru," bisik Rian lembut di telinga gadis itu, lalu ia perlahan keluar dari kamar dan menutup pintu pelan-pelan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, rumah kosong itu terasa seperti rumah yang sesungguhnya.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!