Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Bau antiseptik yang tajam menyambut Arumi saat ia berlari menyusuri koridor RS Medika. Suara pantofelnya yang beradu dengan lantai porselen menciptakan irama kepanikan yang memekakkan telinga.
Seluruh aura seorang janda tangguh yang ia bangun selama berbulan-bulan luruh seketika. Di lorong rumah sakit ini, ia kembali menjadi Arumi yang rapuh, seorang ibu yang dunianya baru saja dihantam badai.
"Di mana anakku? Kirana... Kirana di mana?!" suara Arumi bergetar hebat saat tiba di meja administrasi IGD.
"Tenang, Bu. Pasien atas nama Kirana sedang ditangani di ruang observasi. Luka-lukanya sudah dibersihkan," jawab perawat dengan nada tenang yang justru membuat Arumi ingin berteriak.
Bagaimana bisa tenang? Bayangan senyum miring Reza di depan ruko tadi terus menghantui pikirannya seperti kaset rusak. Senyum itu adalah pengakuan bisu bahwa kecelakaan ini bukan kebetulan.
Arumi mendorong pintu ruang observasi dengan tangan gemetar. Di sana, di atas tempat tidur putih yang tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya, Kirana terbaring. Kaki kanannya dibalut perban, dan ada luka gores di keningnya yang sudah tertutup plester.
"Kirana..." bisik Arumi. Suaranya pecah.
Ia jatuh berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan kecil Kirana yang terasa dingin. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah membasahi sprei rumah sakit.
Bahu Arumi berguncang hebat. Inilah titik terlemahnya. Ia bisa menghadapi boikot logistik, ia bisa menghadapi fitnah bisnis, tapi melihat darah di kening anaknya adalah kehancuran yang tak tertahankan.
"Maafkan Ibu, Nak... Maafkan Ibu karena terlalu sibuk berperang sampai lupa menjagamu," isaknya.
Kirana melenguh pelan, matanya yang bulat perlahan terbuka. "Ibu... jangan nangis. Kirana cuma jatuh tadi... ada mobil hitam yang ngebut, terus Kirana kaget."
Mendengar kata mobil hitam, jemari Arumi mencengkeram pinggiran tempat tidur hingga buku jarinya memutih. Kebencian pada Reza kini mengkristal menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin di balik tangisnya.
~~
Satu jam berlalu. Arumi baru saja selesai mengurus administrasi ketika ia berdiri di depan mesin kopi otomatis di sudut koridor, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. Tangannya masih gemetar saat mencoba memasukkan koin.
Ting.
Koin itu terjatuh dan menggelinding ke bawah bangku panjang.
Arumi menghela napas panjang, hampir menyerah pada rasa lelahnya, sampai sebuah tangan dengan kemeja biru laut yang lengannya digulung rapi mengambil koin tersebut.
"Ini milik Anda?"
Arumi mendongak. Seorang pria berdiri di depannya. Wajahnya tidak asing, namun Arumi terlalu lelah untuk mengingat. Pria itu memiliki sorot mata yang tenang dan garis rahang yang tegas namun tidak mengancam.
"Terima kasih," ucap Arumi singkat, mengambil koin itu tanpa minat untuk berbincang.
"Anda terlihat seperti baru saja melewati medan perang," ujar pria itu pelan. Ia tidak pergi, justru berdiri di samping Arumi sambil memasukkan koin ke mesin kopi dan memesan dua gelas Americano hitam. "Anak kecil yang di dalam tadi... putrimu?"
Arumi menegang. "Kau melihat kami?"
"Saya yang membawa Kirana ke sini," jawab pria itu tenang, menyerahkan satu gelas kopi panas kepada Arumi. "Nama saya Bram. Saya kebetulan lewat di depan sekolahnya saat kejadian itu. Mobil itu... memang terlihat sengaja memacu kecepatannya saat melihat Kirana menyeberang."
Arumi menerima kopi itu, hawa panasnya sedikit memberi kehangatan pada jemarinya yang beku. "Anda menyelamatkannya?"
Bram mengangguk tipis. "Saya tidak sempat menangkap plat nomornya, tapi saya memastikan Kirana segera sampai di sini. Dia anak yang kuat, dia tidak menangis sedikit pun di mobil saya. Dia hanya terus memanggil nama Ibu."
Mendengar itu, pertahanan Arumi kembali runtuh. Ia menyesap kopi pahit itu untuk menyembunyikan getar di bibirnya. "Terima kasih, Pak Bram. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu."
"Jangan panggil Pak, itu membuat saya merasa sedang di kantor," Bram tersenyum kecil, sebuah senyum yang tulus dan menenangkan. "Dan kau tidak perlu membalas apa pun. Melihatmu sudah di sini, saya tahu Kirana sudah berada di tangan yang tepat."
Bram menatap Arumi lekat-lekat. Ia mengenali wanita ini. Siapa yang tidak mengenal Arumi sekarang? Wajahnya mulai menghiasi kolom gaya hidup sebagai 'The Rising Phoenix' di industri tekstil.
Namun, Bram melihat hal yang berbeda. Di balik kemeja kerja yang elegan itu, ada seorang wanita yang sedang memikul beban seluruh dunia di bahunya.
Ada kekaguman yang tersembunyi di balik tatapan Bram, sesuatu yang ia simpan rapat di balik sikap profesionalnya.
Ia sudah lama memperhatikan Arumi dari jauh, sebagai salah satu pemasok bahan organik yang kini digunakan oleh A.R Design. Namun, ini adalah pertama kalinya ia berdiri sedekat ini.
"Ibu..." suara Kirana memanggil dari dalam ruangan.
Arumi segera berbalik, namun ia sempat menoleh lagi ke arah Bram. "Saya harus kembali ke dalam."
"Silakan... Arumi," ucap Bram. Ia sengaja menyebut namanya tanpa embel-embel, memberikan kesan kedekatan yang halus. "Jika Kau butuh bantuan, apa pun itu, kau tahu di mana menemukanku. Kantor Green Fibers hanya tiga blok dari rukomu."
Arumi hanya mengangguk sopan dan bergegas masuk. Ia tidak menyadari bahwa Bram tetap berdiri di koridor itu selama beberapa menit, menatap pintu ruang observasi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Di dalam ruangan, Kirana sudah duduk bersandar. "Ibu, tadi Om yang jemput Kirana baik banget. Dia kasih Kirana cokelat di mobil."
Arumi mengusap rambut Kirana, mencoba tersenyum meski hatinya terasa seperti diremas. "Iya, Nak. Nanti kita berterima kasih lagi sama Om Bram, ya."
Malam itu, Arumi tidak pulang ke rumah. Ia tidur di kursi sempit di samping tempat tidur Kirana. Dalam kegelapan rumah sakit, ia merenung. Perang dengan Reza telah mengambil segalanya, kedamaiannya, waktunya, dan sekarang hampir saja mengambil nyawa anaknya.
Ia teringat kata-kata Madam Ling - "Ini adalah deklarasi perang terbuka."
Arumi mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang gelap. Ia tidak akan melaporkan Reza ke polisi, bukan karena takut, tapi karena ia tahu Reza punya ribuan cara untuk menghapus jejak. Ia akan menggunakan cara yang lebih menyakitkan.
Ia akan bangkit, bukan lagi sebagai ibu yang malang, tapi sebagai ibu yang akan memastikan masa depan anaknya tidak akan pernah tersentuh oleh tangan kotor siapa pun.
Keesokan paginya, sinar matahari menembus jendela kamar rumah sakit. Kirana sudah terlihat lebih ceria, bahkan sudah bisa bercanda dengan perawat.
Saat Arumi sedang merapikan barang-barang karena Kirana diperbolehkan pulang, seorang perawat masuk membawa buket bunga matahari yang besar dan sebuah keranjang buah premium.
"Untuk Ibu Arumi," ucap perawat itu.
Arumi mengernyit. "Dari siapa?"
Ia mengambil kartu kecil yang terselip di antara bunga matahari yang cerah.
"***Bunga matahari selalu menghadap cahaya, tidak peduli seberapa gelap malam sebelumnya. Semoga Kirana cepat sembuh. ~B***."
Arumi tertegun sejenak. Tanpa sadar, sebuah senyum tipis, kali ini bukan senyum dingin, tapi senyum tulus yang hangat muncul di bibirnya. Ada sesuatu yang menenangkan dari perhatian sederhana itu.
"Siapa yang kasih bunga, Bu? Bagus banget!" seru Kirana semangat.
"Dari Om yang kemarin, Sayang," jawab Arumi pelan.
Saat mereka keluar dari lobi rumah sakit menuju mobil jemputan, Arumi melihat mobil sedan biru laut yang familiar terparkir di dekat pintu keluar. Bram berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya di kap mobil sambil membaca tablet. Begitu melihat Arumi dan Kirana, ia segera melambaikan tangan.
Bram berjalan mendekat, tidak berlebihan, hanya cukup untuk menunjukkan kehadirannya. "Sudah boleh pulang?"
"Iya, dokternya bilang Kirana cukup rawat jalan," Arumi menjawab, kali ini lebih terbuka. "Bunganya... terima kasih banyak. Kirana sangat menyukainya."
"Sama-sama. Saya hanya ingin memastikan pasien kecil saya ini tersenyum saat pulang," Bram membungkuk sedikit untuk mensejajarkan wajahnya dengan Kirana. "Hai jagoan, jangan lari-lari dulu ya, simpan tenaganya untuk main nanti."
Kirana tertawa kecil dan mengangguk. "Makasih Om Bram!"
Bram kembali menatap Arumi. Ada keheningan yang nyaman di antara mereka selama beberapa detik.
"Arumi, saya tahu kamu sedang menghadapi banyak hal. Tapi ingat, kamu tidak sendirian. Kadang, meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tapi tanda bahwa kau cukup kuat untuk mengakui bahwa kau seorang manusia."
Arumi menatap mata Bram, mencari jejak kepalsuan atau motif tersembunyi yang biasa ia temukan pada pria-pria di masa lalunya. Tapi ia tidak menemukan apa-apa selain ketulusan yang tenang.
"Terima kasih, Bram. Saya akan mengingat itu," ucap Arumi tulus.
Saat mobil jemputan Arumi mulai melaju, ia melihat dari kaca spion Bram masih berdiri di sana, menatap keberangkatan mereka. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arumi merasa ada sebuah perlindungan yang tidak menuntut apa-apa darinya.
Namun, dunia di luar sana tidak berhenti hanya karena Arumi sedang tertimpa musibah. Di grup WhatsApp Sosialita Elit yang dihuni oleh Dinda, Reni, dan Mbak Sari, kabar tentang kecelakaan Kirana sudah menyebar seperti api di atas bensin.
Reni - "*Eh, dengar nggak? Anaknya si janda itu kecelakaan. Kualat kali ya, ibunya terlalu sombong sejak menang kontrak Nusantara Galeria*."
Dinda - "*Duh, kasihan ya. Tapi ya itu, kalau kita naik terlalu cepat dengan cara yang nggak bener, jatuhnya memang bakal sakit. Mas Reza sampai stres lho mikirin citra perusahaan gara-gara diserang Arumi terus*."
Mbak Sari - "*Memang dasar pembawa sial. Dari dulu sudah aku bilang, Arumi itu cuma jago akting biar dikasihani*."
~~
Sesampainya di ruko A.R Design, Madam Ling dan Mbak Lastri sudah menunggu di depan pintu. Mereka tampak sangat cemas.
"Arumi! Bagaimana Kirana?" Madam Ling langsung menghampiri.
"Dia baik-baik saja, Madam. Hanya butuh istirahat," Arumi turun dari mobil dengan langkah yang lebih stabil. "Mbak Lastri, tolong siapkan kamar di lantai atas untuk Kirana. Aku tidak akan membiarkannya lepas dari pengawasanku sedetik pun."
Arumi masuk ke workshop-nya. Bau kain sutra dan benang katun menyambutnya. Ia meletakkan tasnya di atas meja jati yang sama tempat ia menandatangani kontrak Nusantara Galeria semalam.
Ia menoleh ke arah jendela, menatap jalanan di depan rukonya. Ia tahu Reza sedang mengawasinya dari suatu tempat. Ia tahu ini baru permulaan.
"Madam," panggil Arumi tanpa menoleh.
"Ya, Arumi?"
"Percepat produksi batch pertama untuk Nusantara Galeria. Aku ingin koleksi ini diluncurkan tiga hari lebih awal dari jadwal. Dan hubungi tim media, aku ingin mengadakan konferensi pers kecil di panti asuhan tempat kita menyumbangkan sebagian keuntungan."
Madam Ling mengernyit. "Kamu yakin? Kamu baru saja dari rumah sakit."
Arumi berbalik. Matanya tidak lagi basah. Air mata yang tumpah di rumah sakit semalam telah menguap, meninggalkan api yang murni dan panas.
"Aku sangat yakin. Reza ingin aku lumpuh karena rasa takut. Dia ingin aku bersembunyi di pojok ruangan meratapi nasib anakku," Arumi tersenyum, sebuah senyum yang kali ini terasa lebih matang, bukan lagi sekadar dingin, tapi penuh kemenangan yang terencana. "Aku akan menunjukkan padanya, bahwa setiap kali dia mencoba mematahkan sayapku, aku justru akan terbang lebih tinggi sampai dia tidak bisa lagi melihat bayanganku."
Di sudut ruangannya, di dalam vas bunga yang baru saja ia bawa dari mobil, bunga matahari dari Bram bersinar terang, seolah-olah menjadi saksi bisu dari janji baru sang janda tangguh.
Arumi bukan lagi janda yang bisa diinjak. Ia adalah seorang ibu yang telah menemukan alasan terbesarnya untuk tidak pernah kalah.
...----------------...
**To Be Continue** ....
enak saja mau minta gabung gabung..ngaca Buuu
tulang selangkang...itu diantara paha
beda ya thor..