Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Kimi menggeleng tak percaya, tapi rasa keponya sudah kelewat batas. Ia mengintip lewat jendela kaca yang sedikit berembun, ingin memastikan sekali lagi.
Samar-samar terlihat Bu Salma duduk di atas meja kerja, sementara kepala Juli... berada di antara kedua kakinya. Terdengar suara "sluurrp... sluurrph..." yang bikin otak kimi auto-nge-freeze.
Dia refleks terduduk sambil mencengkeram rambut.
Jadi itu memang Juli? Beneran Juli? Dia... sama Bu
Salma?! batinnya kalut.
Kimi jadi teringat saat Juli terus melotot ke bawah waktu Bu Salma ngobrol dengan Pak Mahmud dan pak Guntur. Jadi yang Juli lihat waktu itu benar-benar Bu Salma?
Kimi buru-buru berdiri, menelan ludah, dan menjauh dari ruangan itu sebelum otaknya makin kotor. Begitu sampai di area klinik, ia celingukan mencari Ruby dan Anela. Tapi nihil.
Jangan-jangan Kimi kebanyakan ngintip orang mesum sampai kehilangan jejak mereka.
Kimi terus berjalan sampai mendekati hunian staf. Baru mau belok ke lapangan, tiba-tiba muncul sosok hitam dengan kepulan asap.
Kimi langsung terdiam. Belum sempat berpikir, muncul satu sosok lagi dari belakang rumah. Mata Kimi makin melotot. Saat itulah ia tahu harus segera bertindak heroik.
"kYAAAA!!!...."
Kimi langsung kabur secepat kilat. Yang bikin makin ngeri, dua sosok itu ikut mengejar.
"Neng kimi! "
Suara mereka bahkan memanggil namanya. Kimi sontak ingat kata-kata Agus tadi, tentang makhluk yang suka memanggil nama. Tapi ini jelas manusia, bukan hantu.
"Aku bukan kimi! Aku Gunawan!!" jeritnya panik.
"Neng Kimi! Ini saya!" teriak salah satu sosok.
Tapi Kimi yang sudah setengah gila ketakutan hanya lari makin kencang. SAYA siapa? Dasar penjahat?!
"TOLONG! RAMPOK!!"
Jeritannya menggema memenuhi seluruh area pelatihan. Ruby yang sedang duduk santai bersama Anela di teras asrama cowok langsung berdiri.
"Astaga. Tuh bocah bisa gak sih sehari aja gak heboh," gerutunya sambil berlari menyusul.
Anela yang ikut berdiri tak sempat mencegah, Lagi- lagi ia ditinggal gara-gara Kimi. Ia tahu Ruby tipe yang sangat peduli dengan temannya, tapi... ya, sudah lah.
Ia menghela nafas, lalu kembali duduk, memilih memperhatikan dari jauh.
Sementara itu
"KYAAAAA!"
Jeritan Kimi makin nyaring.
"Kim! Berhenti dulu!"
Begitu mendengar suara Ruby, Kimi refleks menoleh dan ngerem mendadak. Tubuhnya oleng dan-pluk! Jatuh terduduk di tanah.
Ruby datang dengan napas ngos-ngosan, Dua sosok hitam di belakang akhirnya ikut berhenti. Ternyata Pak Budiman dan Alim, satpam yang Juga megap-megap.
"Neng Kimi, kenapa malah lari?" tanya Pak Budiman, masih sesak napas.
Kimi melongo. "Loh, Pak Budiman? Kok Bapak bisa di sini?"
"Neng Kimi tadi jerit, terus kabur. Ya kita kejar, kirain kenapa," jelas Alim polos.
Dari arah lain, peserta lain berdatangan. Semua ngos-ngosan.
"Lo kenapa sih, Kim? Bikin panik aja," omel Janu.
"Lo liat penampakan ya?" tanya Agus penasaran.
Kimi menggeleng. "Áku liat dua orang mencurigakan di belakang rumah staf. Hitam, ada asap, tapi bukan hantu."
Pak Budiman dan Alim saling pandang lelah. "Itu kami, neng. Lagi ngerokok," jawab Pak Budiman parau.
"Oh..." Kimi mendadak kehilangan kata-kata.
Baru ia menoleh ke belakang, muncul Juli dan Bu Salma yang berjalan santai, rapi, dan sopan seolah tak terjadi apa-apa.
Kimi cuma bisa menatap mereka dengan tatapan:
aku-tau-yang-kalian-lakukan.
Malam itu, kimi akhirnya belajar satu hal: Netralnya seseorang di tempat ini cuma punya dua arti. Pertama, karena dia beneran bijak. Kedua.. karena ternyata seleranya sama seperti Ruby.
...***...
Keesokan harinya, hampir semua orang tampak seperti zombie di kelas. Setelah acara absurd semalam, mereka bukannya tidur, malah bergadang sampai dini hari membahas apa pun yang sempat mereka lihat dan dengar.
Efeknya, tim penakut tidak berani tidur sendirian. Mereka ramai-ramai mengungsi ke kamar peserta lain, seperti ritual pengungsian masal akibat ketakutan spiritual.
Kimi melirik sisi kanan-kirinya. Febi dan Desi tampak lesu, agak pucat, dan mata mereka mirip panda. Keduanya mengaku mimpi buruk, lalu cuma tidur sekitar tiga jam.
Kimi sampai geleng-geleng. Ia sendiri ketiduran di ruang santai, diiringi cerita horor yang lebih cocok disebut stand-up mistis. kalau mereka bubar tanpa membangunkannya, mungkin kimi sampai pagi masih di sana.
Di depan kelas, Bu Salma menjelaskan materi dengan suara tenang, kadang melempar pertanyaan absurd seperti biasa.. Tapi fokus kimi bukan di situ.
Kepalanya justru dipenuhi kenangan semalam. Tepatnya, kenangan yang tidak seharusnya diingat. Sesekali matanya terpaku ke arah Bu Salma, lalu turun ke area... pinggangnya.
Apa yang Bu Salma rasakan waktu Juli..
"Stop. Berhenti. Jangan diterusin, Kimi. " batinnya menegur diri sendiri.
Tapi otaknya bandel.
Kira -kira Ruby mau gak ya kalau-
"ASTAGA, KIMI!" ia menepuk pipinya sendiri, tapi pelan.
Sial. Gara-gara semalam, otaknya berubah jadi sinetron dewasa yang disensor setengah.
"Kenapa kamu, kimi?" suara Bu Salma tiba-tiba terdengar dekat.
Kimi langsung gelagapan seperti ikan kehabisan oksigen.
"Ah-itu, saya cuma kepikiran kejadian tadi malam, Bu. Gak ada maksud apa-apa, serius."
Alis Bu Salma menekuk. "Tadi malam?" suaranya pelan, tapi nadanya bikin jantung Kimi nyangkut.
Kimi buru-buru menelan ludah. "Yang waktu saya dikejar Pak Budiman sama Pak Alim, Bu. Saya masih agak trauma."
"Oh.." Bu Salma menghela napas, wajahnya sedikit lega. "Ya. wajar. Tadi malam gelap sekali. Siapa pun bisa salah sangka."
"Betul, Bu. Hehe." Kimi nyengir kaku.
Setelah itu Bu Salma kembali ke depan kelas, tapi Kimi malah makin penasaran, Bu Salma itu cantik, cerdas, misterius, apa dia single? Atau janda? pikirnya sambil pura-pura fokus ke materi.
Begitu kelas berakhir, Anela langsung keluar. Sementara empat orang lainnya masih di kelas dengan kepala rebahan di meja.
"Eh, Bu Salma udah nikah belum sih?" tanya Kimi tiba-tiba.
"Setau gw janda," sahut Marey setengah menguap.
Kimi melongo. "Serius?"
"Iya, katanya cuma setahun nikah, terus cerai. Tapi itu kata anak-anak sih." timpal Febi, masih malas bicara.
"Aku gak ngerti kenapa mereka sampai gosipin begituan," komentar Desi.
Kimi mencondongkan tubuh. "Mereka dapet info dari mana?"
"Dari Mbak Sumi. katanya sering jadi tempat curhat Bu Salma," jawab Febi. "Aku gak nyari tau ya, cuma denger anak-anak pada ngobrol."
Kimi mengangguk-angguk penuh arti. Oke. Berarti Bu Salma single, dan Juli ternyata terlalu dekat dengannya. Bukan cuma dekat, tapi intim.
Kimi memijat pelipis yang mulai panas, tapi bukannya pusing, ia malah semangat.
Ini memang bukan urusannya, tapi Juli kan menjauh dari Ruby supaya tidak disangka lesbian. Dan sekarang, dia malah mesra dengan Bu Salma.
Kimi merasa ini bukan sekadar gosip. Ini kasus penelitian sosial yang layak diinvestigasi. Juli pasti mati- matian menutupi semua ini.
Kimi menatap kosong ke depan, bibirnya terangkat pelan.
Hubungan diam-diam? Dia harus mempelajarinya.
.