"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Playing Victim
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!” teriak Anyelir dengan wajah memerah.
Kebahagiaannya usai mendayung nirwana bersama Sandi buyar seketika melihat adegan di depannya. Wanita itu merutuki dirinya yang sempat lupa kalau di rumahnya masih ada Sisil. Gadis yang sering memantik rasa cemburunya.
Sisil sendiri terkejut mendengar suara kencang Anyelir. Saking fokusnya gadis itu pada Alvin, dia sampai tidak menyadari kedatangan wanita itu.
Berbeda dengan Alvin. Teriakan Anyelir tak serta merta membuatnya bergeming. Pria itu masih berada di posisinya untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia membalikkan diri.
“Sedang apa kalian?” tanya Anyelir penuh curiga.
“Aku hanya sedang berbicara dengan Sisil,” jawab Alvin tenang.
“Bicara? Apa perlu bicara dengan posisi seperti tadi?”
“Apa yang salah dengan posisi kami?” tanya Alvin tanpa merasa berdosa sama sekali. Istrinya itu memang senang sekali mendramatisir sesuatu. Dia sudah terlalu kebal dengan drama yang disuguhkan Anyelir.
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Ada apa denganku?”
“Kemana saja kamu, sampai baru pulang sekarang? Apa kamu tahu sudah jam berapa sekarang?!” cecar Alvin.
Anyelir melirik jam yang tergantung di dinding, waktu memang sudah lewat jam delapan malam. Tadi dia dan Sandi sampai lupa waktu saat bermain. Larut dalam cumbuan Sandi, Anyelir sampai melayani permainan pria itu sebanyak dua ronde.
Niatnya yang ingin pulang pukul enam, harus molor hingga pukul setengah delapan.
“Bukankah aku sudah bilang kalau lembur.”
“Lembur? Apa pegawai di divisimu hanya kamu seorang? Kenapa kamu sering sekali lembur?”
JLEB!
Pertanyaan Alvin tepat sasaran, membuat Anyelir tidak bisa berkata apa-apa. Dipikirnya suaminya itu tidak akan mempertanyakan soal dirinya yang sering lembur.
Sejak hubungannya dengan Sandi semakin jauh, dia memang sering memakai alasan lembur demi bisa berduaan dengan Sandi.
“Mas … aku—“
“Sudahlah!” sela Alvin cepat dengan nada tinggi. Pria itu memilih keluar rumah untuk menenangkan pikirannya.
Sepeninggal Alvin, hanya tinggal Anyelir dan Sisil saja berdua.
Tanpa mempedulikan tatapan tajam Anyelir, Sisil membereskan perabotan kotor bekas makan mereka. Gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan pandangan Anyelir padanya.
Ketika Sisil sedang mencuci peralatan makan yang kotor, Anyelir datang mendekat. Tak mendapat jawaban dari Alvin, wanita itu ingin mencarinya dari Sisil.
“Apa yang kalian lakukan tadi?” tanya Anyelir tanpa basa-basi.
“Hanya bicara. Apa Tante ngga percaya jawaban suami sendiri.”
“Aku percaya pada suamiku, tapi tidak denganmu!” jawab Anyelir tajam.
“Kenapa Tante ngga percaya padaku?” tanya Sisil sambil membalikkan tubuhnya pada wanita itu setelah pekerjaannya selesai.
“Kamu itu perempuan gatal!”
“Masa? Tapi Tante … apa Tante tahu? Terkadang kita menilai seseorang dari kacamata dan pengalaman kita sendiri. Tante kok bisa-bisanya bilang aku gatel? Apa jangan-jangan Tante yang gatel, jadi anggap semua perempuan yang dekat dengan Om Alvin itu perempuan gatel?”
Sisil membalikkan ucapan Anyelir tanpa saringan dan langsung tepat sasaran. Ada ketekejutan di mata wanita itu, namun dia buru-buru bersikap normal lagi. Tapi Sisil sempat melihat perubahan itu.
“Setahuku, karyawan Blue Mart itu jarang ada yang lembur. Aku heran, kenapa Tante sering banget lembur. Tante tuh lemburnya di kantor apa di ranjang laki-laki lain?”
“Kamu!!”
Dengan cepat Anyelir mengangkat tangannya lalu melayangkan ke pipi Sisil. Tapi belum sempat telapak tangannya mengenai pipi mulus Sisil, gadis itu dengan cepat menahan tangan wanita itu kemudian menariknya ke belakang, membuat Anyelir meringis kesakitan.
“Aaarrrgghhh … lepas!” rintih Anyelir sambil berusaha melepaskan diri dari Sisil. Posisi wanita itu dibuat membelakangi Sisil dengan tubuh sedikit membungkuk. Sementara tangannya masih dipegang oleh perempuan muda itu.
“Aku bukan Ayu yang bisa pasrah menerima tamparan Tante. Berani Tante menyentuhku, aku bisa balas berkali-kali lipat pada Tante, camkan itu!” bisik Sisil di telinga Anyelir sambil melepaskan tangan wanita itu dengan memberi sedikit dorongan di tubuhnya.
Hampir saja kepala Anyelir membentur kulkas di depannya akibat dorongan Sisil. Beruntung dia masih bisa mengerem langkahnya.
Dengan santai Sisil meninggalkan dapur. Kepalanya menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekati pintu. Dia yakin kalau itu Alvin.
Sementara itu, dari arah belakang, Anyelir berjalan cepat menuju Sisil. Tangan wanita itu terangkat bermaksud menjambak rambut gadis itu. Dengan sekali tarikan, dia menjambak rambut Sisil hingga kepalanya terdongak.
“Aaarrgghhh sakit, Tante!” pekik Sisil keras.
“Rasakan! Kamu mau melawanku, hah? Kamu pikir aku akan diam saja?!!”
Anyelir terus menarik rambut Sisil sampai beberapa helainya tercabut dari kepala gadis itu.
“ANYE!!!”
Suara Alvin yang menggelegar serta merta membuat Anyelir melepas jambakannya.
Dengan langkah panjang, Alvin mendekati Sisil. Mata gadis itu nampak berkaca-kaca. Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
“Kamu ngga apa-apa?” tanya Alvin cemas.
“Sakit, Om. Hiks … aku ngga tahu kenapa tiba-tiba Tante Anye nyerang aku. Hiks …”
“Keterlaluan kamu, Anye!!”
“Ngga begitu, Mas. Aku—“
“Rambut Sisil rontok, Om,” sela Sisil cepat dengan nada manja. “Sakit juga, hiks ….”
Sontak Alvin langsung mengusap kepala Sisil yang terasa sakit. Tanpa sadar, pria itu memeluk gadis itu. dengan sengaja Sisil membalas pelukan Alvin. Dari balik punggung pria itu, Sisil melihat pada Anyelir. Dia menjulurkan lidahnya pada Anyelir.
“Lihat, Mas! Dia meledekku!” tunjuk Anyelir emosi.
“DIAM!!!”
Seketika Anyelir terbungkam. Rahang Alvin nampak mengeras, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi, cukup membuktikan apa yang dilakukan istrinya barusan sukses memicu emosinya.
“Ayo … Om antar ke kamar.”
Tanpa mempedulikan Anyelir, Alvin membawa Sisil ke kamar yang ditempati gadis itu. Tinggallah Anyelir yang berteriak kesal. Wanita itu segera menuju kamarnya. Membanting tasnya ke kasur hingga isinya berserakan di atas ranjang.
Wanita itu menyambar ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Dia segera menghubungi Sandi.
“Halo,” terdengar suara Sandi dari seberang.
“San … aku kesal ….”
Anyelir pun langsung mengadukan apa yang dialaminya pada Sandi. Wanita itu duduk di ranjang dan terus mengeluarkan uneg-unegnya pada rekan kerja sekaligus selingkuhannya.
Sementara itu di kamar, Alvin yang sudah mengantar Sisil masuk, mengajak gadis itu duduk di sisi ranjang. Dia masih mengusap kepala gadis itu yang dia tahu pasti masih menyisakan rasa nyeri.
“Tolong maafkan Anye ya.”
“Tante Anye kenapa sih? Dia curigaan terus sama aku. Kalau kaya gini, aku ….”
“Aku apa?”
Sambar Alvin cepat sambil melihat pada gadis itu. Sorot matanya memancarkan keteduhan, dan bisa Sisil rasakan ada pancaran cinta dan kasih sayang di dalamnya. Seketika hatinya menghangat.
“Lebih baik mau istirahat. Om jamin, Anye tidak akan berani menyakitimu lagi.”
Alvin kembali mengusap puncak kepala Sisil, baru kemudian beranjak dari tempatnya. Sepeninggal Alvin, Sisil masih terdiam di tempatnya sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.
Anyelir langsung mengakhiri panggilan, begitu mendengar suara langkah kaki mendekati kamar. Begitu pintu terbuka, Anyelir sedikit gugup. Dia langsung menyembunyikan ponselnya.
“Aku harap kejadian tadi tidak terulang lagi. Aku tidak akan menolerir kamu lagi, Anye!”
“Dia yang memulai duluan!”
“Aku sudah lelah denganmu, Anye! Aku lelah dengan pernikahan kita.”
“Lalu? Mas mau menceraikanku? Meninggalkanku? Apa Mas lupa? Kalau bukan karena aku, mungkin Mas akan kehilangan Nenek Sinar lebih awal!”
“Ya … memang hanya itu yang membuatku bertahan denganmu. Jangan membuatku berpikir kalau apa yang kamu lakukan waktu itu sudah tidak penting lagi.”
Alvin segera keluar dari kamar sambil membanting pintu kencang, BLAM!
Anyelir terhenyak di tempatnya. Ketakutan mulai merayapi hatinya. Apa maksud perkataan Alvin barusan?
Apakah dia sedang memberikan sinyal kalau akan meninggalkan dirinya?
***
Waktu sudah lewat tengah malam. Sisil terbangun dari tidurnya. Karena haus, gadis itu keluar dari kamar untuk mengambil minuman.
Sesampainya di dapur, dia segera menyalakan lampu. Suasana dapur yang gelap langsung terang benderang begitu lampu menyala. Dia terkejut melihat Alvin duduk sendirian di sana.
“Om,” panggilnya pelan.
Alvin yang sedang menunduk, perlahan mengangkat kepalanya. Dipandanginya Sisil yang berdiri di dekat kulkas. Perlahan pria itu bangun lalu mendekati Sisil.
“Om sudah lelah, Sil. Om butuh tempat bersandar. Om … menginginkanmu,” lirih Alvin di telinga Sisil.
Belum sempat Sisil mencerna perkataan Alvin, tiba-tiba saja bibir pria itu sudah mendarat di bibirnya kemudian memberikan pagutan lembut. Untuk sesaat Sisil lupa cara bernafas.
***
Waduh🫣
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭