NovelToon NovelToon
Rahasia Si Gadis Cupu

Rahasia Si Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rosemary Mary

Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.

Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.

Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?

Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"nangapin Lo di situ? Ayok!" Raja yang memperhatikan Clara bergerak cepat menarik tangan Clara, mereka segera pergi dari sana.

Clara mengikuti langkah kaki Raja sambil menyaka air mata nya yang jatuh membasahi pipi mulus nan cantik itu.

Raja terlihat sangat dingin namun ia tau apa yang di rasakan Clara saat ini.

"Masuk dan tenagin diri Lo," mereka tiba di toilet perempuan dan Raja seolah tau bagaimana cara menenangkan Clara.

Clara tampa banyak bicara masuk ke dalam toilet dan mengunci dirinya di dalam sana. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam toilet sambil mencuci tangan.

Sementara itu di kantin Linus masih benar-benar tak habis fikir akan jam tangan kesayangan nya yang di rusak oleh Clara.

"Udah lah buang aja jam nya, nanti gue bakal beliin Lo jam baru yang lebih bagus,buat apa juga jam murahan kayak gini di simpan," celetuk Rena hendak mengambil jam tersebut dari tangan Linus.

"Cukup Rena! Ini bukan lagi soal jam tangan nya! Lo tau sendiri ini pemberian Cery!" Linus berdiri dari duduknya dan membentak Rena.

Rena tersentak kaget sambil menatap Linus dengan tatapan tidak percaya.

"Rena Lo gak usah ikut campur ini urusan gue sama Linus, Linus ayo pergi dari sini nanti biar gue yang cari tempat buat betulin jam tangan nya, Lo gak bakal kehilangan kenangan dari Cery kok tenang aja," sebagai sepupu Linus, Della tidak pernah melihat Linus sesedih ini hanya karena sebuah jam.

Della dan Linus juga meninggalkan kantin, sementara Rena teridam menahan malu karena banyak yang menyaksikan perdebatan mereka barusan.

"Semua gara-gara Clara sialan, dan Cery sudah tidak ada masih juga menimbulkan masalah," batin Rena dengan langkah kaki cepat keluar dari kantin.

Singkat cerita pelajaran hari ini pun telah berkahir.

Clara bergegas masuk ke dalam mobil Raja, ia tau Raja pasti sudah menunggu nya begitu lama karena kelas Raja lebih dulu keluar.

"Lo lihat sendiri, Clara dan sama Raja beneran ada hubungannya," lirih Linus menatap tajam mobil Raja yang keluar dari gerbang sekolah.

Della yang cemburu tampa sadar menitikkan air matanya, hal ini membuat Linus yang ada di sebelah nya ikut merasakan sedih, sepupunya itu cantik namun soal percintaan dia selalu gagal.

Raja bahkan tidak pernah mengubris Della bahkan gadis itu sudah menyukai nya selama dua tahun, mau bagaimana pun Linus membantu Raja tetap menutup hati untuk Della.

"Udah jangan nangis, Lo cantik gue yakin semua masalah ada jalan keluarnya," Linus mengelus punggung Della untuk membuat nya sedikit lebih tenang.

Dua orang sepupu yang selalu saling menguatkan, padahal langit mereka sama-sama runtuh sekarang.

Satunya tidak bisa melupakan masa lalu dan selalu menyesali perbuatannya, yang satunya tidak bisa menahan cemburu.

"Lo gak mau jujur sama gue soal sesuatu?" tanya Raja sambil fokus mengemudi mobil.

Clara menoleh, menatap Raja sekilas namun ia memilih diam tidak ingin bicara sepatah kata pun.

Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di rumah Raja, Raja menghentikan mobilnya di halaman rumah tersebut." Lo mau ikut ke dalam apa tunggu di mobil kayak tadi pagi?"

Sebelum turun dari mobil, Raja menawarkan Clara untuk ikut ke dalam rumah dengan nya, karena tadi pagi Clara memilih diam di mobil saat Raja menganti pakaian.

"Papa suruh gue bantu Lo beberes," jawab Clara membuka sabuk pengaman nya dan hendak turun dari mobil mendahului Raja.

"Sejak tadi pagi Lo gak ada sopan-sopan sama gue, pangil gue kakak, dan gak perlu pakai gue, Lo," tetapin panggilan sekarang jangan amburadul gue gak suka," Raja terlihat marah, dia turun dari mobil dan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.

Clara mengerutkan keningnya, Raja bisa sangat cuek, baik, dan juga peduli secara tiba-tiba dia juga bisa marah, sifatnya random luar biasa.

Clara mengikuti Raja masuk ke dalam rumah, ia menaiki tangga dan melihat banyak foto kelaurga terpanjang di sana, terdiri dari tiga orang, yang sepertinya Raja dan orang tuanya.

"Lihat apa? Cepetan!" Raja tidak membiarkan Clara menatap foto masa kecil nya terlalu lama, ia menarik tangan Clara untuk segera naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar nya.

Pertama kali Clara masuk ke kamar Raja, ia melihat meja belajar, ada foto Raja dan seorang laki-laki paruh baya, mereka berdiri di depan sebuah toko buku.

"Ini? ..." Clara memegang bingkai foto tersebut dan menoleh ke arah Raja.

"Mendiang papa, itu di ambil sebulan sebelum papa meningal, di belakang itu toko buku punya papa gue," jelas nya sambil meletakkan koper di atas ranjang kemudian mulai memuat pakaian nya ke dalam koper tersebut.

"Ohh," hanya itu yang keluar dari bibir Clara.

Ia juga melihat koleksi bandana milik Raja yang tergantung di dinding kamar tersebut, matanya tertuju kepada satu bandana.

"Kenapa? Lo suka?" ujar Raja menghampiri Clara.

Clara tidak menjawab Raja, dia hanya menatap dingin ke arah banyaknya bandana tersebut.

Raja kembali memuat pakaian nya, dia membiarkan Clara tidak membantu, mungkin Clara tertarik dengan kamar berantakan itu.

Setengah jam kemudian, Raja sudah selesai merapikan barang-barang yang akan ia bawa ke rumah barunya, setelah selesai mereka segera keluar dari rumah tersebut.

Namun rumah itu tidak di biarkan kosong oleh mama Tara, di dalamnya tetap ada seorang pelayan dan seorang tukang kebun yang senantiasa merawat rumah.

Hari semakin malam, Raja dan Clara kini baru saja tiba di rumah Clara.

"Raja, Clara, kalian pasti capek ya, sekarang sebaiknya ke kamar dan mandi, setelah itu turun untuk makan malam, mama udah masak," uajar Tara yang melihat kedua anaknya itu baru pulang.

Saat ini Tara dan papa Tian sedang bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi, mereka juga dari tadi menunggu dua anak itu kembali untuk makan malam bersama yang pertama kalinya.

"Iya ma," lirih Clara berlari kecil menaiki tangga.

Papa Tian melihat wajah manyun Clara, ia merasa ada yang tidak beres dengan putrihnya itu.

"Raja, kenapa dengan adik kamu?" tutur Tara yang ternyata juga menyadari wajah tidak enak Clara.

Raja tidak bisa menjawab pertanyaan mama nya, dia juga tindak mungkin menceritakan apa yang terjadi di sekolah tadi karena belum tentu Clara ingin orang tuanya tau apa ya h dia alami.

"Gak apa-apa kok ma, mungkin capek aku ke atas dulu," Raja menarik kopernya menaiki tangga menuju kamar.

Beberapa puluh menit kemudian, Raja pun selesai mandi, suara sang mama kembali terdengar dari lantai bawah, meminta Clara dan Raja segera turun untuk makan malam.

Raja segera keluar dari kamar nya, ia berjalan mendekati kamar Clara, namun saat hendak memegang gagang pintu kamar tersebut, Clara lebih dahulu membuka pintu dan terlihat sedikit kaget karena ada Raja di depan nya.

"Ngapain?" tanya Clara ketus.

"Mama udah berisik,ajak makan malam budeg ya?" Raja mengabaikan Clara dan kemudian menuruni tangga.

Clara yang tidak terima di bilang budeg segera berlari mengejar Raja, rasanya ia ingin buru-buru memukul punggung pria itu dari belakang, namun sayangnya sang Raja tau ia juga berlari kecil menghindari Clara.

Saat tiba di meja makan, keduanya ngos-ngosan, membuat papa dan mama kebingungan menatap dua orang tersebut.

"Ngapain kalian kejar-kejaran?" ujar papa Tian menatap Clara.

"Gak ada apa-apa kok pa, seru-seruan aja,iya kan kak?" tanya Clara sambil mencubit lengan Raja.

"Awhhh iya, pa iya," Raja pasrah dan tidak berani mengadu.

Mama Tara hanya bisa tersenyum, ia menyiapkan banyak makanan karena ini malam pertama mereka makan dengan kelaurga utuh.

Clara cukup menikmati masakan mama tirinya, baru kali ini ia makan dengan lahap seperti orang sedang di kejar setan.

"Pelan-pelan dong Clara kan masih banyak," ujar Raja menatap Clara makan dengan lahap.

"Kenapa sih? Kalau aku pelan-pelan makanya entar habis kamu makan," tidak mempedulikan papa dan mamanya Clara tetap melawan Raja.

"Clara ..." Papa Tian melirik Clara sekilas.

Ia mendudukkan kepalanya karena malu. Beberapa puluh menit kemudian, mereka pun akhirnya selesai makan malam.

"Clara, Raja, ada yang ingin mama dan papa bicarakan, tunggu di ruang keluarga ya, mama dan papa akan datang sebentar lagi," ujar Tian kepada Clara dan Raja.

"Jangan lama-lama ya pa, Clara ngantuk," Clara berjalan menuju ruang keluarga.

Raja juga mengikuti nya dari belakang karena Raja juga tidak tau di mana letak ruang keluarga, ia hanya bisa patuh dan mengikuti sang adik.

Tidak butuh waktu lama,kini mereka berempat pun sudah berkumpul dan duduk saling berhadapan di ruang kelaurga.

"Mau ngomong apa pa?" Clara angkat bicara terlebih dahulu karena sudah tidak bisa menahan matanya yang perih.

"Begini, Raja papa mau kamu jagain Clara ya, satu Minggu aja, soalnya papa dan mama akan pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis mama, anggap saja bulan madu sambil mengurus bisnis," papa Tian ternyata ingin pergi bulan madu bersama mama Tara.

Bukan hanya itu, tujuan utama mereka ke luar negeri ya karena mama Tara seorang designer, dia punya banyak urusan di luar negeri itu hal yang wajar.

"Apa? Ikut dong pa, pengen jalan-jalan juga," Clara yang selalu terobsesi akan jalan-jalan ke laur negeri tiba-tiba meminta untuk ikut.

"Gak bisa sayang, kamu kan sekolah, papa akan belikan apapun yang kamu inginkan asal jangan memaksa untuk ikut, fokus belajar dan patuh lah, hanya seminggu saja," sang papa sudah tau akan mendapatkan jawaban ini.

Sementara Tara hanya diam, ia tidak tau harus berkata apa, ia juga baru di kelaurga ini masih belum punya hak banyak bicara ia juga sebenarnya sangat ingin mengajak Clara namun papa Tian tidak mau khawatir akan menggangu sekolah Clara.

"Ma, ikut!" Clara yang manja tiba-tiba berpidah tempat duduk, ia duduk di sebelah Tara sambil memaut lengan Tara begitu manja seperti seekor anak kucing dengan ibunya.

"Mas tolong aku, aku gak bisa lihat matanya, dia terlalu imut," bisik Tara tidak bisa berkata apa-apa.

"Udah ma, pa, jangan khawatir, dan Clara gak bakal ikut, senin ini sekolah bakal banyak kegiatan karena ada pertandingan basket antar sekolah, Raja butuh Clara," ujar Raja sambil melirik Clara.

Clara yang mendengar itu sontak bingung, harapan nya pun seketika punah, papa nya pasti tidak akan mengajak karena ucapan Raja barusan.

"Nah kan, banyak kegiatan, lain kali saja ya kita jalan-jalan nya satu kelaurga," sang papa mengedipkan mata kepada Raja seolah menandakan bahwa ia berterima kasih.

"Tapi mas ..." Tara yang tidak tega berusaha membantu Clara.

Namun papa Tian tidak mempedulikan nya, membawa Clara ikut sama saja dengan membawa seekor monyet yang lepas dari kandang mereka tidak akan bisa bekerja nanti di sana. Tian tau betul bagaimana putrinya.

"Kapan berangkat nya pa?" tanya Raja lagi.

"Besok pagi,"

Seketika Clara langsung merengek mendengar ucapan papa nya, yang mengatakan mereka akan pergi besok pagi.

Raja mengangguk sambil tersenyum, setelah ini ia lah yang berkuasa dalam mendidik Clara bagaimana ia bisa melewati kesempatan bagus begitu.

"Semuanya bubar, sudah tengah malam segera masuk ke kamar masing-masing untuk tidur," papa Tian kembali angkat bicara.

Clara,mama Tara dan Raja segera berdiri dari tempat duduk masing-masing, papa Tian memegang tangan mama Tara dan kemudian berjalan meninggalkan ruang kelaurga.

Sementara itu Clara masih berniat untuk mengejar sang papa, Raja yang melihat nya segera menjinjit kerah baju bagian belakang Clara dan kemudian menyeretnya untuk menaiki tangga menuju kamar masing-masing.

"Raja sialan,bodoh lepaskan aku!" umpat Clara sambil berjalan mundur.

"Masih gak bisa sopan sama gue sebaiknya diam sekarang," suara dingin ini membuat Clara patuh seketika.

Setelah masuk ke kamar masing-masing, mereka pun segera tidur, meskipun awalnya Clara mengumpat sendirian, namun ia segera memejamkan mata dan hanyut di bawa ke alam mimpi.

Keesokan harinya ...

"Hati-hati ma, pa!" Clara melambaikan tangan nya kepada mama dan papanya yang sudah masuk ke dalam mobil.

Setelah beberapa menit, mobil mereka keluar dari halaman dan melaju menuju bandara.

Pagi ini karena tanggal merah, Clara dan Raja tidak masuk sekolah, namun mereka berdua bangun begitu pagi demi melihat keberangkatan kedua orang tua mereka, awalnya ingin mengatakan sampai ke bandara, sang papa tidak mengijinkan khawatir akan melihat Clara menagis.

Setelah tidak lagi melihat mobil sang papa, Clara pun berjalan kembali masuk ke dalam rumah tampa mempedulikan Raja yang berdiri di sebelahnya.

Raja yang melihat Clara masuk hendak berteriak dan menyusul, namun ia di hentikan oleh dering ponselnya.

Raja segera merogoh saku celananya dan melihat siapa yang telah menelpon dirinya.

Ternyata itu adalah telpon dari Della, awalnya Raja merasa malas untuk meladeni nya, namun saat hendak menekan tombol merah ia malah menekan tombol hijau pada akhirnya telpon tersebut pun tersambung.

Call on.

"Hallo kak Raja, sore ini sibuk gak?" Terdengar suara Della di sebrang telpon.

"Kenapa emang nya?" dingin Raja seperti kutub Utara.

"Engak, ini Linus mau ngadain pertemuan tim basket di cafe biasa tempat kalian nongkrong, katanya sih mau ada yang di omongin soal pertandingan Senin besok," Della terdengar cukup bersemangat menjelaskan.

"Ini masih sabtu, ngapain Lo yang nelpon apa dia udah gak punya hape?" Raja tetap memasang sifat cueknya.

"Bukan gitu kak, dia kayaknya ya kak Raja kan tau sendiri sekarang hubungan kalian kayak gimana, pokoknya dateng aja tar sore di cafe biasa," Della buru-buru mematikan telepon secara sepihak, ia tidak ingin mendengar penolakan dari Raja karena ia juga akan ikut bersama Linus sore nanti.

Call of.

Bersambung ....

1
Sofia Azzahra
Thorr aku gx suka Clara sma Linus, lebih setuju kalau Clara sma Bastian, biarpun Berandalan Tapi Bastian kelihatan Lebih bisa menghargai orang lain, gx songong banget kaya Linus apa sinus itu😌😌
Rosemary: wkwkwkw, komentar pertama, makasih banyak ya kak sudah komen, lihat aja nanti kak, tapi pemeran utama nya Linus ini loh🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!