NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Suasana di ruang tamu kediaman Anindita mendadak beku. Udara seolah berhenti mengalir, menyisakan keheningan yang menyesakkan dada. Arga tetap terpaku di posisinya, mematung di hadapan Ibu Ratna yang masih menyunggingkan senyum tulus, seolah tidak menyadari badai yang baru saja ia lepaskan.

"Aga?" Nama itu meluncur begitu saja dari bibir Ibu Ratna, menghantam Arga tepat di jantungnya. Itu bukan sekadar nama panggilan. Itu adalah kunci dari kotak pandora yang selama delapan tahun ini ia kunci rapat-rapat dengan rantai ketidakpedulian yang palsu.

Nala terdiam dengan mata terbelalak. Cangkir teh yang ia pegang sedikit bergetar, menciptakan riak kecil di permukaan airnya yang tenang. Ia menatap ibunya, lalu beralih menatap Arga dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kebingungan, penyangkalan, dan perlahan-lahan, sebuah pengakuan yang mulai merayap naik ke permukaan kesadarannya.

"Mama barusan panggil dia apa?" tanya Nala dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.

Ibu Ratna tertawa kecil, tidak menyadari ketegangan yang merayap di antara para remaja itu. "Loh, kamu ini bagaimana, Nal? Masa lupa sama Aga? Tetangga kita yang paling rajin bantu Papa kamu menyiram tanaman dulu di perumahan Graha Surya. Kalian kan selalu menempel seperti perangko," ujarnya santai.

Pernyataan itu seolah menjadi palu godam yang menghancurkan dinding pertahanan Arga. Ia bisa merasakan tatapan Satria yang menajam di sampingnya, juga kerutan di dahi Dimas yang tampak terkejut. Namun, Arga tidak bisa mempedulikan mereka. Dunianya kini hanya berputar pada Nala yang perlahan-lahan mulai menyatukan potongan teka-teki dalam ingatannya.

"Aga," gumam Nala lagi. Matanya menatap Arga lebih dalam, seolah sedang mengupas lapisan demi lapisan wajah cowok di depannya untuk menemukan sosok bocah laki-laki yang ia kenal bertahun-tahun lalu.

Arga menarik napas panjang, berusaha menenangkan debar jantungnya yang menggila. Ia tahu pelariannya telah berakhir di sini, di ruang tamu yang penuh dengan kenangan tersembunyi ini.

Nala bangkit dari duduknya. Langkahnya ragu-ragu saat ia mendekat ke arah Arga. Ingatannya mulai berputar cepat. Pohon mangga yang pernah mereka panjat bersama, pot bunga yang pecah karena bola plastik, dan janji masa kecil yang terkubur di bawah tumpukan waktu. Semua itu kini kembali dengan kejernihan yang menyakitkan.

"Kamu," ucap Nala pendek. Telunjuknya sedikit gemetar menunjuk ke arah Arga. "Kamu Arga yang itu? Arga yang tiba-tiba pindah tanpa pamit? Arga yang panggilannya Aga?"

Arga akhirnya mengangkat wajahnya. Ia tidak lagi menggunakan tatapan dingin atau datar yang biasanya ia gunakan untuk membentengi diri. Ada gurat luka dan kerinduan yang terpancar jelas di matanya saat ia menatap Nala secara langsung.

"Iya, Nala. Ini aku," jawab Arga pelan. Suaranya terdengar berat, seolah setiap kata yang keluar membawa beban delapan tahun penantian.

Nala menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air muka cerianya yang biasa kini berganti dengan keterkejutan yang luar biasa. Ia merasa seperti orang bodoh. Selama berbulan-bulan sejak kepindahannya kembali ke kota ini, ia berinteraksi dengan Arga setiap hari di sekolah. Ia melihat cowok itu duduk di pojok kelas, mengamati dari jauh, dan bahkan sempat menganggapnya sebagai orang asing yang menyebalkan karena sikap dinginnya.

"Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Nala dengan nada yang mulai meninggi karena emosi yang campur aduk. "Kenapa kamu pura-pura tidak kenal aku?"

Arga tersenyum pahit. Ia melirik sekilas ke arah Satria yang kini berdiri dengan wajah tegang, lalu kembali menatap Nala. "Karena menurutku kamu sudah melupakan semuanya, Nala. Karena bagimu, aku mungkin hanya bagian dari masa lalu yang tidak perlu diingat lagi," ujarnya dengan kejujuran yang menoreh hati.

Dimas yang biasanya banyak bicara hanya bisa terdiam. Ia baru menyadari bahwa alasan sahabatnya itu begitu sulit untuk melupakan masa lalu bukan hanya karena cinta monyet biasa, melainkan karena akar yang sudah tertanam begitu dalam sejak mereka belum mengerti apa itu patah hati.

Ibu Ratna tampak bingung melihat reaksi putrinya. "Ada apa sebenarnya ini? Kalian kan teman lama, harusnya senang bisa bertemu lagi," ucapnya mencoba mencairkan suasana.

Nala tidak menjawab ibunya. Ia masih terpaku pada kenyataan bahwa cowok yang selama ini ia anggap sebagai teman sekelas yang biasa-biasa saja adalah sosok yang pernah mengisi hari-hari masa kecilnya dengan tawa. Sosok yang pernah berjanji akan selalu menjaganya.

Arga menarik tasnya yang tergeletak di meja. Ia merasa atmosfer di ruangan itu sudah terlalu berat untuk ia tanggung lebih lama lagi. Rahasianya sudah terbuka, dan ia belum siap menghadapi badai emosi yang akan menyusul setelah ini.

"Tante, maaf, sepertinya saya harus pulang sekarang. Tugasnya sudah hampir selesai, saya bisa lanjut di rumah," ujar Arga dengan sopan kepada Ibu Ratna, meski suaranya sedikit bergetar.

Nala ingin menahan Arga. Ada ribuan pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menghimpit dadanya karena telah melupakan sahabat terbaiknya sendiri. Namun, lidahnya seolah kelu. Ia hanya bisa melihat Arga melangkah menuju pintu keluar dengan bahu yang tampak lebih berat dari biasanya.

Saat sampai di ambang pintu, Arga berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.

"Janji itu masih ada, Nala. Aku hanya tidak tahu kalau aku adalah satu-satunya yang menyimpannya," ucap Arga dengan suara rendah namun sangat jelas di telinga Nala.

Setelah itu, Arga melangkah pergi meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu. Nala jatuh terduduk di kursinya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Nama Aga terus menggema di kepalanya, membawa kembali memori tentang seorang bocah yang selalu memberikan payungnya saat hujan, yang selalu memberikan bagian cokelat terbaiknya untuk Nala, dan yang selalu menunggunya di depan pagar setiap pagi.

Satria mencoba mendekati Nala, namun Nala mengangkat tangannya, memberi isyarat agar cowok itu tidak mendekat. Ia butuh waktu. Ia butuh waktu untuk meresapi kenyataan bahwa orang yang selama ini ia dorong untuk mendekati perempuan lain adalah orang yang telah mencintainya dalam diam selama delapan tahun terakhir.

Di luar, Arga berjalan cepat menuju gerbang kompleks perumahan. Langit sore mulai berubah warna menjadi jingga yang melankolis. Ia merasa lega sekaligus takut. Kedoknya telah hancur, dan mulai besok, semuanya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi sekadar Arga si pengamat di pojok kelas. Bagi Nala, ia kembali menjadi Aga, bagian dari masa lalu yang kini menuntut untuk diakui di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!