Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.
Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Wisuda Ranti - Buah Dari Kesetiaan
Minggu pagi itu udara terasa berbeda. Tidak ada mendung kelabu seperti biasanya yang menyelimuti kota kecil kami. Langit biru terbentang luas, seolah alam semesta sendiri sedang merayakan sebuah pencapaian besar. Di atas meja kerjaku, tergeletak selembar undangan berwarna krem dengan tulisan emas yang berkilau tertimpa sinar matahari pagi: "Undangan Wisuda Sarjana: Ranti Putri."
Aku menyentuh tulisan itu perlahan, jari-jariku menelusuri setiap lekuk hurufnya. Rasanya seperti mimpi. Masih terngiang-ngingi di telingaku suara Ranti tiga tahun lalu, saat kami duduk di bangku taman yang sama tempat kami sering berbagi cerita di masa-masa paling suram. Waktu itu, dia berkata dengan mata berkaca-kaca, "Kan, aku janji suatu hari nanti aku akan wisuda. Dan kamu harus ada di barisan depan, ya? Jangan sampai nggak datang."
Saat itu, aku hanya bisa tersenyum pahit. Dompetku tipis, semangatku hancur lebur akibat hinaan orang-orang, dan masa depanku tampak seperti jalan buntu yang gelap. Aku bahkan ragu apakah aku bisa membeli baju layak pakai untuk menghadiri acara sebesar itu, apalagi memberikan hadiah. Tapi Ranti tidak pernah peduli pada kondisi dompetku. Dia hanya peduli pada janjiku untuk tetap bertahan.
Hari ini, janji itu akan kutepati.
Aku mengenakan kemeja terbaikku, satu-satunya yang masih layak tanpa noda atau sobekan. Aku bercermin sebentar, merapikan rambut yang agak acak-acakan, lalu mengambil tas berisi sebuah buket bunga sederhana yang kubeli dengan menabung selama dua minggu terakhir. Bukan bunga mewah, tapi bunga matahari, simbol harapan dan cahaya, persis seperti apa yang Ranti berikan padaku selama ini.
Sesampainya di gedung auditorium universitas, suasana sudah riuh rendah. Ribuan orang tua, keluarga, dan teman-teman memenuhi lorong-lorong dengan pakaian formal mereka. Aku merasa sedikit ciut, merasa tidak pantas berada di antara kemewahan itu. Rasa insecure lama sempat muncul, membisikkan bahwa aku hanyalah seorang penulis gagal yang belum punya pekerjaan tetap, berdiri di tengah lautan kesuksesan orang lain.
Tapi kemudian, aku teringat pesan Bu Indah di Bab 26 nanti—eh maksudnya, pesan kehidupan nyata: "Kesuksesan bukan tentang apa yang kamu pakai, tapi tentang seberapa jauh kamu telah berjalan." Aku menarik napas dalam-dalam, meluruskan punggung, dan melangkah masuk mencari tempat duduk di bagian belakang, sesuai rencana awalku untuk tidak mencolok.
Acara dimulai. Prosesi wisudawan masuk satu per satu dengan toga hitam gagah dan topi persegi. Hati berdebar-debar menunggu nama yang paling aku tunggu. Satu jam berlalu, dua jam, hingga akhirnya pengumuman itu terdengar lantang melalui speaker.
"Mahasiswi berikutnya, Ranti Putri, Fakultas Sastra, dengan predikat Cum Laude!"
Sorak sorai langsung meledak. Aku ikut berdiri, bertepuk tangan sekuat tenaga, meski suaraku tenggelam dalam gemuruh ribuan orang. Di atas panggung, Ranti berjalan dengan anggun. Wajahnya bersinar, bukan karena riasan, tapi karena kebahagiaan murni yang memancar dari dalam. Saat menerima ijazah dan berjabat tangan dengan rektor, dia tidak melihat ke arah kamera atau orang tuanya yang duduk di barisan VIP.
Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari-cari. Lalu, tatapannya berhenti. Tepat mengarah ke sudut belakang ruangan, ke arahku yang berdiri canggung di antara kursi-kursi kosong.
Dia tersenyum. Senyum lebar yang pernah ia tunjukkan saat aku pertama kali menunjukkan draf bab pertamanya. Senyum yang mengatakan, "Lihat? Kita berhasil."
Setelah sesi foto resmi selesai, aku berniat mundur quietly, menghindari kerumunan. Tapi tiba-tiba, seseorang menarik lenganku kuat-kuat.
"Mau ke mana, Kak? Nggak boleh kabur!" Suara itu khas, ceria, dan penuh kasih sayang.
Aku berbalik. Ranti sudah berdiri di hadapanku, masih memakai toga lengkapnya, wajahnya sedikit merah karena kelelahan namun matanya begitu hidup. Di belakangnya, antrean panjang wisudawan lain menunggu untuk berfoto dengannya, tapi dia mengabaikan mereka semua demi aku.
"Ran, kamu harus foto sama keluarga dulu," kataku gugup, mencoba melepaskan diri pelan. "Nggak pantas aku ngambil waktumu."
"Nggak ada yang lebih penting dari kamu hari ini, Kak," potongnya tegas. Dia meraih buketa bunga matahariku, memeluknya erat, lalu tiba-tiba memelukku. Pelukan itu hangat, erat, dan membuat benteng pertahananku runtuh seketika. Air mataku tumpah tanpa bisa ditahan.
"Ini juga buat kamu, Kan," bisiknya di telingaku, suaranya bergetar. "Kalau kamu berhenti nulis waktu itu, kalau kamu nyerah pas Calvin dan yang lain jahat sama kamu, mungkin aku juga udah nyerah kuliah. Kamu yang bikin aku kuat pas aku mau drop out semester tiga karena biaya. Cerita-cerita kamu itu yang ninggalin aku semangat tiap malam."
Aku menggeleng lemah, masih terisak. "Nggak, Ran. Kamu yang hebat. Kamu yang berjuang sendiri."
"Kita berjuang bareng," koreksinya sambil melepaskan pelukan dan menatap mataku dalam-dalam. "Lihat toga ini? Ini bukti bahwa kata mereka salah. Masa depan kita nggak suram. Kita buktikan sama dunia, Kan. Bahwa anak-anak 'suram' justru punya masa depan paling terang karena kita tahu rasanya jatuh dan bangkit."
Ranti lalu menyematkan bunga matahari dari buketku ke jas toganya, tepat di dekat jantungnya. "Bunga favoritku. Terima kasih, Kak. Ini hadiah terindah hari ini."
Di antara ribuan wajah bahagia dan pesta megah itu, hanya momen kecil berdua di sudut ruangan ini yang terasa paling nyata, paling berharga. Tidak ada kemewahan, tidak ada sorotan kamera nasional. Hanya dua sahabat yang saling mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian.
"Gue janji, Ran," kataku sambil mengusap air mata, suaraku kini penuh tekad baja. "Gue bakal terus nulis. Gue bakal selesaikan novel ini, gue bakal capai kontrak, dan gue bakal buktiin kalau perjuangan kita nggak sia-sia."
"Aku tahu kamu bisa," jawab Ranti yakin. "Dan aku bakal selalu jadi pembaca pertamamu, sampai kita tua nanti."
Kami tertawa kecil, tawa yang melepaskan segala beban. Di bawah langit biru yang cerah, dengan toga wisuda yang berkibar ditiup angin, kami menyadari satu hal: Ini bukan akhir dari perjuangan. Ini adalah awal dari babak baru. Babak di mana Ranti akan memulai kariernya, dan aku akan menaklukkan dunia literasi dengan ceritaku.
Masa depan yang dulu digambarkan suram oleh mereka, kini telah berubah menjadi kanvas putih bersih yang siap kami warnai dengan prestasi-prestasi baru. Dan semuanya bermula dari hari ini, dari sebuah pelukan hangat di hari wisuda sahabat setia.
Aku memandang Ranti yang kembali bergabung dengan antrean foto, langkahnya ringan dan penuh percaya diri. Hatiku penuh syukur. Terima kasih, Tuhan, untuk sahabat seperti Ranti. Terima kasih untuk hari ini. Perjalanan menuju 80 bab, menuju 80.000 kata, dan menuju masa depan cerah, baru saja mendapat bahan bakar tambahan yang sangat kuat.
Aku keluar dari auditorium dengan langkah mantap. Laptopku di rumah sudah menunggu. Ada banyak cerita yang harus segera diketik.
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨