NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Langit mulai gelap saat Grachius melangkah keluar dari ngarai.

Di hadapannya—

hamparan hutan luas terbentang.

Hutan Alfheim.

Pepohonannya tinggi.

Daunnya lebat.

Cahaya matahari yang tersisa hanya menembus sedikit.

Grachius berhenti sejenak.

Menatap ke dalam.

“…cukup.”

Ia melangkah masuk.

Suasana langsung berubah.

Lebih sejuk.

Lebih sunyi.

Namun—

tidak sepenuhnya tenang.

Grachius berjalan beberapa saat.

Lalu berhenti di area yang cukup terbuka.

Ia mulai mengumpulkan ranting-ranting kering.

Tidak butuh waktu lama—

tumpukan kecil sudah terbentuk.

Grachius duduk.

Tangannya membentuk segel.

WOOSH.

Api menyala.

Cahaya oranye menari di antara pepohonan.

Malam perlahan turun.

Grachius mengeluarkan daging babi hutan.

Mulai memanggang.

Aroma menyebar.

Di balik semak-semak—

sepasang mata mengintip.

Daji.

Diam.

Mengamati.

"Dia berhenti di sini…"

Ia tidak bergerak.

Menunggu.

Beberapa saat berlalu.

Daging mulai matang.

Grachius mengambil satu potong.

Menggigitnya perlahan.

Lalu—

"Aku tahu kau di sana, Daji.”

Sunyi.

“…keluarlah.”

Di balik semak—

Daji membeku.

"Ketahuan?"

Beberapa detik.

Lalu—

ia keluar.

Dalam wujud rubah.

Langkahnya pelan.

Namun wajahnya menyeringai.

“…kau menyadarinya ya.”

Grachius mengunyah.

Tenang.

“Aku sudah tahu sejak awal.”

Jawaban sederhana.

Daji berhenti.

“…sejak awal?”

Ia mengangkat alis.

"Lalu… kenapa dia diam saja…?"

Tubuhnya berubah.

Kembali ke wujud manusia.

Ekor rubahnya bergerak pelan.

Ia menyeringai.

“Begitu ya.”

“…aku ketahuan.”

Grachius tidak menanggapi.

Ia hanya menunjuk ke arah api.

“Keluarkan dagingmu.”

“…masak.”

Daji berkedip.

“…hah?”

Ia terdiam.

Lalu—

"…daging?"

Beberapa detik.

Wajahnya berubah.

“Aku…”

Ia menyadari sesuatu.

“…lupa.”

Sunyi.

Grachius menatapnya sebentar.

Lalu—

ia tertawa kecil.

Pendek.

Jarang.

Daji sedikit terkejut.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa—

Grachius mengambil satu potong daging.

Dan—

melemparkannya.

“…tangkap.”

Daji refleks menangkap.

“…ah—!”

Wajahnya langsung berubah.

“…panas!”

Ia menggerutu.

“Kau…!”

Grachius hanya makan lagi.

Seolah tidak peduli.

Daji meniup-niup tangannya.

Kesal.

Namun akhirnya—

ia menggigit daging itu.

Mereka duduk.

Di depan api.

Makan bersama.

Lagi.

Daji mulai berbicara.

“…kau ini—”

UKH—!

Ia tersedak.

Matanya melebar.

Grachius melirik.

Lalu mengambil botol minumnya.

Dan melemparnya.

“Jangan makan sambil bicara.”

“…minum.”

Daji menangkapnya.

Masih batuk.

Ia minum cepat.

Beberapa tegukan.

Lalu—

“…haah…”

Napasnya kembali normal.

Ia menatap Grachius.

“…kau ini…”

Namun kali ini—

tidak melanjutkan.

Hanya menghela napas.

Api terus menyala.

Malam semakin dalam.

Dan di tengah Hutan Alfheim—

dua makhluk yang seharusnya berjalan sendiri—

kini kembali duduk bersama.

...----------------...

...----------------...

Api masih menyala.

Daging hampir habis.

Malam semakin dalam di Hutan Alfheim.

Sunyi.

Namun—

KRSK...

Suara daun terinjak.

Dari kejauhan.

Grachius berhenti mengunyah.

Matanya sedikit bergerak.

Daji juga langsung waspada.

Telinganya sedikit bergerak.

“Kau dengar itu?”

Grachius tidak menjawab.

Namun itu sudah cukup.

Suara itu semakin jelas.

Dari dua arah.

Selatan.

Dan—

Utara.

Lalu—

mereka muncul.

Dari arah selatan—

sekelompok Light Elf.

Tubuh tinggi.

Kulit terang.

Mata tajam.

Dari arah utara—

sekelompok Dark Elf.

Aura mereka lebih dingin.

Tatapan lebih tajam.

Kedua kelompok itu berhenti.

Melihat satu sama lain.

Lalu—

melihat Grachius dan Daji.

Sunyi sejenak.

Namun—

Grachius tetap duduk.

Mengunyah.

Seolah tidak ada apa-apa.

Daji meliriknya.

“…serius?”

Ia sedikit tidak percaya.

“…kau santai sekali…”

Namun sebelum Grachius menjawab—

salah satu dari Light Elf maju.

Pemimpinnya.

“…kalian memasuki wilayah kami.”

Menegur Grachius dan Daji.

Nada suaranya tegas.

Namun—

“Keliru.”

Suara lain memotong.

Pemimpin Dark Elf melangkah maju.

Tatapannya dingin.

“…ini wilayah kami.”

Sunyi.

Light Elf mengernyit.

“Kau yang salah!”

Dark Elf menyeringai tipis.

“Seperti biasa.”

Ketegangan muncul.

Namun—

bukan ke arah Grachius.

Melainkan—

di antara mereka sendiri.

Daji berkedip.

“…hah?”

Ia melihat ke kiri.

Lalu ke kanan.

“…mereka… melupakan kita?”

Grachius masih makan.

Tenang.

“Duduk.”

Jawaban singkat.

“…lanjut makan.”

Daji menatapnya.

“Kau bercanda…”

Grachius melirik sedikit.

“Ada tontonan bagus.”

Sunyi.

Daji menghela napas.

“Kau benar-benar aneh…”

Namun—

ia duduk lagi.

Melanjutkan makan.

Meski sesekali melirik ke arah dua kelompok itu.

Sementara itu—

perdebatan semakin panas.

“Ini wilayah Light Elf!”

“Apa kau buta?!”

“Kalian selalu mengambil bagian kami!”

“Kalian yang melanggar batas!”

Suara meninggi.

Aura mulai terasa.

Namun belum meledak.

Di sisi lain—

Grachius mengunyah pelan.

Lalu—

“Kenapa mereka berdebat?”

Daji menoleh.

Masih mengunyah.

“Kau tidak tahu?”

Grachius tidak menjawab.

Namun itu cukup.

Daji menghela napas kecil.

“…ini Hutan Alfheim.”

Ia menunjuk ke sekitar.

“…rumah bagi dua suku elf.”

“…Light Elf dan Dark Elf.”

Ia melirik ke arah mereka.

“…hutan ini terbagi dua.”

“…wilayah mereka masing-masing.”

Grachius mengangguk pelan.

“…dan?”

Daji menyeringai tipis.

“Kereka tidak pernah akur.”

Ia menatap dua kelompok itu.

“…sejak lama.”

Suara perdebatan semakin keras.

Namun—

Grachius hanya menyimak.

Tenang.

Mengangguk pelan.

Seolah itu hal biasa.

Dan di tengah hutan—

di antara dua kelompok yang hampir bentrok—

dua sosok duduk santai.

Makan.

Seolah mereka bukan bagian dari masalah.

Namun—

tanpa mereka sadari—

mereka sudah menjadi pusatnya.

...----------------...

...----------------...

Perdebatan terus berlanjut.

Semakin panas.

Suara meninggi.

Aura mulai terasa.

Light Elf dan Dark Elf saling menatap tajam.

Hampir saja—

BURP.

Suara sendawa memecah semuanya.

Sunyi.

Kedua kubu langsung menoleh.

Dan melihat—

Grachius.

Yang mengelus perutnya santai.

“Kenyang.”

Ekspresinya datar.

Seolah tidak ada yang terjadi.

Beberapa detik—

hening.

Lalu—

kemarahan.

“KAU—!”

“KAMI SEDANG—!”

Kedua pemimpin langsung kesal.

Namun Grachius hanya melirik.

“Kalian sibuk sendiri.”

Nada suaranya datar.

Ia menatap mereka bergantian.

“Apakah salah masuk ke sini?”

Sunyi.

“Aku hanya lewat.”

Ia mengambil sisa daging.

“…dan kebetulan ingin istirahat.”

Kedua pemimpin mengernyit.

Namun—

itu justru membuat mereka semakin kesal.

“Kau berani—!”

“Kau tidak tahu tempatmu—!”

Mereka mulai memarahi.

Namun—

Grachius tidak bereaksi.

Tidak membalas.

Tidak peduli.

Dan di tengah amarah itu—

Grachius berbicara lagi.

Tenang.

“Kalian sudah makan?”

Sunyi.

Kedua kubu terdiam.

Beberapa detik.

Tidak mengerti.

Lalu—

Grachius mengangkat daging.

“…mau?”

Sunyi.

Beberapa detik lagi.

Lalu—

“KAU MENGHINA KAMI?!”

Kemarahan kembali meledak.

Namun—

grrrr…

Suara perut.

Pelan.

Namun jelas.

Satu.

Lalu—

yang lain.

Beberapa dari mereka saling melirik.

Wajah sedikit berubah.

Grachius tersenyum kecil.

Jarang.

“Daripada ribut…”

Ia menunjuk ke api.

“…makan saja.”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu—

salah satu dari mereka maju.

Ragu.

Mengambil.

Lalu mundur.

Disusul yang lain.

Satu per satu.

Akhirnya—

kedua kubu duduk.

Makan.

Masih canggung.

Masih menjaga jarak.

Namun—

tidak lagi berteriak.

Di sisi lain—

Daji hanya bisa melihat.

Matanya sedikit melebar.

"Ini… berhasil?"

Ia menoleh ke Grachius.

Yang masih santai.

"Dia…"

Beberapa saat berlalu.

Suasana berubah.

Lebih tenang.

Grachius berdiri sedikit.

“Aku akan istirahat di sini malam ini.”

Ia melirik ke arah mereka.

“…besok pagi aku lanjut.”

Sunyi.

Kedua pemimpin saling melirik.

Lalu—

“…tidak masalah.”

Jawaban itu keluar mudah.

Tanpa perdebatan.

Daji membeku.

"…serius?"

"Tadi marah… sekarang langsung mengizinkan?"

Ia menoleh ke Grachius.

Grachius menatap balik.

Dan—

kedipan sebelah mata.

Singkat.

Daji terdiam.

"Orang ini licik..."

"...memberi makan… lalu mereka lupa marahnya."

Ia menghela napas pelan.

Sedikit tersenyum.

Di sisi lain—

salah satu pemimpin maju.

Dari Light Elf.

“…namaku Sylvia.”

Nada suaranya lebih tenang.

Disusul oleh pemimpin Dark Elf.

“…Karrie.”

Singkat.

Grachius menatap mereka.

“…Grachius.”

Lalu—

Daji mengangkat tangannya sedikit.

“…Daji.”

Sunyi sejenak.

Namun kali ini—

tidak tegang.

Daji melirik ke arah Grachius.

Lalu berbisik pelan.

“Aku baru ingat.”

Grachius tidak menoleh.

Namun mendengar.

“…biasanya… orang-orang tidak lewat sini.”

Ia melirik ke arah para elf.

“…mereka memilih memutar.”

“…daripada masuk ke hutan ini.”

Grachius mengunyah pelan.

“Kenapa?”

Daji menyeringai tipis.

“Karena mereka.”

Ia menunjuk samar.

“…para elf tidak suka orang asing.”

“…terutama yang masuk wilayah mereka.”

Sunyi.

Grachius mengangguk pelan.

“Pantas.”

Api terus menyala.

Dan malam itu—

di tengah Hutan Alfheim—

sesuatu yang jarang terjadi—

terjadi.

Dua kubu yang bermusuhan—

duduk bersama.

Makan.

Karena satu orang—

yang bahkan tidak mencoba.

...----------------...

...----------------...

Malam semakin dalam.

Namun tidak semua tempat setenang Hutan Alfheim.

Di jalur keluar Skullcrack—

angin berhembus pelan.

Membawa bau darah.

Tubuh-tubuh tergeletak.

Bandit.

Diam.

Dingin.

Dan di antara mereka—

empat siluet berdiri.

Tidak bergerak.

Tidak bersuara.

Langit tertutup awan.

Namun perlahan—

awan itu bergeser.

Cahaya bulan mulai turun.

Sedikit demi sedikit—

menyingkap wujud mereka.

Armor.

Berat.

Berukir simbol suci.

Kilau logam memantulkan cahaya malam.

Mereka adalah—

Ksatria Templar.

Empat orang.

Berdiri mengelilingi tubuh-tubuh itu.

Salah satu dari mereka berjongkok.

Memeriksa luka.

“…tebasan bersih.”

Suaranya rendah.

Yang lain melipat tangan.

“…bukan pekerjaan bandit biasa.”

Sunyi sejenak.

Angin berhembus lagi.

Membawa sisa keheningan.

“Si rambut putih.”

Salah satu dari mereka berbicara.

“…dia belum jauh.”

Yang lain mengangguk pelan.

Tatapannya mengarah ke jalur keluar.

Menuju hutan.

“…jejaknya masih segar.”

Mereka berdiri tegak.

Seragam.

Disiplin.

Tidak ada keraguan.

Namun—

mata mereka tidak biasa.

Bukan hanya tugas.

Namun—

niat.

...----------------...

Sehari sebelumnya—

di gerbang timur Kota Heimdall—

dua penjaga ditemukan.

Terjatuh.

Tak berdaya.

Tidak mati.

Namun cukup untuk menimbulkan kecurigaan.

Orang-orang kuil—

dan para pencari pelaku—

langsung menghubungkan.

Pemenggal patung Sagitta.

Dan—

penyerang penjaga gerbang.

Satu orang.

Ciri yang sama.

Rambut putih.

Mata seperti matahari.

Perintah pun turun.

Tanpa ragu.

Empat Ksatria Templar dikerahkan.

Untuk memburu.

...----------------...

Kembali ke malam—

empat ksatria itu berdiri.

Salah satu dari mereka mengangkat kepalanya.

Menatap ke arah timur.

Hutan Alfheim.

“Dia pasti masuk ke sana.”

Yang lain menjawab singkat.

“...Alfheim.”

Nada suaranya datar.

Namun mengandung arti.

Masalah.

Konflik.

Namun—

pemimpin mereka melangkah maju.

“Target tetap prioritas.”

Sunyi.

Tidak ada bantahan.

Tidak ada keraguan.

Empat sosok itu mulai bergerak.

Masuk ke kegelapan hutan.

Dengan tujuan yang jelas.

Memburu—

Grachius.

Dan di dalam hutan—

tanpa ia sadari—

perjalanannya—

tidak lagi hanya diawasi oleh bayangan.

Namun juga—

diburu.

...----------------...

...----------------...

Api masih menyala.

Sisa daging hampir habis.

Malam semakin sunyi.

Namun suasana—

tidak lagi tegang.

Light Elf dan Dark Elf—

masih duduk.

Meski menjaga jarak.

Namun tidak lagi saling berteriak.

Di tengah mereka—

Grachius duduk santai.

Dan di sampingnya—

Daji.

Yang sejak tadi—

tidak berhenti memperhatikan.

Matanya terus melirik.

"Orang ini…"

Ia menggigit daging.

Namun pikirannya tidak di situ.

Akhirnya—

“Hei.”

Grachius tidak menoleh.

“Apa?”

Jawaban singkat.

Daji mendekat sedikit.

“Kau ini sebenarnya siapa?”

Sunyi.

Grachius tetap makan.

“Manusia.”

Jawaban datar.

Daji mengernyit.

“Bukan itu maksudku.”

Ia menyilangkan tangan.

“Kekuatanmu.”

“…caramu bertarung.”

“…cara berpikirmu.”

Ia menatap Grachius serius.

“Itu bukan manusia biasa.”

Grachius diam.

Namun Daji belum selesai.

“Dan tujuanmu?”

“…kau berjalan sejauh ini untuk apa?”

Sunyi.

Beberapa elf mulai melirik.

Mendengar.

Daji mendekat lagi.

“Kau membunuh tanpa ragu.”

“…tapi tadi… kau juga ragu.”

Tatapannya tajam.

“Kau ini sebenarnya apa?”

Sunyi.

Grachius berhenti mengunyah.

Untuk pertama kalinya—

ia tidak langsung menjawab.

Daji menunggu.

Dan kali ini—

tidak menyerah.

“Jawab.”

Nada suaranya lebih pelan.

Namun serius.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

Grachius menghela napas.

Pelan.

“Kau banyak bicara.”

Daji menyeringai tipis.

“Dan kau terlalu diam.”

Sunyi.

Beberapa elf kini benar-benar memperhatikan.

Termasuk dua pemimpin.

Akhirnya—

Grachius berbicara.

“Aku akan membunuh para dewa.”

Sunyi.

Semua berhenti.

Tidak ada suara.

Api berderak pelan.

Daji membeku.

“Apa?”

Grachius tidak menatapnya.

“Itu tujuanku.”

Nada suaranya tetap datar.

Seolah membicarakan hal biasa.

Namun—

tidak ada yang menganggapnya biasa.

Salah satu elf menelan ludah.

Yang lain saling melirik.

Daji menatap Grachius.

Lebih dalam.

“Kau serius?”

Grachius mengangguk pelan.

“Mereka bukan dewa.”

Sunyi.

“…mereka hanya makhluk yang duduk di atas.”

Tatapannya sedikit berubah.

Lebih tajam.

“…dan memperlakukan dunia seperti milik mereka.”

Api berderak.

“Aku akan menghabisi mereka.”

Tidak ada emosi berlebihan.

Namun justru itu—

yang membuatnya terasa nyata.

Sunyi panjang.

Lalu—

Daji tertawa kecil.

Pendek.

Namun bukan mengejek.

“Gila.”

Ia menatap Grachius.

“…tapi…”

Senyumnya berubah.

“…menarik.”

Matanya bersinar.

Bukan karena godaan.

Namun karena rasa kagum.

Di sisi lain—

para elf masih diam.

Tidak percaya.

Namun—

tidak ada yang menertawakan.

Karena mereka merasakannya.

Keseriusan itu.

Salah satu dari mereka berbisik.

“Dia benar-benar berniat…”

Pemimpin Light Elf, Sylvia, menatap Grachius.

Lebih lama.

“Kau sadar apa yang kau katakan?”

Grachius tidak menoleh.

“Ya.”

Jawaban singkat.

Pemimpin Dark Elf, Karrie, menyilangkan tangan.

Matanya menyipit.

“Menantang dewa…”

Ia menghela napas kecil.

“…itu bukan hal yang diucapkan sembarangan.”

Grachius tidak menjawab.

Namun—

ia juga tidak menarik ucapannya.

Sunyi kembali.

Namun kali ini—

berbeda.

Bukan karena ketegangan.

Namun karena sesuatu yang lain.

Pengakuan.

Bahwa mereka sedang duduk—

bersama seseorang—

yang berani mengatakan hal—

yang bahkan tidak berani mereka pikirkan.

Daji menyeringai.

“Aku salah tadi.”

Ia menatap Grachius.

“Kau bukan aneh.”

Sedikit jeda.

“…kau benar-benar tidak normal.”

Grachius tidak menanggapi.

Namun kali ini—

ia tidak menyangkal.

Api terus menyala.

Dan malam itu—

di tengah Hutan Alfheim—

sebuah tujuan besar—

akhirnya diucapkan.

Dengan sederhana.

Namun cukup—

untuk mengubah segalanya.

1
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!