Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 22: Ksatria Templar
Malam semakin larut di Hutan Alfheim.
Kabut tipis mulai turun di antara pepohonan besar, membuat cahaya bulan pecah menjadi garis-garis pucat di sela daun. Bara api unggun tinggal merah redup, hampir padam sepenuhnya.
Hutan terasa tenang.
Terlalu tenang.
Grachius membuka mata.
Tidak ada gerakan mendadak.
Namun tatapannya langsung berubah fokus.
Empat kehadiran.
Bergerak cepat.
Terkontrol.
Dan tidak berusaha menyembunyikan tekanan mereka sepenuhnya.
Grachius berdiri perlahan lalu berjalan tanpa suara menuju balik pohon besar di tepi area perkemahan.
Dari sela batang pohon—
empat sosok berjubah putih bergerak di antara hutan.
Armor putih mereka memantulkan cahaya bulan redup.
Ksatria Templar.
Tatapan Grachius sedikit menyipit.
Mereka lebih cepat dari perkiraannya.
Ia kembali ke area api unggun.
Daji masih tertidur dalam bentuk manusia sambil memeluk ekornya sendiri.
Grachius langsung menutup mulutnya.
Mata Daji membelalak panik.
“Hm?! HMMMM?!”
“Diam.”
Suara Grachius rendah.
Daji langsung tenang… sedikit.
Grachius melepaskan tangannya.
“Ada empat Ksatria Templar.”
Wajah Daji langsung berubah serius.
“Mereka mengejar mu?”
“Mm.”
Daji langsung menyeringai tipis.
“Bagus. Kita bunuh saja.”
Tok.
Grachius mengetuk kepalanya.
“Aduh?!”
“Aku tidak mau membuat keributan di wilayah elf.”
"Itu bisa membuat kita diusir. Yang kulakukan tadi akan jadi sia-sia."
"Dasar rubah bodoh."
Daji memegangi kepalanya sambil mendecak kesal.
“Kau berkata seperti itu padahal kau membunuh manusia tanpa ampun kemarin.”
Grachius diam.
“…itu berbeda.”
“Sama saja.”
Namun sebelum percakapan berlanjut—
suara langkah cepat muncul dari dua arah.
Daun berguncang.
Bayangan bergerak.
Dan beberapa detik kemudian—
Light Elf muncul dari sisi utara hutan dipimpin Sylvia.
Dark Elf datang dari sisi selatan bersama Karrie.
Tatapan kedua kelompok langsung tertuju pada empat Ksatria Templar.
Suasana membeku seketika.
Sylvia melangkah maju lebih dulu.
“Kalian manusia memasuki wilayah Alfheim tanpa izin.”
Salah satu Templar menatap dingin.
“Kami sedang memburu seseorang.”
“Bukan urusan kami.”
“Sekarang menjadi urusan kalian.”
Karrie mendecak sambil menyilangkan tangan.
“Manusia selalu menyebalkan.”
Templar lain melirik para elf dengan tatapan merendahkan.
“Kami tidak punya waktu untuk bermain dengan ras bertelinga panjang.”
Aura para elf langsung berubah.
Beberapa Dark Elf bahkan sudah menarik belati mereka.
Sylvia menyipitkan mata.
“Katakan sekali lagi.”
Daji mengintip dari balik semak sambil tersenyum lebar.
“Wah… ini mulai menarik.”
Grachius tetap diam memperhatikan.
Tatapannya terus bergerak mengamati.
Posisi.
Jarak.
Gerakan kaki.
Cara para Templar memegang senjata.
Sementara itu—
ketegangan pecah.
Seorang Dark Elf menyerang lebih dulu dari bayangan.
Gerakannya cepat.
Namun—
CLANG.
Pedangnya langsung ditahan Templar tanpa melihat.
Templar itu membalas dengan tusukan pendek.
Dark Elf nyaris terlambat menghindar.
“Itu cepat.” gumam Grachius pelan.
Pertempuran langsung meluas.
Light Elf bergerak elegan di antara pepohonan. Panah cahaya melesat dari berbagai arah, sementara Dark Elf menyerang dari bayangan menggunakan kecepatan dan racun.
Namun—
Ksatria Templar bertarung seperti mesin perang.
Disiplin.
Presisi.
Brutal.
Mereka bergerak saling melindungi tanpa celah besar.
Satu Light Elf mencoba menyerang dari atas.
Templar langsung memotong jalur lompatannya dengan ayunan vertikal brutal.
Darah menyembur ke batang pohon.
Daji sedikit menyipitkan mata.
“…mereka kuat.”
Grachius tetap memperhatikan.
“Koordinasi mereka bagus.”
Salah satu Templar menggunakan perisai besar untuk menahan dua Dark Elf sekaligus sementara rekannya menusuk dari samping tanpa ragu.
Gerakan mereka efisien.
Tidak emosional.
Sylvia akhirnya turun tangan langsung.
Busur cahaya muncul di tangannya.
Twang.
Panah bercahaya menghantam armor Templar hingga retak.
Namun pria itu tetap berdiri.
Karrie muncul dari bayangan di belakang Templar lain dan menebas lehernya—
namun hanya meninggalkan luka dangkal.
“Holy Armor.” gumamnya kesal.
Daji mulai gelisah.
“Kalau terus begini elf-elf ini akan kalah.”
“Mm.”
“Dan kau masih diam saja?!”
Grachius menatap pertarungan.
“Belum.”
Daji menatapnya tidak percaya.
“Belum?!”
Jeritan terdengar.
Salah satu Light Elf terpental menghantam pohon.
Dark Elf lain jatuh dengan bahu tertusuk pedang.
Meski jumlah elf lebih banyak—
mereka mulai kalah.
Empat Templar itu terlalu kuat.
Terlalu terlatih.
Sylvia menggertakkan gigi.
“Karrie!”
“Aku tahu!”
Dark Elf itu mengangkat kedua tangannya.
Bayangan hitam mulai bergerak di tanah.
Sementara Sylvia memanggil hujan panah cahaya dari langit hutan.
Ledakan demi ledakan mengguncang area sekitar.
Namun—
empat Templar masih berdiri.
Hampir tanpa luka serius.
Dan saat salah satu Templar mulai mengangkat pedangnya ke arah Sylvia—
langkah kaki terdengar.
Tenang.
Pelan.
Grachius keluar dari balik bayangan pohon.
Ia berjalan santai melewati para elf yang terluka.
Tatapan semua orang langsung berpindah padanya.
Daji mengikuti di belakang sambil menghela napas panjang.
“Akhirnya.”
Grachius berhenti beberapa meter dari para Templar.
“Kalau aku ikut campur…”
Tatapannya datar.
“…aku tidak akan disebut pembuat onar, bukan?”
Karrie menatapnya seperti melihat orang aneh.
Sylvia bahkan terlalu lelah untuk menjawab.
Sementara itu—
empat Templar langsung mengenalinya.
Rambut putih.
Mata seperti matahari.
Target mereka.
Salah satu Templar tersenyum dingin.
“Jadi kau akhirnya muncul.”
Templar lain mengangkat pedangnya.
“Ini justru mempermudah pekerjaan.”
Grachius diam.
Namun atmosfer perlahan berubah.
Daji langsung merasakannya lebih dulu.
Udara menjadi berat.
Bukan tekanan biasa.
Melainkan sesuatu yang…
gelap.
Panas.
Dan salah.
Esensi iblis bereaksi terhadap kemarahan Grachius karena teringat pada para gadis yang dipersembahkan di Heimdall.
Ekor Daji langsung berdiri tegang.
“…tidak.”
Tatapannya perlahan melebar.
Aura Grachius kali ini berbeda.
Jauh lebih gelap dibanding sebelumnya.
Para elf mulai mundur perlahan tanpa sadar.
Insting mereka berteriak.
Bahaya.
Grachius mengangkat tangan kanannya perlahan.
Dan api hitam muncul di telapak tangannya.
Tidak besar.
Namun langsung membuat hutan terasa dingin.
Api itu pekat.
Gelap.
Seolah menelan cahaya di sekitarnya.
Bukan api normal.
Bukan sesuatu yang seharusnya ada.
Salah satu Templar langsung berubah ekspresi.
“Apa itu—”
Api hitam melesat.
Tidak cepat.
Namun entah kenapa—
tidak ada yang bisa menghindar.
Api itu langsung menelan empat Ksatria Templar sekaligus.
Dan neraka dimulai.
Armor suci mereka mulai meleleh.
Bukan terbakar.
Seperti logam yang dilempar ke matahari.
Jeritan mereka menggema di hutan.
Namun bahkan suara itu terdengar aneh.
Tertekan.
Seolah api hitam itu juga menelan suara.
Salah satu Templar mencoba keluar—
tangannya langsung hancur menjadi abu hitam.
Yang lain jatuh berlutut.
Tubuh mereka perlahan lenyap di dalam api pekat itu.
Beberapa detik kemudian—
semuanya selesai.
Api hitam menghilang.
Hanya tersisa tanah hangus.
Dan potongan armor gosong yang masih mengeluarkan asap tipis.
Hutan menjadi sunyi total.
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan angin seolah berhenti.
Grachius menurunkan tangannya perlahan.
Ekspresinya tetap datar.
Seolah barusan tidak terjadi apa-apa.
Namun para elf menatapnya dengan wajah pucat.
Takut.
Benar-benar takut.
Sylvia tanpa sadar menggenggam busurnya lebih erat.
Karrie bahkan mundur setengah langkah.
Daji menatap Grachius tanpa berkedip.
Dan perlahan—
potongan-potongan pengetahuan lama muncul di kepalanya.
Iblis.
Makhluk yang lahir dari kebencian dan kemarahan.
Makhluk yang bahkan para dewa takuti.
Bahkan dewa…
bisa jatuh menjadi iblis.
Tatapannya turun pada api hitam yang masih tersisa samar di udara.
Dan untuk pertama kalinya—
Daji mulai benar-benar bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah Grachius perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya?
Grachius menatap tanah hangus beberapa detik.
Lalu berbalik begitu saja.
“Ayo tidur lagi.”
Daji membeku.
“…kau serius?”
“Mm.”
“Kau baru saja menghapus empat manusia dari dunia.”
“Mereka menyerang duluan.”
“Itu bukan poin utamanya!”
Namun Grachius sudah berjalan kembali menuju api unggun.
Dan justru sikap tenangnya itulah yang paling menyeramkan.
...—...
Jauh di Kota Heimdall.
Di dalam ruang kuil yang sunyi—
Sebastian berdiri memegang kristal putih kecil.
Kristal koneksi milik para Ksatria Templar.
Biasanya benda itu stabil.
Terhubung dengan nyawa para pemiliknya.
Namun malam ini—
CRACK.
Retakan muncul.
Lalu kristal itu hancur di tangannya.
Sebastian membeku.
Empat koneksi…
hilang bersamaan.
Matanya perlahan melebar.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—
ia benar-benar merasa takut.
Empat Ksatria Templar bukan prajurit biasa.
Dan mereka mati terlalu cepat.
Terlalu bersih.
Tangan Sebastian sedikit menegang.
“...monster.”
Bisikannya pelan.
Kini ia sadar.
Mereka tidak sedang memburu manusia biasa.
Melainkan sesuatu…
yang mungkin benar-benar bisa mengguncang langit.
...A Novel By Franzzz...