NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: PERTARUHAN DI ATAS KERTAS

Nata berdiri di depan cermin kecil yang sudah retak di sudut kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir kecil dari kran plastik. Di kehidupan sebelumnya, setiap kali ia menatap cermin ini, ia hanya melihat pria yang hancur oleh kelelahan. Tapi sekarang, pantulan yang ia lihat adalah seorang remaja berusia delapan belas tahun dengan mata yang menyimpan rahasia dunia.

​“Sepuluh ribu rupiah,” gumam Nata sambil menatap selembar uang kertas kumal di atas meja kayu.

​Itu adalah seluruh sisa uang makannya untuk dua hari ke depan. Bagi orang lain, sepuluh ribu mungkin hanya cukup untuk sebungkus nasi rames. Namun bagi Nata, sepuluh ribu ini adalah benih dari kekaisaran yang akan ia bangun. Ia tidak butuh keberuntungan; ia hanya butuh akurasi informasi yang ia bawa dari masa depan.

​"Kak, sarapan sudah siap," suara Kirana terdengar dari balik pintu bambu.

​Nata keluar dan melihat adiknya sedang menata tiga piring nasi putih dengan sedikit garam dan irisan tempe goreng tipis. Saat cahaya pagi yang menembus celah atap mengenai wajah Kirana, Nata tertegun sejenak. Cara Kirana merapikan piring dan senyum tipis yang ia berikan sangat mirip dengan mendiang Ibu mereka. Kirana memiliki kelembutan yang sama, jenis ketenangan yang mampu meredam badai di dalam hati Nata. Di tengah kemiskinan ini, Kirana adalah satu-satunya jejak hangat yang ditinggalkan Ibu untuk mereka jaga.

​“Makan yang banyak, Arya. Nanti di sekolah jangan jajan sembarangan,” kata Nata sambil duduk di samping adik bungsunya.

​“Aku nggak akan jajan, Kak! Aku mau tabung uang sakunya buat beli bola baru!” seru Arya penuh semangat, matanya berbinar seperti karakter petualang yang tak kenal takut.

​Nata tersenyum, meski hatinya terasa perih. Ia tahu uang saku Arya hanya dua ribu rupiah per hari. Ia mengamati Kirana yang sedang makan dengan tenang. Adiknya itu selalu mendahulukan bagian tempe yang lebih besar untuk kedua saudaranya, persis seperti yang selalu dilakukan Ibu dulu.

​“Kirana, setelah pulang sekolah, tolong beli lilin dan isi ulang tabung gas kecil. Aku akan pulang sedikit terlambat hari ini,” instruksi Nata.

​SMA Tunas Bangsa terlihat sama seperti biasanya. Saat jam istirahat kedua, Nata menuju ke area belakang sekolah, tempat Raka Dirgantara sedang duduk di atas motor sport merahnya.

​“Mau apa lagi kamu, miskin?” bentak salah satu antek Raka.

​Raka mengangkat tangan, memberi isyarat agar temannya diam. Ia menatap Nata dengan campuran rasa takut. “Soal yang kemarin... dari mana kamu tahu?”

​Nata tidak menjawab. Ia menarik sebuah kursi kayu tua dan duduk berhadapan dengan Raka. “Itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana kamu membayar lima puluh juta rupiah yang kamu hilangkan semalam kepada sindikat balap liar itu sebelum mereka mendatangi rumahmu.”

​Raka tersedak. “B-bagaimana... kamu tahu jumlahnya?”

​“Aku tahu segalanya, Raka. Ayahmu baru saja memperketat pengawasan rekening yayasan. Tapi aku bisa membantumu. Kamu punya alat yang aku butuhkan,” Nata mengeluarkan selembar kertas. Di sana tertulis: BRASIL VS KROASIA: 3-1.

​“Apa ini?”

​“Hasil pertandingan pembukaan Piala Dunia lusa. Neymar mencetak dua gol, Oscar menutupnya di menit terakhir,” Nata menatap langsung ke mata Raka. “Pasang semua sisa uangmu pada skor presisi ini. Exact score odds-nya ada di angka 1 banding 15. Jika menang, aku minta bagianku: sepuluh juta rupiah. Tunai.”

​“Sepuluh juta? Itu perampokan!” seru Raka.

​“Itu biaya penyelamatan masa depanmu,” Nata berbalik pergi. Ia tahu keserakahan Raka akan membimbingnya pada instruksi itu.

​Setelah sekolah, Nata pergi ke sebuah warnet pinggiran yang pengap. Di tahun 2014, membeli aset digital di Indonesia adalah sebuah perjuangan teknis yang rumit. Belum ada aplikasi instan atau bursa lokal yang terpercaya.

​Nata harus melewati proses panjang. Ia membuka forum-forum teknologi luar negeri, melakukan verifikasi identitas di bursa internasional yang masih primitif, dan berurusan dengan sistem wire transfer yang lambat. Matanya dengan cepat memindai grafik harga BitCore (BCR) yang saat itu masih berada di angka 450 dolar AS.

​Pikirannya bekerja dengan efisiensi tinggi. Ia tidak melihat grafik sebagai garis acak, melainkan sebagai struktur bangunan yang sedang disusun oleh emosi manusia—ketakutan dan keserakahan.

​Malam harinya, rumah kontrakan mereka terasa sunyi karena listrik padam. Nata memperhatikan Kirana yang sedang mengajari Arya membaca di bawah cahaya temaram lilin. Sosok Kirana yang sabar membimbing Arya benar-benar bayangan hidup dari Ibu mereka.

​"Kak Nata, kenapa Kakak terus menulis di buku itu?" tanya Arya penasaran.

​Nata menutup buku catatannya yang penuh kode. "Ini adalah peta harta karun, Arya. Peta untuk memastikan kita tidak akan pernah kedinginan lagi saat hujan."

​Pukul empat pagi di hari Jumat, ponsel tua Nata bergetar. Sebuah pesan masuk.

​Raka: "3-1. GILA! KAMU BENAR-BENAR GILA! BAGAIMANA BISA?!"

​Nata menghapus pesan itu tanpa ekspresi. Bagi Nata, ini hanyalah hasil dari perhitungan yang tepat.

​Esok harinya, Raka menemui Nata di belakang laboratorium fisika dengan wajah pucat dan menyerahkan amplop cokelat tebal. "Ini sepuluh juta. Sesuai janji."

​Nata menerima amplop itu. "Mulai sekarang, jangan pernah sekali pun menyentuh atau menghina adik-adikku, di sekolah maupun di luar."

​Nata segera menuju bank untuk menyetorkan uang itu. Proses transfer ke bursa digital membutuhkan waktu berjam-jam karena koneksi perbankan internasional yang masih kaku di tahun itu. Namun, sebelum matahari terbenam, ia berhasil mengamankan dua koin BitCore.

​Saat ia berjalan pulang, ia melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan gang sempit rumahnya. Beberapa pria berpakaian rapi sedang berbicara dengan pemilik kontrakan. Nata menajamkan penglihatannya.

​Paman Danu?

​Darah Nata mendidih. Paman Danu adalah orang yang di kehidupan sebelumnya menipu mereka dan merampas sisa harta orang tua mereka.

​Nata mempercepat langkahnya. Pertempuran yang sesungguhnya telah dimulai lebih cepat dari perkiraannya.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!