Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah.
Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapan mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakin menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steve memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leon, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingin menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
"aku akan mencari sendiri akan siapa dia, dan kamu tahu apa yang akan aku lakukan setelah aku mengetahui semuanya?"
seringai tajam terulas dari kedua bibir leon yang tampak merah alami, jantung steve rasanya berdetak semakin cepat. dia paham akan siapa leon dan apa yang akan terjadi selanjutnya saat leon mengetahui semuanya.
"aku bisa menjelaskan semuanya, dan aku mohon kamu jangan mencari dia. karena dia hanya sekedar teman bagiku, dan aku harap kamu paham akan posisi kamu saat ini...!!?"
Satu tangan leo terulur mengacak ujung kepala steve, leon sengaja mengecak kasar rambut steve yang tampak sedikit berantakan.
"apa salahnya seorang kakak mengkawatirkan adiknya...? dan aku hanya tidak ingin kamu salah pergaulan karena kamu tidak bisa memfilter pertemanan."
Leon segera melangkah melewati steve yang masih berdiri mematung, dia yang sudah tidak terkejut dengan sikap posesif leon hanya menghela nafasnya berat.
"aku akan keluar, dan aku harap setelah aku pulang kamu masih berasa di dalam rumah." ucap leon sebelum membuka pintu kamar steve.
Steve terdiam, rasanya dia masih kesal dengan sikap leon. bunyi pintu yang terbuka membuat steve berfikir jika leon sudah pergi dari kamarnya, dengan gerakkan kilat steve melepaskan kaos yang dari tadi melekat di tubuhnya. rasa gerah sudah dari tadi dia rasakan, aktivitas steve dari tadi pagi membuatnya ingin segera berendam di dalam bathup.
"ehem..."
Suara deheman terdengar dari balik pintu, steve yang terkejut segera membalikkan tubuhnya, dia tahu dan hapal dengan suara deheman tersebut.
"kak... kamu, kamu belum keluar ternyata...?" suara steve terdengar terbata, dia mencari letak di mana dia melemparkan kaosnya.
"apa yang kamu cari...?" tanya leon menatap pandangan mata steve.
"aku... aku cari kaos ku." jawab steve terdengar gugup.
"ck... steve, kamu laki laki dan aku juga laki laki...!! kenapa kamu harus malu...? aku juga tidak akan bernafsu melihat tubuhmu...!!?"
Steve sontak menatap leon yang menyeringai melihat ke arahnya, dia sadar jika memang benar ucapan leon ada benarnya. tidak mungkin leon akan tertarik dengan steve, walau steve telanjang sekalipun di depan leon.
"oh benar juga." gumam steve dan dengan segera melepaskan celana panjangnya.
Kini steve hanya memakai celana boxer miliknya yang masih tersisa di tubuh atletisnya, leon yang tidak menyangka jika steve memiliki tubuh se atletis itu seketika sulit untuk menelan ludahnya sendiri, kedua mata leon menetap tubuh steve yang berjalan mendekat ke arah kamar mandi.
Bunyi suara pintu tertutup menyadarkan lamunan leon, dia mengacak rambutnya kasar menyadari kebodohannya sendiri, yang terpesona melihat tubuh atletis milik steve.
"gila kamu leon....!!!!" gerutu leon sambil mengacak rambutnya berulang kali, dia memilih pergi dari kamar steve.
Sedangkan steve yang berada di balik pintu kamar mandi menyandarkan tubuhnya, tangan steve memegang dada yang terasa berdetak hebat.
"gila... lo steve...!!! bisa bisa nya lo bertingkah seperti seorang pengoda, gila lo steve...!! benar benar gila."
Dada steve masih berdetak dengan cepat, seakan jantungnya akan keluar dari tempatnya.
Sedangkan leon yang saat ini berada di teras depan berulang kali menengkan dirinya dengan menghisap sebatang nikotin yang ada di tangan kanannya, kepulan asap putih terlihat menebal saat leon meniupkan ke udara.
"kamu normal leon, kamu bukan seorang gay. dan ingat...!! dia di titipkan om alex untuk kamu jaga dan didik dengan sangat baik."
batin leon berulang kali mengingatkan pikiran leon yang semakin salah.
Tangan leon mengambil sebuah benda pipih di saku celananya, segera leon mencari kontak dias di salah satu nomer yang tersimpan di handphone miliknya.
"hallo...."
Suara lembut seorang wanita terdengar di balik telpon, leon tahu siapa wanita yang menjawab panggilannya.
"lagi ngapain...?" tanya leon sebagai basa basi.
"habis mandi."
Senyum leon terurai mendengar jawaban dias, pikiran leon berkelana. andai leon ada di samping dias, dia dapat mencium aroma sabun di tubuh dias.
"keluar yuk...?" ajak leon tanpa berbasa basi.
"kemana...?" jawab dias cepat.
"terserah kamu, yang penting kita keluar. aku jenuh di rumah." ajak leon sambil berdiri.
"oke, dua puluh menit lagi kamu jemput ya...?" balas dias terdengar senang.
"siap sayang, aku otw setelah ini."
Leon segera mematikan telponnya, sore ini dia akan pergi dengan kekasihnya. kebetulan hari ini malam minggu, jadi besok adalah hari dimana leon dan dias akan libur kerja.
Steve yang baru saja akan keluar dari dalam kamar, memilih akan menuju ke dapur. rasa lapar tiba tiba datang begitu saja tanpa permisi, langkahnya terhenti saat melihat leon yang baru saja masuk dari depan.
"kak leon..." panggil steve menghentikan langkah leon.
Leon menatap steve yang sudah terlihat segar dengan rambut basahnya, tetesan air dari rambut basah steve membuat leon kembali merasakan sesak .
"kamu... kamu... kenapa tidak mengeringkan rambumu steve...?" suara gugup dari leon membuat steve ingin tertawa.
"oh ini.." steve mengacar rambutnya kasar, cipratan air dari rambut steve membuat wajah steve terlihat sangat sexsi di mata leon.
"hairdrayer ku rusak, jadi sengaja aku biarkan rambutku kering sendiri."
Steve yang merasakan perutnya sudah mengeluarkan suara segera berjalan menuju kedapur, leon yang melihat langkah steve hanya memandangnya tanpa mau bertanya.
Bunyi suara kompor yang di nyalakan membuat leon tersadar, dia melihat jika steve akan memasak mie instant.
"kenapa enggak pesan makanan aja, atau biar aku pesankan...?" tawar leon sambil berjalan mendekati steve yang terlihat sedang asik meuang bumbu mie di dalam mangkok.
"enggak, hari ini aku ingin buat ramen dari mie instant. kamu mau, kak leon...?" steve sengaja menawarkan diri membuat makanan untuk leon.
"hmm... boleh..." leon segera menarik kursi yang ada di samping mini bar, leon dapat melihat dengan jelas bagaimana dengan cekatan steve membuat bumbu untuk kuah ramennya nanti.
"baunya wangi sekali steve, dari mana kamu belajar membuat bumbu ramen seperti ini...?"
Satu mangkok ramen yang terbuat dari mie instant dengan kuah kuning pekat membuat rasa lapar leon terasa, aroma khas ramen mencuat dari kepulan asap yang terlihat mengepul dari atas mangkok berwarna putih.
Steve tersenyum senang melihat reaksi berlebihan dari wajah tampan leon, satu sruputan terdengar saat len mencicipi kuah pekat tersebut.
"Wow... steve, ini enak sekali." Ucap leon sesaat setelah merasakan kuah ramen yang menurutnya sangat enak.
"Jika kamu ingin, aku bisa membuatkan lagi." Tawar steve yang mendapat gelengan cepat dari leon.
"Enggak steve, cukup ini aja. Karena sebentar lagi aku akan keluar bersama dias." Jujur leon membuat wajah steve yang awalnya cerah menjadi mendung seketika.
"Kalian akan malam mingguan...?" Tanya steve berbasa basi.
"Tentu saja, malam ini aku akan menghabiskan waktu dengan kekasihku."
Entah kenapa mendengar ucapan leon, rasa sesak di dada steve terasa menyesakan. Dia tahu jika dias adalah kekasih leon dan hubungan mereka sudah berjalan selama beberapa bulan terakhir, tapi steve masih belum memahami kenapa setiap leon jalan dengan dias dia selalu tidak rela.
"Hei... steve, are you oke...?" Tanya leon yang melihat kesedihan di wajah tampan steve.
"Oh.. i am fine, kamu akan keluar jam berapa...?" Tanya steve berbas basi.
"Lima belas menit lagi aku akan menjemput dia."
Bunyi suara dentingan sendok membuayarkan lamunan steve, leon yang akan beranjak berdiri sambil membawa mangkok di tangannya gerakkannya tiba tiba di hentikan oleh steve.
"Lebih baik kamu segera bersiap, kamu tidak ingin dias lama menunggu kedatanganmu kan...?"
Leon menatap steve, dia berfikir ucapan steve ada benarnya.
"Oke, aku titip mangkok kosongku ya steve. Kamu memang adik ku yang paling mengerti akan kebahagiaan kakaknya."
Leon mengacak rambut basah setengah kering milik steve, senyuman manis yang terlihat dari leon membuat hati steve menghangat seketika.