NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesi Terapi Dr. Orson

Ada sesuatu di tatapan itu, cara Raymon menahan diri hanya karena ia yang meminta, membuat dadanya terasa penuh.

Raymon Frost bukan tipe pria yang tunduk pada siapa pun. Tapi saat ini, dia memberinya kendali.

Suara pelan lepas dari bibirnya saat ia mencapai puncak. Tak lama kemudian, Raymon kehilangan kendali juga. Pria itu meraih pinggangnya dan membalas dengan ritme yang membuatnya kembali larut.

Setelah semuanya mereda, mereka terbaring dengan tubuh saling berdekatan. Ia menggerakkan jarinya di dada bertato Raymon, mengikuti garis-garis hitam di sana. Polanya kebanyakan tribal, mirip dengan yang memenuhi lengan pria itu.

Baru sekarang ia menyadari adanya beberapa bekas luka di dada itu.

Tangannya berhenti di salah satu dari tiga bekas luka di sisi kanan dada.

“Ini dari bom mobil,” kata Raymon pelan, tangannya mengusap punggungnya.

Ia berpindah ke sisi kiri, menyentuh bekas luka panjang di atas pinggul.

“Perkelahian pisau waktu aku ulang tahun ke enam belas. Cuma gara-gara debat politik yang kebablasan.”

Ia lalu menyentuh bekas luka bulat di sisi kiri perut.

“Tembakan. Masalah sama Alfredo. Dia semacam Presiden buat orang Meksiko. Waktu itu situasinya agak rumit. Udah lebih dari sepuluh tahun lalu.”

Ia menatap Raymon. “Sepuluh tahun? Itu sebelum kamu jadi Presiden?”

“Dua belas tahun lalu. Waktu Papa aku meninggal, aku yang gantikan. Umur aku dua puluh tiga.”

“Gimana bisa? kamu masih muda banget.”

“Aku udah mulai kerja sama Papa dari umur lima belas. Orang-orang dukung aku.” Raymon mengangkat bahu santai. “Lebih baik daripada perang internal. Itu gak bagus buat bisnis.”

Tatapannya kembali ke dada Raymon. Perlahan Gwen mulai memahami betapa jauhnya dunia pria itu dari dunianya.

“Jamerson kenapa?” tanyanya pelan.

Raymon terdiam beberapa saat, lalu menarik napas dalam dan memeluknya lebih erat.

“Papa aku.”

“Ya Tuhan… dia yang ngelakuin itu? Kenapa?”

“Panjang ceritanya, Babby. Panjang dan buruk. Dan jelas bukan sesuatu yang mau aku bahas di tempat tidur. kamu bisa mimpi buruk.”

“Seburuk itu?”

“Bukan.” Raymon menatapnya dalam. “Jauh lebih buruk dari yang bisa kamu bayangin, Gwen.”

***

Alarm berbunyi pukul tujuh. Raymon menoleh ke bawah, melihat Gwen masih tertidur di atas dadanya, lalu menggeleng pelan. Ia ingat sudah memindahkannya ke bantal semalam, tapi entah kapan Gwen kembali naik ke atas dirinya.

Berusaha tidak membangunkannya, Raymon perlahan memindahkan tubuh Gwen ke kasur dan menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya. Semalam mereka melakukannya tiga kali, jadi kemungkinan besar Gwen akan terus tidur.

Setelah mengecup bahu Gwen yang sedikit terlihat dari balik selimut, Raymon meraih kruk yang disandarkan di meja samping tempat tidur dan bersiap untuk sesi terapinya dengan Orson.

Di tengah sesi, Orson mengambil tongkat yang sudah seminggu tergeletak di kursi sudut, lalu membawanya.

“Kita coba ini sebentar,” katanya.

Raymon perlahan turun dari meja terapi dan berdiri, menahan berat badan di kaki kiri sambil memegang sisi meja dengan tangan kanan.

“Kita mulai pelan-pelan. Coba beberapa langkah dulu.”

Raymon menarik napas dalam, memegang tongkat dengan tangan kiri, lalu melepaskan cengkeramannya dari meja.

Percobaan pertamanya buruk. Begitu ia mengangkat kaki kiri untuk melangkah, rasa sakit langsung menghantam lutut kanannya hingga ia hampir terjatuh.

“Bagi beban antara tongkat dan kaki. Dan coba ambil langkah yang lebih kecil.”

Masih terasa menyakitkan, tapi sedikit lebih baik. Ia berhasil melangkah empat langkah sebelum rasa sakitnya jadi tak tertahankan dan ia harus duduk.

Menyedihkan. Ia merasa ingin menghantam sesuatu.

“Itu sudah bagus, Tuan Frost,” kata Orson.

Raymon mengangkat alis. “Kalau itu bagus, yang jeleknya kayak gimana?”

“Itu normal. Untuk pertama kalinya dalam empat bulan, kamu menaruh hampir seluruh berat badan pada kaki yang cedera. Kamu bisa melakukannya saja sudah sangat menjanjikan. Aku rasa kamu sebaiknya mulai menggunakan kruk lengan mulai sekarang.”

Tubuh Raymon langsung kaku. “Aku gak suka.”

“Kenapa? Memang butuh latihan, tapi jauh lebih praktis.”

“Karena itu .... Aku kelihatan cacat permanen.”

Akhirnya ia mengatakannya. Ketakutan terbesarnya saat ini. Bahwa lututnya sudah terlalu rusak, sampai ia harus berjalan dengan kruk seumur hidup.

Tongkat masih bisa ia terima. Tapi kruk… rasanya tidak.

“Itu tidak akan permanen, Tuan Frost. Justru ini langkah yang lebih baik menuju penggunaan tongkat dibanding kruk ketiak yang kamu pakai sekarang.”

“Ya udah,” desahnya. “Kapan aku bisa benar-benar lepas dari kursi roda?”

“Tergantung. Perkembangan kamu jauh lebih baik dari perkiraan. Dengan latihan cukup, dalam beberapa minggu kamu bisa berdiri hanya dengan kruk lengan. Tapi kamu tetap harus menggunakan kursi roda. kamu akan membutuhkannya saat kita mulai latihan intens dengan tongkat. Sesi itu akan memberi tekanan besar pada lutut kamu, jadi lebih baik kamu pakai kursi roda untuk satu atau dua jam setelahnya.”

“Pokoknya bawa aku sampai ke tongkat itu, Orson. Aku gak peduli harus ngapain, yang penting aku sampai ke situ.”

“Aku akan bantu, Tuan Frost. Sekarang, kita coba kruk lengan itu, ya?”

...***...

Sesi terapinya tidak berjalan baik. Sekilas melihat wajah Raymon saat dia kembali sudah cukup memberi jawaban, dan sepanjang pagi dia hampir tidak bicara.

Gwen mengambil mangkuk kosong bekas serealnya lalu membawanya ke dapur, menaruhnya di wastafel. Setelah mengisi mangkuk Bilbo, dia mendekati Raymon.

“Aku lagi kepikiran,” katanya santai sambil memperhatikan Raymon memeras jeruk, “Mungkin besok aku bisa ikut kamu latihan.”

Saat tidak ada sesi terapi, Raymon biasa berlatih dua jam. Kalau ada terapi, dia tetap olahraga setidaknya satu jam setelahnya. Pria itu benar-benar terobsesi.

“Boleh.” Raymon mengangkat bahu dan mulai menuangkan jus ke gelas. “Kamu mau ngapain? Treadmill?”

“Aku kepikiran angkat beban.”

Tangan Raymon berhenti di tengah menuang. Dia menoleh dengan ekspresi tidak percaya, matanya menelusuri lengan Gwen yang jelas tidak berotot.

“Angkat beban?”

“Iya.”

“Oke.” Raymon tertawa.

Gwen berusaha memasang wajah tersinggung, meski dalam hati dia ikut tersenyum. Tawa Raymon jauh lebih baik daripada wajahnya yang murung.

“Kenapa? Itu lagi populer. Feed Instagram aku isinya cewek-cewek pamer selfie di gym. Katanya bagus banget buat bentuk bokong. Mungkin aku juga bisa foto-foto, atau sekalian bikin video. Aku suka outfit gym yang neon ketat gitu dan—”

Belum sempat dia selesai, tiba-tiba dia sudah duduk di atas meja dapur. Raymon berdiri di depannya, memegang dagunya, menatap dengan kesal.

“Gak ada selfie pakai baju ketat.”

“Ah, jangan galak gitu. Semua orang juga posting kayak gitu.”

“Istri aku bukan semua orang.”

Sial.

Kalimat itu selalu bikin hatinya meleleh. Dan diam-diam dia suka sisi posesif Raymon. Aneh, tapi terasa manis.

Gwen mencondongkan tubuh, merapikan kerah kemeja Raymon, lalu menyusuri rambutnya yang masih sedikit basah.

“Kamu itu ganggu banget sih, Raymon. Seksi banget.”

Raymon memalingkan tatapan, melihat gelas jusnya. “Bahkan pakai kruk?”

“Bahkan meski pakai kruk, Raymon.”

Gwen mencium pria itu, sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Orson bilang apa?”

“Katanya aku bagus.”

Dari cara Raymon mengatupkan rahang dan betapa keras dia menggenggam kruk sampai jarinya memutih, jelas itu bukan sepenuhnya sesuai dengan yang dia rasakan.

“Aku harus pergi. Nanti balik pas makan malam.”

Raymon mengecup keningnya lalu pergi.

Raymon lagi kesakitan. Dan itu ikut membuat dada Gwen terasa sesak. Gwen tetap duduk di atas meja dapur cukup lama setelah Raymon pergi, ia cuma menatap lantai.

“Sempurna,” gumamnya pelan. “Benar-benar sempurna."

Bos mafia. Pengedar narkoba. Pembunuh. Dan dia malah jatuh cinta sama Raymon.

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!