Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Misi Kedua
..."Hidup itu berat, banyak rintangan yang menghalangi bukan cuma sekali tapi berkali-kali. Namun itulah alasan kita melanjutkan hidup dan berusaha keras."...
Seorang pemuda mengendarai motor bututnya dengan pelan di jalanan kota Astra yang mulai sepi malam itu.
Lampu-lampu jalan yang kuning temaram sesekali menyapu wajahnya yang lelah. Dia terlihat seperti pemuda biasa berusia 18 sampai 19 tahun, umur yang sering dibilang orang paling rawan karena sedang masa-masa mencari jati diri dan pengakuan dari orang lain.
Umur di mana kebanyakan anak muda suka berkeliaran tanpa tujuan, melakukan apa saja yang terasa menyenangkan, bukan karena butuh, tapi semata-mata karena ingin.
Tapi Alvaro tidak seperti itu, dia tidak punya kemewahan untuk main-main atau mencari kesenangan.
Setiap hari baginya adalah perjuangan keras demi memenuhi kebutuhan hidup. Bukan karena mau, melainkan karena 'harus'.
Kalau dia menyerah dan terduduk diam saja, itu sama saja seperti mengucapkan selamat tinggal pada masa depannya sendiri.
Dia sangat sadar, dia bukan anak orang kaya yang bisa santai menunggu warisan perusahaan atau kekayaan orang tua. Satu-satunya modal yang dia punya hanyalah tekad dan sedikit harapan.
*Tring…*
Suara lonceng pintu warnet berbunyi pelan saat Alvaro mendorongnya masuk. Bau AC yang sudah agak pengap bercampur aroma rokok dan kopi instan langsung menyambutnya seperti biasa.
"Alvaro, udah datang ya? Coba kemari dulu sebentar," panggil seorang laki-laki paruh baya dari balik meja kasir. Itu Pak Fajar, pemilik warnet yang sudah seperti ayah kedua baginya.
"Oh, baik Pak," jawab Alvaro sambil berjalan mendekat. Dia menarik kursi plastik yang sudah agak reyot dan duduk di depan Pak Fajar.
"Ada apa ya, Pak?"
Pak Fajar menghela napas panjang, tampak agak berat.
"Jadi begini… melihat lokasi warnet ini yang semakin sepi dan kurang strategis, Bapak berniat untuk menutup usaha ini. Bapak mau pulang kampung permanen."
Alvaro langsung terdiam. Berita itu cukup mengejutkannya, tapi dia juga bingung harus bereaksi seperti apa. Hanya keluar kata, "Begitu ya, Pak…"
"Tapi sebelum itu, Bapak mau tanya dulu sama kamu," lanjut Pak Fajar sambil menatapnya lekat-lekat.
"Setelah lulus nanti, kamu berniat mau ke mana?"
Alvaro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Emm… jujur saya masih bimbang sih, Pak. Tapi saya mau coba usahakan lanjut kuliah lewat jalur beasiswa."
Pak Fajar mengangguk pelan, tatapannya penuh harap.
"Sebenarnya Bapak mau nawarin, kalau kamu mau ikut Bapak ke kampung juga boleh. Tapi di sana kerjanya cuma mengolah lahan sawah sama kebun. Nggak enak-enak amat, tapi paling nggak ada tempat tinggal dan makan sehari-hari."
Alvaro terdiam lebih lama kali ini. Dia tahu tawaran itu tulus. Bahkan dari cara Pak Fajar menatapnya, terlihat jelas ada harapan besar.
"Sepertinya saya akan lanjut sekolah dulu, Pak," jawab Alvaro pelan sambil menundukkan kepala.
"Apalagi selama ini saya sudah terlalu banyak merepotkan Bapak. Hutang saya sama Bapak… entah kapan bisa saya lunasi semua."
Selama tiga tahun terakhir, sejak ibunya meninggal dunia dan dia memutuskan melanjutkan SMA di kota ini, Pak Fajar memang sering membantunya.
Mulai dari uang sekolah, uang kos, sampai urusan-urusan kecil yang seharusnya dilakukan orang tua.
Kehadiran Pak Fajar secara diam-diam sudah seperti menggantikan peran orang tua yang hilang.
"Tidak, Bapak sama sekali nggak merasa kerepotan kok," ucap Pak Fajar sambil tersenyum lembut dan menggelengkan kepala pelan.
Dia kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari laci meja dan menyodorkannya ke depan Alvaro.
"Terima ini. Hitung-hitung sebagai pesangon dari Bapak."
Alvaro langsung mendorong amplop itu kembali dengan lembut.
"Tidak bisa, Pak. Mana mungkin saya terima. Uang yang kemarin saja saya belum sanggup bayar balik."
"Kamu harus terima," tegas Pak Fajar sambil mendorong amplop itu lagi.
"Dan satu lagi, kalau suatu saat kamu berubah pikiran, langsung hubungi Bapak ya. Butuh apa pun juga jangan sungkan sungkan."
Saat itu, dada Alvaro terasa hangat sekali. Matanya mulai memanas, ada sesuatu yang ingin keluar tapi ditahannya.
Jarang sekali ada orang yang peduli sebesar ini kepadanya setelah ibunya tiada.
"Terima kasih banyak, Pak…" suaranya agak bergetar. "Saya janji, suatu saat nanti akan membalas semua kebaikan Bapak puluhan bahkan ratusan kali lipat."
Malam itu mereka berdua berbincang cukup lama, santai membahas banyak hal, mulai dari kenangan lucu di warnet, cerita masa kecil Alvaro, sampai rencana Pak Fajar di kampung nanti. Tawa kecil sesekali terdengar di warnet yang sudah sepi pengunjung.
"Oh iya, bagaimana keadaanmu di sekolah akhir-akhir ini?" tanya Pak Fajar tiba-tiba, seolah baru teringat sesuatu.
"Bapak sempat khawatir kamu jadi korban bully anak wakil kepala sekolah itu. Waktu berita itu ramai, Bapak sempat mau telpon kamu tapi nggak diangkat."
Alvaro tersenyum tipis sambil menggaruk kepala. "Oh itu… saya nggak apa-apa kok, Pak. Maaf nggak sempat kabari. Waktu itu HP saya lagi dikumpulin karena jam pelajaran. Sampai sekarang masih ditahan di ruang guru kayaknya."
Pak Fajar menghela napas lega. "Hufft… ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja. Udah malam, lebih baik kamu pulang sekarang biar istirahat."
"Baik, Pak. Sebelum itu… Bapak kira-kira kapan berangkat ke kampung?"
"Mungkin besok pagi. Ada urusan mendadak juga di sana. Tadinya kalau kamu nggak ke sini, Bapak yang mau ke kosan kamu nanti."
"Semoga selamat sampai tujuan ya, Pak. Nanti saya kabari kalau ada waktu luang," ucap Alvaro sambil berdiri dan pamit.
...----------------...
Malam semakin larut dan dingin saat Alvaro mengendarai motor bututnya pulang. Angin malam menusuk kulitnya yang hanya memakai jaket jeans tipis. Pikirannya masih penuh dengan percakapan tadi bersama Pak Fajar.
Tiba-tiba
"Ting… Misi terpicu!
Misi: Gagalkan rencana bunuh diri seseorang.
Hadiah: Keterampilan Beladiri Karate tingkat menengah + 1 Kotak Misteri tingkat menengah.
Batas waktu: 39 menit dari sekarang.
Lokasi: Jembatan Gantung Kriyan, batas kota provinsi." Alvaro tersentak kaget tatkala mendengar dering misi baru sistem hingga motornya oleng sebentar.
"Apa!? Bunuh diri!?" gumamnya shock berat.
Dia buru-buru menepi di pinggir jalan dan membaca ulang misi itu dengan mata melebar. Jantungnya langsung berdegup kencang.
"Serius nih sistem? Tapi… aku nggak tahu jalan ke sana sama sekali. Sistem, gimana caranya ke sana dengan jalur tercepat?"
Tidak ada jawaban.
Alvaro menepuk jidatnya sendiri.
"Ah iya… sistem masih update sejak tadi sore. Sial banget."
Dia memandang jalan di depannya yang gelap dan sepi. Kalau lewat jalan raya utama, pasti lebih dari 40 menit. Waktu tinggal sangat sedikit.
"Harus gimana ini…
kritik dan saran boleh kokk