Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: KEPINGAN TERAKHIR HARDIANTO
Waktu adalah pencuri yang paling sopan; ia mengambil hari-hari kita tanpa permisi, namun meninggalkan jejak berupa kenangan yang tak ternilai. Setahun telah berlalu sejak guncangan faksi Hendrawan di kantor pusat. Kini, rumah di Menteng tidak lagi hanya berisi sunyi dan bisikan rencana bisnis, melainkan gema tawa mungil dan suara langkah-langkah kaki kecil yang tidak stabil di atas lantai kayu jati.
Arya Baskara Hardianto, di usianya yang baru menginjak empat belas bulan, telah menjadi pusat semesta bagi Larasati dan Baskara. Pagi itu, Arya sedang berusaha mengejar seekor kupu-kupu di taman belakang, sementara Larasati mengawasinya dari teras sambil memegang sebuah kotak kayu tua yang baru saja ditemukan oleh para pekerja saat membongkar gudang rahasia di bawah perpustakaan rumah lama itu.
"Dia punya semangatmu, Laras. Tidak mau menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan," ucap Baskara sambil meletakkan dua cangkir teh hangat di meja.
Larasati tersenyum, namun matanya tetap tertuju pada kotak kayu di pangkuannya. Kotak itu dilapisi kain beledu yang sudah hancur dimakan usia, namun ukiran di tutupnya sangat jelas: siluet bunga melati, bunga kesukaan ibunya.
"Pekerja menemukannya di balik dinding ganda, Baskara. Ayahku menyembunyikannya dengan sangat rapi. Bahkan Tuan Pratama dulu tidak pernah menemukannya saat dia menguasai rumah ini," bisik Larasati.
Baskara duduk di sampingnya, raut wajahnya berubah serius. "Sudah kamu buka?"
Larasati menggeleng. "Aku menunggumu. Aku merasa kotak ini bukan berisi uang atau dokumen saham. Ada sesuatu yang lebih... personal di dalamnya."
Dengan hati-hati, Baskara membantu membuka kunci kotak tersebut menggunakan alat kecil. Bunyi klik pelan seolah membuka pintu gerbang ke masa lalu. Di dalamnya, tidak ada tumpukan uang atau berlian. Yang ada hanyalah sebuah buku harian kecil bersampul kulit, selembar foto lama yang sudah menguning, dan sebuah kunci perak berbentuk unik.
Larasati mengambil foto itu. Di sana terlihat ayahnya, Tuan Hardianto, berdiri bersama seorang pria yang wajahnya sangat tidak asing. Larasati mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat.
"Ini... ini kakekmu, Baskara?" tanya Larasati terkejut.
Baskara mengambil foto itu, matanya melebar. "Kakek? Tuan Sulistyo? Tapi seingatku, ayahku selalu bilang bahwa keluarga Hardianto dan keluarga Pratama adalah musuh bebuyutan sejak generasi pertama. Ayahku bilang Tuan Hardianto-lah yang menyebabkan kebangkrutan kakekku dulu."
Larasati membuka buku harian itu. Tulisannya rapi, namun tinta hitamnya sudah sedikit memudar. Ia mulai membaca dengan suara lirih.
“12 September 1985. Hari ini Sulistyo dan aku membuat perjanjian besar. Dunia melihat kita sebagai pesaing, namun di balik layar, kita membangun fondasi untuk masa depan anak-cucu kita. Rahasia ini harus tetap terkubur hingga saatnya tiba bagi mereka untuk bersatu. Siasat ini manis, namun pahit jika jatuh ke tangan yang salah...”
Tangan Larasati gemetar. "Baskara, selama ini kita mengira permusuhan antara keluarga kita adalah kutukan. Tapi lihat ini... Ayahku dan Kakekmu sebenarnya adalah sahabat karib yang berpura-pura bermusuhan untuk melindungi aset bersama dari incaran korporasi asing saat itu."
Baskara terdiam, mencoba mencerna kebenaran yang baru saja terungkap. "Jadi, persaingan berdarah antara ayahku dan ayahmu dulu... itu adalah hasil dari kesalahpahaman yang sangat besar? Ayahku tidak tahu tentang perjanjian rahasia ini?"
"Sepertinya begitu," lanjut Larasati sambil terus membaca. "Tuan Sulistyo meninggal mendadak sebelum sempat memberikan kunci perak ini kepada ayahmu. Dan ayahku... dia terpaksa terus menjalankan 'peran' sebagai musuh agar aset rahasia mereka tidak terdeteksi. Siasat itu menjadi bumerang ketika ayahmu, Tuan Pratama, benar-benar membenci ayahku dan menghancurkannya."
Air mata Larasati jatuh menetes di atas kertas tua itu. Betapa ironisnya hidup. Begitu banyak penderitaan, begitu banyak air mata yang tumpah, hanya karena sebuah rahasia yang tidak sempat tersampaikan.
Siang itu, rasa penasaran membawa mereka ke sebuah lokasi di pinggiran Bogor—sebuah vila tua yang terbengkalai yang alamatnya tertera di balik foto tersebut. Kunci perak itu terasa berat di saku Baskara.
Arya dititipkan sebentar kepada Ibu Rahayu di rumah. Larasati dan Baskara berjalan menembus semak belukar menuju pintu utama vila yang sudah ditumbuhi lumut.
"Kunci perak ini untuk pintu ini, Baskara," ucap Larasati sambil menunjuk ke sebuah pintu kecil di ruang bawah tanah vila tersebut.
Saat pintu terbuka, mereka tidak menemukan emas atau harta karun. Mereka menemukan sebuah perpustakaan raksasa yang berisi ribuan dokumen asli, sertifikat tanah, dan cetak biru dari berbagai proyek infrastruktur di Indonesia yang dikelola secara anonim. Di tengah ruangan, terdapat sebuah peti kayu besar berisi surat-surat saham asli dari Hardianto-Pratama Consortium—sebuah perusahaan yang secara hukum belum pernah dibubarkan.
"Laras... jika dokumen ini kita bawa ke pengadilan, kita bisa mengklaim kembali seluruh aset yang dulu dirampas oleh Tuan Kusuma dan kroni-kroninya secara sah," ucap Baskara takjub. "Nilainya... ini bukan lagi soal kekayaan. Ini adalah kekuatan untuk mengubah wajah ekonomi negeri ini."
Namun, Larasati tidak menatap tumpukan saham itu. Ia menatap sebuah bingkai foto besar di dinding perpustakaan. Di sana ada tulisan tangan ayahnya: “Untuk cucu-cucuku yang akan menyatukan kembali darah yang sempat terpisah oleh ego. Gunakan ini untuk membangun, bukan untuk menghancurkan.”
"Mereka sudah merencanakan persatuan kita, Baskara," bisik Larasati. "Bahkan sebelum kita lahir, mereka ingin keluarga Hardianto dan Pratama menjadi satu. Pernikahan kita... meskipun awalnya dimulai dengan siasat pahit, ternyata adalah penggenapan dari doa kakek dan ayah kita."
Baskara memeluk Larasati erat di tengah ruangan yang penuh debu sejarah itu. Rasa damai yang mendalam menyelimuti mereka. Segala kebencian yang pernah ada di masa lalu kini benar-benar terasa konyol.
Sore harinya, mereka kembali ke Jakarta. Di perjalanan, Larasati menatap kunci perak itu. Ia menyadari bahwa kekayaan asli yang ditinggalkan ayahnya bukanlah surat saham tersebut, melainkan kebenaran bahwa ia tidak pernah sendirian.
Sesampainya di rumah, Arya berlari kecil menyambut mereka di lobi. "Ma... Ma..." celotehnya sambil memeluk kaki Larasati.
Larasati mengangkat putra kecilnya, mencium pipinya yang gempal. "Arya, Ayah dan Bunda punya kejutan untukmu. Kamu bukan hanya pewaris Hardianto, tapi kamu adalah pemegang kunci perdamaian dua keluarga besar."
Malam itu, Aditama dipanggil ke rumah. Mereka bertiga duduk di ruang kerja hingga larut malam, menyusun rencana untuk meluncurkan Hardianto-Pratama Global Foundation.
"Ini akan menjadi gempa bumi di bursa saham, Laras," ucap Aditama dengan mata berbinar. "Jika aset anonim ini diaktifkan kembali, kekuatan yayasan kita akan sepuluh kali lipat dari sekarang. Kita bisa membangun rumah sakit cuma-cuma, universitas, bahkan membantu ribuan UMKM tanpa bantuan pemerintah."
Larasati menatap suaminya. "Bagaimana menurutmu, Baskara?"
Baskara tersenyum, senyum yang paling lepas yang pernah ia miliki. "Lakukan, Adit. Tapi pastikan nama kakekku dan ayah Larasati diletakkan bersampingan sebagai pendiri utama. Kita harus menghapus narasi permusuhan itu selamanya dari buku sejarah."