NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Arsitek yang Terlalu Ramah

​Semenjak insiden gila malam itu kabur dari acara gala dinner berbalut kemunafikan dan berakhir makan pecel lele berdua di pinggir jalan hubungan antara aku dan Arka terasa seperti mengambang di dalam sebuah gelembung. Gelembung sabun yang transparan, sangat nyaman, tapi belum punya nama yang jelas.

​Kami belum 'jadian'. Ya ampun, kata itu bahkan terasa terlalu kekanakan untuk situasi kami. Tidak ada pernyataan cinta yang cheesy, tidak ada tembakan "kamu mau nggak jadi pacarku?". Tapi... caraku menahan napas setiap kali melihat mobilnya parkir, tatapan mata Arka yang kelewat intens, dan gestur-gestur protektif kecilnya sudah lebih dari cukup untuk membuat isi kepalaku berantakan tak karuan setiap hari.

​Namun, ketenangan di dalam gelembung tak bernama itu belakangan ini sedikit terganggu dengan kehadiran rutin sosok baru: Revan.

​"Senja! Caramel Macchiato-nya satu dong, ekstra karamel ya. Biar hidup gue makin manis, semanis senyum lo pagi ini," goda Revan.

​Cowok itu meletakkan helm proyek kuningnya di atas meja bar dengan bunyi 'tak' yang nyaring. Ia menyandarkan sikunya di meja dan mengedipkan sebelah matanya ke arahku dengan gaya yang kelewat luwes. Nyaris seperti buaya darat bersertifikat, tapi entah kenapa tidak terlihat menyebalkan karena lesung pipinya yang dalam.

​Aku hanya bisa memutar bola mataku sambil tersenyum geli, tanganku otomatis meraih cup plastik dan botol sirup karamel.

​Revan ini memang spesies manusia yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari atasannya. Kalau Arka ibarat kopi Americano tanpa gula dingin, kaku, dan pahit di awal tapi sialnya sukses membuatku kecanduan setengah mati maka Revan adalah Frappuccino karamel. Ceria, supersantai, manis, dan gampang disukai siapa saja sejak seruputan pertama.

​Sebagai kepala arsitek proyek, Revan memang punya alasan sah untuk bolak-balik ke kedaiku. Katanya sih, ia sedang memfinalisasi desain kubah kaca raksasa yang dipesan Arka. Tapi akhir-akhir ini, alasan itu terasa agak diada-adakan karena dia lebih sering duduk di bar memperhatikanku meracik kopi daripada melihat ke arah lahan proyek.

​"Gombalan lo basi banget, Van," balasku sambil menuangkan espresso ke atas campuran susu dan karamel. "Udah jam sepuluh pagi nih, lo nggak ngecek paku bumi di belakang? Kasihan tuh mandor lo dari tadi teriak-teriak mulu di HT."

​Revan menyangga dagunya dengan kedua tangan, menatapku terang-terangan tanpa beban. "Ngecek paku bumi mah bikin darah tinggi, Nja. Mending gue ngecek lo aja di sini. Bikin adem. Hitung-hitung healing."

​Aku tertawa pelan mendengarnya, menggelengkan kepala melihat kelakuannya yang absurd. Baru saja aku hendak menyodorkan gelas Macchiato itu ke seberang meja, suara lonceng pintu kedai berbunyi dengan gemerincing yang cukup keras.

​Bukan pintu yang dibuka perlahan, melainkan didorong dengan tenaga.

​Udara di dalam kedai mendadak berubah. Sebelum aku sempat menoleh, aroma parfum woody campuran sandalwood dan vetiver yang belakangan ini sukses menginvasi mimpi-mimpiku sudah menyusul masuk mendahului orangnya.

​Arka.

​Pria itu melangkah masuk dengan aura yang bisa membekukan air di udara. Ia tidak mengenakan setelan jas hari ini, hanya kemeja hitam polos yang lengannya digulung asal hingga siku, memamerkan urat-urat kokoh di lengan bawahnya.

​Ya Tuhan, kenapa dia selalu terlihat luar biasa meskipun sedang mode membunuh begini? batinku sedikit panik.

​Tatapan mata Arka yang tajam bak elang kelaparan langsung mengunci posisi Revan yang sedang bersandar santai di meja bar terlalu dekat denganku. Suhu di dalam kedai ini rasanya anjlok beberapa derajat seketika.

​"Gue bayar lo mahal-mahal bukan buat jadi stand-up komedian di jam kerja, Revan," tegur Arka. Suaranya menggema, rendah, dan sedingin es batu di dalam freezer.

​Langkah kaki Arka terdengar berat dan berirama saat ia berjalan menghampiri meja bar. Ia sengaja memosisikan dirinya berdiri tepat di sebelah Revan. Jaraknya kelewat dekat, seolah seekor singa jantan yang sedang menegaskan wilayah teritorialnya dari pejantan asing.

​Aku menahan napas. Mati aku. Apa mereka akan berkelahi di sini?

​Di luar dugaanku, Revan menoleh dengan sangat santai. Cowok berlesung pipi itu sama sekali tidak terintimidasi oleh aura membunuh atasannya. Ia mengambil gelas Macchiato-nya dari tanganku sambil tersenyum lebar.

​"Wah, si Bos rajin amat sidak lapangan pagi-pagi," sapa Revan tanpa dosa. "Santai, Bos. Gue lagi diskusi soal letak pilar penahan kubah sama owner kedainya langsung. Biar presisi posisinya."

​"Diskusi struktur bangunan nggak butuh omongan soal senyum manis," balas Arka tajam, tanpa basa-basi sedikit pun. Matanya menatap lurus ke arah arsitek itu, mengulitinya.

​Bukannya ciut, Revan justru tertawa renyah. Ia bahkan menepuk bahu Arka pelan sebuah gestur kelewat berani yang mungkin hanya Revan satu-satunya manusia di perusahaan itu yang berani melakukannya tanpa takut dipecat.

​"Siap, Bos. Gue ngerti kok batasannya," kekeh Revan penuh arti. Ia menoleh dan melirikku sekilas. "Gue cabut ke belakang dulu ya, Nja. Kapan-kapan kita lanjut lagi obrolannya. Thanks kopinya!"

​Begitu pintu kedai tertutup dan Revan menghilang ke area proyek, ketegangan di dalam ruangan tidak memudar, justru semakin pekat.

​Arka mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas panjang yang terdengar luar biasa berat. Ia menjatuhkan dirinya di kursi stool yang baru saja ditinggalkan Revan. Rahangnya masih mengeras, urat di pelipisnya terlihat sedikit menonjol. Pria itu tampak seperti bom waktu yang penunjuk waktunya sedang berjalan mundur.

​Melihat Arka seperti itu, tanganku bergerak otomatis. Tanpa perlu disuruh, aku mengambil gelas plastik bersih dan mulai menyiapkan Iced Americano tanpa gula.

​"Kenapa pagi-pagi udah datang bawa awan mendung begini sih, Ka?" aku akhirnya memberanikan diri membuka obrolan, mencoba mencairkan suasana yang kaku ini. "Lagi ada masalah sama supplier material? Atau bokap lo berulah lagi?"

​"Nggak," jawab Arka pendek.

​Matanya yang kelam tidak menatap ke arah luar jendela seperti biasanya, melainkan mengikuti setiap pergerakan tanganku yang sedang menuangkan espresso ke atas bongkahan es batu. Tatapannya terlalu lekat, membuat jemariku sedikit kaku.

​"Gue cuma..." Arka menjeda kalimatnya. Jakunnya bergerak naik turun saat ia menelan ludah. "...nggak suka lihat lo ketawa-ketawa sama dia."

​Deg.

​Tanganku menghentikan gerakan seduh seketika. Jantungku berdegup jauh lebih cepat dari putaran mesin grinder. Perutku seperti mendadak diaduk-aduk.

​Dia bilang apa barusan? Aku buru-buru meletakkan gelas Americano itu di hadapannya, mencoba bersikap biasa agar tidak terlihat salah tingkah.

​"R-Revan orangnya emang asyik, Ka. Banyak omong," jawabku sedikit gugup, pura-pura sibuk mengelap meja bar yang sebenarnya sudah bersih. "Dia cuma bercanda kok, nggak ada maksud apa-apa. Lagian... lo masa cemburu sama anak buah lo sendiri?"

​Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Aku langsung menggigit bagian dalam pipiku. Bodoh! Kenapa aku bertanya seperti itu? Bagaimana kalau dia malah menyangkal dan mengejekku kepedean?

​Tapi, apa yang terjadi selanjutnya benar-benar meruntuhkan duniaku.

​Arka tidak menyangkal. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, lengannya yang berbalut lengan kemeja hitam yang tergulung bertumpu kokoh di atas meja bar. Ia mendekatkan wajahnya, matanya menatap tepat ke manik mataku. Sangat dalam, sangat mengintimidasi, namun di saat yang sama... memancarkan kerentanan yang membuat napasku tercekat.

​"Iya. Gue cemburu," pengakuan itu meluncur lugas dari bibir Arka, tanpa filter, tanpa gengsi korporat yang biasa ia pakai.

​Aku terpaku. Mulutku sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

​"Gue cemburu," lanjut Arka, suaranya merendah menjadi bisikan serak yang menggetarkan hatiku, "karena dia bisa bikin lo ketawa lepas dengan gampang. Sementara gue... gue selalu bikin hidup lo susah."

​Arka memalingkan pandangannya sejenak, menatap cangkir kopi hitamnya, sebelum kembali menatapku dengan raut putus asa.

​"Gue cemburu, Senja, karena Revan bisa gombalin lo dengan santai," jujurnya, setiap kata terasa seperti martil yang menghancurkan dinding pertahananku. "Sementara gue... gue harus mikir seribu kali, harus ngorbanin posisi gue, cuma buat cari alasan sekadar ngajak lo makan malam."

​Aku terdiam. Lidahku mendadak kelu. Jemariku meremas lap meja kuat-kuat. Aku menatap sisa kopi yang sedang menetes dari mesin espresso, tidak berani membalas tatapan intens pria di depanku ini.

​Kata-kata Arka terlalu jujur. Terlalu raw. Ia baru saja menyerahkan kelemahannya tepat di hadapanku.

​Laki-laki ini... Direktur arogan yang ditakuti ribuan karyawannya ini... ternyata menyimpan ketakutan yang begitu besar.

​Di balik setelan mahalnya yang kini ia tinggalkan, dan di balik sikap dinginnya, Arka hanyalah seorang pria biasa yang ketakutan setengah mati bahwa ia akan kehilanganku. Dan fakta yang menyayat hati itu, membuatku semakin menyadari satu hal yang mengerikan: aku tidak akan pernah bisa berkutik, tidak akan pernah bisa melarikan diri, dari pesona seorang Arka Danadyaksa.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!