Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.
Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.
Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.
Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.
Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9.
"Pokoknya aku tidak mau membuang bayiku!!!"
Suara kencang Esther memenuhi ruangan Dokter, dan membuat Carmen menjadi tidak sabaran karena keras kepala Esther.
"Dok! tolong bawa saja ke ruang operasi! berapa pun biayanya, akan saya bayar!!"
"Tidak mau!!!" jerit Esther.
"Diam! kamu itu berberhubungan bebas, entah dengan lelaki liar mana diluaran sana, sampai hamil begini! kamu membuat malu keluarga!!!" teriak Carmen, berpura-pura putus asa melihat keras kepala Esther.
"Pokoknya aku tidak mau! aku menginginkan anakku! aku ingin melahirkannya!!!" Esther balik berteriak pada Carmen.
"Bayi di dalam perutmu hanyalah anak liar, yang tidak memiliki seorang Ayah! apa kamu mau dicemooh orang-orang hamil diluar nikah?!!" bentak Carmen.
"Aku tidak perduli! anakku bukan anak liar, dia ada karena kesalahan seseorang! dia tidak bersalah!!!"
"Nyonya, keponakan anda tidak mau aborsi! jadi saya tidak bisa melakukannya, harus ada persetujuan darinya baru bisa dilakukan aborsi!" jawab Dokter, membuat Carmen menjadi kecewa.
"Dok! tidak perlu persetujuan darinya, dia akan memasuki semester akhir, uang sekolah sudah di bayar sampai setengah tahun, kerja keras saya selama ini membiayai sekolahnya akan sia-sia begitu saja!!"
"Benar, Dok! istriku sampai berhutang untuk membiayai sekolahnya!!" suami Carmen ikut membantu, untuk meyakinkan Dokter.
"Iya, iya! betul, Dok!!" putra Carmen juga ikut membenarkan sembari menganggukkan kepalanya.
"Bohong! mereka bohong, Dok! aku sudah tidak bersekolah lagi! aku tidak akan menggugurkan bayiku!!!" jerit Esther.
"Sudahlah, Dok! jangan dengarkan dia! tolong lakukan saja aborsi!!" desak Carmen tidak sabaran.
Mendengar ketiganya mengakui, kalau Esther masih bersekolah, Dokter pun mengambil tindakan.
"Baringkan dia ke meja operasi!" kata Dokter.
Esther seketika menjadi panik, dan ia pun berlari ke pintu untuk melarikan diri.
"Tangkap dia!!" teriak Carmen.
Edwin bersama putranya menangkap Esther, dan menariknya dengan paksa ke meja operasi.
"Tidak, kumohon! Dokter, aku tidak mau aborsi!!!" jerit Esther.
Esther pun menangis dengan sedihnya, tidak berdaya di baringkan ke atas meja operasi, walau seberapa kuat ia berontak, tidak satu pun mengasihaninya.
Air mata Esther semakin deras mengalir, saat Dokter menyuruh dua perawat mengikat kaki dan tangannya, karena ia tiada henti berontak.
"Kumohon, aku tidak ingin membuang anakku!!" tangis Esther semakin kencang, begitu kaki dan tangannya diikat.
Tubuhnya gemetar melihat suntik, yang telah diisi Dokter dengan anestesi, dan siap akan disuntikkan padanya.
Esther memejamkan matanya dengan hati yang hancur.
Sementara Carmen bersama suami dan putranya, tersenyum senang melihat Dokter akan menyuntik Esther dengan anestesi.
Akhirnya mereka berhasil membuang bayi dalam rahim Esther, dan pernikahan yang telah mereka atur untuk Esther tidak gagal.
Perlahan Dokter mendekatkan suntik ke urat nadi Esther, agar Esther tidak berontak lagi, dan proses aborsi berjalan dengan lancar.
Esther hanya bisa pasrah saja dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Air matanya terus saja mengalir, menangisi dirinya yang malang.
Kehidupannya menjadi hancur setelah kedua orang tuanya meninggal.
Apakah dia akan selamanya tidak pernah mendapatkan kebahagiaan, dalam kehidupannya ke depannya?
Hati Esther sangat sedih memikirkan kisah hidupnya yang menyedihkan, membuat air matanya semakin deras mengalir membasahi wajahnya.
Brak!!!
Tiba-tiba pintu ruangan Dokter di tendang seseorang dengan kencang dari luar, saat jarum suntik sedikit lagi menusuk urat nadi Esther.
Semua yang ada di dalam ruangan, terkejut bukan main melihat beberapa pria masuk ke dalam.
"Kurang ajar!! berani sekali kalian menyentuh anakku!!!"
Suara salah satu pria itu terdengar menggelegar memenuhi ruangan Dokter, dengan raut wajah merah padam oleh emosi.
Esther membuka matanya, dan seketika matanya membulat, melihat siapa yang berteriak lantang tersebut.
Ia mengenali pria yang berteriak dengan lantang itu.
Pria itu Ayah dari bayi-bayi yang ada dalam rahimnya.
"Tahan mereka!!!"
Beberapa pria lainnya, yang berpakaian serba hitam, segera meringkus semua yang ada di dalam ruangan itu.
"Siapa kamu?! lancang sekali berbuat onar, dan menghentikan operasi keponakan ku!!!"
Carmen berteriak dengan garang melihat pria, yang terlihat memimpin sekumpulan pria yang masuk ke dalam ruangan Dokter.
Jack Sebastian sangat marah begitu mengetahui kehidupan gadis, yang tanpa sengaja tidur satu malam dengannya, mengalami penindasan dalam keluarga Bibinya.
Plak!!
Satu tamparan dengan kuat diberikan Jack kepada Carmen, "Berani menyentuh anakku! akan mendapatkan hukuman penjara!!"
"A.. apa?!!" Carmen terkejut mendengar apa yang dikatakan Jack.
Edwin dan putranya juga sama terkejutnya mendengar apa yang dikatakan Jack, membuat tubuh mereka seketika lemas.
Ternyata lelaki itu Ayah dari bayi dalam perut Esther.
Melihat penampilan Jack, mereka dapat melihat, kalau Jack bukan lelaki biasa pada umumnya.
Jack bergegas melepaskan ikatan pada kaki dan tangan Esther, "Maaf, aku terlalu lama datang! apakah mereka menyiksamu?" tanya Jack meraih tubuh Esther untuk bangun dari berbaringnya.
Tangis Esther yang terhenti, karena munculnya Jack secara tiba-tiba, hanya bisa diam saja tidak mampu menjawab Jack.
Jack melihat mata sembab Esther, dan wajahnya yang basah oleh air mata, Jack dapat merasakan Esther masih dalam keadaan tertekan.
"Beri mereka pelajaran!!!" ujar Jack dengan lantang.
"Baik, Tuan!"
Jack mengangkat tubuh Esther dalam gendongannya, dan membawa Esther keluar dari ruangan tersebut.
Buk!!
Buk!!
Buk!!!
Terdengar suara tendangan, dan pukulan di belakang mereka, saat Jack melangkah keluar dari dalam ruangan Dokter tersebut.
Carmen memandang pintu yang telah tertutup, saat tubuhnya di tendang, dan di pukul bodyguard Jack.
Habislah! rencana yang sudah disusun dengan rapi, hancur begitu saja! bisik hati Carmen meradang dengan perasaan kacau melihat Esther di bawa pergi.
Esther yang masih seperti dalam mimpi, merangkul leher Jack melangkah meninggalkan klinik.
Sebuah mobil mewah telah menunggu mereka, dan seorang pria berpakaian formal membuka pintu mobil untuk mereka.
Masih dalam gendongan Jack, Esther masuk ke dalam mobil.
Esther menundukkan wajahnya merasa canggung duduk di atas pangkuan Jack.
Ia melepaskan rangkulan lengannya dari leher Jack, dan mencoba turun dari atas pangkuan Jack.
Jack menahan Esther, "Jangan bergerak! tetaplah disini!" kata Jack mengeratkan rangkulannya pada pinggang Esther.
"Mereka sangat kejam! bagaimana jadinya, seandainya aku terlambat sedikit lagi, aku pasti sudah kehilangan bayi kita!" Jack memeriksa pergelangan tangan Esther.
Sangat jelas sekali Esther mencoba melepaskan diri, dari ikatan tali yang mengikat tangannya, sampai meninggalkan lecet pada kulitnya.
Esther yang masih canggung, karena masih duduk di atas pangkuan Jack, hanya bisa menganggukkan kepala, mengiyakan apa yang dikatakan Jack.
Jack melihat cincin yang ia sematkan pada jemari Esther, dan ia pun tidak ragu lagi, memang benar Esther lah gadis malam itu.
Jack mendekatkan wajahnya ke wajah Esther, dan sontak Esther menjauhkan wajahnya.
"Ma.. mau apa anda, Tuan?" tanya Esther terkejut.
"Aku hanya ingin memastikan saja!" jawab Jack merangkul semakin erat pinggang Esther.
Wajah Jack kembali mendekati wajah Esther, dan ia dapat menghirup aroma tubuh Esther, yang sama dengan aroma tubuh gadis pada malam itu.
Sudut bibir Jack perlahan menyunggingkan senyuman.
Bersambung..........
cari penyakit aja kamu.....😡
makanya cepetan nyatain perasaan kamu, biar gk salaha paham terus.
🤭🤭