NovelToon NovelToon
Rahasia Terpendam Kristal

Rahasia Terpendam Kristal

Status: tamat
Genre:Misteri / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: IZI.01

Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Setelah kesialan yang kualami tadi, kuputuskan untuk pulang. Namun sebelumnya, aku ingin singgah di sebuah ruko yang menjadi tempat makan dadakan favorit. Berpikir tentang Id sangat menguras habis energiku.

Ruko yang difungsikan tempat sajian masakan Sunda. Selain masakan gado-gadonya yang enak, aku juga akrab dengan pemiliknya. Namanya Nurhayati, panggilan akrabnya Mba Nur. Seorang janda tanpa keturunan asal Sumedang, berumur kisaran lima puluhan. Dia bekerja sendiri, tanpa ada yang membantu. Bukan karena tidak mampu menggaji seorang asisten, tetapi dia ingin badannya tetap terus bergerak. Katanya, biar awet muda.

"Wah, tumben banget nih datang. Loh, kenapa penampilan kamu hari ini kusut begitu? Lagi gak mood nulis?" sergapnya dari belakang etalase yang memajang beberapa menu makanan. Perempuan berbalut busana tertutup rapat itu menghampiriku.

"Bukan nulisnya yang bikin gak mood tapi memang keadaannya lagi gak mood!"

"Kalau omongannya sudah berat begitu.. lebih baik, Mba Nur buat gado-gado kesukaan kamu yah. Mau makan disini atau mau dibungkus?"

"Aku mau makan disini aja! Malah sekalian kalau bisa aku tinggal disini juga." tukasku sambil menempati bangku plastik menghadap ke arah luar.

"Mana mungkin perempuan kayak kamu mau tinggal di ruko kotor begini. Bisa malu aku kalau di lihat banyak orang. Lagian kenapa sih di tempat kamu itu? Mba bisa tebak nih, itu tandanya kamu sedang kangen sama keluarga."

"Darimana Mba bisa tahu kalau aku sedang kangen berat sama keluarga?"

"Jelas tahu dong, kan kalau ketemu sama Mba, kamu biasanya selalu curhat masalah itu. Jadi apalagi kalau bukan kangen keluarga. Haha! Nah, ini sudah jadi gado-gado kamu!" mengangsurkan menu pesanan, berikut segelas air putih.

"Makasih, Mba! Sepertinya sekarang semakin banyak berdatangan penghuni baru yah?"

"Maksudnya orang-orang yang tinggal disini? Kalau menurut Mba sih, sama saja. Biasanya wajah-wajah baru itu kebanyakan saudara mereka juga. Aneh, kamu biasanya gak pernah ngomong begitu?"

"Nggak apa-apa! Cuma sekedar mau tahu. Karena waktu jalan kemari, banyak ketemu dengan orang-orang yang baru."

"Barangkali mereka yang baru kamu lihat itu, masih kerabat dekat atau mungkin teman kerja. Yah, masih ada hubungannya lah."

Di tengah Mba Nur yang terus bicara, pandanganku memergoki Id yang melintas di depan ruko. Aku membeku, tak bergerak sedikit pun selain memperhatikan. Bola mata mengernyit-membesar, mempertegas semua yang kulihat. Aku lekas berdiri seraya masih memegang sendok-garpu.

"Kristal! Kamu sedang melihat siapa sih?! Memangnya ada siapa disana?" Mba Nur turut mencari tahu.

"Itu yang sebenarnya mau saya omongin. Belakangan ini, saya selalu di buntuti lelaki misterius. Kemana aku pergi, dia selalu ada!"

"Tadi Mba gak lihat siapa-siapa di luar sana?! Sudahlah, lebih baik kamu ceritakan sekarang!"

"Mba, pernah dengar ada penghuni yang baru pindah di lantai sepuluh, namanya, Id?!"

"Siapa tadi?" menahan tawa.

"Id, Mba. I dan D. Hanya dua huruf! Aku serius ini!"

"Seumur hidup, baru sekarang ada lelaki yang namanya cuma dua huruf. Barangkali dia juga satu-satunya di dunia yang punya nama unik."

"Memang dia itu unik sekaligus juga sinting!" ujarku menyelak.

"Dari kemarin, belum pernah dengar atau tahu ada lelaki yang bernama, Id. Sama sekali Mba gak kenal dengan lelaki yang kamu maksud itu. Tetapi kayaknya pernah dengar cerita yang mirip dengan kamu itu,"

"Dengar apa?"

"Sabar dong! Kan belum selesai ngomong. Nih, Mba mau ceritakan ke kamu. Mba pernah dengar dari salah satu sekuriti, itu loh, si Anto bopeng. Seminggu yang lalu dia makan disini. Terus dia cerita kalau ada salah satu penghuni di lantai, duh, gak di kasih tahu lagi lantai berapanya. Katanya, ada seorang penghuni yang depresi berat karena di gugat cerai isterinya. Lelaki itu gak dibolehin lagi tinggal sama-sama. Dari kejadian itu, dia langsung sewa apartemen di lantai yang berbeda. Dia juga bayar seorang model tampan untuk memantau mantan isterinya itu. Nah, berhubung perempuan ini curiga sama lelaki yang setiap hari mendekatinya itu.. Persis kayaknya sama kamu sekarang ini, deh! Akhirnya si perempuan ini, diam-diam pindah ke rumah orang tuanya. Selesai deh ceritanya. Atau jangan-jangan si lelaki model itu yang..,"

Belum tuntas bicara sudah aku terjang kata-kata itu, "Mana mungkin, Mba! dari tampangnya saja, gak ada potongan model. Kalau playboy sih banyak. Tapi model? Hmm, jauh, bagaikan langit dan bumi!"

"Tidak baik kita membenci seseorang itu secara berlebihan. Bisa jadi, orang itu justru malah mencintai kita."

"Kedengarannya gak terlalu buruk kalau kembali ke suami dan anak kamu. Mereka juga pasti sudah kangen berat!"

"Maunya aku juga begitu. Tapi sekarang masih terikat kontrak kerja. Kalau aku pindah apartemen, rasanya berat. Aku sudah terlalu nyaman disini, lagian juga kantor dekat dari sini."

"Atau, ini sih cuma saran dari Mba, yah. Boleh kamu ikutin, bisa juga kamu tolak. Lelaki yang kamu maksud itu kan selalu ngejar-ngejar kamu, mendingan jadiin dia pacar aja!"

"Pacaran sama dia?" aku terperanjat mendengarnya.

"Bukan harus pacaran juga sih sama dia. Kamu cuma harus lebih kenal dekat, begitu maksudnya. Karena semakin kita menghindar, kita akan selalu merasa tidak nyaman. Mau kemana-mana selalu was-was terus bawaannya."

"Yah, nggak bisa juga begitu lah Mba! Kalau suami aku datang, terus melihat aku jalan berduaan sama dia, bisa jadi perang dunia ke-tiga itu! Terus terang aku buntu sekarang ini! Mba, nanti kalau dia datang kemari dan makan disini kasih kabar yah!"

"Sudah pasti Mba akan kasih tahu kamu. Tapi ciri-cirinya seperti apa?"

"Lelaki aneh itu punya warna kulit yang putih bersih, wajahnya oriental, usianya kurang lebih masih di bawah tiga puluhan. Suaranya mendayu, badannya tegap, tapi tidak berotot. Setiap kali aku ketemu, dia sering mengenakan t-shirt berwarna cerah mencolok. Memang sedikit tampan, tapi jelas jauh lebih tampan suamiku!"

"Iyah, Mba akan ingat baik-baik semua ciri-ciri yang kamu bilang itu. Mba tahu!! Baru ingat sekarang!"

"Ingat? Ingat apa Mba?"

"Rasanya, cara ini paling aman yang harus kamu lakukan. Kamu tanyakan saja ke pusat informasi atau bagian marketing apartemen ini! Minta bantuan untuk mengeluarkan data lelaki yang kamu maksud tadi itu. Dia tinggal sama siapa, terus nama lengkapnya siapa, kapan pindahnya. Pokoknya semua yang ingin kamu ketahui." di akhir kalimat, aku mengangguk setuju.

"Benar juga itu! Tapi nanti mereka bilang sifatnya rahasia, bagaimana?"

"Belum di coba sudah langsung menyerah! Nanti sambil kamu pakai cara itu, Mba akan bantu menanyakan ke sekuriti. Siapa tahu salah satu diantara mereka ada yang kenal atau pernah lihat."

"Aku pakai cara itu," lantas aku keluarkan lembar rupiah untuk membayar semua makanan, "Ini untuk gado-gado nya Mba!" tatkala aku hendak duduk kembali, lagi-lagi sudut mataku menangkap keberadaannya.

"Id! Benar!" jeritan histeris membahana, menghentakkan Mba Nur dan segera menghampiriku.

"Kenapa? Kristal! Kenapa kamu makannya seperti anak kecil begitu? Lihat tuh leher sama baju kamu kotor semua kena bumbu! Sebentar biar Mba ambilkan tisu."

"Nanti saja akan aku bersihkan. Mba!! Sini, cepat kemari! Itu ada di seberang sana orangnya!"

"Mana, Id? Yang mana Kristal!" aku tarik paksa lengan Mba Nur, sampai berdiri didekat pintu, "Mungkin harus pakai kacamata dulu baru bisa kelihatan. Ayo, sekarang buruan kamu ikuti kemana dia pergi. Ini kesempatan emas!"

Tanpa bertimbang, aku raih tas yang berada di samping tempat duduk, memasukkan telepon selular, dan buru-buru menuju ke arah Id berada. Aku mengejarnya dengan segenap kekuatanku. Meski aku sadar, sangat sulit untuk menggapai langkahnya yang sangat mengungguliku. Sayup terdengar dari belakang panggilan. Sedikit pun aku tak menoleh atau berhenti untuk mendatangi suara itu.

"Kristal! Ini kembalian kamu ketinggalan!!" Mba Nur berusaha mengejar, ternyata langkahku lebih cepat darinya.

"Simpan saja!!"

Pemuda itu bergerak sangat cepat, sampai aku sempat kehilangan keberadaannya.

1
Mamah Deni
Novel yang rekomen. Alur cerita singkat. Padat. pemilihan kata juga tepat dan mudah. cocok buat bahan bacaan. seharusnya bisa di taruh di rak toko buku yah. wajib baca sampai tuntas.
Mamah Deni
sederhana tapi alurnya menarik buat di baca tuntas. mantap😍
Mamah Deni
Ini pertama kali saya membaca novel di plarform digital. gak disangka bisa nemu tema yang unik. tutur bahasanya juga mengalir. langsung kebawa emosinya.😍
IzI
teruskan menulis, terus membaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!