Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Saat pandangan mereka jatuh ke isi dalam kotak itu... Kakek Wen dan Nenek Wen sama-sama terdiam membatu. Mata mereka membelalak lebar tak percaya.
Di hadapan mereka tergeletak dua buah bola kaca kecil yang bening, namun keindahannya... sungguh di luar nalar!
"Ya Tuhan... apa ini?" bisik Nenek Wen pelan, suaranya bergetar karena takjub.
Belum sempat mereka bertanya lebih jauh, angin malam yang masuk dari jendela sedikit menggerakkan nyala api lilin di meja. Saat cahaya hangat itu memantul dan menembus permukaan kaca...
SINAR...!!
Ribuan pantulan cahaya indah memancar keluar!
- Pada bola Bintang Emas, butiran-butiran di dalamnya berkilau seperti debu emas murni yang bergerak-gerak hidup, seolah ada cahaya matahari yang terperangkap di dalamnya.
- Pada bola Galaksi Malam, warnanya memancarkan aura biru dan ungu yang dalam, bercampur bintik-bintik terang yang membuatnya terlihat seperti peta langit malam yang sesungguhnya.
Cahaya itu memantul ke dinding, ke wajah mereka, dan membuat seluruh ruangan terasa seolah dipenuhi oleh benda-benda surgawi!
"INDAH... SANGAT INDAH!!" seru Nenek Wen sambil menutup mulutnya dengan sapu tangan, matanya berkaca-kaca karena terharu.
"Wen'er, dari mana kau mendapatkan benda secantik ini? Ini bukan buatan tangan manusia biasa kan? Ini terlalu sempurna!"
Kakek Wen pun tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia mengangkat bola Galaksi Malam itu dengan jari-jarinya yang gemetar karena kagum.
"Ajaib... sungguh ajaib," gumamnya pelan."Selama hidupku aku sudah melihat ribuan permata, batu mulia, dan harta karun dari seluruh dunia. Tapi tidak ada satu pun yang bisa menandingi keindahan benda kecil ini."
"Lihat ini, Nenek," seru Kakek Wen sambil menggoyangkannya pelan. "Butiran di dalamnya bisa bergerak! Seolah-olah ia punya nyawa sendiri!"
Pangeran Wen duduk di sana tersenyum lebar melihat reaksi kakek dan neneknya yang begitu bahagia. Rasanya semua uang 2.000 tael emas yang ia keluarkan tadi terbayar lunas dengan kebahagiaan mereka.
"Bagus kan, Kek, Nek?" ucap Pangeran Wen dengan bangga. "Namanya Bintang Emas dan Galaksi Malam. Konon katanya barang ini sangat sakti, bisa membawa keberuntungan dan keharmonisan bagi pemiliknya."
Nenek Wen langsung memeluk lengan cucunya dan menepuk-nepuknya dengan penuh kasih sayang.
"Kalau begitu bagus sekali! Karena kita kan keluarga yang utuh dan bahagia, pasti keberuntungan itu akan selalu menyertai kita!" serunya dengan ceria.
"Benar," sahut Kakek Wen mengangguk mantap sambil meletakkan bola itu kembali dengan sangat hati-hati.
"Tapi Wen'er... barang seindah ini pasti harganya tidak murah kan? Siapa pemiliknya sampai bisa membuat barang sehebat ini?"
Pangeran Wen menatap bola itu lagi, matanya menyipit penuh rasa penasaran dan hormat.
"Pemiliknya dikenal dengan nama Tuan Shen, Kek," jawabnya pelan. "Seorang yang sangat misterius, tidak pernah menunjukkan wajah aslinya, dan barang-barangnya selalu luar biasa. Bahkan Permata Matahari yang dulu heboh itu juga miliknya."
Kakek Wen mengerjapkan matanya.
"Oh! Jadi dia yang punya? Pantas saja..."
Malam itu, keluarga Wen menikmati suasana hangat dengan harta baru mereka yang memancarkan cahaya ajaib sepanjang malam.
Di kediaman keluarga Wen, suasana hangat dan penuh cinta sedang berlangsung. Pangeran Wen berjanji dalam hati akan mencari tahu siapa sosok misterius itu, sementara Li Huangfu di tempat lain masih gelisah karena rasa penasaran yang membara.
Mereka semua sibuk memikirkan "Tuan Shen"—memikirkan siapa dia, di mana dia tinggal, dan bagaimana caranya bertemu dengannya.
Tapi... di rumah sederhana namun nyaman milik Shen Yu, pemuda itu sama sekali tidak tahu tentang semua drama dan obsesi yang terjadi di luar sana.
Shen Yu sedang tertidur pulas di atas kasur empuknya. Wajahnya tenang, damai, dan tidak memiliki beban sedikit pun.
Ia bahkan mungkin sedang bermimpi indah tentang tumpukan emas dan makanan enak, sama sekali tidak menyadari bahwa ada orang-orang paling berkuasa di kota yang sedang mencari tahu tentangnya dengan sangat giat.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyelinap masuk melalui celah-celah jendela.
"Hmmm..." Shen Yu menguap lebar dan meregangkan tubuhnya sampai tulang-tulangnya berbunyi keritik. Ia bangun dengan wajah yang sangat segar dan bercahaya.
Shen Yu bangun dan berjalan keluar dari kamar dengan santai menuju kamar mandi yang bersih dan nyaman. Ia menyiramkan air dingin ke tubuhnya, menghilangkan sisa kantuk dan membuat pikirannya menjadi sangat jernih.
Setelah bersih dan wangi, ia mengenakan pakaian santai berwarna putih bersih yang sangat nyaman dipakai.
"Sekarang... saatnya memasak sarapan!" serunya dengan ceria.
Perutnya sudah mulai keroncongan. Setelah transaksi besar semalam, ia merasa perlu mengisi tenaga dengan makanan yang lezat dan bergizi.
"Mau masak apa hari ini? Tumis daging lagi? Atau coba resep sup yang enak? Atau mungkin gorengan hangat saja?" pikirnya sambil berjalan menuju dapur dengan langkah riang.
Di dapur rumahnya yang hangat, Shen Yu sedang bersenandung pelan sambil memotong-motong bahan makanan. Asap mengepul dari wajan, aroma masakan yang gurih dan sedap mulai memenuhi seluruh sudut rumah.
Ia benar-benar menikmati momen tenang ini. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada pangeran atau bangsawan yang mencari masalah. Hanya ada dia, spatulanya, dan perut yang menanti untuk diisi.
Namun, di luar tembok rumahnya yang tenang itu...
Seluruh Ibu Kota sedang berubah wajah dan suasana!
Festival Musim Gugur sudah tiba! Ini adalah salah satu perayaan terbesar dan paling ditunggu-tunggu sepanjang tahun.
Jalanan kota mulai dihiasi dengan lentera-lentera berwarna merah dan emas, bunga krisan bermekaran indah di setiap taman, dan aroma kue bulan serta buah-buahan segar tercium di mana-mana.
Orang-orang sibuk berbondong-bondong membersihkan rumah, membeli oleh-oleh, dan mempersiapkan pakaian terbaik mereka. Suasana menjadi sangat ramai, ceria, dan penuh kegembiraan.
"HEI! Cepat pasang lampu-lampu itu lebih tinggi! Kita mau buat jalan ini jadi yang paling terang seantero kota!" teriak seorang warga sambil tertawa bahagia.
" ayo beli kue bulan baru keluar dari oven! Manis dan lembut sekali!" seru pedagang keliling dengan suara lantang.
Bahkan di lingkungan istana dan kediaman para bangsawan pun ikut merayakan.
Di kediaman Keluarga Li, Li Huangfu yang biasanya wajahnya selalu mendung dan penuh pikiran, hari ini terpaksa harus bersiap-siap juga.
"Hmph... Festival Musim Gugur," gerutunya pelan sambil memandang keluar jendela melihat orang-orang sibuk.
Tapi ia tidak bisa menolak tradisi. Lagipula, ini waktu yang tepat untuk bersosialisasi dan mungkin... siapa tahu ia bisa mendapatkan kabar baru tentang orang misterius itu di tengah keramaian festival nanti.
"Siapkan pakaian terbaikku! Dan jangan lupa bawa Permata Matahari serta... ah tidak, yang baru sudah dibeli Pangeran. Sudah, bawa saja yang ada!" serunya pada pelayan.
Dan di rumahnya, Shen Yu baru saja mematikan api kompor. Ia meletakkan sepiring nasi goreng spesial dan telur mata sapi di atas meja makan.
"Nah, sarapan siap! Hari ini pasti cerah sekali," gumamnya sambil mengusap perut.
Tentu saja Shen Yu tahu festival sudah dekat. Ia bahkan sudah merencanakan sesuatu.
'Besok atau lusa aku mau jalan-jalan ke pusat kota lihat festival. Pasti seru dan banyak jajanan enak,' pikirnya dengan senang hati.
'Siapa sangka "Tuan Shen" yang kemarin malam menjual barang seharga 2.000 tael emas, pagi ini hanya mau makan nasi goreng biasa dan siap-siap ikut pesta rakyat seperti orang biasa?'
"Hidup itu enak, makan itu enak, festival itu pasti lebih enak lagi!" serunya dalam hati lalu mulai menyantap sarapannya dengan lahap.
Setelah perut kenyang dan piring dicuci bersih, Shen Yu merapikan bajunya sekali lagi. Hari ini ia memilih memakai pakaian berwarna hijau muda yang cerah dan nyaman, sangat cocok untuk cuaca musim gugur yang sejuk.
"Ayo jalan-jalan! Lihat-lihat suasana pesta," serunya pelan sambil mengunci pintu rumah.
Shen Yu berjalan menuju pusat kota. Walaupun masih pagi, suasana di jalanan sudah sangat berbeda dari biasanya.
Orang-orang lalu lalang dengan semangat, membawa berbagai barang hiasan, bunga, dan makanan. Suasana riuh namun menyenangkan.
Shen Yu berjalan santai, matanya memandang ke sekeliling dengan rasa kagum.
Di setiap sudut jalan, di tiang kayu penyangga lentera, dan di depan toko-toko, sudah dipasang lentera-lentera indah berwarna-warni. Ada yang berbentuk bulan, berbentuk bunga, dan ada yang dilukis gambar pemandangan musim gugur yang sangat indah.
Angin berhembus pelan menggoyangkan lentera-lentera itu, menciptakan pemandangan yang sangat hidup dan hangat.
"Oh... jadi hari ini Festival Musim Gugur ya?" gumam Shen Yu tersenyum lebar.
Ia baru sadar! Pantas saja orang-orang begitu sibuk dan bahagia. Waktu berjalan begitu cepat sampai ia lupa tanggalnya.
"Syukurlah aku keluar rumah hari ini. Kalau tidak, aku sampai ketinggalan suasana serunya," bisiknya dengan senang hati.
Shen Yu berjalan melewati pasar yang sedang dipenuhi orang ramai.
- Di sana ada pedagang kue bulan dengan berbagai isi: kacang merah, pasta lotus, hingga telur asin. Baunya sangat wangi.
- Di sana ada penjual bunga krisan yang sedang mekar indah dengan warna-warni cerah.
- Anak-anak berlarian membawa lentera kecil mereka, tertawa riang gembira.
Shen Yu menelan ludah melihat jajanan yang menggoda.
"Wah... enak sekali rasanya hidup di masa perayaan seperti ini," pikirnya dengan ceria."Suasananya hangat, orang-orangnya ramah, dan makanannya pasti semua enak."
Shen Yu memutuskan untuk tidak terburu-buru. Ia akan berjalan santai menikmati setiap sudut kota yang sedang berdandan secantik ini.
"Mungkin nanti sore aku beli beberapa kue bulan buat stok di rumah, atau beli lentera cantik buat hiasan di jendela kamarku. Pasti romantis sekali malam nanti kalau lampunya menyala semua."
Petualangan santai Shen Yu di Festival Musim Gugur pun dimulai!
Dengan semangat yang membara, Shen Yu mulai menjelajahi setiap sudut pasar dan toko. Ia tidak mau ketinggalan keseruan Festival Musim Gugur ini.
"Wah, ini kue bulan yang isi telur asin? Ambil dua kotak!"
"Bunga krisannya cantik sekali, saya ambil satu tangkai besar ya, Pak!"
"Lentera kertas yang gambar pemandangannya indah itu... saya beli tiga buah saja cukup!"
Shen Yu berbelanja dengan sangat antusias. Ia membeli berbagai macam keperluan:
- Makanan dan camilan khas musim gugur.
- Hiasan bunga segar.
- Lentera-lentera cantik berbagai ukuran.
- Bahkan ia sempat membeli sedikit buah-buahan kering dan manisan sebagai stok camilan di rumah.
Tangannya penuh membawa kantong-kantong kertas dan anyaman, tapi Shen Yu sama sekali tidak merasa berat atau capek. Hatinya terlalu senang!
"Belanja buat hias rumah itu paling seru," gumamnya sambil tersenyum lebar. "Rumahku yang besar dan luas ini pasti akan jadi jauh lebih hangat dan meriah malam nanti."